Stay With Me Violet Season 1

Stay With Me Violet Season 1
Keisengan Axel




Waktu terus berjalan Zayn sangat bahagia malam itu, dia mengantar Violet pulang kerumahnya. Sepanjang jalan Violet hanya diam dan tidak mau melihat wajahnya. Zayn menyadari sikapnya yang dingin namun Zayn membiarkanya untuk membuatnya lebih tenang.


Sesampainya dirumah Violet langsung masuk kekamarnya, sedangkan Zayn pulang kekediamanya. Violet merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, dia meneteskan air matanya lagi saat melihat cincin yang melingkar dijari manisnya.


"Ayah jemput aku."Ucapnya dalam hati.


Malam itu ia habiskan waktunya hanya untuk termenung, dia terjaga sepanjang malam. Violet seperti orang yang kehilangan arah hidupnya, dia duduk dilantai dengan kedua tangan yang memeluk lutut. Violet masih menangis sepanjang malam, dikamar yang gelap tanpa cahaya.


Dipagi hari Violet pergi bekerja, dia berjalan menyusuri jalan menuju halte Bus. Dia duduk dikursi panjang bersama para calon penumpang lainya dihalte itu, Violet menghela nafas dan bersandar sambil memejamkan matanya. Fikiranya tidak karuan, Violet menatap tanganya yang sekarang memakai cincin, diapun melepas cincin itu dari jari manisnya dan menyimpanya didalam tas.


"Cih.. Siapa juga yang sudi menikah denganmu."Ucap Violet dalam hati.


Bus datang, Violet masuk kedalam dan mobilpun melaju menuju rute yang dituju. Violet melihat keluar jendela dengan tatapan kosong dan perlahan dia tertidur.


Ditempat lain Zayn sedang sarapan dimeja makan yang besar bersama Axel dan Racel sebelum mereka pergi bekerja.


"Ayah aku pergi duluan ya, temanku sudah datang menjemputku."Ucap Racel sambil mencium pipi ayahnya Zayn.


Racel berjalan cepat meninggalkan Ayah dan Kakaknya yang masih dimeja makan. dia masuk kedalam mobil teman yang menjemputnya dan pergi bekerja.


"Axel."Ucap Tuan Zayn.


"Ia ayah."Saut Axel.


"Ayah akan kembali ke Amerika untuk beberapa minggu."Ucap Tuan Zayn pada putranya.


"Untuk apa?"Tanya Axel yang makan perlahan.


"Ada kepentingan mendesak dengan rekan bisnis ayah disana dan tidak dapat ditunda."Saut Tuan Zayn.


"Baiklah,"Saut Axel.


"Satu lagi. seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, tentang pertukarana antar General Manager. Ayah mengutus GM Joe Nathan untuk menggantikan Han dan Han sendiri akan menggantikan Joe Nathan di Amerika. Joe Nathan pria muda yang cerdas dan kompeten, dia sangat berpengaruh besar untuk One Zayn Group, Design dibawah kepemimpinanya selalu menguruti peringkat terbaik dibandingkan perusahaan lain, dia meningkatkan profit One Zayn Group. Joe Nathan adalah orang kepercayaan ayah, jadi selain ayah tidak ada yang bisa mengaturnya termasuk juga kamu."Ucap Tuan Zayn pada putranya.


"Aku putramu ayah, jabatan dia saja masih dibawahku, kenapa aku tidak boleh memerintahnya?"Tanya Axel.


"Dia spesial kamu harus mematuhi perintah ayah."Ucap Tuan Zayn.


"Baiklah terserah ayah saja."Saut Axel.


"Hari ini dia akan datang, ayah sudah suruh sekertaris Andre untuk mengatur pertemuanmu denganya di Golf, kau boleh ajak Ben atau orang kepercayaanmu karena ayah tidak bisa datang. Ayah akan terbang pagi hari."Ucap Tuan Zayn.


"Baik aku akan menemuinya."Saut Axel.


Axel pun keluar dari rumah mewahnya dan menuju kekantor. kali ini dia datang siang sehingga Ben sudah ada diruanganya. Axel yang berjalan cepat dari jauh dia melihat Violet yang sibuk dengan ponselnya. Axel menghampirinya, sambil berjalan dia merampas ponsel Violet tanpa menoleh pada Violet dan dia berlalu pergi masuk keruanganya.


Violet membatu melihat kelakuan Axel yang seenaknya, diapun bangkit dari kursinya dan masuk keruangan Axel, Violet yang datang berjalan dengan cepat dan berdiri dihadapan Axel yang sedang memutar-mutar ponselnya diatas meja.


"Tuan, Kau merampas ponselku."Ucap Violet.


"Ini milikku."Saut Axel.


"Kembalikan padaku."Pinta Violet.


Ben melihat Violet yang merengek dan memohon pada Axel agar ponselnya dikembalikan, Ben tersenyum melihat Violet dingin seketika menjadi seperti anak kecil yang merengek meminta uang jajan.


