
Tak terasa malam semakin larut. Mereka terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu hingga salah satu bodyguard yang sejak tadi berdiri di sisi tuan Zayn lantas mendekat ke arah tuannya lalu berbisik di telinganya. Entah apa yang pria itu katakan padanya? Yang pasti ia mengingatkan sesuatu pada tuan Zayn hingga tuan besar itu lantas segera bergegas untuk mengakhiri pertemuan tanpa di sengaja mereka malam itu.
Violet melihatnya. Tuan besar yang sedang mengeluarkan dompet dari dalam saku celana hitamnya lalu meraih sebuah kartu dari dalamnya.
“Harry. Ini kartu nama ku. Di dalamnya ada alamat rumah ku. Datanglah, aku menanti mu besok pukul 15:00.” Ucap tuan Zayn. Dia meletakkan kartu nama itu di atas meja di hadapan tuan Harry.
“Baik Zayn, aku akan datang berkunjung ke rumah mu besok.” Sahut tuan Harry. Senyum lebar lantas menghiasi wajahnya.
Tersenyum. Tuan besar itu lantas bangkit dari duduk lalu mengalihkan pandangannya pada Violet yang saat itu sedang menatapnya. Tuan Zayn tersenyum padanya maka Violet pun membalas senyumannya karena dia adalah sahabat ayahnya.
Tuan Zayn pun pergi meninggalkan Violet dan Harry setelah ia selesai membayar semua makanan yang mereka pesan.
***
Di pagi hari Violet telah sampai di One Zayn Group. “Selamat pagi.” Sapanya pada semua rekan yang di temui mengingat itu adalah hal yang sudah menjadi kebiasaanya setiap hari.
Violet menghampiri meja kerjanya lalu ia mulai sibuk membereskan satu per satu dokumen yang selalu menumpuk di atas meja setiap hari.
Hari ini hasil desiannya harus di serahkan pada Presdir Axel. Namun, rupanya Violet tidak merasa khawatir sama sekali mengingat hasil desainnya sudah siap untuk di serahkan pada boss nya itu.
“Selamat pagi Presdir Axel. Pagi Sekertaris Ben.”
Mendengar itu Violet pun bangkit dari kursinya lalu menyatukan sepasang telapak tangan di sisi perut bagian bawah dan mulai merunduk sopan ketika Presdir Axel melewatinya.
“Bawa hasil desain mu ke ruangan ku.” Perintahnya tanpa menoleh.
Mendengarnya. Violet lantas mengangkat pandangan ke arah Presdir dan Sekertaris yang kini menghilang di balik pintu ruangannya. Entah lah, tiba-tiba Violet merasa heran ketika ia melihat Ben tersenyum padanya tadi. Sebelum dia menutup pintu ruangan Presdir Axel.
Mengabaikan itu semua. Violet lantas bergegas membawa desainnya dan semua rekan kerjanya menuju ruangan Presdir Axel.
Tok... tok…
Mengetuk pintu lalu masuk. Violet merunduk sopan lalu menghampiri Presdir Axel. Ia letakkan hasil desain itu di atas mejanya seraya langkahnya terhenti di hadapannya.
Tanpa kata Presdir Axel langsung meraihnya. Ia buka tiap lembar dari dalamnya.
“Desain yang sangat bagus. Cih! gadis ini memang bisa di andalkan.”
Braakkk!!
“Lumayan. Lain kali buat yang lebih bagus.” Ucap Axel setelah ia melempar dokumen desain itu di atas mejanya sangat kasar.
“Baik Presdir.”
“Diam di situ. Ada yang ingin aku sampaikan pada mu.” Ucapnya lalu menoleh pada Ben. “Bawa hasil desainnya untuk di diskusikan dengan divisi lain.” Perintahnya.
Tanpa membuang waktu Ben langsung menghampiri Axel lalu ia meraih dokumen desain dari atas meja Presdirnya itu. “Aku akan mengurusnya.” Ucap Ben lalu mengalihkan pandangannya ke arah Violet.
“Sebenarnya apa yang ingin Axel bicarakan dengan Violet?”
Violet hanya diam menatapnya. Pria yang begitu dalam memandang dirinya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah Ben keluar Axel pun bangkit dari kursinya lalu mendekat ke arah Violet. Violet hanya diam, menanti apa yang ingin tuannya bicarakan. Namun, entah kenapa Axel justru memutari tubuhnya? Membuat Violet mengerinyitkan dahi seolah tidak mengerti.
“Dengar. Aku hanya akan mengatakannya satu kali pada mu. Aku paling tidak suka ada karyawan wanita yang terlalu dekat dengan pria di perusahaan ku. Kau datang untuk bekerja. Bukan untuk hal lain bukan?”
“Aku tidak mengerti maksud anda Presdir.”
