
"hei Aqua gelas, bangun!" Raka menepuk Jesi yang kembali merebahkan kepalanya di meja. Semenjak keinginannya ditolak, Jesi terus mengabaikannya dan memilih tidur.
"Bangun, Jes. Gue minta tolong lah lo cek ke dalem kira-kira Darmawan masih lama nggak? Urgent banget nih menyangkut masa depan gue." Kali ini Raka menepuk bahu Jesi lebih keras hingga perempuan itu mengangkat kepala dan menatapnya dengan kesal.
"Ogah ah. Tadi aja aku minta tolong Karak nggak mau bantu!" Ucap Jesi sambil memegangi kepalanya yang sedikit kleyengan.
"Hih dasar bocah!" Cibir Raka.
"Susah emang ngomong sama bocah." Lanjutnya.
"Bocah bocah gini juga udah bisa bikin bocah weee..." Balas Jesi mengejek dengan menjulurkan lidahnya kemudian kembali merebahkan kepala di meja.
Tak lama setelah itu, seorang pria paruh baya keluar dari ruangan, disusul oleh Rama yang bejalan di belakangnya.
Setelah memastikan klien menghilang dibalik pintu lift yang tertutup, Raka langsung menghampirinya.
"Wan, bantuin gue!"
"Bantu apa?" Jawabnya seraya melihat Jesi yang terlelap di meja kerja, seperti biasa bibir mungilnya sedikit terbuka setiap tidur. Dielusnya penuh sayang kepala Jesi.
"Ini urgent banget, Wan."
"Apaan emang? Abang lo nyuruh lo jadi satpam Naura lagi? Kan udah biasa." Tebak Rama tanpa melihat Raka, dia justru fokus memandangi Jesi yang terlelap sambil terus mengelus kepalanya.
"Bukan itu, Wan. Lo bisa nggak sih serius? Nggak usah ngeliatin si Aqua Gelas terus, lagi mo lor juga tuh bocah."
"Ck! Ya udah apaan? Buru!" Jawab Rama, dia berbalik menatap sahabatnya yang terlihat sedikit panik sore ini.
"Jangan kelamaan, gue mau balik. Nggak tega liat jas jus kesayangan gue tidur kayak gitu."
"Elah aqua gelas mulu yang lo pikirin, Wan. Sekali-kali pikirin nasib gue dong. Gue lagi was-was ini mau ketemu keluarga cewek yang gue suka." Tutur Raka.
"Was-was kenapa? Tinggal datang aja biasa. Kayak yang baru pertama ngapel aja lo!"
"Gue takut ditolak, Wan." Jawab Raka.
"Lah kan udah biasa lo ditolak mah. Di tolak sama Naura aja lo nggak apa-apa, malah jadi ipar sekarang." Ucap Rama enteng.
"Ini beda lagi, Wan. Kata dia kakaknya galak euy." Keluh Raka.
"Gue takut nggak dapat restu, gue nggak siap nih kalo harus patah hati lagi. Udah mentok banget gue sama yang sekarang, senyumnya bikin adem tenang. Malu-malu ngegemesin anaknya." Sambungnya kemudian. Bayangan Alya dengan hijab lebar dan senyum anggun benar-benar membuat Raka melehoy seketika.
"Tinggal datengin aja keluarganya, kasih tau kalo lo serius. Gue kira keluarga dia nggak bakal nolak asal kalian emang saling suka." Ujar Rama.
"Gue do'ain yang terbaik buat lo, kasihan lo jomblo mulu. Nggak bisa ne nen." Lanjutnya meledek.
"Si a lan lo, Wan!" Cibir Raka.
"Ntar kalo sempet gue mampir ke rumah lo dulu yah, Wan? Dia tinggalnya di komplek perumahan lo, kali aja kalian tetanggaan."
"Ya, mampir aja." Jawab Rama.
"Oke. Gue duluan." Pamit Raka.
Setelah kepergian Raka, Rama membangunkan Jesi dengan pelan.
"Eh udah selesai rapatnya?" Tanyanya begitu membuka mata.
"Udah, ayo pulang." Ajaknya seraya menuntun Jesi.
Jesi benar-benar ngantuk parah, di dalam lift saja dia ketiduran dengan memeluk lengan Rama, tak peduli banyak pasang mata yang menatap jijik padanya. Menjadikannya bahan perbincangan yang trending di kantor selama dua hari ini. Tak ada lagi ghibahan Jesi si anak magang biang onar yang selalu membuat masalah, kini berganti menjadi Jesi anak magang kegatelan yang menggoda atasan.
"Ternyata bener yah yang kata divisi keuangan. Nggak nyangka yah? Wajah sama kelakuan kayak bocah tapi cuma topeng doang. Aslinya wow banget." Ucap salah satu karyawan.
"Kali ini apa lagi yang kamu lakuin Jas Jus? Sekali doang disuruh ke divisi keuangan udah bikin heboh lagi hm?" Rama mencubit gemas pipi Jesi.
"Apaan sih Karam aku ngantuk... Mau bobo." Jawabnya sedikit bergumam, tadi jalan ke mobil aja berasa merem melek. Matanya berat pake banget.
