Possessive Leader

Possessive Leader
Galau



Adalah sebuah kesalahan besar jika mengira Jesi yang hanya diam sejak masuk ke dalam mobil tadi karena merasa canggung atau pun tak nyaman setelah mengetahui jika dirinyalah yang menjadi calon suaminya. Nyatanya cukup sekali pancingan calon istrinya itu langsung kembali ngoceh nonstop. Yang lebih menyebalkan lagi adalah tingkat percaya dirinya yang begitu tinggi tanpa malu ataupun sungkan terus memuji dirinya sendiri. Mungkin ini yang menyebabkan wajahnya selalu tampak ceria dan tanpa beban. Setiap ucapan yang keluar dari bibirnya terdengar berisik tapi tanpa suaranya benar-benar terasa sepi, seperti ada yang hilang.


“Eh udah nyampe yah, Karam?” Jesi membenarkan posisi duduknya. Sejak tadi ia memang duduk menghadap Rama, secara bagi Jesi kalo bicara tanpa melihat lawan bicaranya itu nggak asik.


Jesi membuka sabuk pengamannya, kemudian tangan kirinya dengan cepat membuka pintu. “Makasih, Karam. Udah nganterin calon istri yang menyegarkan ini.”


“Karam nggak pulang?” tanyanya saat mendapati Rama yang ternyata ikut turun.


“Nunggu ayah sama ibu pulang dulu.” Jawabnya sambil mendudukkan diri di sofa teras dengan santai. Jesi pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah dan memilih ikut duduk bersama Rama.


“Kalo kamu masuk ya masuk aja sana.” Ucap Rama.


“Di sini aja, takut bunga ibu ada yang ilang. Mahal-mahal.”


“Kamu kira saya bakal maling bunga ibu kamu gitu?”


“Canda, Karam. Serius amat.” Jesi tersenyum tanpa dosa pada calon suami yang menatapnya tajam.


“Nggak takut aku ditatap kayak gitu mah. Udah biasa...” Jesi balas mengejeknya dengan menjulurkan lidah.


“Kekanakan!” ucap Rama datar.


“Kekanakan gini juga calon istri Ramadhan Darmawan.” Balas Jesi.


“Jadi bagaimana perasaannya Pak Darmawan setelah mengetahui Jas Jus yang menyegarkan ini adalah calon istri yang selama ini selalu dibanggakan?” tanya Jesi, dia mengarahkan ponselnya ke depan bibir Rama layaknya reporter yang sedang mencari berita.


Sayang nya belum sempat pria jangkung itu menjawab pertanyaan Jesi, kedatangan mobil mertuanya mengalihkan perhatian mereka. Jesi langsung berdiri dan menyambut kedatangan orang tuanya.


“Ayah, calon mantu ayah nggak mau pulang tuh.” adunya sambil menunjuk Rama.


“Saya menunggu ayah pulang. Karena sekarang ayah sudah sampai, jadi saya permisi.” Pamit Rama.


“Terimakasih sudah mengantar Jesi.”


“Sama-sama, ayah. Saya permisi.” Rama menyalami kedua calon mertuanya bergantian.


“Sama aku nggak salim, Karam?” Protes Jesi yang merasa di lewati. Pundak gadis itu langsung dihadiahi tepukan oleh sang ibu.


“Sakit atuh lah ibu.” Keluhnya.


“Harusnya kamu yang salim sama calon suami mu!” ujar Sari.


Jesi menengok pada ibunya, “Oh gitu?”


Rama sudah mengulurkan tangannya pada Jesi, tapi gadis itu hanya menatap uluran tangan itu tanpa membalasnya, “Ntar aja deh kalo udah jadi suami beneran. Sekarang masih calon.” Ucapnya.


“Jesi!”


“Iya-iya, bu.” Terpaksa Jesi jadi menyalami Rama, tak lupa mencium punggung tangan calon suaminya seperti saat dia menyalami ayah dan ibu.


“Hati-hati pulangnya, Karam.” Imbuhnya.


Rama balas mengelus pucuk kepala Jesi, calon istrinya begitu manis jika sedang seperti ini. “Ya sudah saya pulang dulu. Besok jangan terlambat ke kantor.”


Setelah kepergian calon suaminya, Jesi dan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.


“Jadi sekarang udah nggak nolak kan kalo harus nikah sama Rama?” tanpa basa-basi Burhan langsung menanyakan hal itu sebelum dirinya beranjak ke kamar.


“Kalian terlihat akrab.” Imbuhnya.


“Akrab? Ayah tidak tau saja kalo Karam itu tiap hari kerjanya marah-marah sama aku.” Balas Jesi.


“Tapi kamu kelihatan nyaman bareng dia.”


“Iya yang kami liat seperti itu.” timpal Sari.


“Di jalan pulang tadi ayah, ibu dan calon mertua mu sudah membahas pernikahan kalian. Lebih cepat akan lebih baik.” Lanjutnya.


