
Violet pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit di dalam kamarnya.
"Ayah.. apakah cinta serumit ini? apakah ayah mencintai ibu sma seperti Axel dan Nathan mencintaiku? Ayah.. aku merindukanmu. apa yang sedang kamu lakukan di sana sekarang?"ucap Violet meneteskan airmatanya.
"Apa aku masih pantas mendapatkan cinta kedua pria itu ayah?"tanya Violet lagi dalam renunganya.
"Kau akan memeluku saat aku bersedih ayah, kau bilang "jangan menangis sayang" dan aku pasti akan jawab "Ia. Ayah..". Ayah.. apa kita masih bisa bertemu lagi? di usiamu yang sudah tidak muda lagi seharusnya aku bersamamu ayah. maafkan putrimu yang tidak berguna ini."ucap Violet menangis merindukan Hari ayahnya.
Violet pun perlahan mulai memejamkan matanya dan berharap mimpi indah hadir menyapa malam panjangnya saat itu.
"Jika aku.. tidak bisa hidup bersamamu, apakah aku akan bisa menyukai wanita lain selain dirimu Violet? seumur hidupku, kaulah cinta pertamaku Violet. andaikan kamu bisa merasakannya aku pasti sangat bahagia dan memelukmu selamanya."ucap Axel yang berbaring di atas tempat tidurnya.
"Malam ini indah Violet, andai kau tetap di sini bersamaku menghabiskan malam ini. banyak bicara dan tertawa bersama, aku rasa aku akan melupakan segalanya dan hanya melihatmu saja. kau.. tahukah kamu? kau sangat berarti buatku."ucap Nathan yang duduk menatap Cincin berlian yang ingin ia kenakan di jari manis Violet.
Malam yang sunyi dan dingin berlalu, mentari pagi menyambut mereka dengan pancaranya yang menyilaukan di temani kabut pagi yang menyejukan.
Violet pun keluar dari kamarnya dan turun untuk sarapan, Violet yang diam nampak menatap Axel dan Racel yang sudah duduk di meja makan.
Kali ini Axel nampak diam dan tidak banyak bicara, dia menghabiskan sarapanya dengan tenang dan berlalu begitu saja saat selesai. Violet yang menatapnyapun terdiam membiarkan Axel pergi ke kantor sendirian. Violet menghabiskan sarapanya bersama Racel yang menatapnya sangat tajam.
"Melihatmu membuatku kehilangan nafsu makan."ucap Racel yang bergegas mengambil tasnya dan pergi.
Tersisa Violet sendiri di meja makan, Violet pun menundukan kepalanya dan keluar dari rumah bak istana itu. dia berjalan menuju halte terdekat dan pergi naik Bus.
Violet duduk dan menyandarkan tubuhnya di kursi, dia menatap keluar jendela dan memejamkan matanya. setiap hembusan angin yang menyentuh dan masuk kedalam pori-porinya membuat ia merasakan kenyamanan yang lama hilang dari hidupnya.
"Saat aku sendiri sampai saat ini tidak bisa mengambil keputusan untuk memilih satu di antara dua pilihan. apa yang harus aku lakukan akupun tidak tau. biar waktu berjalan dan menjawab semua kegundahan ini. baik buruk jalan hidup yang ku lalui di masa depan. semoga aku dapat menerima semuanya dengan keikhlasan."ucap Violet dalam hati.
Sesampainya di halte dekat One Zayn Group Violet pun turun dari bus dan berjalan cepat, dia hampir terlambat.
Braaakk..!!
"Ah~ Maafkan saya, saya sedang buru-buru."ucap Violet memunguti semua dokumen yang berserakan karena di tabrak olehnya.
"Tidak apa-apa Violet. biar aku yang membereskan."ucap Ben yang menatap Violet sangat dalam.
"Kau wanita yang aku inginkan tapi tidak bisa aku dapatkan. sungguh aku tidak berdaya hanya untuk mendekat kearahmu Violet."ucap Ben menatap Violet yang sedang membantunya memunguti dokumen.
"Ben.. Maaf ya. aku harus pergi karena aku belum absen."ucap Violet menyerahkan dokumen itu pada Ben dan berlalu pergi.
Ben bangkit dan menatap Violet yang berjalan cepat meninggalkanya. Ben pun perlahan menundukan kepalanya dan pergi.
Didalam ruangan Axel nampak menyibukan diri untuk melupakan apa yang terjadi semalam antara dirinya dan Violet. dia tidak mau mengingatnya.
Violet pun mulai mengerjakan pekerjaanya. selama ini semenjak kehadiran dirinya di One Zayn Group, design miliknya selalu menjadi pilihan pertama di banding rekanya yang lain.
Design yang di buat Violet di minati banyak konsumen tidak hanya kaula muda tapi semua usia menyukainya hingga meningkatkan omset One Zayn Group sendiri karena banyaknya permintaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Ia dikenal sebagai Violet Cantik dan cerdas, di kagumi banyak pria di kantor sama seperti saat dirinya kuliah di UNI. diamanapun Violet tetap bersinar.
"Axel marah padaku? dia tidak bicara sma sekali hari ini."ucap Violet dalam hati.
Violet menatap Axel dari jendela. dia nampak melihat Axel yang sibuk dan diam.
"Violet, ayo ke kantin."ajak Nadine.
"Kantin? memang sekarang jam berapa?"tanya Violet.
"Jam 11:30, apa kamu sesibuk itu sampai lupa waktu?"tanya Nadine.
"Ayo kita makan."ucap Violet menarik tangan Nadine untuk makan di kantin.
"Belakangan aku lega Mikka tidak mengganggumu lagi, dia sedang sibuk dengan pekerjaanya karena akan ada audit."ucap Nadine sambil makan dengan lahap.
"Ia, itu lebih baik."saut Violet.
"Nadine..apa yang harus kamu lakukan jika kamu menyukai dua pria di waktu yang sama?"tanya Violet pada Nadine yang terdiam dan membatu mendengar pertanyaan Violet.
"Itu pertanyaan yang rumit."saut Nadine.
"Aku ingin tau pendapatmu."ucap Violet.
"Kamu hanya perlu ikuti kata hatimu Violet. seiring berjalanya waktu semua akan nampak jelas dan kamu akan bisa menentukan siapa yang hatimu pilih sebenarnya."saut Nadine.
"Tapi, melalui semua proses untuk menunggu waktu itu membuatku tidak bisa bernafas dengan baik."saut Violet.
"Kamu kan tau. ikuti kata hatimu."ucap Nadine menggenggam tangan sahabatnya.
"Ia, terimakasih Nadine."ucap Violet.
Merekapun menghabiskan makan siangnya dan kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan.
Saat semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing hingga melupakan waktu yang terus berputar tiada henti. satu per satu mulai menyadari dan meninggalkan kantor untuk pulang.
Violet pun menoleh ke arah jam dinding yang ada di sisi sebalah kananya.
"Ya ampun waktu cepat sekali."ucapnya terburu-buru menyelesaikan semua pekerjaanya.
"Aku akan mengantarmu pulang dan kita pergi ke pesat Mikka bersama."ucap Nathan yang sudah berdiri di dekatnya.
"Eng~ Ia, tunggu sebentar ya aku Save File dulu."ucap Violet yang tergesa-gesa.