Possessive Leader

Possessive Leader
Bonus 13. Once again yah sayang?



Kedua tangan Raka mengelus sayang punggung Alya sambil membuka gaun yang membalut tubuh istrinya. Alya yang terbuai dengan setiap sentuhan Raka hanya pasrah dan menikmatinya pada akhirnya ia baru tersadar jika dirinya sudah setengah telanjang. Sudah tak terhitung berapa kali tubuhnya mengerang nikmat akibat ulah tangan nakal Raka yang menggerilnya kemana-mana.


“Hm amhh... A Raka akuhhh...”


“Rileks baby... ayo kita buat temen untuk Kara dan Khayla.” Ucap Raka seraya membaringkan tubuh Alya di ranjang dan segera menanggalkan semua pakaian mereka.


“Tapi kata Jesi sakit A.”


“Aqua gelas dipercaya. Dia bohong...” ucap Raka menenangkan, dengan perlahan tangannya kembali menyentuh paha polos Alya dan menyusurinya hingga menggapai susu murni yang langsung dari sumbernya, berlama-lama ia bermain disana membuat Alya kian mele guh berulang kali.


“A...” Alya menggeleng cemas saat ia sudah berada di bawah kungkungan Raka.


Raka membelai sayang kepala Alya, mengecup basah seluruh wajah Alya membuatnya serileks mungkin, dengan perlahan ia mulai mengarahkan miliknya untuk memasuki hunian Alya.


“Argh...” pekik Alya saat merasakan benda tumpul memasuki bagian intinya.


“Ahh mmmmph..” pekikannya tertahan kala Raka langsung membungkam bibirnya dengan ciuman dalam.


Raka menjeda melepas ciumannya sebentar saat Alya sudah terlihat rileks dan dapat menerima miliknya. Dia menyeka keringat yang membasahi kening Alya kemudian mengecupnya singkat.


“Maaf... habis ini nggak sakit kok.” Ucapnya penuh pengertian.


“Aa bohong tadi katanya nggak sa...emhhp..” le gu han Alya lolos begitu saja saat Raka mulai menghujamnya dengan perlahan- lahan dan kian mempercepat temponya.


“Emmph.. mmph..” Alya sampai menutup bibirnya, malu. Kini ia tau ternyata rasa ini yang membuat suara meresahkan Jesi menggema setiap malam.


“Emmphhh... Aah...”


“Jangan ditahan sayang...” Raka mengecup singkat bibir Alya kemudian melahap rakus bukit kembar Alya yang kian membusung setiap kali ia menghujamnya.


“mmph baby kamu mantap...” Racau Raka sambil terus mengujam milik Alya. Tangan kirinya terus memilin dan sesekali menarik puncak bu kit kembar yang semakin menonjol akibat ulahnya.


“Aa... A Rak... aku mmph...”


“Aarhhh ...” Erang keduanya bersamaan saat meraka mencapai *******.


“Love you my baby...” Ucap Raka pada Alya yang masih terengah dengan keringat yang membasahi wajahnya.


“Semoga Allah langsung ngasih kita dede gemoy.” Lanjutnya.


“Aamiin...” jawab Alya lirih.


Raka menarik selimut untuk menutup tubuh polos mereka kemudian mendekap erat istrinya yang mulai memejamkan mata.


“Makasih sayang.” Ucap Raka yang kemudian mengecup berulang kali puncak kepala Alya.


Raka masih belum mengantuk, ia menatap lekat-lekat Alya yang tertidur dalam dekapannya. Ia tersenyum sendiri merasa begitu bahagia karena penantiannya selama ini tak sia-sia.


“My baby..” ucapnya lirih.


Tok... tok...


Ck! Raka berdecak mendengar ketukan pintu.


“Pasti si aqua gelas mau nitip anak!” cibirnya tanpa beranjak sedikit pun malah kian mendekap erat Alya dan ikut memejamkan mata.


Sementara itu di luar sana Jesi berulang kali mengetuk pintu kamar Raka sambil tersenyum jahil.


