
"Selamat sore ibu Jesika!" Ucap Raka.
"Ibu Jesika kerjanya main HP terus yah." Sambungnya seraya menarik tumpukan map yang digunakan sebagai penyangga dagu oleh Jesi selama dia menonton FYI Kim Taehyung di aplikasi tok tok.
"Ish apaan sih Karak ngeselin. Ganggu aja! Mau ke Karam kan? Masuk aja gih, ada kok di dalem. Gue lagi sibuk cuci mata nih." Jesi menarik kembali tumpukan map dan meletakan dagunya di sana. Santai.
"Ibu Jesika main HP terus, aku laporin nih sama pak Darmawan." Ledek Raka.
"Sekali lagi manggil ibu gue pastiin Karak nggak akan bisa ngapelin Alya minggu ini!"
"Ampun-ampun yang mulia aqua gelas. Mohon dengan sangat urusan apel jangan diganggu gugat. Hamba mohon ampun." Ucap Raka.
"Lagian gue kan cuma ikut-ikutan karyawan lain, lagi booming lo di kalangan karyawan. Mereka lagi latihan manggil lo pake sebutan ibu. Tadi aja nanya ke gue, bagusan dipanggil bu Jesi atau bu Jesika yang lengkap?"
"Bilangin sama mereka, gue sukanya di panggil neng Jesi! Neng Jesi yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan kesayangan Karam tentunya."
"Udah terlanjur gue nyuruh mereka manggil lo pake sebutan yang mulia aqua gelas."
"Sekalian aja aqua galon!" Cibir Jesi.
"Ya udah ntar balik sini gue ralat deh ke anak-anak suruh manggil lo aqua galon."
"Karak!" Teriak Jesi kesal tapi sahabat suaminya itu justru tertawa dan pergi begitu saja.
Raka masih terkekeh kecil saat masuk ke ruangan Rama. Dia bahkan sedikit mengintip dari balik kaca, rupanya bakal calon kakak iparnya itu sudah kembali anteng dengan benda pipih berwarna pink di hadapannya.
"Ngeliatin apa lo?" Tanya Rama.
"Bini lo, Wan. HP mulu itu bocah." Jawabnya enteng seraya mendudukkan diri di sofa.
"Ada apa manggil gue? Tumben banget. Padahal gue baru aja nyelesein pekerjaan, mau ngejemput adek lo."
Raka beranjak dari meja kerjanya dan bergabung bersama Raka.
"Ini soal Dina dan grup yang bikin gosip tentang Jesi."
Kening Raka berkerut mendengar soal grup chat lagi, setahunya semua masalah sudah clear saat ini. Grup chat sudah dibubarkan, anggota sudah di beri peringatan, mereka juga sudah meminta maaf pada Jesi serta adminnya pun sudah di pecat.
"Bukannya udah beres yah? Kenapa jadi nyangkut ke Dina segala?"
"Nggak, masalahnya belum selesai. Gue minta lo buat selidiki semua tentang Dina. Terserah mau lo nyuruh orang atau terjun sendiri langsung, yang jelas gue mau info detail tentang dia dan perusahaan peninggalan ayah nya. Gue rasa ada yang tidak beres belakangan ini." Terang Rama.
"Itu aja?" Tanya Raka.
"Nanti gue nyuruh orang aja lah yang bisa ngawasin Dina dua puluh empat jam, soalnya gue lagi seneng ngawasin adek lo. Gue cabut dulu yah ntar my baby Alya kelamaan nunggu kasihan."
"Lagak lo pake my baby segala. Adek gue itu, jagain yang bener. Awas kalo sampe lo macem-macem!"
"Tenang aja, Alya aman sama gue." Balas Raka.
"Dah lah gue cabut dulu. Ntar kalo ada perkembangan gue kabarin." Pamitnya.
"Kakak ipar gue balik duluan yah." Ucapnya begitu melewati Jesi.
"Hih Karak udah main pulang aja... Jadi pengen pulang, jalan-jalan sore kayaknya enak. Adem gitu." Gumam Jesi, dia langsung beranjak dari kursinya.
"Karam... Main yuk!" Ajaknya setelah tiba di ruangan Rama.
Mendengar ajakan istrinya, Rama langsung menghampiri Jesi.
"Mulai nakal yah berani ngajak main di kantor!" Dicubitnya gemas kedua pipi Jesi.
"Ish apaan sih? Mesti Karam mikirnya yang aneh-aneh nih. Maksud aku tuh yah main jalan-jalan kemana gitu, bukan main yang itu. Kalo yang itu mah ntar aja di rumah."
