
"Mau pergi kemana lagi?"Tanya Axel meraih tangan Violet.
"Apa kau tidak lelah?"Tanyanya lagi.
"Jika aku bisa memilih, maka aku juga tidak ingin bersikap seperti ini padamu."Ucap Violet dalam hati.
"Aku harus menahanmu pergi berapa kali lagi? kau selalu menghindariku. Jika ada sesuatu yang tidak membuatmu nyaman harusnya kau bicara saja. Kenapa harus melarikan diri?"Tanya Axel dikegelapan.
"Jangan mendorongku melangkah lebih jauh lagi, karena pada akhirnya kaulah yang akan terluka."Saut Violet lirih.
"Ikut aku!"Ucap Axel yang menarik tangan Violet masuk keruanganya.
Ceklak...Axel mengunci ruangannya, didalam ruangan itu hanya ada dirinya dan Violet. Axel mendekat kearahnya dan mendekap tubuh Violet dari belakang.
"Kita belum lama saling mengenal."Ucap Violet.
"Apa masalahnya?"Tanya Axel yang mendekapnya.
"Kau akan membuatku salah paham dengan sikapmu padaku."Saut Violet.
"Aku menyukaimu, apa kau tidak bisa menyadarinya?"Tanya Axel memutar tubuh Violet untuk menatap matanya.
"Kau hanya menganggapku seperti mainanmu."Ucap Violet menatap mata Axel.
"Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu."Saut Axel.
"Semua yang sudah terjadi biarlah berlalu, tidak usah diingat lagi. Yang harus kita lakukan sekarang hanya membatasi diri, bersikaplah layaknya seorang Boss kepada bawahan."Ucap Violet menatap Axel.
"Apa kau tidak menyukaiku?"Tanya Axel.
"Tidak."Saut Violet tanpa berfikir.
Axel duduk disofa yang berada didekatnya, dia terdiam dan entah berfikir apa.
"Aku pamit."Ucap Violet.
"Maju satu langkah saja aku akan mematahkan kakimu!"Ucap Axel dengan nada yang semakin tinggi.
"Aku manusia punya perasaan, kau berteriak padaku dan kemudian menghampiriku lagi."Ucap Violet.
"Kau punya perasaan?"Tanya Axel bangkit dan mendekat kearah Violet.
Violet melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Axel.
"Sudah kukatakan jangan melangkahkan kakimu! Apa kau tuli?!"Ucap Axel marah.
Axel menarik tangan Violet dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh kelantai, kepala Violet yang terbentur meja nampak mengeluarkan darah. Violet yang menyadari dirinya terluka dia hanya menundukan kepala namun Axel tidak menyadarinya.
"Kalian orang kaya hanya bisa memaksa orang lain untuk memenuhi keinginan kalian. Heh~ Sungguh menggelikan."Ucap Violet yang menunduk duduk dilantai.
"Bicara sekali lagi aku akan benar-benar.......!"Ucap Axel berteriak pada Violet namun seketika ia terdiam. dia melihat lantai yang tertetes bercak darah. Mata Axel menatap kearah Violet yang masih duduk dilantai, Violet menyembunyikan wajahnya.
Axel membungkukan tubuhnya dan mencoba melihat wajah Violet, namun Violet seolah tidak ingin wajahnya dilihat Axel dia langsung melarikan diri meninggalkanya. Axel yang membatu diruanganya nampak melihat kedua telapak tanganya dengan tatapan menyedihkan.
"Aku melukainya dengan tanganku sendiri?"Ucap Axel.
Ben yang baru datang dari dinas luar kota. Dia melihat Violet yang berjalan dengan cepat. Ben langsung menghampirinya.
"Violet..."Ucap Ben yang menyambar tangan Violet.
Ben kaget, tangan Violet yang digenggamnya terdapat bercak darah, Ben mencoba menatap wajah Violet dan seketika.
"Ada apa? Kenapa keningmu berdarah?"Tanya Ben dengan kedua tanganya menyentuh pipi Violet.
"Aku terplestet, Tuan Ben kepalaku pusing aku mau keklinik"Ucap Violet.
"Aku akan mengantarmu."Ucap Ben.
