Possessive Leader

Possessive Leader
Pagi



Pada akhirnya setelah meminum susu vanila hangat Jesi tak melanjutkan tidurnya, dia malah terus mengobrol dengan mama mertuanya hingga jam empat pagi. Rama jadi ikut tertahan di meja makan mendengarkan istrinya yang tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Meski dia hanya menjadi pendengar yang baik sambil sesekali menguap menahan kantuk.


"Sebentar lagi subuh, Aku mandi dulu. Kamu juga, nanti kita sholat berjamaah. Jangan nyerocos terus, ayam juga belum berkokok kamu udah ngoceh aja." Ucap Rama pada Jesi kemudian bangkit dari duduknya untuk kembali ke kamar.


"Mama juga mau siap-siap sholat subuh terus masakin nasi goreng buat mantu kesayangan mama." Ucap Yeni.


"Susul kakak gih, siapin baju buat suami kamu." Imbuhnya.


Jesi ikut meninggalkan dapur dan kembali ke kamar. Tiba di kamar dia langsung menatap lemari besar, digesernya satu persatu pintu lemari untuk mengambil pakaian Rama.


"Pake koko sama celana pendek aja kali yah? Ntar kan pake sarung."


"Sama ini juga nggak yah?" Ragu-ragu Jesi mengambil ce la na dalam berwarna hitam. Benda yang selama dua puluh tahun ia hidup baru kali ini ia sentuh.


"Kamu lagi ngapain?" Tanya Rama yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di pinggang sementara tangan kanannya menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil. Dia berjalan santai menghampiri Jesi.


Mendengar suara Rama membuat Jesi langsung menengok ke sumber suara, "aku lagi nyiapin baju buat Ka-" ucapannya terhenti begitu melihat Rama yang bertelanjang dada.


"Karam porno!" Teriak Jesi, ia reflek menutup matanya dengan benda yang sedang dipegang.


Rama menghela nafas panjang seraya menggeleng melihat tingkah Jesi. Ditambah dengan benda yang digunakan istrinya untuk menutup wajah, astaga jas jus!


Rama dengan santai Rama menghampiri Jesi dan berusaha mengambil ce la na dalam yang oleh Jesi digunakan untuk menutup wajah.


"Ya udah kalo nggak boleh diambil, buat kamu aja!" Ucap Rama saat Jesi tak melepaskan benda itu.


"Karam jangan pake baju di sini. Dasar porno!" Jesi berlari ke kamar mandi begitu melihat Rama mengambil pakaian di depannya.


Belum selesai Rama memakai baju, dia sudah kembali mendengar teriakan Jesi dari dalam kamar mandi.


"Arghhh!" Dia yang baru menyadari jika benda yang digunakan untuk menutup mata tadi adalah ce la na dalam Rama segera melempar benda itu ke pojok kamar mandi.


"Dasar porno, mesum!" Teriaknya lagi.


Rama hanya membuang nafas kasar dan memilih mengabaikan teriakan Jesi yang kemudian tak lama berhenti sendiri berganti dengan suara gemercik air.


"Masih pagi tapi telinga rasanya udah panas aja, si jas jus ampun banget dah. Cerewetnya ngalahin beo, kalo aja dia tuh beo beneran udah gue lakban itu bibir. Biar adem dikit ini telinga." Gerutu Rama.


Cukup lama Rama menunggu Jesi keluar dari kamar mandi untuk sholat berjamaah, tapi istrinya itu tak kunjung keluar padahal gemercik air sudah tak terdengar lagi, ditambah dengan adzan subuh sudah sepuluh menit berlalu.


"Jangan-jangan ini bocah ketiduran di kamar mandi." Ucap Rama seraya menghampiri kamar mandi.


Tok..tok..tok...


Diketuknya berulang kali pintu berwarna putih itu, "Jas Jus, kamu mandi apa tidur? Buruan keluar adzan subuh udah lewat."


"Jas jus..." Panggil Rama sekali lagi.


"Nggak ada handuk!" Jawab Jesi lirih.


Rama mengambil handuk baru dari dalam lemarinya kemudian kembali berjalan ke kamar mandi, "buka pintunya!"


"Mau ngapain?"


"Ini handuknya."


Jesi membuka pintu sedikit, mengeluarkan tangannya untuk mengambil handuk. "Aku mau keluar, Karam hadap dinding dulu. Jangan liat, aku malu."


