Stay With Me Violet Season 1

Stay With Me Violet Season 1
Pergi menyusul Violet




Dikediaman Zayn Keenan, ia bangkit dari tidurnya di pagi hari. sesuai dengan perintahnya, saat ini Jeon sudah tinggal di kediamanya. pagi ini Jeon mengetuk pintu kamar Zayn untuk menyapa.


Tok.. tok..


"Masuk!" Ucap Zayn.


Mendengarnya Jeon pun masuk kedalam kamar, ia melihat tuanya saat itu sedang meregangkan otot-otot lehernya dengan ekspresi wajah datar, dingian dan mengerikan khas Zayn Keenan.


"Selamat pagi tuan Zayn." Sapa Jeon.


"Heemm." Sahutnya.


Zayn Keenan bangkit dari duduk, ia menuju balkon kamarnya di ikuti Jeon di belakangnya.


"Sarapan sudah siap tuan." Ucap Jeon.


"Hem." Sahutnya.


"Jeon, apa kau sudah mendapatkan hasil dari perintahku tempo hari?" Tanya Zayn.


"Sudah tuan, seperti dugaan cincin berlian di jari manis nona Violet memang pemberian dari tuan Joe Nathan. cincin itu sebagai tanda ikatan hubungan mereka yang serius. saya sudah menyelidikinya, nama Nona Violet dan tuan Joe Nathan sudah terdaftar di kantor catatan sipil, mereka akan menikah kurang dari dua minggu lagi." Sahut Jeon.


"Hahahaha....." Tawa Zayn Keenan, entah apa yang membuatnya tiba-tiba tertawa.


"Lalu?" Tanya Zayn, seketika raut wajahnya kembali dingin.


"Kami akan mencari nona Violet di kota tempat kami menemukanya tempo hari, besar kemungkinan nona Violet di sembunyikan tuan Joe Nathan di kota itu." Sahut Jeon.


"Hahahaha..... Joe Nathan, bajing*an itu. berani sekali dia mendahuluiku untuk menikahi Violet." Ucap Zayn.


"Perintahkan pengawal untuk mengawasi gerak gerik Axel, sadab mobilnya. anak itu.. pasti tidak akan diam saja, dia pasti akan mencari Violet." Ucap Zayn.


Dirumah sakit Axel tersenyum saat ia menatap layar ponselnya yang menyala. Joe Nathan terpaksa mengirimkan lokasinya pada Axel sebagai wujud ia menepati kesepakata mereka.


Sejak saat itu Axel tidak bisa menunggu lebih lama, dia langsung menyelesaikan administrasi untuk segera menemui Violet. sedangkan Jeon mulai mematuhi perintah dari tuanya. ia menyadab mobil Axel dan mulai memerintahkan orang-orang setia Zayn untuk mengawasi Axel Zayn kemanapun ia pergi.


Meski belum sepenuhnya pulih, Axel meminta Ben untuk mewakilinya, ia mempercayakan Ben untuk menggantikan posisi Presdir di One Zayn Group untuk sementara waktu.


Sadar akan segala kemungkinan, Axel pun meminta Ben untuk datang ke rumah sakit saat itu juga. tidak butuh waktu lama Ben pun datang untuk menghadap tuan sekaligus sahabatnya itu. kini ia sudah sampai di rumah sakit dan mulai bergegas menemui Axel di ruang inapnya.


Pintu ruang inapnya terbuka, Axel menoleh dan melihat senyum sahabatnya. mereka saling beradu kepalan tangan seperti biasa yang mereka lakukan setiap kali bertemu.


"Bagai mana keadaanmu?" Tanya Ben.


"Jauh lebih baik." Sahut Axel.


"Kau berkelahi dengan ayahmu lagi?"


"Iya."


"Dimana Violet? ayahmu sudah menemukanya?"


"Iya, tapi Violet sudah di jemput kembali oleh Joe Nathan."


"Joe Nathan? berarti selama ini dugaan kita benar? pria itu.. sangat pintar menyembunyikan Violet hingga tidak dapat satu orangpun mencurigainya. tapi.. kenapa kau membiarkanya pergi bersama Violet?"


"Yang terpenting Violet menyingkir dulu dari ayahku, soal Joe Nathan.. aku akan membereskanya setelah itu."


"Lalu apa tujuanmu sekarang?"


"Aku ingin menemui Violet, kau wakilkan aku di perusahaan. aku tidak akan membawa ponsel ataupun mobilku, ayah pasti sudah merencanakan cara agar dia menemukan Violet lagi."


