Stay With Me Violet Season 1

Stay With Me Violet Season 1
Bermalam di rumah Axel




Violet menggerakan jemarinya dan mulai membuka matanya. dia masih nampak tidak bergeming dan meringis kesakitan.


"Sayang kamu sudah sadar? maafkan aku."ucap Zayn mencium tangan Violet.


Violet sadar saat ini sedang di perjalanan dia pun menoleh ke arah Zayn.


"Aku mau pulang."ucap Violet gemetar.


"Tapi.."ucap Zayn.


"Aku mau pulang."ucap Violet mengulang permintaanya.


"Apa kamu tidak apa-apa?"tanya Zayn khawatir.


"Ia."saut Violet.


"Baiklah."Ucap Zayn.


Zayn pun memutar balik kendaraanya untuk kembali kerumah. dia nampak memandangi Violet yang lemas dan membisu.


"Leherku sakit, melelan ludah saja sangat sulit."ucap Violet dalam hati.


Melihat Violet yang meringis kesakitan Zayn pun berhenti di apotik untuk membelikanya obat pereda nyeri.


"Jika tidak ingin kerumah sakit, minumlah obat ini untuk meredakan rasa sakit."ucap Zayn khawatir.


"Ia."saut Violet dingin.


Deerrtt...ponsel Zayn bergetar diapun menyambungkan panggilan telpon dari sekertarisnya.


"Halo.. "Ucap Zayn.


"Tuan ada permasalahan mendesak di sini dan membutuhkan anda."ucap sekertaris tuan Zayn yang ada di Amerika.


Sekertaris Tuan Zayn menjelaskan melalui sambungan telponya bahwa ada sabotase di One Zayn Group Amerika dan hanya Zayn Keenan lah yang bisa menyelesaikannya.


"Kalian semua tidak becus! kenapa sampai di sabotase? kalian bersiaplah akan menerima pelajaran dariku!"ucap Zayn marah.


Zayn pun mematikan sambungan telponya dan meletakan ponselnya. dia menoleh ke arah Violet dan mencium tanganya lagi. Violet nampak diam saja tidak bergeming.


"Sayang maafkan aku.."ucap Zayn meminta maaf pada Violet.


Violet tidak menjawab ucapan Zayn padanya. Zayn pun menghela nafas panjang dan bersandar di kursinya sambil mengemudi.


"Aku akan membawamu ke kediamnku bersama."ucap Zayn.


"Aku tidak mau."saut Violet dengan cepat.


"Kamu sedang sakit dan harus ada yang memperjatikan, di sana ada Axel dan Racel yang bisa menjagamu."ucap Zayn.


"Putrimu akan membunuhku."saut Violet.


"Tidak, dia gadis baik hanya sedikit keras kepala. masih ada Axel yang bersikap lebih baik dia akan menjagamu di sana."ucap Zayn memaksa.


"Tidak."ucap Violet.


"Patuhlah Violet!"ucap Zayn marah.


Violet pun terdiam dan pada akhirnya dia harus mematuhi semua perintah Zayn. Zayn membawanya kekediamanya. sesampainya di rumah megah itu mereka di sambut para pelayan dan pengawal.


Axel dan Racel yang sedang duduk di ruang keluarga mereka nampak menoleh ke arah pintu. Racel pun bangkit dari duduknya.


"Kenapa ayah membawa Pe**cur itu kerumah ini lagi?"tanya Racel.


"Jaga sikapmu Racel Violet sedang sakit."ucap Zayn.


Mendengar Violet sakit Axel pun menoleh ke arah Violet dan berdiri di belakan Zayn. Axel menatapnya dalam-dalam.


"Lalu kalau sakit kenapa ayah membawanya kemari?"tanya Racel.


"Di sini ada kau dan Axel yang bisa menjaganya. ayah harus segera kembali ke Amerika."ucap Zayn yang membawa Violet ke kamar tamu.


"Ayah aku tidak sudi menjaga wanita itu!"ucap Racel kepada ayahnya yang semakin jauh dari pandangan.


"Cih...Sakit."ucap Racel menggerutu.


Axel pun bangkit dari duduknya dan pergi kekamar.


"Mau kemana?"tanya Racel.


"Tidur."saut Axel.


Racel pun bangkit dari duduknya dan dia pun masuk ke kamar untuk beristirahat. Racel tidak mau memperdulikan Violet sama sekali.


"Sayang aku harus kembali ke Amerika, saat semua membaik aku akan mengajakmu kesana untuk berlibur."ucap Zayn mengelus kepala Violet yang duduk atas tempat tidur.


