Possessive Leader

Possessive Leader
jealous?



"Jangan ngeliatin aku kayak gitu! Ntar aku aduin ke calon istri Karam loh. Kalo calon suaminya suka jelalatan!"


Rama kian terkekeh mendengar ucapan Jesi. Meski gadis itu menatapnya dengan kesal tapi tak membuat Rama takut, yang ada dia malah makin ingin tertawa melihat ekspresi marah si jas jus.


"Ya aduin aja sana. Emangnya tau calon istri saya?"


"Nggak tau. Tapi biar aku tanyain ke Karak. Dia pasti tau." Jesi sudah mengeluarkan ponselnya.


"Udah-udah nggak usah di tanyain. Lagian dia juga nggak tau." Cegah Rama.


"Lagian saya kan nggak jelalatan. Kamu nya aja yang kepedean." Imbuhnya.


"Lah tadi jelas-jelas aku liat kok."


"Iya iya udah terserah kamu aja lah." Dari pada terus berdebat dengan Jas jus tak akan ada habisnya, lebih baik mengalah.


"Jadi mau diantar kemana ini?" Tanya Rama.


"Kampus Persada."


"Mau ngapain jam segini ke kampus? Udah nggak ada kegiatan kali." Jawab Rama, mengingat saat ini sudah pukul lima sore.


"Siapa juga yang mau ngampus jam segini. Kosan aku di belakang kampus, Karam. Jadi anterin aja aku sampe depan kampus persada, soalnya jalan ke kosan aku nggak masuk mobil. Paling mentok motor doang."


Kini Rama mengerti kenapa Burhan memintanya menunggu hingga putrinya pulang. Rupanya anak nakal ini tinggal di kosan.


"Kamu aslinya orang mana?" Tanya Rama, memilih berpura-pura tak tau adalah yang terbaik saat ini.


"Ya orang sini."


"Orang sini kok kost? Rumahnya jauh dari kampus?"


"Minggat aku tuh, Karam." Jawab Jesi.


"Kesel deh aku sama ayah dan ibu. Padahal aku pas mau minggat tuh udah pamit, tapi nggak dicegah sama mereka." Lanjutnya.


"Dasar bocah! Gue baru tau sekarang ada orang mau minggat pake pamit dulu." Batin Rama.


"Jangan ketawa!" Rama seketika mengunci bibirnya rapat-rapat meskipun aslinya dia benar-benar ingin tertawa saat ini.


"Ah males aku mah kalo diketawain!" Gerutu Jesi.


"Nggak. Udah nggak ketawa lagi ini. Ayo cerita lagi!"


"Males ah. Nyari makan dulu dong, Karam. Aku masih lapar." Keluhnya kemudian.


"Makanya kalo makan tuh abisin. Main kabur aja, sekarang kerasa kan efeknya?"


"Abis tadi ada Mba Dina. Kesel aku tuh tiap lihat dia. So baik, so segalanya. Padahal dalemnya burik banget. Jahat."


"Tapi tetap saja Jas Jus kalo sama orang yang lebih tua harus bisa menghormati dan menghargai." Pelan-pelan sekali Rama menasehati asistennya.


"Males aku kalo harus ngehargai orang yang nggak ngehargai kita."


"Bagaimana pun dia senior di kantor. Harus sopan! Terlepas dari apa yang dia lakukan pada kita. Nggak selamanya kejahatan harus dibalas dengan hal sama. Jadi manusia itu harus selalu berbuat baik tak peduli bagaimana orang lain memperlakukan kita. Toh karma itu selalu ada, dan tak selalu harus kita yang membalas ketidak baikannya pada kita."


Jesi mencebikan bibirnya mengejek Rama, "Karam bisa ngomong kayak gitu. Tapi kalo ke aku selalu galak sama marah-marah. Padahal aku kurang baik apa coba? Aku di matamu selalu salah. Apa Karam nggak takut kena Karma?"


Rama menepikan mobilnya di depan sebuah restoran cepat saji yang terletak di seberang kampus.