"Sudah kubilang ini ponsel milikku."Saut Axel datar sambil memainkan ponsel Violet ditanganya.


"Itu privasiku."Ucap Violet dengan wajah memelas.


"Kau asyik dengan ponsel dijam kerja, jadi aku merampasnya. Kau bisa ambil setelah jam pulang kerja."Ucap Axel.


"Aku hanya membalas Chat dari Nadine."Saut Violet membela diri.


Ben masih tersenyum-senyum melihat Violet yang manja seperti anak-anak.


"Tetap saja kau korupsi waktu."Ucap Axel.


"Aku akan ketinggalan informasi jika tidak ada ponsel."Saut Violet lagi.


"Aku tidak perduli alasanmu, cepat lanjutkan pekerjaanmu."Ucap Axel.


"Kenapa masih berdiri disini? Apa kau tuli?"Ucap Axel.


"Tuan apa kau mau aku buatkan kopi?"Tanya Violet merayu.


"Apa kau sedang menjilatku?"Tanya Axel datar.


"Aku mohon."Ucap Violet memohon dengan memelas.


Ben menepuk jidatnya sendiri sambil tersenyum, baginya sikap Violet yang seperti itu sungguh sangat imut.


"Violet kalau mau, kamu bisa pakai ponselku."Ucap Ben.


"Tidak. Itu ponselmu, aku mau milikku sendiri."Saut Violet yang tidak mau pergi sebelum mendapatkan ponselnya kembali.


"Jika aku tidak berniat mengembalikanya kamu mau apa?"Tanya Axel menantang.


"Merampasnya paksa darimu."Saut Violet yang kehilangan kesabaran.


"Kalau begitu cobalah."Saut Axel menantang Violet.


Violet yang kesal dia menghampiri Axel dengan tatapan mematikan, Violet berjalan cepat dan berusaha merampas ponselnya yang berada ditangan Axel, Axel yang senang menggodanya pagi-pagi nampak tertawa lucu melihat sikap wanita dingin yang menjelma seperti anak-anak.


"Ambillah."Ucap Axel yang mengarahkan ponsel ditanganya kesana kemari agar Violet tidak bisa mengambilnya.


Violet berusaha sekuat tenaga, dia tidak putus asa pada tujuanya. Hingga tubuh mereka sangat dekat dan saling bersentuhan. Axel yang mendapat pelukan tanpa meminta diapun tersenyum karena mengambil kesempatan dalam kesempitan orang lain.


Namun senyum diwajah Ben seketika menghilang, Ben cemburu melihat kedekatan Axel dan Violet.


Violet yang tidak berhasil merampas kembali ponselnya diapun terdiam. Violet yang sangat dekat denganya saat itu membuat Axel membisu menatap wajahnya, dengan gerakan cepat Axel menarik tubuh Violet ketubuhnya yang sedang duduk dikursi. Violet kaget dan menatap mata Axel yang saat itu sangat dekat denganya.


"Ini Kantor."Ucap Ben cemburu.


Mendengar perkataan Ben, Violet langsung bergegas untuk menjauh dari tubuh Axel. Axel menariknya lagi keposisi sebelumnya dan mencium Violet dihadapan Ben. Violet terkejut dan langsung mendorong tubuh Axel, dia berdiri dan menatap Ben yang juga menatapnya.


"Aku akan kembalikan ponselmu tapi ada syaratnya."Ucap Axel.


"Katakan"Saut Violet.


"Temani aku menemui seseorang."Ucap Axel.


"Siapa?"Tanya Violet.


"Kau akan tau nanti."Saut Axel.


"Baiklah, sekarang kembalikan ponselku."Ucap Violet mengulurkan tanganya.


"Cih.. Enak saja."Saut Axel tersenyum kecut.


"Aku sudah bilang akan ikut kan? terus kenapa masih tidak mau mengembalikanya padaku?"Tanya Violet.


"Akan aku kembalikan saat kau sudah masuk kedalam mobil."Ucap Axel.


"Tuan Axel tidak mempercayaiku?"Tanya Violet.


"Kamu wanita licik mana ada yang percaya padamu."Saut Axel.


"Wanita licik?"Tanya Violet. diapun menghela nafas dalam-dalam.


"Datang ke mobilku 5 menit lagi."Perintah Axel.


"Tidak perlu tunggu 5 menit, ayo kita pergi sekarang!" Saut Violet yang berlalu pergi, dia terlihat sangat kesal.


Namun Axel malah tersenyum, dia sangat menyukai Violet yang manis seperti itu.


***


Halo Readers..


Kalau suka sama karya aku ini, mohon untuk Like, Komen, tekan tombol Favorit dan Vote yaa..๐Ÿ˜€


mohon untuk menggunakan bahasa yang sopan supaya author semangat nulisnya๐Ÿ˜˜๐Ÿ™