
"Tidak bisa. tidak bisa hanya diam dan menunggu Violet yang bicara. dia akan menyimpannya sangat rapat. akulah yang harus mencari tau."ucap Axel dalam hati.
Axel pun bangkit dari duduknya dan melangkah menuju rumah mewahnya.
"Mau kemana?"tanya Zayn.
"Aku ingin beristirahat di kamar."saut Axel menatap ayahnya yang duduk di dekat wanita yang di cintainya.
Axel pun melangkah cepat menuju kamarnya. dia mengambil perekam suara dan menaruhnya di kamar Violet. tepat di belakang meja di dekat tempat tidur Violet.
"Aku akan tau cepat atau lambat. hanya menunggu waktu."ucap Axel melangkah meninggalkan kamar Violet.
Violet yang tidak pernah nyaman bersama Zayn dia pun mulai mencari alasan untuk pergi.
"Aku mau ke kamar."ucap Violet.
"Aku akan mengantarmu."saut Zayn.
"Tidak perlu tuan aku akan pergi sendiri."ucap Violet melangkah menuju kamarnya.
Violet pun masuk ke kamarnya di rumah itu dan duduk di atas tempat tidur. dia diam seribu bahasa nampak sesuatu di fikirkan olehnya.
"Sayang."ucap Zayn masuk ke kamar Violet.
Axel yang mengetahui ayahnya dan Violet ada di dalam kamar dia pun menghidupkan rekaman suara yang ada di kar Violet. Axel nampak serius menunggu apa yang akan di bicarakan oleh ayahnya dan calon istrinya itu.
"Aku mau sendiri dan beristirahat."ucap Violet pada Zayn.
Zayn pun memeluknya dari belakang dan Violet mulai merasa tidak nyaman.
"Jangan menyentuhku."ucap Violet melepas tangan Zayn dari tubuhnya.
"Kenapa kau selalu menolak?"tanya Zayn.
Violet hanya diam dan menundukan kepala. Zayn pun menatapnya dan meraih dagunya untuk memaksa Violet menatap matanya yang mengerikan.
"Sampai kapan kau akan bersikap dingin padaku dan menolaku Violet?"tanya Zayn pada Violet yang mulai merasa takut.
Violet menghempaskan tangan Zayn dari dagunya. dan melangkah menjauh darinya. Violet berdiri di dekat jendela persis di samping alat perekam yang di pasang Axel di kamarnya.
Sedangkan Axel mulai mendengarkan apa yang Violet ucapkan pada ayahnya.
"Maafkan aku tuan, sampai saat ini.. aku tidak bisa mencintaimu."ucap Violet lirih.
"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa mencintaiku Violet? Aku sangat mencintaimu!"ucap Zayn menekan rahang Violet sangat kasar.
"Lepaskan! aku tidak bisa!"ucap Violet.
"Kenapa? apa kau mencintai pria lain?"tanya Zayn dengan tatapanya yang menyeramkan.
"Aku.."ucap Violet takut.
"Dengarkan aku Violet. kau adalah milikku. tidak ada yang bisa merampasmu dariku."ucap Zayn mendorong Violet ke tempat tidur.
Violet pun segera bangkit dan menghindar. matanya mulai memerah dan gemetar.
"Violet kau miliku. aku tidak segan membunuh siapapun yang mencoba merampasmu dariku sayang."ucap Zayn melangkah mendekat ke arahnya.
Violet yang ketakutan dia mundur selangkah demi selangkah. Violet meneteskan airmatanya lagi.
"Ku mohon lepaskan aku tuan.."ucap Violet menangis.
"Violet.. apa kau tau? kau adalah semangat hidupku sekarang. biasakah kau mencobanya lagi? cobalah melihatku dan mencintaiku. bisa kan? sayang.."ucap Zayn dengan mata yang mulai memerah dan urat-uratnya yang nampak jelas.
Violet mencoba melepaskan tangan Zayn dari wajahnya dan ia melangkah menjauhinya lagi.
"Tidak bisa. aku tidak bisa.."ucap Violet.