Malam itu sudah sangat larut, Rumah mewah nan megah itu sudah nampak gelap dan sepi. Axel membuka pintu kamarnya dan berdiri di pintu kamar Violet yang letaknya berdekatan dengan kamarnya.


Violet nampak berdiri di depan cermin, ia memandangi wajahnya yang membiru akhibat di pukul Zayn dan perlahan membuka pakaianya. Violet meneteskan airmatanya lagi saat ia melihat lehernya yang membiru dan membengkak membuatnya kesakitan saat bergerak bahkan kesakitan hanya untuk menelan air minum.


Tok..tok.. Seseotang mengetuk pintu kamarnya, Violetpun dengan cepat menutup tubuhnya dengan jubah handuk yang ada di dekatnya.


Krieett...Violet membuka pintu kamarnya, Ia melihat Axel yang berdiri di depan pintu.


"Apa aku boleh masuk?"tanya Axel.


"Aku mau mandi."saut Violet yang menundukan kepalanya untuk menutupi luka di wajahnya.


"Kau sedang sakit apa perlu untuk mandi?"tanya Axel.


"Aku tidak sakit."ucap Violet.


"Ayah menitipkanmu padaku dan Racel. jadi akau mau menjagamu."ucap Axel.


"Aku tidak perlu di jaga."saut Violet.


"MInggir."ucap Axel menerobos masuk dan mengunci pintu.


"Tidak sopan masuk kamar wanita tanpa izin."ucap Violet.


"Sekarang kau sudah mengizinkanku bukan?"tanya Axel.


Violet pun terdiam dan duduk di atas tempat tidur. Axel pun menatapnya dan menghampirinya.


"Jika aku bicara lihat wajahku."ucap Axel meraih dagu Violet.


Sontak wajah Axel berubah saat dia melihat luka di wajah Violet.


"Siapa yang melukaimu? siapa yang melakukanya?!"tanya Axel khawatir.


"Tidak usah di ributkan."ucap Violet menepis tangan Axel dari wajahnya. diapun menundukan kepalanya lagi.


"LIhat kemari!"ucap Axel meraih dagunya lagi untuk melihat wajah Violet.


Mata Axel nampak melihat ke setiap sisi lekuk tubuh Violet dan diapun terkejut saat melihat leher Violet yang membengkak dan merah.


"Buka handuknya! biar aku melihatnya!"ucap Axel membongkat handuk Violet.


"Axel kau sangat kurang ajar!"ucap Violet menahan tangan Axel.


"Terserah apa katamu."ucap Axel yang tidak menghentikan tanganya.


Axel pun menarik handuk Violet kebawah. dia nampak membatu saat melihat luka-luka Violet. Axel menatap wajah Violet dan menggenggam kedua lenganya.


"Apa ini semua ayah yang melakukanya?!"tanya Axel serius.


"Apa pentingnya siapa yang melakukan! lebih baik kamu keluar aku mau mandi."ucap Violet yang tidak ingin membahasnya lagi.


"Ikut aku! kita kerumah sakit."ucap Axel menarik tangan Violet.


"Lepas! aku tidak mau."ucap Violet menghempas tangan Axel.


"Kau sangat keras kepala!"ucap Axel marah karena khawatir.


"Bahkan jika ayahmu membunuhku aku tidak perduli!"ucap Violet tegas.


Axel pun membatu dan menoleh kearahnya. dia memegang pipi Violet dengan kedua tanganya dan menatap matanya sangat dalam.


"Kau tidak perduli tapi aku.. aku sangat perduli padamu."ucap Axel memeluk Violet.


"Ayahmu akan membunuhmu jika melihatmu seperti ini padaku."ucap Violet.


"Jangan bicara lagi. biarkan aku seperti ini."ucap Axel memejamkan kedua matanya dan membelai rambut Violet yang di dekapnya.


"Ini terakhirkalinya aku mengizinkanmu memelukku."ucap Violet.


"Aku tidak memerlukan izinmu untuk memelukmu."ucap Axel.


"JIka kau keras kepala kau akan benar-benar matai di tangan ayahmu sendiri."ucap Violet menagis di dekapan Axel.


"Menangislah."ucap Axel memeluk erat Violet.


***


Halo Readers..


Kalau suka sama karya aku ini, mohon untuk Like, Komen, tekan tombol Favorit dan Vote yaa..๐Ÿ˜€


mohon untuk menggunakan bahasa yang sopan supaya author semangat nulisnya๐Ÿ˜˜๐Ÿ™