Possessive Leader

Possessive Leader
Live, Suara Hati Istri



Jebred!!!


Jesi keluar dari ruangan Rama dengan menutup pintu itu keras-keras. Dia berjalan dengan menghentakkan langkahnya kesal, hingga suara hak sepatu yang beradu dengan lantai terdengar keras.


Dari kejauhan pun Raka yang sedang berjalan untuk menemui Rama seketika berhenti melihat Jesi yang menutup pintu dengan keras.


"Astaga itu bocah, serem juga ngambeknya." Batinnya.


"Gue kira si aqua gelas yang kerjanya haha hihi nyerocos tiada henti nggak bakal pernah ngambek, kalo pun ngambek ya sengambek-ngambeknya dia kagak bakal sampe segitunya. Biasanya kan orang yang selalu ceria dan tanpa beban nggak pernah nunjukin emosi berlebihan. Eh ralat, orang kalo udah pada bucin emang gila!" Gumamnya yang masih terpaku pada pemandangan ngambek Jesi yang menggemaskan.


Dilihatnya Jesi yang dengan buru-buru menghampiri meja kerja kemudian merebahkan kepala di sana. Kedua tangannya di letakan di meja menjadi tumpuan kepala.


"Kayaknya bakalan susah nih." Ucapnya lirih kemudian berjalan perlahan menuju meja Jesi.


"Demi double bonus lo pasti bisa Raka." Serunya dalam hati.


Tok... Tok...


Raka mengetuk meja Jesi hingga dia mengangkat kepala dan reflek berdiri, mengira jika ada tamu penting yang datang. Semarah dan seburuk apa pun kondisi hati dan pikirannya saat ini Jesi tau dia harus tetap bersikap profesional, memisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan meskipun dalam prakteknya sangat-sangat sulit untuk dilakukan, apalagi jika orang yang membuat mood kita anjlog berada di satu kantor yang sama.


"Selamat so-" Belum usai kalimatnya ia sudah berhenti berucap setelah melihat lelaki yang berdiri di hadapannya adalah Raka.


Huh! Jesi membuang nafasnya kasar kemudian meniupkannya ke atas hingga poni di keningnya naik turun karena hembusan udara dari bibir.


"Aku kira siapa!" Ucapnya dengan malas kemudian kembali duduk dan menelungkupkan kepalanya di meja.


"Beneran susah dah ini mah, udah nggak nyerocos ini bocah. Berati parah nih ngambeknya." Batin Raka.


Tok... Tok...


Sekali lagi diketuknya meja Jesi dengan perlahan. Satu sisi ia ingin bonus double dari Rama tapi di sisi lain ia juga takut kena amukan beo cantik yang sekarang berubah jadi singa.


"Apaan lagi sih, Karak?" Ucap Jesi sedikit berteriak saat bangun dari sandarannya.


"An jir beneran gue kena amukan singa ini mah." Gumam Raka.


Jesi melotot kesal, dia berdiri dan bertolak pinggang.


"Kalian emang bener-bener jahat. Yang satu ngatain aku beo sekarang Karak malah ngatain aku singa. Bener-bener nggak ada akhlak! Aku di anggapnya hewan."


"Siapa juga yang ngatain singa. Kamu salah denger neng aqua gelas!" Kilah Raka.


"Jangan panggil aku pake merek minuman. Udah mah orang-orang suka salah lagi kalo beli. Bilangnya aqua tapi dikasih merk apa lain diterima. Cih parah!"


"Ya udah deh ralat, neng Jas Jus Kesayangannya Karam." Ledek Raka.


"Jangan panggil aku pake nama minuman sachet murahan yang dijual di pinggir jalan. Mana plastikan doang lagi!"


"Karak nggak tau apa kalo orang tuaku tuh ngasih nama hasil mikir susah payah. Nama yang penuh makna eh malah main ganti sesuka hati aja. Nggak sopan!"


"Jesika Mulia Rahayu kata ibu ngasih nama itu supaya aku jadi perempuan yang mulia dan selalu selamat dalam berbagai hal. Eh malah seenak udel aja diganti jadi Jas Jus, minuman murahan."


Raka sampe geleng-geleng kepala mendengar ucapan Jesi, harusnya dia yang berkata seperti itu. Bukankah Jesi duluan yang mulai memanggil dirinya dan Rama dengan sebutan yang aneh.