"Kita akan menikah Violet."ucap Zayn mendekat kearahnya lagi.
"Tuan kumohon lepaskan aku dan carilah wanita lain yang mencintaimu."ucap Violet memohon di kaki Zayn.
Zayn pun meremas lengan Violet yang menariknya untuk berdiri.
"Dengarkan aku Violet! Hari ayahmu ada di tanganku! jika kamu mencoba melarikan diri aku tidak akan segan lagi mengakhiri nyawa ayahmu!"ucap Zayn mengancam.
Axel nampak membatu dan terdiam mendengar percakapan ayahnya dan Violet. Axel tidak dapat berkata-kata, matanya memerah. dia tidak menyangka Zayn Keenan ayahnya sangat kejam. dia pun tidak menduga ayahnya sangat mencintai Violet hingga menghalalkan segala cara bahkan rela membunuh seseorang hanya karena wanitanya.
"Tidak tuan.. jangan sakiti ayahku. kumohon lepaskan kami."ucap Violet menangis pilu.
"Tidak akan pernah Violet."ucap Zayn melangkah pergi meninggalkan Violet di kamarnya.
Zayn pergi bersama para pengawal dengan mobil mewahnya.
Violet nampak masih menagis di kamarnya. Axel pun bangkit dar duduknya dan pergi menemui Violet. Axel berdiri tepat di hadapan Violet yang terduduk di laintai.
Perlahan Violet mengangkat kepalanya dan menatap pria di hadapanya. Violet pun menundukan kepalanya lagi.
Axel mendekapanya dan mengelus kepalanya. Axel nampak menenangkan Violet yang ada di dekapanya dan berulang kali mencium kening wanita itu.
"Jangan menagis lagi."ucap Axel pada Violet yang menagis pilu.
Axel nampak tidak tau yang harus di lakukanya sekarang setelah dia mengetahui semuanya.
"Kenapa kau menutupi hal sebesar ini Violet? Ini terlalu berat untukmu memikulnya sendiri."ucap Axel mencium keningnya.
Violet hanya menangis tak mampu berkata-kata. Racel nampak melihat kakaknya yang mendekap Violet. Racel dapat meresakan rasa cinta kakaknya pada wanita itu sanagat besar.
Racel pun melangkah pergi dari tempat itu dan masuk ke kamarnya.
"Kakak.. kenapa kau terlihat sangat menyedihkan."ucap Racel di dalam kamarnya.
"Jangan menangis lagi Violet aku tidak bisa melihatnya."ucap Axel.
"Kenapa aku harus seperti ini? Kenapa harus aku? Kenapa tidak orang lain saja? Kenapa mereka semua bahagia? Kenapa aku tidak bisa?"ucap Violet mengutarakan isi hatinya.
"Aku.. Aku..."ucap Violet tidak dapat berkata-kata.
"Sudah.. Jangan bicara lagi. Aku sudah tau semuanya. Tenangkan dirimu."ucap Axel yang mendekapnya semakin erat.
"Ayahku! Ayahmu yang gila itu merampas ayahku dariku! Aku benci padanya!"ucap Violet meluapkan amarahnya.
"Jika ayahku sampai terluka atau mati. Maka akupun tidak ada alasan lagi untuk hidup. Apalagi jika aku harus menghabiskan sisa hidupku bersama pembunuhnya! Tidak! Aku tidak mau! Lebih baik bunuh saja aku Axel. Bunuh aku saja sekarang!"ucap Violet menarik kerah baju Axel yang ada di hadapanya.
Axel pun dengan cepat memeluknya dan mencium bibirnya.
"Tenangkan dirimu Violet. Ada aku."ucap Axel dalam hati.
Violet pun diam karena Axel menciumnya. Mata Violet yang membelalak perlahan meredup dan sayup. Airmatanya nampak berlinang. Tiap tetesnya terjatuh dan mengalir di lengan Axel. Axel masih menciumnya dengan penuh perasaan dan kelembutan.
"Aku akan pikirkan cara untuk melepaskanmu dari ayahku."ucap Axel dalam hati.