Possessive Leader

Possessive Leader
Ribet



Rama tak menggubris ucapan Naura, dia memilih berbalik dan kembali ke ruangannya. Melihat calon istrinya bisa tertawa dan ceria dengan orang yang tak lain adalah sahabatnya sendiri benar-benar membuat kesal tapi juga tak tau harus berbuat apa. Yang ia sadari betul dia tak melakukan kesalahan apa pun tapi gadis itu selalu mengatakan dirinya calon suami yang tak baik, calon suami yang galak dan hanya bisa marah-marah. Calon suami yang justru membela orang lain dari pada calon istrinya sendiri.


"Benar-benar kekanakan! Bisa-bisanya dia makan dengan pria lain saat calon suaminya sendiri berada di tempat yang sama." Gumam Rama.


Jesi itu masih lugu dan polos. Jangan sampe calon istri lo itu malah nyaman dengan Raka. Tikungan sekarang tajam-tajam, lo mesti ati-ati. Orang yang dijodohkan bisa kalah jika dibandingkan dengan orang yang mampu membuat nyaman.


Ditengah kerumitan pemikirannya tiba-tiba ucapan Naura kembali melintas di kepalanya.


"Selugu dan sepolos itu si jas jus? Dia udah dua puluh tahun, kenapa selalu salah mengartikan semua yang gue lakuin?"


"Diajarin supaya saling menghargai dan menghormati malah ngatain gue ngebela orang lain dari pada dia. Harusnya dia sadar selama ini gue marah juga ada penyebabnya. Coba kalo dia nggak deket-deket Raka, nggak bakal gue marahin."


"Raka juga si alan udah tau calon istri gue masih aja di deketin!"


"Harusnya gue yang marah karena dia terang-terangan nerima ajakan makan pria lain di depan gue. Bisa-bisanya malah dia yang marah cuma karena gue tegur supaya sopan sama senior. Luar biasa emang lo jas jus!"


Rama masuk ke dalam ruangannya, dia menutup pintu dengan keras. Melonggarkan dasi yang ia kenakan meskipun tak berefek pada dirinya yang tiba-tiba merasa sulit bernafas hanya karena melihat Jesi dan Raka tertawa bersama. Duduk di kursi kerjanya dengan cepat Rama mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi Naura.


"Suruh dia kesini. Sekarang!" Ucapnya singkat, padat dan jelas.


"Tapi dia..." Naura menghela nafas berat, baru sekarang Rama mematikan panggilan sebelum dia menjawab hingga selesai.


Naura meletakan ponselnya di samping piring berisi nasi dan ayam geprek yang sama sekali belum ia sentuh.


"Huh! Kalo kayak gini gue jadi ikutan mendadak kenyang dah. Repot udah!" Keluhnya seraya menggelengkan kepala.


"Hoax banget dah kalo lo mendadak kenyang, biasanya juga abis dua piring lo. Selama hamil kan lo makannya udah kayak kuli bangunan, banyak banget." Ucap Raka.


"Iya makan aja, mba. Kasian baby nya kelaparan di sini." Jesi mengusap perut buncit Naura.


"Eh, dia gerak." Ucap Jesi girang.


"Baby girl kamu beneran lapar yah? Bentar yah mamanya udah mau makan kok."


"Ya ampun mba dia gerak lagi. Kayaknya seneng nih baby nya mba Naura aku ajak ngobrol."


"Iya sabar bentar, Wan. Belum sempet juga gue ngomong lo udah nelpon lagi. Calon bini lo kagak kemana-mana, ada di sini nih lagi ngoceh-ngoceh sama perut gue!" Kali ini gantian Naura yang mematikan telepon sebelum Rama berbicara.


"Yang nelpon Karam, mba?" Tanya Jesi. Dia sudah menjauhkan tangannya dari perut Naura. Jujur ini pertama kali Jesi melihat Naura sedikit emosi, bahkan wanita yang biasanya lemah lembut dan anggun saat bicara tadi sedikit berteriak, hingga membuat beberapa orang yang duduk di sekitar mereka menengok dan menatap dengan penuh tanya.