"Ya sudah ayo. Jas Jus kesayangan kakak ini pengen jalan kemana biar kakak anterin?"
"Gimana kalo pecel ayam depan kantor aja, Karam? Berasa udah lama banget nggak makan di sana."
"Boleh, apa pun yang Jas Jus minta kakak turutin."
Selepas kerja sore itu mereka benar-benar makan di warung tenda depan kantor.
"Inget nggak waktu pertama kita ketemu di sini? Kamu kakak kasih nasihat nggak paham-paham." Ucap Rama.
"Nggak. Aku ingetnya cuma Karam yang udah marah-marah pas awal aku mulai magang. Kesel ih! Waktu itu tuh bener-bener titik terendah hidup aku. Udah mah nggak punya fasilitas apa-apa, jadi anak kost, sarapan gorengan doang eh sampe kantor kena semprot." Karena lalab kol goreng miliknya sudah habis, Jesi mulai mengambil lalaban milik Rama yang masih utuh. Sejak tadi suaminya itu memang lebih sering mengajaknya bicara dibanding makan. Makanannya saja hanya berkurang sedikit.
"Tapi nggak kerasa yah Karam, minggu ini udah jadi minggu terakhir aku magang." Ucapnya lirih.
"Jadi nggak bisa bareng-bareng Karam lagi." Sambungnya.
"Nggak usah cemberut gitu sayang, kan kita masih ketemu tiap hari. Sebelum ke kantor kalo kamu sudah mulai kembali ke kampus nanti kakak anter ke kampusnya."
"Beneran yah?"
"Iya sayangnya kakak." Balas Rama.
"Udah selesai makan nya? Mau nambah lagi nggak?" Jesi menggelengkan kepala.
"Kalo kamu nggak cape sebelum pulang temenin kakak ketemu seseorang."
"Siapa?" Tanya Jesi.
"Nanti kamu tau sendiri. Ayo!"
Setelah membayar makanan mereka, Rama membawa Jesi ke sebuah restoran yang letaknya cukup jauh dari kantor namun searah dengan jalan mereka pulang. Rama segera keluar setelah memarkirkan mobilnya dengan baik.
"Aku masih kenyang Karam kok kita malah ke restoran sih?" Ucap Jesi.
"Nah itu Vita. Ayo kita ke sana!" Alih-alih menjawab pertanyaan Jesi, Rama justru langsung menarik Jesi supaya mengikutinya.
"Ih ngapain sih ketemu dia, Karam? Kan udah di pecat, ngeselin!" Gerutu Jesi.
Vita langsung berdiri begitu melihat kedatangan Rama dan Jesi serta mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Kamu sudah lama? Maaf saya datang terlambat." Ucap Rama begitu duduk.
"Tidak apa-apa pak Darmawan. Saya belum lama." Jawab Vita.
"Jesi, saya secara khusus memohon maaf secara langsung. Semua yang digrup chat itu bukan keinginan saya. Saya hanya di suruh saja."
"Maksud kak Vita?" Jesi sedikit terkejut.
"Dina yang nyuruh dia. Jangan salahkan Vita, dia melakukannya terpaksa karena balas jasa. Dina pernah membantu biaya pengobatan ibunya yang sedang sakit." Terang Rama.
"Sekali lagi saya minta maaf, Jes." Ulang Vita.
"Mba Dina bener-bener keterlaluan, bisa-bisanya pake orang lain buat tameng." Kesal Jesi.
"Sudah lupakan soal grup chat. Sekarang kasih tau saya, bagaimana tanggapan Dina setelah tau kamu dipecat?" Tanya Rama.
Siang tadi sebelum meninggalkan ruangan Rama, Vita kembali masuk saat yang lain sedang sibuk meminta maaf pada Jesi. Merasa Dina memanfaatkannya membuat Vita terpaksa membeberkan semua yang Dina perintahkan hingga akhirnya Rama memberinya surat rekomendasi untuk pemindahannya ke kantor cabang lain.
"Mba Dina cuma nyuruh aku sembunyi sementara waktu, dia yang bakal transfer buat biaya perawatan ibu di kampung. Dia juga bilang mau ngajak saya pindah ke Cat star kalo urusan di loveware sudah selesai."
"Sementara kamu turutin saja kemauan Dina, kalo bisa masuk cat star akan lebih baik." balas Rama.
"Mari kita lihat sejauh mana permainan kamu, Dina!"