“Bagaimana kalo minggu depan?” imbuh Burhan.


“Terserah ayah dan ibu saja. Toh aku nggak punya pilihan kan?” Jesi beranjak pergi ke kamarnya.


Tiba di kamar, Jesi meletakan tasnya asal kemudian merebahkan diri di ranjang. Di pandanginya langit-langit putih bersih kamarnya. Pikirannya kini kembali berkelana jauh. Jujur saat ini dirinya belum siap menikah. Jesi merasa usianya masih terlalu muda, dua puluh tahun. Di usia ini dia masih ingin main sepuasnya, menghabiskan waktu bersama teman-teman, menikmati masa muda. Cukup lama Jesi memikirkan hal itu, sungguh memusingkan.


“Dulu pengen punya suami kayak kakaknya Alya yang dewasa, penyayang dan super setia. Sempet pengen barter juga, eh begitu tau kakaknya Alya itu Karam rasanya kok jadi gini sih?” gumam Jesi.


“Tiap hari aja aku kerjanya di marahin mulu. Apa ntar kalo udah jadi istrinya juga aku bakalan terus-terusan dimarahin? Oh no no!” Jesi menggelengkan kepalanya berulang, membayangkan Rama yang akan memarahinya karena tak bisa masak.


“Ngeri euy.” Ucapnya lirih.


Dering ponsel dari dalam tasnya membuat Jesi buru-buru bangkit dan mencari benda pipih itu.


“Karam?” Jesi terbelalak melihat nama ‘kang ngamuk’ yang muncul di layar ponselnya. Selama ini belum pernah Rama menghubunginya setelah insiden kang polis asuransi itu.


“Halo.” Ucap Jesi.


“Eh iya, walaikumsalam.” Ucapnya lagi seraya tersenyum. Kebiasaannya dengan Rama memang berbeda jauh, jika pria bernama Ramadhan itu selalu mengucapkan salam sebelum berbicara di telpon Jesi justru sering jarang melakukannya.


“Iya. Iya, Karam.” Jesi meletakan ponselnya setelah panggilan singkat itu.


“Udah nyampe ya tinggal tidur aja, ngapain pake laporan segala sih.” Gumam Jesi.


Di tempat lain, Rama baru saja memasukan kembali ponselnya ke dalam saku.


“Udah aku kabarin bu. Jesi udah mau tidur.” Ucapnya pada Yeni. Mamanya itu memaksanya supaya mengabari Jesi jika dirinya sudah tiba di rumah dengan selamat.


“Nah gitu. Kakak jangan galak-galak sama Jesi, ntar dia takut sama kakak. Jesi anaknya rame banget ibu suka.” Ucap Yeni.


“Syukurlah kalo ibu suka. Semoga nanti ibu nggak kaget kalo udah sering sama dia. Si jas jus menguji kesabaran.” Jawab Rama.


“Menguji kesabaran tapi menyegarkan ‘kan?” ucap Yeni.


“Menyegarkan dari mana, bu? Yang ada bikin pusing!” balas Rama.


“Ibu nggak tau aja... dia itu sejak awal datang buat magang aja udah bikin masalah. Datang terlambat terus bisa-bisanya ngegosip di depanku. Banyak masalah yang dia ciptakan, menguji kesabaran banget pokoknya. Sampe akhirnya aku pindahin buat jadi asisten Naura karena dia nggak bisa lagi ngikutin aku kesana kemari, tapi tetep aja cuma bikin aku pusing.” Lanjutnya, tanpa sadar ia tertawa mengingat banyak hal yang sudah dilewatinya bersama Jesi.


“Lihat kakak mu, Al!”


“Dia bilang Jesi memusingkan tapi matanya berbinar setiap kali berucap.” Ujar Yeni.


“Kan aku udah bilang tadi Ma, kalo KaK Ramadhan udah mulai karam di dalam kesegaran Jas jus.”ucap Alya


“Kakak tinggal ngaku aja deh kalo suka sama Jesi!” imbuhnya.


Rama tak menangapi ucapan adiknya, dia beranjak dan pergi lebih dulu ke kamarnya.


“Mama sama Alya sebaiknya tidur sekarang, sudah malam.” Ucapnya sebelum berlalu.


Rama menyuruh kedua orang yang ia sayangi untuk segera tidur tapi dirinya sendiri justru berdiri di balkon kamarnya sambil menatap langit gelap yang hanya dihiasi sedikit bintang.


“Menyukai jas jus?” ucapnya lirih.


“Kenapa semua bilang aku mulai menyukai gadis berisik itu? dari mulai Raka, Naura, dan sekarang Mama dan Alya pun mengatakan hal yang sama.”


Rama menghela nafas panjang saat mengingat moment pertama melihat calon istrinya masuk ke ruang rapat dengan masih mengenakan helm ojeg online. Dia menggelengkan kepala seraya tersenyum samar, “dasar jas jus!”