Selesai makan Rama mengantar Jesi hingga depan kosan, bahkan dia sampe bela-belain jalan kaki.


"Udah nyampe Karam. Makasih udah dianterin, kamar aku di lantai dua. Yang paling ujung itu." Jesi menunjuk kamarnya.


"Nanti kalo misal calon istri Karam salah paham sama kita tinggal bilang aja yah, ntar aku kasih penjelasan kalo aku cuma asisten. Terus sama yang Karam jelalatan tadi kagak bakal aku laporin, anggap aja balas jasa karena udah nelaktir aku makan. Gimana? Setuju kan?" Tanya Jesi.


"Setuju lah, masa nggak sih!" Lanjutnya menjawab pertanyaannya sendiri dengan sangat semangat. Tanpa menunggu Rama pergi, Jesi langsung masuk ke dalam meninggalkan Rama yang masih berdiri di depan gerbang.


"Emang nggak ada sopan-sopannya itu bocah. Yang nganter aja belum pergi udah main tinggal aja." gerutu Rama.


Sebelum melangkah pergi Rama melihat kamar paling ujung di lantai dua yang tadi di tunjuk Jas jus tadi. Bertepatan saat itu tak sengaja Jesi yang baru saja membuka kunci juga melihat ke arahnya, gadis itu melambaikan tangannya, berdadah ria.


"Dasar bocah!" Ucap Rama lirih, tapi tanpa sadar tangan kanannya terangkat membalas lambaian tangan Jesi sebelum akhirnya berjalan menjauh.


Esok harinya Rama merasa ada yang kurang begitu tiba di lobi. Dia tak melihat Jesi di sana, padahal sudah beberapa kali mereka selalu tiba di waktu yang sama meskipun tak berangkat bersama.


"Nyari siapa?" Bukannya Jesi yang datang justru Raka yang menghampirinya.


"Nggak nyari siapa-siapa!"


"Bohong, lo. Tadi gue liat lo celingak celinguk gitu." Ucap Raka.


Rama tak menjawab, ia memilih masuk ke dalam lift begitu pintu terbuka. Begitu pun dengan Raka.


"Ngomong-ngomong ini aqua gelas kesayangan gue kemana yah? Tumben belum kelihatan. Padahal biasanya satu lift mulu tiap pagi."


"Mana gue tau!" Jawab Rama asal.


"Jadi berasa ada yang kurang euy. Berasa nggak semangat gue kalo kagak liat itu bocah." Gumam Raka.


"Besok-besok si aqua gelas mau gue jemput aja ah, kasian euy si imut tiap hari naik ojeg. Gue ikhlas dengan senang hati lah jadi kang ojeg buat dia. Ntar gue suruh tuh bocah pegangannya meluk gue dari belakang. So sweet banget kan? Si aqua gelas pasti bakalan seneng banget deh." Ujar Raka sambil tertawa.


"Menurut lo gimana, Wan? Dia bakalan suka apa nggak?" Lanjutnya.


"Mana gue tau." Balas Rama ketus.


"Kok lo ngegas sih, Wan? Salah makan yah lo, pagi-pagi udah emosi aja."


"Nggak!"


"Lah ngapa?"


"Gue cuma nggak suka lo deket-deket sama si Jas Jus."


"Emang kenapa? Si aqua gelas nyaman kok sama gue. Kok malah lo yang protes." Jawab Raka.


"Pokoknya jangan deket-deket sama dia!"


"Suka-suka gue dong, gue kan free nggak kayak lo yang udah punya calon bini." Ejek Raka kemudian keluar begitu pintu lift terbuka di lantai tujuh.


"Justru karena dia calon bini gue." Batin Rama.


Baru kali ini satu lift bersama Raka membuat dirinya begitu emosi. Mendengar ucapan Raka membuat otak cerdasnya langsung mengsimulasikan Jesi yang memeluk Raka dari belakang.


"Sial!! Belum apa-apa itu bocah udah bikin otak gue error." Umpat Rama.