Stay With Me Violet Season 1

Stay With Me Violet Season 1
Beri aku kesempatan yang sama




Axel menggendong tubuh Violet keluar dari mobil dan melangkah dengan cepat menuju IGD Rumah sakit. Violet mendapat penanganan terbaik. Dokterpun keluar dan berbincang dengan Axel, Axel yang mengetahui jika Violet sudah sadar diapun masuk keruangan tempat Violet dirawat.


Axel menatap Violet yang terbaring lemah diatas tempat tidur, Violet menatap Axel dengan mata sayupnya, ia tersenyum padanya.


Axel melangkahkan kakinya mendekati Violet yang berbaring, dia menarik kursi yang ada didekat tempat tidur Violet dan iapun duduk disamping Violet dengan tatapanya yang penuh arti dan terdiam tidak berbicara, dia hanya memandangi wajah Violet yang memutih.


"Dokter bilang Violet Stres berat dan demam tinggi. Stres berat? Sebenarnya apa yang membuatnya stres? Dia tidak pernah berbicara sedikitpun tentang kesulitanya, wanita ini sangat sulit untuk didekati, bahkan diapun tidak bisa terbuka padaku."Ucap Axel dalam hati.


Violet yang melihat Axel hanya diam saja, iapun mencoba mencairkan suasana.


"Terimakasih."Ucap Violet dengan suaranya yang hampir tidak terdengar.


"Jangan berbicara, istirahat saja."Saut Axel.


"Sudah malam, aku tidak apa-apa sendiri disini, anda pulang saja."Ucap Violet.


"Aku tidak akan pulang."Saut Axel.


Violet yang masih lemas punia terdiam, Axel selalu menatapnya, saat itu suhu tubuh Violet masih tinggi karena obat baru diminum sehingga belum terlalu bereaksi, karena suhu tubuhnya yang tinggi membuatnya mengeluarkan air mata, Axel yang melihatnya menangispun nampak tidak tega.


"Obatnya akan bereaksi, bertahanlah sebentar lagi."Ucap Axel mengusap air mata Violet.


Violet yang lemah dia merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya hingga membuatnya tidak nyaman.


"Berikan aku obat lagi, ini sangat tidak nyaman."Pinta Violet yang memohon pada Axel.


"Bersabarlah sebentar lagi, dokter bilang obatnya bereaksi setelah 10 menit."Saut Axel menggenggam tangan Violet yang gemetar.


Violet pun menurut, Axel nampak merasakan rasa sakit yang Violet rasakan, demamnya sampai lebih dari 39 derajat celsius itu pasti membuatnya merasa sangat kesakitan. Waktu terus berjalan Violet perlahan mulai bisa memejamkan matanya.


Sedangkan Axel terjaga sepanjang malam, memandangi Violet yang beristirahat. Perlahan Violet mulai membaik, suhu tubuhnya mulai mendekati normal. Axel sudah bisa tenang dan memejamkan matanya dikursi dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Violet.


Hari mulai terang Violet terbangun dari tidurnya, dia melihat Axel yang tertidur didekatnya dan  Violet mencoba untuk duduk karena sudah merasa lebih baik.


Axel pun terbangun, dia kaget melihat Violet yang duduk menatapnya.


"Berbaringlah."Pinta Axel.


"Tidak, aku sudah baikan."Saut Violet menatap Axel.


"Kau tetap harus istirahat."Ucap Axel.


"Ia aku akan menurut."Saut Violet.


"Mau sarapan? biar aku suapi."Ucap Axel.


"Tidak usah tuan, aku akan makan sendiri, tuan sebaiknya pergi kekantor ini sudah siang."Saut Violet.


"Aku bisa datang kekantor kapan saja."Ucap Axel.


Violet pun nampak tidak memaksa Axel, pagi itu Violet sarapan disuapi oleh Axel.


"Maaf aku belum menyelesaikan designku."Ucap Violet.


"Jangan bicarakan itu lagi, itu bukan hal penting."Saut Axel.


Violet terdiam sejenak dan melanjutkan sarapanya, Axel sangat perhatian padanya saat itu. Violet pun menyadari itu semua, namun jujur saja hati Violet sangat rumit, ia menyukai keduanya dan jika disuruh memilih maka Violetakan sulit memilih satu diantara Axel dan Joe Nathan.


