
Setelah selesai makan siang keduanya pun kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan.
Joe Nathan sudah menjelaskan secara detail pada Violet tentang apa yang harus di lakukan Violet selama dalam perjalanan menuju tempat persembunyian yang Nathan siapkan untuknya dan tuan Hari.
Violet nampak melamun di kursinya, dan menoleh ke arah Axel yang sibuk di ruanganya. Axel yang melihat Violet menatapnya pun dia meraih telpon yang ada di dekatnya untuk menelpon Violet.
"Datanglah keruanganku."perintah Axel dari sambungan telpon.
"Baik."saut Violet menutup telpon dan melangkah masuk kedalam ruangan Axel.
"Anda sudah lebih baik tuan?"tanya Violet yang berdiri di hadapan Axel.
"Ia, semua berkatmu. Duduklah Violet."ucap Axel mempersilahkan Violet untuk duduk di sofa.
"Kemana Ben?"tanya Violet.
"Ben sedang Meeting bersama klien."saut Axel.
"Ada apa memanggilku?"tanya Violet.
"Aku hanya merasa ingin melihatmu lebih lama dan lebih dekat."saut Axel.
"Ia, mungkin ini kesempatan terakhir kita untuk saling bertemu."ucap Violet dalam hati.
"Apa yang kau fikirkan?"tanya Axel.
"Tidak ada."saut Violet.
"Violet, kita belum lama saling mengenal. Tapi aku sudah dapat meyakinkan hatiku, kau pilihanku. Pergilah bersamaku ketempat yang jauh hanya kita berdua."ucap Axel menggenggam tangan Violet.
"Sejujurnya aku memang mencintaimu, tapi.. Aku tidak bisa bersamamu."ucap Violet menatap mata Axel.
"Kenapa Violet?"tanya Axel.
"Aku, sudah menentukan pilihanku, dan pilihanku bukan anda tuan."saut Violet.
"Apa yang kau bicarakan Violet? Kejujuranmu mebuatku merasa sakit."ucap Axel.
"Maafkan aku, tapi aku rasa aku harus memberitahumu yang sejujurnya. Aku banyak berfikir tentangmu dan Joe Nathan. Tapi aku sungguh tidak bisa meninggalkan Joe Nathan untukmu ataupun ayahmu."saut Violet.
"Violet.."ucap Axel.
"Berhentilah tuan, karena aku hanya ingin hidup bersama Joe Nathan. Dari saat aku baru mengenalnya dan sampai detik ini. Aku sempat goyah karenamu. Tapi, aku sudah memutuskan untuk tetap bersamanya."ucap Violet.
"Violet.."ucap Axel.
"Maafkan aku harus berkata seperti ini, lupakan aku, hiduplah bersama wanita yang mencintaimu dan berbahagialah."ucap Violet.
"Maafkan aku Axel, mungkin dengan mematahkan harapanmu, kau akan lebih mudah melupakan aku karena akupun akan berusaha untuk melupakanmu dan hanya melihat Nathan saja."ucap Violet dalam hati.
Axel terdiam dan membisu, dia sangat kecewa dengan keputusan Violet.
"Bisakah aku melakukan satuhal?"tanya Violet.
"Apa?"tanya Axel lirih.
Violet memegang kedua sisi pipi Axel, Violet menatap matanya sangat dalam. Kedua mata mereka memerah dan perlahan Violet mendekatkan wajahnya pada Axel.
"Ini Ciuman terakhir kita. Aku harap setelah ini kamu bisa melupakan semuanya dan lupakan aku."ucap Violet.
Namun Axel mendekapnya sangat erat, Axel tidak mengizinkan Violet untuk melepaskanya dan mengakhiri Ciuman manis itu. Axel yang putus asa akan dirinya yang tidak bisa hidup bersama wanita yang ia cintai. Wanita yang memilih menghabiskan sisa hidupnya bersama pria lain. Tanpa sadar Axel meneteskan air matanya.
Violet yang menyadari Axel mengis, dia pun melepaskan dirinya dari dekapan Axel.
violet menatap matanya dan membelai rambunya.
"Kau menagis?"tanya Violet.
"Maafkan aku. Karena aku tidak bisa menahanya."saut Axel.
"Tak apa. Menangislah untuk saat ini saja. Karena kau harus berbahagia setelahnya."ucap Violet menarik Axel yang menagis kedalam pelukanya.
Violet memberikan waktunya untuk Axel di ruanganya. waktu yang harus di manfaatkan sebaik mungkin.
"Sudah waktunya pulang, aku akan kembali kerumah."ucap Violet.
"Pulanglah kerumahku."ucap Axel.
Violet tidak menjawab ajakan Axel, dia hanya tersenyum manis padanya. Axel nampak menatap senyum manis Violet.
"Jangan lupakan apa yang aku katakan padamu tuan, berbahagialah mulai saat ini bersama wanita yang mencintaimu."ucap Violet dengan tatapanya yang sangat dalam.
Axel hanya diam dan menatapnya. Violet pun mengambil ponselnya yang ada di sofa.
"Aku pulang, selamat tinggal."ucap Violet tersenyum di dekat pintu ruangan Axel.
Axel masih diam dan merasa Violet akan semakin jauh darinya. Violet pun keluar dari ruangan Axel dan mengambil tasnya. dia melangkahkan kakinya tanpa ragu meski separuh hatinya masih tertinggal. separuh hati yang ia berikan pada Axel. membuatnya menangis sepanjang ia melangkah.
"Aku pun mencintaimu, tapi aku harus melakukan ini. aku tidak mau mempermainkan persaan siapapun lagi. aku hanya ikuti kata hatiku saja."ucap Violet dalam hatinya.
Violet masuk kedalam Taxi yang sudah Joe Nathan persiapkan untuknya.
"Nona Violet, saya anak buah tuan Joe Nathan akan membawa anda menemui tuan Hari."ucap seorang pria utusan Joe Nathan yang duduk di kursi kemudi.
"Ia, mari kita pergi."ucap Violet menatap One Zayn Group.
Violet meninggalkan ponselnya di laci meja kerjanya, dia melakukan semua yang sudah Nathan rencanakan dengan rapih.
Violet melakukan panggilan pada Nathan yang masih di kantor.
"Halo."ucap Nathan.
"Aku sudah dalam perjalanan."ucap Violet.
"Ia, aku bisa mengetahui lokasimu dari ponselku. berhati-hatilah Violet aku akan datang menemuimu saat waktunya tepat."ucap Nathan.
"Ia, aku akan menunggu. jaga dirimu baik-baik aku mencintaimu Joe Nathan."ucap Violet.
"Ia, akupun sangat mencintaimu Violet. aku akan jaga diriku sangat baik di sini, jangan banyak berfikir. maulilah kehupan yang baru bersama ayahmu di sana. aku akan menjamin semua kebutuhanmu dan ayahmu, jangan takut apapun lagi."ucap Nathan.
"Terimakasih Nathan. aku beruntung bertemu pria baik sepertimu."ucap Violet.
Violet pun mengakhiri panggilan telponya dan menatap keluar jendela.
"Aku bilang aku tidak bisa memilih satu di antara dua. tapi pada akhirnya aku harus menentukan pilihan. maski aku memilih Joe Nathan tapi tak bisa di pungkiri aku pun masih sangat mecintai Axel."ucap Violet dalam hati.