Possessive Leader

Possessive Leader
3S



"Kalo mau ketemu si oli juga nggak apa-apa, silahkan aja. Paling ntar pulang ke rumah itu sosis jumbo Karam aku potong, aku goreng sampe garing terus aku kasih ke kucing tetangga!" Ancamnya.


Ucapan Jesi seketika membuat Raka terkejut, pria yang sedang menikmati drama channel ikan terbang secara live itu langsung terdiam dan menutup bagian sensitifnya seperti pemain sepak bola yang sedang berbaris menghadang tendangan bebas.


"An jir horor banget dah ancamannya." Ucap Raka.


"Karak diem nggak usah ikut-ikutan ngomong! Atau mau sekalian aku goreng juga sosisnya hah?"


"Ampun... Ampun jas...eh aqua gel... Eh maksud gue Jesika!" Ralat Raka berulang kali.


"Gue nggak tau apa-apa, sumpah, beneran! Nggak usah di bawa-bawa. Kalo mau goreng sosis punya Karam aja sono, gue nggak keberatan!" Sambungnya.


"Enak aja lo kalo ngomong!" Sela Rama dengan berdecak kesal kemudian menghampiri Jesi.


Rama berdiri tepat di depan Jesi, meletakan kedua tangannya di bahu Jesi. Dia bahkan sedikit menunduk demi mensejajarkan tingginya dengan Jesi. Ditatapnya wajah kesal Jesi yang cemberut, istrinya membalas tatapannya dengan tajam, matanya seolah berkata aku benci kamu.


"Jangan kayak gitu ngeliatnya, jadi kurang cantiknya."


"Oh jadi aku kurang cantik gitu? Pantesan betah banget sama si oli, dia lebih cantik yah! Tinggi semampai, apalah aku yang pendek ini." Ucap Jesi.


Rama menghela napas panjang, ia bahkan sampai memejamkan matanya sekejap demi menambah tingkat kesabaran untuk menghadapi istrinya.


"Bukan gitu maksud kakak, sayang. Dimata kakak kamu yang paling paling segalanya deh."


"Alah tapi kan-" Belum selesai Jesi bicara teriakan Raka membuat keduanya menoleh.


"Woy skip skip ntar lagi dramanya, kliennya udah datang tuh!" Raka buru-buru memisahkan keduanya, dia bahkan menarik Rama untuk segera menyambut rekan bisnis yang baru saja tiba.


Jesi mengikuti mereka dari belakang, tersenyum ramah pada pria yang bisa ia tebak usianya seumuran dengan suaminya.


"Wah siapa ini? Saya baru lihat sekarang, biasanya kan Naura yang nyambut." Tanya pria itu setelah melihat Jesi.


"Mba Naura nya lagi cuti melahirkan, pak. Aku asistennya, anak magang, Pak. Baru sebulan di sini." Jawab Jesi ramah.


"Oh pantesan masih unyu-unyu." Ledeknya.


"Dia istri saya, pak." Sela Rama cepat, ia tak rela jas jus kesayangannya di katai unyu-unyu oleh pria lain.


"Oh maaf, saya kira anak magang biasa." Ucapnya dengan sedikit tak enak hati setelah terang-terangan menggoda istri di depan suaminya.


"Pak Darmawan nikah kok tidak ngundang saya? Kita kan kerjasama udah lumayan lama."


"Bukannya tidak mengundang pak, tapi memang belum resepsi. Nanti kalo resepsi pasti saya undang." Jawab Rama yang kemudian mengajak rekan bisnisnya untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Sana kalo mau berangkat sekarang, nanti kakak nyusul. Udah puas kan sekarang? Udah nggak curiga kan? Kliennya bukan si Oli. Jadi nggak usah ngancem pake mau motong sosis terus digoreng buat makan kucing, ntar kamu yang nangis guling-guling kelabakan kalo sosis kakak nggak ada!" Ucapnya pada Jesi sebelum masuk ruangan.


"Ka, titip bini gue. Jangan macem-macem!" Lanjutnya pada Raka.


"Siap laksanakan!" Jawab Raka.


"Yuk neng Jesi yuk..." Lanjutnya seraya merangkul bahu Jesi.


Rama yang hendak masuk ke dalam ruangannya seketika berjalan menghampiri Raka,


"Nggak usah pake pegang-pegang segala!" Dia melepas kasar rangkulan Raka di bahu Jesi.


"Ups sorry, Wan. Gue lupa, udah kebiasaan." Ucap Raka tanpa dosa.


"Cari-cari kesempatan aja lo. Inget bini gue itu!"


"Iya iya sorry." Balas Raka.


"Yuk Karak yuk... Keburu sore ntar macet!" Kali ini justru Jesi yang mengaitkan tangannya di lengan Raka.


"Bukan gue loh tapi si aqua gelas noh. Lo liat sendiri kan?" Raka menunjuk Jesi dengan tatapannya.


"Sayang, kakak mohon jangan kayak gini. Kamu tuh euh!" Rama sampai kehabisan kata-kata.


"Jangan pegang-pegang lelaki lain!" Dia buru-buru menarik tangan Jesi.


"Dia bukan lelaki lain, dia karak temen Karam. Wehh..." Cemoohnya yang kemudian buru-buru menarik Raka supaya berjalan cepat mengikutinya ke dalam lift, mengabaikan Rama yang beberapa kali meneriakkan namanya.


Begitu pintu lift tertutup Jesi segera melepas tangannya.