"Dokter bilang kamu stres berat, kenapa tidak pernah bicara padaku? ada masalah apa? tidak bisakah kamu percaya padaku untuk mengetahui permasalahanmu?"Tanya Axel.


Violet membatu, dia benar-benar tidak bisa mengatakanya pada Axel karena alasan yang sangat jelas. Axel putra Zayn Keenan.


"Tidak ada, tidak ada masalah."Saut Violet lirih.


Axel menatap matanya lagi, dia benar-benar tidak bisa mendekati wanita itu.


Ditempat lain, Joe Nathan yang sedang berada dikantor nampak bertanya-tanya kenapa Violet belum juga datang. Diapun mengambil ponselnya dan melakukan panggilan, Violet yang sedang dirumah sakit bersama Axel dia dengan cepat menerima panggilan dari Joe Nathan.


"Violet apa kamu tidak datang bekerja?"Tanya Joe Nathan khawatir.


"Aku tidak masuk kerja dulu karena ada urusan mendesak."Saut Violet berbohong pada Joe Nathan agar dia tidak khawatir.


"Apa ada masalah?"Tanya Joe Nathan.


"Tidak ada, kamu jangan khawatir, jika ada sesuatu aku pasti menghubungimu."Saut Violet.


"Baiklah, katakan padaku jika ada apa-apa."Ucap Joe Nathan.


"Baik, kamu jangan lupa makan siang, aku matikan ya sambungnaya."Saut Violet.


"Baik, kamu juga jangan lupakan makan siang ya."Ucap Joe Nathan.


"Ia."Saut Violet, diapun mengakhiri panggilan dari Joe Nathan dan meletakan ponselnya diatas meja didekatnya.


"Siapa?"Tanya Axel.


"Joe Nathan."Saut Violet singkat.


"Kau berbohong padanya."Ucap Axel.


"Ia."Saut Violet singkat.


"Kenapa?"Tanya Axel.


"Karena dia akan sangat khawatir."Saut Violet.


"Kau bilang padanya akan memberitahunya jika ada sesuatu, kenapa kau tidak mengatakan hal yang sama padaku?"Tanya Axel.


Violet terdiam lagi, dia tidak dapat mengatakan apapun pada Axel. Axel pun menatapnya dan mendekat kearahnya.


"Berikan aku kesempatan yang sama."Pinta Axel menatap Violet.


Violet menatap mata Axel, dia melihat ketulusan dari setiap ucapan yang keluar dari mulut pria itu. Axel yang saat itu memohon sangat berbeda dengan Axel yang dikenalnya ditempat kerja.


"Jangan pernah mengharapkan aku."Ucap Violet.


"Kenapa?"Tanya Axel.


"Karena kita tidak akan bisa bersama."Saut Violet.


"Kenapa aku tidak bisa tapi Joe Nathan bisa?"Tanya Axel.


"Tuan Axel jangan memaksaku lagi."Pinta Violet.


"Jangan patahkan harapanku Violet, aku sangat menyukaimu."Ucap Axel.


Violet pun terdiam, dia menatap Axel yang kala itu down. Namun Violet juga tidak mau membuatnya berharap karena antara dirinya dan Axel sudah pasti tidak akan mungkin meski Violet merasakan perasaan yang sama padanya. Jika dia tidak menikah dengan Zayn, diapun tidak mungkin menikah dengan Axel karena Axel adalah putra Zayn Keenan.


"Tuan Axel, Manusia punya banyak sekali keinginan meskipun dia sudah mendapatkan hampir semua keinginannya. namun, tidak semua yang diinginkan manusia itu bisa ia dapatkan semuanya meski ia memaksakan kehendanya dengan segala cara. Tuan Axel tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan."Ucap Violet lirih.


"Kau benar, tapi aku tidak akan berhenti sampai disini."Saut Axel.


Violet terus menatapnya, Axel pun menatap Violet sangat dalam. Axel mencium kedua tangan Violet dan menaruh pipinya dikedua telapak tangan Violet.


"Jangan pernah berkata seperti itu lagi padaku, karena itu mematahkan harapanku. Aku tidak akan menyerah meski kau menolaknya berkali-kali."Ucap Axel dari lubuk hatinya yang terdalam.


***


Halo Readers..


Kalau suka sama karya aku ini, mohon untuk Like, Komen, tekan tombol Favorit dan Vote yaa..😀


mohon untuk menggunakan bahasa yang sopan supaya author semangat nulisnya😘🙏