
"Violet, ini hari ke 7 kau menghilang, apa kau tau? aku sangat merindukanmu. aku ingin melihatmu, menyentuhmu, menatap mata indahmu, didekatmu dan aku merindukan senyumanmu."ucap Axel melangkahkan akinya menuju balkon kamarnya.
"Kau menciumku, membelai rambutku dan menariku kedalam pelukanmu. semua yang tidak pernah kau lakukan, semua itu kau lakukan untuk perpisahan ini? kau sudah berencana untuk pergi. kau bilang "Aku memilih Joe Nathan" apa itu sungguh? atau hanya untuk membuatku melupakanmu?"ucap Axel dalam hati.
Axel merenung di balkon kamarnya, dia menikmati hembusan angin malam yang mengantar tiap detik kenangan antara dirinya dan Violet. angin malam yang menghempas semua rasa kerinduannya.
***
Sejak menghilangnya Violet Axel tak lagi merasakan tidur nyenyaknya. Axel melangkah cepat menuju mobil JOe Nathan yang ada di parkiran.
"keluar!"perintah AXel pada Nathan yang ada di dalam mobil.
"Cih.."Nathan keluar dari dalam mobilnya.
"Mau makan siang bersamaku?"tanya Nathan meledek.
"Katakan dimana Violet!"teriak Axel menarik kerah baju Joe Nathan.
"Cih.."senyum kecut Nathan.
"Berhentilah mengharapakan apa yang tidak akan menjadi milikmu."saut Nathan.
Braaakkk...!! Axel memukul wajah Joe Nathan, AXel nampak tak bisa lagi mengendalikan diri.
Braaakkk...!! Joe Nathan membalas pukulan Axel dan membuat Axel semakin marah.
"Kau menyembunyikanya!"ucap Axel menarik kerah baju Nathan lagi.
"Jika begitu awasi saja aku."ucap Nathan dengan senyum di wajahnya.
Joe Nathan menepis tangan Axel dari pakaianya dan Nathan punmerapihkan kemeja dan dasinya.
"Lebih baik Violet menghilang daripada dia harus berhadapan dengan Zayn si tua bangka itu dan membuatnya menderita setiap saat."ucap Nathan yang berlalu pergi.
Axel mematung dan menyadari akan alasan Violet pergi.
"Violet, kau pergi karena tidak ingin bersama ayah?"tanya Axel dalam hati.
"Selidiki siapa saja yang dekat dengan Violet di kantor! dan cari tau aktivitasnya beberapa bulan terakhir!"perintah Zayn pada pengawalnya.
Para pengawalpun bergegas melaksanakan perintah dari tuanya. Zayn pun menoleh ke arah putranya yang baru pulang dari kantor. Axel yang menatap ayahnya, dia pun melangkah pergi.
"Axel."panggil Zayn.
"Ia."saut Axel menghentikan langkah kakinya.
"Kemarilah!"perinta Zayn.
"Ada apa?"tanya Axel dengan wajah datar seolah ia malas berbicara pada ayahnya.
"Siapa yang dekat dengan Violet di kantor?"tanya Zayn.
"Berhentilah mencarinya."saut Axel melangkah pergi.
"Ayah dengar kau menyukai Violet?"tanya Zayn dengan wajah mengerikan.
Axel pun menhentikan langkahnya dan memutar tubuhnya untuk menatap mata ayahnya, Axel nampak memasukan kedua tanganya kedalam saku celananya.
"Tentu saja. Calon istrimu sangat muda dan cantik, dia terlihat lebih cocok bersamaku. dan dia adalah tipe wanitaku."saut Axel.
Zayn pun melangkah cepat menghampiri Axel dan memukul wajah Axel sekuat tenaganya. Braakkk....!! Axel tersungkur di lantai dan Zayn menarik jasnya untuk membuat Axel bangkit.
"Bicara sekali lagi!"ucap Zayn marah dengan wajah mengerikan dan urat-urat yang menonjol.
"Lebih baik kau berikan wanitamu padaku ayah."saut Axel tersenyum pada ayahnya.
