
Lewat tengah malam Jesi mengerjap-ngerjapkan matanya, mendapati dirinya berada di tempat yang gelap membuatnya berteriak. Ditambah dengan tangan seseorang yang melingkar di perutnya makin menambah kalut hingga ia terjatuh ke samping ranjang. Takut dan mendadak sulit bernafas saat gelap membuat Jesi tak pernah mematikan lampu saat tidur. Jika kalian tanya satu hal yang ditakuti gadis cerewet itu maka jawabannya adalah gelap.
Mendengar suara ribut dan benda terjatuh membuat Rama terbangun, dia segera menyalakan lampu.
"Jas jus, kamu ngapain di bawah?" Rama ikut turun dan duduk di samping istrinya yang menangis.
"Kenapa nangis? Aku nggak ngelakuin ngelakuin apa-apa. Sumpah, cuma meluk doang." Ucap Rama. Ia ingat betul bagaimana kemarin Jesi marah dan protes hanya karena di cium kening dan bibir sekilas.
Melihat Jesi yang tak kunjung diam, Rama jadi khawatir.
"Udah-udah jangan nangis. Kamu mimpi buruk? Cerita sama kakak." Ucapnya lembut. Dipeluknya Jesi yang masih terlihat ketakutan. Gadis itu terisak di pelukannya.
"Udah-udah nggak apa-apa jangan nangis lagi." Rama mengusap-usap punggung Jesi dengan lembut. Cukup lama hingga gadis itu berangsur tenang.
"Kamu mimpi buruk?" Tanya Rama setelah mengurai pelukannya.
Jesi hanya diam dan menggeleng, pipinya masih basah karena lelehan air mata.
"Terus kenapa? Nggak mau tidur bareng aku?" Tanya Rama.
"Kalo tidur lampunya jangan dimatiin. Aku takut gelap."
"Iya-iya maaf. Kakak nggak tau kamu takut gelap." dielusnya kepala Jesi penuh kasih sayang.
"Udah tidur lagi ayo. Masih jam tiga." Rama membantu Jesi bangun.
"Aduh..." teriak Jesi di iringi tangisan. Dia memegang pinggang kanannya.
"Sakit, Karam!"
"Kenapa? apanya yang sakit?"
"Sakit ih. pelan-pelan kenapa sih? nggak sabaran banget." protes Jesi saat Rama justru membatunya duduk di ranjang dengan cepat.
"Makanya kalo tidur itu nggak usah pecicilan, jatuh kan jadinya. Mana yang sakit?"
"Siapa juga yang pecicilan? Aku tuh kalo tidur anggun, kayak putri tidur. Tadi tuh panik aja pas bangun gelap. Pokoknya besok-besok nggak boleh matiin lampu!"
"Iya. Maaf kakak nggak tau. Besok nggak akan matiin lampu lagi." Rama sudah berbaring menghadap Jesi, gadis itu masih meringis memegangi pinggangnya yang sakit akibat jatuh tadi.
"Sakit banget?"
Jesi mengangguk dengan wajah kantuknya, "Pinggang aku nih." Tangannya masih terus memijit pinggangnya pelan.
"Udah bawa tidur aja, besok juga sembuh."
"Sini kakak jagain biar nggak jatuh lagi." Rama merapatkan diri dan memeluk Jesi.
"Nggak bisa tidur, sakit." Rengek Jesi, dia melepaskan tangan Rama yang baru saja memeluknya.
"Kata enin kalo jatuh mesti langsung di urut, kalo dibiarin entar tambah sakit. Dulu waktu aku jatuh dari sepeda juga langsung diurut sama enin. Kayak gini." Jesi memperlihatkan bagaimana neneknya memijatnya ketika ia jatuh dulu.
"Tapi susah kalo mijit diri sendiri mah." Ucapnya kemudian.
"Sini biar kakak aja." Rama mendaratkan tangannya di pinggang Jesi dan memijitnya perlahan.
Rama terus membuang nafasnya kasar, bisa saja saat ini dia memaksa Jesi untuk melayaninya tapi segala sesuatu yang diawali dengan paksaan tak akan berakhir baik.
"Aw...Sakit Karam. Jangan keras-keras!" Protes Jesi.
"Pelan-pelan dong!"
Belum sampai lima menit Rama sudah menjauhkan tangannya dan beranjak dari tempat tidur.
"Besok kalo masih sakit ke tukang urut aja!"
"Ih padahal pijitan Karam enak. Bentar lagi lah, udah enakan ini." Ucap Jesi jujur.
Rama hanya memandang Jesi sekilas, "lo enak, gue kesiksa. Dasar nggak peka!" Batin Rama.
"Karam mau kemana?"
"Minum." Jawab Rama asal, yang terpenting saat ini ia harus menjauh dari Jesi terlebih dulu.
"Aku mau Juga yah. Susu vanila anget, biar aku cepet tidur lagi." Teriak Jesi.
Rama menuruni tangga dengan perlahan menuju dapur. Tiba di sana dia langsung mengambil air dingin dan meneguknya. Sebelum menutup lemari es, diambilnya satu kotak susu dan menuangkannya ke dalam panci. Menghangatkan susu pesanan si istri yang tak peka.
"Orang lain nikah dilayani, lah ini gue malah kebalik!" Gumam Rama.
"Kakak ngapain di sini?"
"Bikin susu buat menantu kesayangan mama. Mama belum tidur?"
"Udah bangun lah, jam tiga tahajud dulu tadi." Jawab Yeni.
"Tadi juga mertua kamu telpon ngasih tau kalo udah sampe. Mertua kamu juga nanyain Jesi, tadi mama mau ngetuk kamar kamu soalnya Jesi udah wanti-wanti kalo ibunya udah sampe harus ngasih kabar, tapi sepertinya kalian lagi sibuk bikin cucu buat mama."
"Ma!"
"Nggak apa-apa, Ramadhan. Mama juga pernah muda kok, dulu juga papa kamu langsung tancap gas aja padahal di luar masih banyak saudara yang pada ngobrol-ngobrol, tamu juga sebagian masih ada. Tapi kan dulu papa dan mama memang sudah berhubungan lama. "
"Mama kira kamu dan Jas jus akan butuh waktu lama untuk saling menerima, tapi mama seneng ternyata pikiran mama salah. Cuma satu yang perlu kamu ingat, di sebelah kalian itu kamar Alya. Jadi tolong kalo main dikondisikan, jangan sampe adik kamu yang masih polos itu denger suara-suara yang nggak seharusnya ia dengar. Dan satu lagi, jangan main kasar kasihan Jas jus sampe teriak sakit gitu."
"Mama!" Rama benar-benar geram dengan ucapan mamanya yang tak satupun benar.
"Karam, lama banget sih?" Belum selesai urusan dengan sang mama si beo sudah muncul, masih memegangi pinggangnya. Rambut panjangnya acak kadul tak jelas.
"Ada mama juga?" Ucapnya begitu tiba di depan Rama.
"Kenapa menantu mama jalannya sampe kayak gitu?" Tanya Yeni pada Jesi tapi matanya melirik ke arah Rama yang sedang menuang susu ke dalam gelas.
"Nggak apa-apa, ma. Pinggang aku sakit."
"Mama bilang juga apa, jangan main kasar. Kasihan kan Jas Jus sampe kesakitan gitu!"
Rama hanya menghela nafas panjang, main kasar dari mana? Dia hanya jadi tukang urut dadakan di malam pertamanya.