“Sayang udah ayo...” bisik Rama seraya memeluk istrinya dari belakang. Mereka berdua baru saja kembali dari kamar mama Yeni setelah menitipkan Kara. Karena Kara yang sudah tidur sejak sore membuat anak itu sulit tidur di malam hari, jadilah Jesi dan Rama berlama-lama di kamar mama Yeni.


“Bentar-bentar Karam, aku mau gangguin Karak dulu.” Balas Jesi.


“Karam ih...” Teriak Jesi saat suaminya menarik paksa


“Udah jadi mami masih aja suka jail.” Ucapnya seraya membuka pintu.


Rama langsung mendekap Jesi dan menciumnya dengan rakus begitu pintu kembali tertutup.


“Karam sabar dong...” ucap Jesi, suaranya bahkan tak jelas karena bibir Rama yang tak henti me lu mat nya.


“Ahh ahhh Karam ahh..” nafas Jesi sampai terengah mengimbangi ciuman suaminya. Meskipun sudah berulang kali tapi dia tetap selalu dibuat mabuk oleh ciuman lihai papi nya Kara.


Rama tak menghiraukan Jesi yang terengah, nafas Jesi yang terengah-engah justru membuat birahinya makin melonjak naik. Kedua tangannya masuk kedalam gaun Jesi dan me re mas bokong istrinya.


Bibirnya tak tinggal diam menjelajah leher jenjang Jesi, mencium, men ji lat hingga memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Jesi semakin tak karuan.


“Kakak udah nggak tahan sayang. Kakak kangen banget sama kamu.” Bisiknya seraya mengigit mencium basah dan mengigit telinga Jesi hingga membuat empunya menggelinjang geli. Terpaan nafas hangat Rama membuat Jesi terbawa gairah. Keduanya memang sudah hampir seminggu tak melakukannya. Beberapa hari Jesi datang bulan dan setelahnya Kara yang mulai aktif kesana-kemari jadi sering mengajak mereka gadang dan tidur larut malam.


Sentuhan Rama yang kian naik dan mulai membuka gaunnya membuat Jesi semakin terbuai, tak dipungkiri ia juga merindukan belaian Rama. Jesi yang sudah tak sepolos dulu mulai membuka satu persatu kancing pakaian Rama. Namun baru beberapa kancing terbuka ia tak bisa melanjutkannya lagi karena Rama sudah mulai mengeksplor kedua bukit kembarnya.


“Karam... Ahhh... mmph...” de sah nya lolos begitu saja.


“Sayang... kakak mau sekarang.” Papi satu anak itu segera menanggalkan semua pakaian mereka dan menarik Jesi seraya terus mencumbu bibir cerewet yang kian cerewet meski sudah memiliki anak.


Diangkatnya kaki kiri Jesi dan segera memasukan miliknya dengan sekali hentak.


“Arhhh Karam... ahh... ahhh...” de sa han Jesi kian membuat Rama mempercepat hujamannya.


Suara penyatuan dan erangan mereka saling bersautan di malam itu.


“Ahh sayang....” Rama terus menghujamnya berulang kali. Jesi menyandarkan kepalanya di bahu Rama sambil terengah, melakukannya dengan berdiri memberikan sensasi berbeda.


“Hmmmp Karam ...aku... udah mau ahhh..” Jesi tergulai lemas si pelukan suaminya.


Rama menggendong Jesi dan merebahkannya di ranjang dan lanjut menindih tubuh mungil yang sekarang lebih berisi. Ditatapnya lekat-lekat mami dari putri kesayangannya itu kemudian mengecup singkat bibir Jesi.


“Karam...” ucap Jesi lirih.


Rama menyingkirkan rambut yang menutup kening Jesi.


“Once again yah sayang... mumpung Kara sama mama.”


.


.


.


.


Sok once again aja terus Karam biar santen sachetan berubah jadi Kaleng.


Kaleng, Kakak Lengkara wkwkwkwk.


Yang pengantin baru aja cuma sekali, eh ini pengantin kadaluarsa nambah teroooos.