
"Bangun dan istirahatlah."Ucap Axel membantu Violet untuk bangkit dan membawanya ketempat tidur untuk beristirahat, Axel menyelimuti wanita yang membisu dan masih menagis.
Axel duduk diatas tempat tidur didekat Violet, dia menggenggam tangan wanita itu dan menatap matanya, sesekali Axel menciumi punggung telapak tangan Violet, dia menjaga Violet yang perlahan mulai terlelap dalam tidurnya, malam itu.. Axel telah banyak berpikir.
Setelah Violet terlelap dalam tidurnya, Axel bangkit dan melangkah menuju kamar Racel, Racel sendiri hanya diam didalam kamarnya.
"Racel ayah pergi kemana?"Tanya Axel pada adik wanitanya.
"Dia pergi lagi ke Amerika, belakangan ini banyak masalah yang terjadi disana, Ada apa dengan Violet? dia bertengkar dengan ayah?"Tanya Racel tidak tau apa-apa.
"Tidak usah dipikirkan, kakak akan membawa Violet menghirup udara segar saat dia terbangun, bisakah kamu merahasiakan dari ayah tentang hubungan kakak dan Violet?"Pinta Axel.
"Iya kakak, tapi.. jika ayah tau hubungan antara kakak dan Violet, aku takut ayah akan menghabisimu."Ucap Racel khawatir.
"Tidak, kakak akan berhati-hati."Saut Axel melangkah pergi dari kamar Racel.
Axel kembali ke kamar Violet, dia duduk di dekat Violet lagi dan memandanginya.
"Kamu wanita yang kuat, tetaplah hidup dan jangan pernah berfikir untuk mati lagi, aku sangat benci mendengar kamu mengatakan kalimat itu."Ucap Axel menatap Violet yang terlelap.
Axel bangkit dari duduknya dan berdiri didekat jendela, dia melihat pemandangan diluar dan menarik nafas panjang, Axel pun memutar tubuhnya dan menatap Violet lagi.
"Aku tidak keberatan jika harus menentang dan mati ditangan ayahku sendiri."Ucap Axel bersandar disisi tembok sambil menatap Violet.
Axel menemani Violet dikamar itu, waktu terus berputar, Violet membuka kedua mata setelah 2 jam larut dalam tidurnya, dia menatap Axel yang sedang menatapnya saat itu.
"Kamu masih disini?"Tanya Violet.
"Iya."Saut Axel.
"Kenapa?"Tanya Violet.
"Aku hanya takut kamu akan berpikiran pendek."Saut Axel.
Violet terdiam dan bangkit, dia duduk diatas temat tidur didekat Axel.
"Sampai kapan kamu akan menggenggam tanganku?"Tanya Violet.
"Sampai aku tidak mampuh menggerakan tanganku lagi."Saut Axel.
Violet tersenyum pada Axel dan berdiri, Axel pun bangkit dari duduknya dan berdiri menggenggam kedua tangan Violet.
"Bersiaplah aku akan mengajakmu kesuatu tempat."Ucap Axel mencium kedua punggung tangan Violet.
"Kemana?"Tanya Violet.
"Kamu akan tau nanti."Saut Axel.
"Baiklah."Saut Violet.
Axel pun keluar dari dalam kamar Violet dan pergi kekamarnya, Violet melamun dan perlahan bergegas mengganti pakaian, setelah beberapa saat merekapun telah siap.
"Kamu sudah siap?"Tanya Axel.
"Iya."saut Violet.
Axel meraih pergelangan tangan Violet, dia menggenggam tanganya dan menariknya pergi dari rumah, Axel membawanya ketempat yang jauh, tempat yang hijau dan jauh dari kebisingan, Violet.. menikmati perjalananya bersama Axel, membuka jendela mobil dan meraskan tiap hembusan angin yang menyentuh tubuhnya, membuat Axel tersenyum menatapnya yang mulai melupakan apa yang telah terjadi sebelumnya.
Mereka pun telah sampai ditempat tujuan, Axel keluar dari dalam mobilnya dan belari kecil untuk mempersilahkan tuan putrinya keluar dari dalam mobil, membuat Violet mulai tersenyum lagi.
"Pulau ini sangat indah."Ucap Violet menatap Axel.
Mereka saling merespon senyuman, berjalan mendekati pantai dipulau kecil itu, menghabiskan waktu hanya berdua untuk melupakan segalanya.
Axel mendekat ke arah pantai dan mengulurkan tanganya pada VIolet, Violet pun tersenyum dan memberikan tanganya pada Axel, mengizinkan Axel untuk menuntunya ketengah hingga air laut setinggi dada mulai membasahi dada keduanya.
"Axel aku takut."Ucap Violet.
"Ada aku, tidak ada yang perlu kamu takutkan."Saut Axel memeluk Violet sari belakang ditengah air laut.
"Kenapa kamu membawaku ketempat ini?"Tanya Violet, dia memutar tubuh dan menatap mata Axel yang saat ini sangat dekat denganya.