"Makan lagi aja, nggak apa-apa. Bu Naura cuma kesel aja dapat telpon salah sambung." Kilah Raka demi membuat para karyawan tak lagi melihat ke arah mereka.


"Tarik nafas... Buang nafas...pelan-pelan..." Ucapnya kemudian pada Naura.


"Nih minum jangan emosian." Lanjutnya sambari menyodorkan segelas air.


"Udah tenang, mba?" Tanya Jesi.


"Lo ke atas gih, Jes. Temuin calon laki lo, uring-uringan mulu itu orang."


"Nggak mau ah, mba. Males!" Tolak Jesi langsung.


"Karam galak. Paling juga aku mau di marahin lagi." Imbuhnya.


"Iya mending makan bareng Aa Raka aja di sini yah, Neng." Timpal Raka.


"Raka, lo jangan keterlaluan deh!" Ucap Naura.


"Udah sana temuin Karam!" Ucapnya pada Jesi.


"Harus banget yah, mba?"


"Iya, bawain dia makan siang juga. Percaya sama mba, Karam nggak bakal marah kali ini asal kamu nggak deket-deket sama Raka lagi." Jawab Naura.


"Kenapa nggak boleh deket-deket sama Karak? Karak kan baik, temen Karam juga. Sama kayak mba Naura, kenapa aku nggak boleh?"


"Hadeh aqua gelas kesayangan gue... Andai lo bukan calon bini temen gue, udah gue sikat lo sejak awal." Batin Raka.


"Udah sana-sana ke atas, temuin Karam." Ucapnya pada Jesi.


"Tapi ntar Karak nyusul yah kalo udah selesai makan. Takut dimarahin lagi akunya."


"Iya, udah sana-sana. Aa nemenin mba Naura makan dulu, ntar nyusul."


Jesi beranjak meninggalkan meja, dia memesan beberapa makanan sesuai instruksi Naura. Sebelum meninggalkan kasir dia berbalik dan menatap ke arah Raka yang di balas senyuman oleh pria itu.


"Nah yang bayar Karak yah, mba. Tuh yang barusan senyum ke aku." Ucapnya pada kasir kemudian berdadah ria ke arah Raka dan Naura.


Setelah kepergian Jesi, Naura kembali melanjutkan makan siangnya.


"Huh akhirnya bisa makan juga. Repot banget dah ngimbangin dua orang itu. Yang satu gengsinya tinggi, yang satu kagak peka. Susah bener dah." Ucapnya disela-sela makan.


"Lo juga, Ka. Temen kagak ada akhlak lo! Bisa-bisanya lo malah sengaja manas-manasin Darmawan. Si jesi itu lugu banget, ntar kalo dia baper ke lo gimana? Makin ribet dah." Lanjutnya.


"Si aqua gelas kagak bakal baper ke gue, Ra. Itu bocah demen kok sama calon lakinya, tiap sama gue juga yang diomongin si Darmawan mulu. Cuma masih belum nyadar aja itu bocah. Gue rasa juga tadi pagi dia mewek bukan karena kita yang udah tau duluan soal perjodohan mereka, tapi gara-gara ngerasa si Darmawan belain Dina."


"Ya gue setuju soal itu. Lagian nggak ngerti juga kenapa di Dina sampe segitunya sama Jesi?"


"Gue juga nggak tau." Balas Raka.


Di lantai sepuluh Jesi masih berdiri di depan ruangan Rama, sedikit ragu untuk masuk atau tidak. Dia benar-benar masih kesal dengan sikap Rama pagi tadi. Saat dirinya membanggakan diri sebagai calon istrinya di depan para karyawan, Rama tak memberikan respon apa pun. Ditambah dengan sikapnya yang justru membela Dina yang mencemooh dirinya membuat Jesi merasa dirinya tak dianggap.