"Ribet amat. Gue keluar kamar, lo buruan pake baju. Keburu abis waktu subuh." Ujar Rama kemudian benar-benar meninggalkan kamar.


Setelah memastikan kamar kosong, Jesi segera keluar dan berpakaian. Ia juga langsung mengenakan mukena.


"Ya ampun cakep banget dah imam gue. Taehyung versi islami kayak gini ternyata." Batin Jesi.


"Lama banget!" Ucap Rama cuek, dia hanya melirik Jesi sekilas kemudian masuk ke dalam kamar, meninggalkan Jesi yang masih melongo di sana.


"Buruan, keburu matahari nongol. Tuh liat udah jam lima lebih!" Ucap Rama yang terpaksa kembali ke luar kamar untuk menarik Jesi.


"Baru juga dipuji dikit udah kumat ngamukannya." Ucap Jesi.


"Ngomong apa barusan?" Tanya Rama.


"Nggak ngomong apa-apa kok." Elak Jesi.


Usai sholat subuh Rama berbalik dan mengulurkan tangannya, sedikit ragu namun kemudian Jesi meraihnya dan mencium punggung tangan Rama penuh takzim. Elusan tangan kiri Rama di kepalanya saat dia bersalaman membuat Jesi tercengang ditambah tatapan hangat yang persis seperti saat mereka usai melakukan ijab kabul malam tadi, menenangkan. Disusul dengan kecupan di kening yang kemudian dilanjut dengan rengkuhan yang membawanya jatuh ke pelukan Rama membuat Jesi pasrah dan menikmatinya. Nyaman. Hingga tanpa sadar dia ikut membalas pelukan Rama, melingkarkan kedua tangannya dan mengusap perlahan punggung lebar Rama.


"Udahan ntar kebablasan kalo kelamaan." Rama mengurai pelukannya, padahal Jesi masih betah berlama-lama.


"Kebablasan ngapain emang, Karam?" Jesi mulai membuka mukena dan melipatnya.


"Udah nggak usah banyak nanya. Sekarang siap-siap ke kantor aja." Rama tau menanggapi setiap ucapan Jesi tak akan ada habisnya.


Setelah selesai keduanya keluar kamar bertepatan dengan Alya yang baru saja menutup pintu kamarnya.


"Pagi kakak Jesi..." sapanya kemudian bergabung berjalan beriringan.


"Jesi aja nggak usah pake kakak!" Jesi meraih tangan adik iparnya dan berjalan pelan.


"Sakit banget, Jes?" tanya Alya, jujur semalam ia jadi ikut tak bisa tidur gara-gara mendengar suara Jesi.


"Banget, gila. Kakak lo kagak sabaran banget dah!" balas Jesi.


"Disuruh pelan-pelan malah kasar banget. Kagak tau pinggang gue rasanya mau copot." imbuh Jesi yang membuat Alya makin bergidig ngeri membayangkannya.


"Yang pertama emang sakit, Jes. Tapi katanya ntar lama-lama juga enak. kamu enak nggak semalam? apa sakit terus sampe akhir?"


"Enakkan kok. Nggak sakit-sakit banget. Kan Karam jadi pelan pas aku protes, awal mah sakit banget sumpah kasar kakak lo, Al. Nggak sabaran!" maksud Jesi adalah kasar dan tak sabaran saat Rama membantunya kembali naik ke ranjang dan memijit pinggangnya dengan keras.


"Tapi parah kakak lo, Al. Pas lagi aku lagi enak-enaknya malah berhenti." imbuh Jesi.


"Ih kakak nggak boleh kayak gitu, egois. Jangan pengen enak sendiri dong." Ucapan Alya membuat Rama seketika berbalik.


Rama hanya berdecak kesal melihat adik dan istrinya.


"Iya nanti malem kakak bikin temen kamu itu enak sampe sepuasnya." jawab Rama asal, dia benar-benar tak habis pikir Alya dan mamanya sama-sama berpikir yang tidak-tidak hanya karena mendengar teriakan Jesi tadi malam. Padahal semua berawal dari perkara lampu yang dimatikan.


Kini tatapan Rama beralih pada Jesi, "siap-siap aja kamu!"


.


.


.


.


.


Oke Karam aku selalu siap. anytime anywhere hayu hayu wae πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›


Eta atuh like sama komennya jangan ketinggalan tiap abis baca biar neng jas jus makin semangat up nya😘😘