"Untuk membuatmu bahagia hanya bersamaku saja, kita berdua."Saut Axel menempelkan Keningnya di kening Violet.
"Axel lihatlah matahari mulai meredup dan langit mulai berubah warna."Ucap Violet menatap matahari yang mulai berselimut mega yang indah.
"Apa kamu tau? Matahari itu sperti dirimu, kamu memancarkan sinar kehidupan untukku dan untuk semua orang yang mengenalmu, kamu sekuat mentari Violet, jadi jangan pernah berpikir untuk tidak bersinar lagi, karena akan ada banyak orang yang hancur dan menangis."Ucap Axel menempelkan hidungnya ke hidung Violet dan menatap mata Violet sangat dalam.
"Tentu saja."Saut Axel semakin erat memeluknya.
"Axel mulai belajarlah menjauh dariku."Pinta Violet.
"Tidak akan pernah."Saut Axel.
"Ayahmu bisa saja melukaimu."Ucap Violet.
"Aku rela jika itu untukmu."Saut Axel.
"Jangan berkata sepertu itu."Pinta Violet menutup mulut Axel dengan jemarinya.
"Apa kamu takut aku akan terluka?"Tanya Axel.
"Iya."Saut Violet.
Saat itu.. Axel pun mencium bibir Violet di tengan lautan dengan mentari yang hampir tenggelam, di tempat itu hanya ada mereka berdua. menikmati waktu bersama.
Waktu terus berputar mentaripun tenggelam, mereka beranjak pergi dari pantai dan kembali kerumah, Violet menatap Axel yang termenung dengan wajah yang memucat.
"Axel apa kau lelah? kamu baik-baik saja?"Tanya Violet pada Axel yang sedang mengemudi.
"Aku baik-baik saja."Saut Axel.
Sesampainya dirumah, Violet masuk kedalam kamarnya dan Axel pun sama, Axel merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya, banyak sekali hal yang Axel pikirkan saat itu.
Racel telah menyadari jika kakaknya tidak keluar dari kamar setelah kembali, dia mengetuk pintu kamar kakanya dan masuk, Racel menatap kakanya yang terbaring diatas tempat tidur.
"Kakak makanlah dulu."Pinta Racel membangunkan kakaknya yang terpejam tidak bergeming.
"Kakak! tubuhmu panas sekali, apa kakak sakit?"Tanya Racel khawatir.
"Panggilkan dokter Hans."Pinta Axel nyaris tidak terdengar.
"Iya, bertahanlah."Saut Racel, dia menelpon doketr Hans untuk datang kerumah saat itu juga.
Violet mendengar suara Racel yang begitu panik, dia keluar dari kamarnya dan menghampiri Axel dan Racel.
"Ada apa denganya?"Tanya Violet khawatir.
Violet mengangkat kepala Axel dan menaruhnya dipangkuan.
"Axel.. tubuhmu panas sekali."Ucap Violet khawatir.
"Cih.."Ucap Racel berlalu pergi untuk menunggu doketr Hans didepan rumah.
Violet mengangkat tubuh Axel untuk memperbaiki posisinya, dia membuka sepatu dan kaus kaki Axel dan menyelimuti tubuhnya.
"Tunggu sebentar aku ambilkan air hangat untuk mengompresmu."Ucap Violet berjalan cepat.
Axel memperhatikan Violet yang begitu khawatir saat itu, dia pun menorehkan senyum diwajahnya dan perlahan memejamkan matanya.
Dokter Hans pun datang dan memeriksa keadaanya, Racel pun pergi untuk menebus obat. sedangkan Violet menemani Axel yang sakit di kamarnya.
Violet memandangi wajah Axel yang terbaring di atas temapat tidur. dengan kompres hangat di kepalanya.
"Kau menyuruhku untuk tidak khawatir. tapi kau sungguh membuatku khawatir Axel."ucap Violet menatap Axel yang terlelap.
Violet menjaganya sepanjang malam, dia tidak tidur dan mengganti kompresnya beulang kali sampai demam Axel menurun.
"Syukutlah suhu tubuhnya sudah normal."ucap Violet senang melihat angka di dalam termometer yang ada di genggamanya.
"Kau tidak lelah?"tanya Racel yang berdiri di depan pintu dengan kedua tangan yang melipat.
"Kau belum tidur? jangan khawatirkan kakakmu sekarang suhu tubuhnya sudah normal."ucap Violet tersenyum pada Racel.
"Cih.."ucap Racel berlalu pergi ke kamarnya.
"Jelas-jelas saling mencintai kenapa harus melukai diri sendiri."ucap Racel yang melangkah menuju kamarnya.
Violet pun menggenggam tangan Axel dan menciumnya.
"Monster sepertimu kenapa bisa sakit juga."ucap Violet yang merebahkan kepalanya di atas tempat tidur dengan tangan yang masih menggenggam tangan Axel. Violet yang muali tenangpun perlahan memejamkan matanya.
Malam itu sangat sepi dan gelap. waktu berdetak menunjukan pukul 02:59. Rumah bak istana itu terlihat sunyi dan seolah siap menyambut mentari pagi.