Ben membawa Violet keklinik untuk diobati.
"Hee~"Violet tersenyum.
"Masih bisa tersenyum?"Tanya Ben.
"Tuan Ben sudah bekerja berapa lama untuk One Zayn Group?"Tanya Violet penasaran.
"Sejak aku lulus kuliah."Saut Ben sambil memplester kening Violet.
"Sudah lama ya, tidak ingin bekerja ditempat lain?"Tanya Violet lagi.
"Axel tidak akan bisa hidup tanpaku."Saut Ben nyeleneh.
Violet tertawa, Ben yang sudah selesai mengobati lukanya nampak menatap Violet yang tertawa.
"Kau sangat cantik saat tersenyum."Ucap Ben tanpa sadar, dia menatap mata Violet yang duduk diatas tempat tidur pasien, Ben memegang wajah Violet.
Violet terdiam dia menatap Ben yang saat itu menatapnya, perlahan wajah Ben semakin dekat dengan wajahnya dan semakin dekat.
"Tuan Ben mau apa?"Tanya Violet yang memalingkan wajahnya.
Ben tersadar dan bergegas membereskan P3K yang ada didepanya Ben meletakanya ditempat semula.
"Ayo kita kembali kekantor."Ajak Violet.
"Kamu disini saja."Ucap Ben.
"Ngapain? aku lagi banyak kerjaan."Saut Violet.
Violet yang merasa dirinya baik-baik saja, dia kembali kekantor bersama Ben. Mereka berpisah dimeja Violet dan Ben masuk kedalam ruanganya untuk menemui Axel.
"Kenapa?"Tanya Ben pada Axel yang terdiam.
Axel tidak menjawab pertanyaan Ben, dia mulai mencoba melanjutkan pekerjaanya. Ben duduk dikursinya dan tanpa sengaja melihat ceceran darah dilantai, Ben berdiri lagi.
"Kenapa dilantai ada bercak darah? apa mungkin darah Violet?"tanya Ben.
"Darimana kau tau?"Tanya Axel yang kaget karena Ben mengetahuinya.
"Tadi aku yang mengobati luka dikeningnya."Saut Ben.
Axel terdiam, dia merasa cemburu pada Ben. Waktu terus berputar tidak terasa hari mulai sore, para karyawan sibuk membereskan barang-barangnya untuk segera pulang, ada juga yang masih sibuk dengan pekerjaanya, saat itu Violet sedang ingin keluar dari kantor tepat waktu, dia bergegas keluar dan menuju halte Bus.
"Sebenarnya aku tidak ingin pulang dan tidak ingin berlama-lama dikantor juga."Ucap Violet dalam hati.
Violet bangkit dari duduknya dan mencoba berjalan untuk sekedar mengulur waktu dan pulang kerumah setelah hari muali larut. Violet yang datang nampak disambut para pelayan.
"Apa Tuan Zayn ada disini?"Tanya Violet pada pelayanya.
"Ada nyonya beliau sedang mandi."Saut pelayan itu.
"Lebih baik aku disini."Ucap Violet dalam hati.
"Nyonya mau makan?"Tanya pelayan.
"Tidak."Saut Violet yang menuju sofa diruang TV.
Violet merebahkan tubuhnya disofa besar diruang TV, dia merasa lelah berjalan hanya untuk mengulur waktu pulang kerumah, dia berfikir Zayn pasti sudah pulang kekediamanya. Namun kenyataanya dia selaluh menebak dengan salah.
Tuan Zayn yang selesai mandi dia memakai pakaianya dan keluar dari kamar, dia melihat kebawah dan menuruni setiap anak tangga dihadapanya, Zayn melihat Violet yang berbaring disofa dan diapun menghampirinya.
Violet yang tertidur disofa membuat Zayn tersenyum melihatnya. Zayn menggendong tubuh Violet yang kelelahan masuk kedalam kamar.
***
Halo Readers..
Kalau suka sama karya aku ini, mohon untuk Like, Komen, tekan tombol Favorit dan Vote yaa..๐
mohon untuk menggunakan bahasa yang sopan supaya author semangat nulisnya๐๐