"Pasti bikin masalah lagi sama Dina yah?" Tebak Rama. Yang diajak bicara tak menjawab, sejak masuk ke dalam mobil tidurnya malah kian nyenyak.
Sepanjang perjalanan Jesi benar-benar tertidur pulas, Rama bahkan harus menggendongnya begitu tiba di rumah.
"Jesi kenapa, kak?" Tanya Alya yang juga baru tiba di rumah.
"Tepar dia. Kurang tidur." Rama berlalu menuju rumah.
Alya menyusul dan membantunya membukakan pintu.
"Kak, nanti temen aku kesini. Yang aku ceritain kemaren."
Selepas sholat magrib Rama memilih duduk bersandar di kepala ranjang sambil melihat Jesi yang terlelap. Ingin dibangunkan tapi tak tega, toh istrinya juga sedang libur sholat.
Jam tujuh kurang lima belas menit Jesi mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia langsung menyingkap selimut dan bangun dengan buru-buru.
"Mampus gue kesiangan!" Ucapnya.
"Eh eh mau kemana?" Rama menarik Jesi.
"Mandi, Karam. Udah jam tujuh kurang, Kesiangan kita. Karam mandi di kamar mandi dapur aja yah!" Jawab Jesi cepat.
"Ini jam tujuh malam, sayang!"
"Hah?"
"Hah heh hoh aja terus!" Rama mencubit pipi istrinya.
"Makanya besok-besok nggak usah gadang. Jadi oleng kan!"
"Iya, Karam."
"Udah sana mandi, temen Alya mau datang." Ucap Rama.
Tanpa menjawab Jesi langsung meluncur ke kamar mandi. Dia mandi secepat kilat, Rama sampai geleng-geleng kepala karena kurang dari lima menit istrinya sudah keluar dari kamar mandi.
Jesi yang sudah stay di ruang tamu bersama Rama langsung berjalan dengan semangat empat lima setelah mendengar bel rumah berbunyi.
"Heleh Karak ternyata." Ucap Jesi sedikit lesu.
"Kenapa? Lagi nungguin orang lo?" Tanya Raka.
"Darmawan ada di rumah kan?"
"Ada, masuk aja!" ucapnya seraya berjalan lebih dulu dan kembali duduk di samping Rama.
"Gimana udah ketemu keluarganya?" Tanya Rama begitu Raka duduk.
"Keluarga siapa, Karam?" Jesi ikut nimbrung.
"Belum, Wan. Gue mampir kesini dulu lah sambil nunggu dia nelpon, katanya mau nunggu di depan rumah. Tapi kan gue kagak tau rumahnya. Tadi gue udah chat sih ngasih tau kalo gue udah di perumahan tempat dia tinggal." Ujar Raka sambil memeriksa chat yang ia kirim, sudah contreng dua warna biru, tapi belum di balas.
"Gaje banget sih." Cibir Jesi yang tak paham akan pembicaraan Raka.
"Sst... Dia nelpon, diem lo pada." Raka menggeser ikon telpon warna hijau di layar ponselnya.
"Walaikumsalam, rumahnya sebelah mana?"
"A Raka?" Ucap Alya sedikit keras. Dia yang sedang menelpon sambil berjalan keluar justru mendapati Raka sudah duduk di ruang tamu. Padahal dia baru bermaksud memberitahu nomor rumahnya dan menunggu di depan rumah.
Raka tak kalah terkejut, ia bahkan langsung berdiri begitu mendengar suara Alya.
"Kok Aa bisa tau alamat rumah aku? Jangan-jangan kemaren ngikutin yah?" Tebak Alya.
"Mampus gue!" Batin Raka.
"Kakak, ini A Raka. Yang kemaren aku ceritain." Ucap Alya mengenalkan.
"Wan, gue...." Raka seketika jadi terbata-bata.
"Duduk, Ka. Mau sampe kapan lo berdiri kaya gitu?" Ucap Rama.
"Iya-iya." Sedikit gugup Raka kembali duduk. Dia sekilas melihat Alya yang duduk di seberangnya. Terlihat cantik mengenakan gamis soft pink dan hijab yang senada. Gadis itu tersenyum malu padanya, membuat Raka jadi ikut tersenyum. Namun sedetik kemudian senyumannya langsung sirna begitu melihat Jesi yang tersenyum mengejek padanya.
"Kakak udah kenal sama A Raka?" Tanya Alya.
"Nggak cuma kenal doang, Al. Kenal banget malahan." Bukan Rama yang menjawab melainkan Jesi.
"Oh jadi cowok yang kemaren kamu ceritain ini?" Lanjutnya seraya menatap Raka dengan jahil.
"Aa Raka yah?" Jesi mengucapkannya penuh penekanan.
Demi apa pun Raka sudah ketar-ketir, kalo bisa ia ingin mengulang waktu dan menarik semua kata-kata yang ia ucapkan pada Jesi di kantor tadi.
"Iya, kamu juga udah kenal Jes sama A Raka?" Tanya Alya.
"Iya lumayan, Al. Yang jelas Aa Raka itu nggak suka sama adiknya Darmawan. Cengeng, tukang nangis katanya!"
"Ah mampus gue! si a alan aqua gelas. Kalo kaya gini pengen gue masukin freezer si aqua gelas, biar beku nggak ngoceh macem-macem." batin Raka.