"Braaakk...!! Zayn memukul wajah putranya untuk kedua kalinya.
"Cih.."senyum Axel meledek.
"Kau bertanya dan aku hanya menjawabnya."saut Axel.
Zayn memukuli putranya sendiri karena Violet, Axel nampak tidak melawan tiap pukulan dari ayahnya.
"Kau! apa yang kau bilang ingin merebut wanita yang sudah punya calon suami pada ayah dan Violet waktu itu! apa wanita yang kau maksud adalah Violet?"tanya Zayn yang hilang kesadaran.
"Cih... Tentu saja kau benar dan aku AXel pasti akan merebutnya darimu ayah."ucap Axel yang terbaring di lantai.
Zayn pun hendak memukulnya lagi. namun tangan Zayn tertahan.
"Apa yang ayah lakukan pada kakak?!"tanya Racel menahan tangan Zayn ayahnya.
"Biarkan ayah membunuhnya!"ucap Zayn menghempaskan tangan putrinya.
"Jangan ayah. apa kau kehilangan akal? dia putra ayah!"saut Racel marah.
"Tapi Axel sangat lancang ingin merebut Violet dari ayah!"ucap Zayn hendak memukul Axel lagi.
"Hanya karena wanita ayah ingin nmenghabisi kakak putra kandung ayah sendiri?"tanya Racel menahan tangan ayhnya lagi.
"Pergi kekamarmu Racel!"teriak Zayn pada putrinya.
"Tidak! ayah kau sangat mengecewakan aku!"ucap Racel marah.
Zayn pun bangkit dan melangkah pergi kekamar untuk menenangkan diri. dia sangat marah pada putranya Axel karena telah mencintai wanitanya.
"Kakak apa kau baik-baik saja? ayo kita ke rumah sakit."ucap Racel memapak kakaknya.
"Panggil saja doketer Hans datang kemari. antar kakak ke kamar."saut Axel.
"Baiklah."saut Racel.
Racel memapah kakaknya ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Racel nampak menelpon dokter Hans untuk segera datang kerumah. Racel nampak menatap kakaknya yang kesakitan. Racel pun meneteskan air mata.
"Ini semua karena wanita sialan itu! ayah dan kakak jadi bermusuhan seperti ini."ucap Racel dalam hati.
"Kenapa ayah bisa sampai tau? katakan padaku!"tanya Racel marah pada kakaknya.
"Aku tidak tau ayah tau dari siapa uhuk.."saut Axel.
"Lalu bagaiaman selanjutnya?"tanya Racel.
"Bagaimana? ya lanjutkan saja. lebih bagus jika ayah tau tentang perasaanku pada wanitanya."saut Axel.
"Apa kau gila?"tanya Racel pada kakanya.
"Ia, aku gila semenjak mengenal wanita itu."saut Axel.
"Dia bahkan sudah pergi meninggalkanmu kakak! kenapa kau menjadi begitu bodoh!"ucap Racel.
"Dia pergi bukan karena ingin meninggalkan aku. tapi karena dia ingin pergi dari ayah."saut Axel.
"Jadi kau tidak menyerah?"tanya Racel.
"Aku tidak akan pernah menyerah."saut Axel.
"Kakak, kau tampan, kaya raya, kau punya segalanya. bisakah kau melihat wanita lain? banyak sekali wanita cantik yang mau bersamamu. kenapa kau memilih dia? kau bahkan mengemis cintanya. kau pria tampan menjadi sangat menyedihkan! kau sangat menyedihkan! apa kau sadar?!"tanya Racel menagis.
"Aku tidak pernah keberatan dan tidak pernah menyesal karena telah mencintainya Racel."saut Axel.
"Ayah akan benar-benar membunuhmu jika kau mengatakan hal itu padanya."ucap Racel.
"Aku tidak takut padanya uhuk..uhuk.."saut Axel.
"Sudahlah lupakan. dokter Hans sudah adatang aku akan menjemputnya."saut Racel berlalu pergi dengan cepat.