"Cewek kalo lagi PMS emang susah, apa pun yang dilakuin pasti salah di mata dia."


"Sabar-sabar Raka demi double bonus." Batinnya.


"Permintaan maaf ditolak!" Jawabnya ketus.


"Ya ampun sensi banget neng Jesi, kalo marah sama Karam jangan merembet kemana-mana dong, gue kan nggak tau apa-apa. Kenapa ikutan kena semprot juga sih."


"Bodo amat! Karak sama Karam kan satu frekuensi."


"Udah jangan marah-marah terus, Aa Raka mau liat dede bayi nya mba Naura, kamu mau ikut nggak?"


"Liat nih gue udah beli sepatu bayi yang lucu-lucu buat ponakan gue yang paling gemoy." Raka mengeluarkan dua pasang sepatu rajut warna pink dari paper bag yang ia bawa.


Jesi langsung meraih kedua benda mungil itu, "ih lucu banget.... Dede bayi pasti suka nih." Ucapnya.


"Dasar PMS mood nya ngampang banget naik turun euy. Kok bisa yah abis marah-marah langsung senyum-senyum cuma gara-gara liat sepatu bayi doang." Batin Raka.


"Jadi mau ikut nggak?" Ucapnya kemudian.


Jesi memasukan kembali dua pasang sepatu rajut pink itu ke dalam paper bag.


"Pengen sih, Karak. Tapi Karam ada rapat sama klien penting, mesti nunggu selesai dulu. Mana kliennya jam segini belum datang."


"Padahal aku udah kangen banget sama dede bayi nya mba Naura."


"Tanya dulu gih siapa tau di kasih izin pulang duluan." Kata Raka.


"Karak aja yang nanya sana. Aku males ketemu Karam, dia jahat."


"Ya udah biar gue aja." Potong Raka sebelum mood Jesi kembali anjlok, dia segera melesat ke ruangan Rama.


Tak lama Raka kembali bersama Rama.


"Kalo mau liat dede bayi sana, boleh. Berangkat duluan sama Raka, nanti kakak nyusul."


Jesi tak menjawab, dia memasukan HP nya ke dalam tas kemudian bersiap untuk pergi.


"Salim dulu sama kakak!" Ucap Rama saat Jesi hampir melewatinya.


Meski sedang kesal, Jesi tetap menerima uluran tangan Rama dan mencium punggung tangan itu dengan takzim.


"Selesai meeting kakak langsung kesana." Ucap Rama begitu Jesi melepas tangannya.


"Bodo amat, Karam nggak nyusul juga nggak masalah."


"Jangan-jangan Karam sengaja kan ngasih ijin aku berangkat duluan sama Karak supaya bisa berduaan aja sama klien. Jangan-jangan kliennya si oli lagi." Tebak Jesi.


"Jangan suka ngawur! kamu tau sendiri nama kliennya Aris. Laki-laki dan yang jelas bukan si oli!" Lama-lama Rama merasa jadi tersangka yang selalu di curigai.


"Ya kali aja Karam tuh mau berduaan sama Si Oli, secara tadi kan bilangnya mau ketemu ntar malem. Ya siapa tau curi start dari sore gitu, kan bisa." Jawab Jesi.


"Jadi aku diungsikan ke rumah mba Naura, biar nggak ketahuan kalo udah punya istri." Sambungnya yang kian membuat Rama memutar bola matanya jengah mendengar kata-kata Jesi. Seharian irit bicara, sekali bicara penuh drama.


Lain halnya dengan Raka yang justru terkekeh sambil bersandar di dinding, menonton drama suara hati istri yang cemburu secara live. Di saat seperti ia merasa beruntung karena tak memiliki istri seperti Jesi. Dia baru tau jika perempuan seperti Jesi kalo ngambek merembet kemana-mana bahkan sampai bisa membuat drama dengan pemikirannya sendiri.


"Neng Jas Jusku tersayang harus berapa kali coba kakak jelasin kalo si oli itu bukan siapa-siapa. Kakak juga nggak akan nemuin dia, buat apa coba? Unfaedah!"


"Kalo mau ketemu si oli juga nggak apa-apa, silahkan aja. Paling ntar pulang ke rumah itu sosis jumbo Karam aku potong, aku goreng sampe garing terus aku kasih ke kucing tetangga!" Ancamnya.