"Ih pegangan lagi sini!" Ledek Raka.


"Kalian itu ribet banget sih. Gagal udah bonus double double gue kalo kayak gini caranya mah. Bukannya dapat bonus, yang ada gaji gue dipangkas abis sama laki lo." Gerutu Raka.


"Lagian lo ngapain pake pegang-pegang tangan gue sih? Ngasih kode minta ditikung gitu?"


"Nggak!!" Jawabnya irit.


Sepanjang jalan Raka sudah menceritakan soal Olivia yang memang hanya berteman dengan Rama, tapi perempuan yang duduk di kursi belakang itu tak menggubrisnya.


"Aku curiga Karak sekongkol sama Karam lah!"


"Siapa juga yang cemburu? Nggak!!" Ketus Jesi.


"Ini rumahnya?" Sambungnya begitu mobil Raka berhenti.


"Iya."


Jesi segera turun dan berjalan menuju pintu utama, berulang kali ia menekan bel.


"Langsung masuk aja!" Ajak Raka yang langsung membuka pintu sendiri. Jesi mengikutinya dari belakang sambil mengamati rumah modern dengan gaya klasik itu.


"Ini kamarnya." Ucap Raka seraya membuka pintu setelah mengetuk sebelumnya.


"Dede bayi gemoy, teteh Jesi datang." Jesi menciumi pipo cabi bayi di pangkuan Naura.


"Gemoy... Gemoy banget. Gemes ih."


"Jam segini udah pada nyampe sini aja. Kalian bolos?" Tanya Naura.


"Spesial hari ini Darmawan sedang baik hati ngasih gue pulang duluan." Jawab Raka.


"Tumben?"


"Kan Nyonya Darmawan lagi ngambek, cemburu buta dia sama cemceman jaman SMA."


"Cemceman?" Ulang Naura.


"Itu cewek dua belas IPS empat, inget nggak lo? Yang pernah lo labrak juga dulu." Ujar Raka.


"Yang mana sih?" Naura mulai mengingat-ingat karena anak perempuan yang ia labrak dulu tak hanya satu tapi banyak, mengigat Rama adalah most wanted SMA Persada dulu.


"Yang bapaknya tentara." Raka memberikan clue sekali lagi.


"Yang tinggi semampai itu? Bidadarinya anak IPS?" tanya Naura.


"Si Olivia Pitarian?" Tebaknya kemudian.


"Si oli, Mba. O L I" sela Jesi.


"Karam tuh di kemaren di Banyumas...." Jesi menceritakan semuanya, hingga paket kiriman sarapan pagi tadi juga tak lupa ia jabarkan pada Naura.


"Kan kesel aku jadinya, Mba!"


"Ya ampun Neng Jesi kamu tuh ngegemesin banget sih. Dengerin mba yah!" Ucap Naura pelan.


Cukup lama Naura mengobrol dengan Jesi, perempuan yang sudah tak perawan lagi itu berulang kali mengangguk dan ber oh ria menangapi nasihat Naura.


"Oh, gitu mba?"


"Masa sih, mba?"


"Tapi Karam nggak pernah bilang cinta sama aku." Jesi cemberut, dia baru sadar selama empat hari menjadi istri Rama, belum pernah sekalipun suaminya itu berucap mencintainya meskipun dia sudah menyerahkan hal paling berharga yang dia miliki.


"Heu dasar bocah nggak peka lo, Aqua gelas. Cinta itu nggak harus selalu di ungkapin pake kata-kata. Nggak melulu harus bilang i love you. Buat kita para lelaki yang penting tuh tindakan, bukan perkataan. Ngerti nggak lo?" Akhirnya Raka yang sejak tadi diam jadi ikut nimbrung.


"Coba lo pikir aja setelah nikah gimana perlakuan Darmawan ke lo? Dia sabar banget kan." Sambungnya.


"Hm." Jesi hanya berdehem pelan. Suaminya memang sangat-sangat memperlakukannya dengan baik dan penuh kesabaran, kecuali untuk urusan ranjang. Yang satu itu benar-benar nggak sabaran pake banget.


"Ya udah kalo gitu aku mau pulang aja. Mau persiapan nyambut si Oli. Kalo mau ada tamu nyonya rumah kan harus siap-siap supaya bisa menjamu dengan baik, secara kan tamu adalah raja. Eh ralat si oli kan perempuan jadi tamu adalah ratu." ucap Jesi.


"Dede bayi gemoy... teteh Jesi pulang dulu yah, besok main lagi." Jesi menjewel gemas pipi cabi bayi Naura.


"Tatah teteh tatah teteh... aunty!" cibir Raka.


"Aku bukan tante-tante, Karak!" protesnya.


"Udah ah aku pulang yah. Mau masak."


"Emang bisa masak?" ejek Raka.


"Bisa lah!" jawab Jesi.


"Karena mau ada tamu spesial jadi aku juga bakal siapin makanan yang spesial juga. menu 3S spesial buat si Oli."


"Buset 3S udah saingan aja sama pom bensin. senyum sapa salam, jangan lupa juga bilang dimulai dari nol." ledek Raka.


"3S itu Sandwich Susu Sianida. Karak mau juga?" tawar Jesi.


Raka hanya menelan ludah mendengar ucapan Jesi, ia buru-buru mengeluarkan HP nya dan mengirim pesan pada Rama.


"Malam ini selapar apa pun lo jangan sampe makan di rumah, kecuali kalo lo udah siap mati!"