"Kau pakai saja mobil pribadiku."


"Iya, aku juga mau kau belikan aku ponsel baru."


"Kau akan pergi sendiri?"


"Iya."


"Kirimkan alamat ini ke ponsel baruku nanti, setelah itu kau simpan saja ponselku di kantor." Ucap Axel, ia melemparkan ponselnya pada Ben dan Ben pun menangkapnya.


"Kenapa?" Tanya Ben.


"Anak itu tidak akan mengizinkanku pergi."


"Lebih baik kau pakai saja ponselku dan pergi sekarang." Ucap Ben sambil ia melemparkan ponselnya pada Axel.


"Baiklah." Saut Axel, ia menangkap ponsel milik sekertarisnya itu.


"Apa di mobilmu ada pakaian? berikan aku kartu saktimu juga." Ucap Axel.


Ben memberikan kartu sakti tanpa limit dan debit miliknya, dia juga memberikan ponselnya, kuci mobil beserta semua isi mobilnya termasuk pakaian dan sepatu untuk Axel gunakan. iya! beruntungnya size yang mereka gunakan sama.


Pagi itu Axel meninggalkan rumah sakit dan meninggalkan Ben di ruang inapnya, Ben pun tidak bergegas pergi, ia malah berbaring santai di ranjang pasien bekas pakai Axel hingga seseorang mengetuk pintu dan masuk.


"Hay.." Sapa Ben.


Racel terdiam dengan wajah datar, dia menatap pria yang saat ini sedang berbaring di atas ranjang kakaknya. tanpa ia membalas sapaan Ben, Racel langsung bergegas meletakan obat di dalam plastik kantong yang ia bawa di atas meja dan ia menghampiri toilet.


Braaakk.... Racel membuka pintu toilet dan mendapati toilet itu kosong, dia menoleh dan menatap pria yang saat ini sedang bersantai sambil menatapnya.


"Dimana kakak?" Tanya Racel, dia masih mematung di depan pintu toilet.


"Sedang membereskan sesuatu yang menyangkut masa depanya." Saut Ben sambil ia menggoyang-goyangkan kakinya yang menumpang.


Racel menghampirinya dan Bug..!! ia memukul dada Ben, "Aaaahh." erang Ben, ia memegangi dadanya.


"Bangun!" Perintah Racel.


Ben pun bangun dan ia membalas tatapan mata Racel yang begitu tajam padanya, bug..!! Racel memukulnya lagi.


"Yaa!!" Ucap Ben, ia meraih pergelangan tangan Racel.


"Lepas!" Perintah Racel.


"Kau sudah dua kali memukulku, seharusnya kau memberi ganti rugi kan?" Ucap Ben.


"Kau ini bodoh! sudah tau kak Axel sedang sakit tapi kau malah membiarkanya pergi bodoh!" Saut Racel.


"Kakakmu sedang memperjuangkan masa depan bahagianya, kamu sebagai adik seharusnya mendukung." Ucap Ben, dia tersenyum menatap wajah Racel yang nampak kesal.


"Iiiiihh! terserah apa katamu!" Sahut Racel, dia melepaskan tangan Ben dari pergelangan tanganya dan ia memutar tubuh untuk meninggalkan ruang inap itu.


"Mau kemana?" Tanya Ben, ia meraih pergelangan tangan Racel lagi.


Racel pun menoleh, "Pulang!" Sahutnya.


"Bagaimana jika nanti malam kita makan malam bersma?" Tanya Ben, ia belum beranjak dari duduknya.


Racel seketika menghentikan langkahnya, dia terdiam sambil berpikir dan ia pun menoleh lagi.


"Kau mengajakku berkencan?" Tanya Racel, dia melipat kedua tanganya di dada, bertanya seolah sedang menghakimi.


Ben pun bangkit dari duduk, dia tersenyum tipis dan berdiri tepat di hadapan Racel yang begitu tajam menatap matanya, Ben meraih dagu wanita itu, "Kau sangat manis, bersiaplah nanti malam aku akan menjemputmu." Ucapnya dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Racel yang masih mematung.


Racel menoleh dan ia menatap pria itu menghilang dari pandanganya, "Cih....." Racel tersenyum kecut di buatnya, hingga ia pun menyusul pergi meninggalkan rumah sakit.


🌸Stay With Me Violet🌸


Jangan lupa dukung author:


Vote


Like


Love


Komen positif


🙏