“Jangan menjadi gadis murahan di tempat ini.”
Masih belum memahami ke mana arah pembicaraan Axel padanya. Violet pun menatapnya. Pria bertubuh tinggi dan tegap itu menyelipkan sepasang telapak tangannya ke dalam saku celana lalu membelakangi dirinya.
“Katakan dengan jelas apa maksud anda Presdir.”
Memutar tubuh. Axel lantas menatap Violet lagi. Pria itu menarik satu sudut bibirnya ketika ia melihat raut wajah Violet berubah menatapnya.
“Maaf. Tapi aku tidak mengerti apa maksud dari semua pertanyaan anda. Jadi, aku pun tidak bersedia untuk menjawabnya.”
Mendengar jawaban Violet. Axel lantas meraih lengan gadis itu lalu ia menariknya mendekat sangat kasar hingga membuat Violet terkejut.
“Presdir! Apa yang anda lakukan?”
“Berani sekali kau menolak untuk menjawab pertanyaan ku!”
“Apa guna aku membahas persoalan pribadu ku pada anda?”
“Tentu saja sangat berguna! Sekarang. Jawab pertanyaan ku!”
“Lepas! Sakit!”
Mendengarnya mengucap “Sakit!” Axel lantas menghempaskannya hingga membuat Violet terhuyung hampir terjatuh. Sugguh! Sikap Axel mampu membuat Violet melangkah mundur sambil memegangi lengannya yang terasa remuk.
“Jika tidak ada hal lain yang ingin anda bicarakan. Aku pergi.” Ucap Violet lalu segera bergegas menuju pintu.
“Siapa yang mengizinkan mu pergi?” Sahut Axel lalu ia meraih pergelangan tangan Violet dan dengan kasarnya dia menarik gadis itu hingga berakhir di pelukannya.
“Presdir! Tolong jangan begini.” Pinta Violet pada pria dengan tatapan tajamnya itu.
“Kau. Tidak boleh membawa laki-laki mana pun pulang ke rumah mu! Lagi!” Tandasnya.
Menyatu tubuh mereka tanpa celah. Axel lantas mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Violet yang terus berusaha melepaskan diri darinya hingga kini hidung mancung ke duanya saling beradu.
“Presdir! Seseorang akan salah paham jika melihat kita seperti ini!”
Seolah tidak perduli. Begitu lancang Axel Zayn bahkan mencium bibir Violet di dalam ruangannya. Membuat Violet terkejut hingga sepasang bola matanya membulat sempurna.
“Mmm!!”
Terus berusaha melepaskan diri. Nyatanya apa yang di lakukannya hanyalah sia-sia.
Klakk…
Tampa mengetuk terlebih dahulu seolah telah terbiasa seseorang masuk ke dalam ruangan. Orang itu adalah Mikka. Gadis cantik kekasih Axel Zayn. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Axel Zayn mencium bibir Violet tampa ampun.
Violet mencoba melepaskan diri namun Axel memeluknya sangat erat hingga ia tidak dapat bergerak, semakin lama perlahan Violet mulai melemah menerima ciuman Axel hingga wajahnya memerah dan perlahan gadis itu mulai merespon ciuman darinya.
Mikka yang terbakar api cemburu langsung meninggalkan tempat itu. Sungguh! dia sangat membenci Violet sejak saat itu. Ben yang sedang berjalan pun diterjang olehnya dengan kuat tanpa meminta maaf ketika mereka berpapasan di depan ruangan Presdir. Mikka pergi begitu saja.
Hanya diam Ben menatap kepergian Mikka. Pria itu lantas mengalihkan pandangan dan melanjutkan langkah kakinya hingga ia pun membuka pintu lalu terdiam.
“Cih!”
Terkejut atas apa yang di lihatnya. Ponsel di tangan Ben pun terjatuh tanpa ia sadari.
Braaakkk!!
Namun, Axel masih belum melepaskan Violet yang semakin lemas hingga hampir kehabisan nafas. Sungguh! Violet tidak tahan lagi. dia mendorong Axel dengan sisa tenanga yang dimilikinya dan Axel yang terengah merasa telah puas pun lantas melepaskanya.
Violet terduduk diatas Sofa didalam ruangan itu. dia menundukan kepala karena menyadari jika Mikka dan Ben melihat apa yang ia dan Axel lakukan. Violet tidak tahu harus menghadapi Mikka dan Ben seperti apa setelahnya.
Ben yang mematung melihat Axel sedang menatap Violet. Pria itu lantas masuk ke dalam ruangan dan menuju meja kerjanya tanpa mengatakan sepatah katapun. Demi apa pun! Ben sangat kecewa pada sahabatnya!
***
Violet Grizelle
🍁Stay With Me Violet🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys....