Possessive Leader

Possessive Leader
Bonus 10. Yes, sah!!



Raka mamasuki ballroom tempat acara pernikahannya akan dilangsungkan bersama dengan keluarga lengkapnya yang membawa aneka bingkisan untuk Alya. Begitu duduk di tempat yang sudah di sediakan ia tersenyum melihat deretan kaktus mini milik Alya yang benar-benar di pajang di samping pelaminan.


“Satu dua... delapan.” Hitungnya seraya menunjuk kaktus-kaktus kecil.


“Wah anak-anaknya doang. Bibitnya pasti dipegang my baby nih.” Gumamnya lirih.


“Ngomong apa kamu, Ka?” tanya sang papa yang duduk di sampingnya.


“Bukan apa-apa kok, Pa.” Elaknya.


“Awas kamu jangan bercanda yah! Ijab qabul yang bener.”


“Iya Pa, siap!” jawab Raka seraya membenarkan pecinya. Ia segera berdiri begitu Rama dan petugas KUA menghampirinya.


“Alya mana, Wan?” tanyanya.


“Ada. Ntar dia keluar kalo udah sah. Sabar dikit ngapa!” ucap Rama.


“Kangen tau gue,Wan.”


Obrolan Raka dan Rama baru terhenti saat MC memulai acara. Setelah pembacaan ayat suci al-Qur’an dan shalawat nabi dilantunkan, acara selanjutnya adalah acara inti yakni ijab qabul. Sebelum ijab qabul dimulai petugas KUA kembali memastikan ulang data-data pengantin. Barulah setelah semuanya dipastikan benar, ijab qabul bisa dilaksanakan.


“Udah siap?” tanya Rama sebelum mengulurkan tangannya.


Setelah melafalkan bismillah dalam hati, Raka mengangguk mantap dan menjabat tangan sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya. Ia yakin mampu mengucapkan ijab qabul dalam satu tarikan nafas, toh semalam dia sudah menghafal habis-habisan. Bahkan di dalam perjalan tadi pun ia kembali menghafalkannya.


“Latihan dulu nggak nih, Ka?” ledek Rama yang baru kali ini melihat sahabatnya begitu serius.


“Nggak, Wan. Langsung gas aja. Udah pengen ketemu my baby.”


“Nggak sabaran. Dasar!”


Rama menjabat tangan calon adik iparnya erat. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.


“Pa, hari ini putri papa menikah dengan Raka sabahatku. Mulai hari ini tanggungjawab ku sebagai pengganti papa akan berakhir. Aku harap papa disana juga ikut bahagia melihat Alya menikah.” Batin Rama.


Rama menatap lekat sahabatnya sebelum berucap hingga Raka membalasnya dengan anggukan penuh percaya diri.


“Bismillahirrahmanirrahim, Muhammad Raka Dwitama bin Akbar, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik saya Naralya Pertiwi binti Husen, dengan mas kawin emas seratus gram dan uang tunai seratus juta rupiah dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Naralya Pertiwi binti Husen dengan mas kawin tesebut tunai.” Balas Raka dengan sekali tarikan nafas. Dia langsung melepas jabatan tangannya dan bersorak.


“Yes sah!” ucapnya sambil berdiri.


“Diem dulu, Ka.” Aldi yang duduk di belakangnya menarik baju Raka meminta adiknya itu untuk duduk kembali.


“Yang nentuin sah bukan lo, tapi saksi!” lanjutnya setelah Raka duduk.


“Elah Bang udah pasti sah.” Ucap Raka.


“Gimana saksi sah kan?” lanjutnya yang membuat petugas KUA geleng-geleng kepala namun sedetik kemudian memberi putusan sah setelah menanyakan pada saksi.


“Hai bos, eh kakak ipar. Jadi lo sekarang bos apa kakak ipar gue, Wan?” ledeknya pada Rama.


“Terserah lo lah, Ka.” Rama hanya menghela nafas panjang melihat tingkah sabatnya yang sudah kembali ke zona normal.


“Gue titip Alya.” Lanjutnya.


“Pasti, Wan. Gue pasti bahagiain dia.” Jawab Raka.


“Woy MC jangan diem-diem aja, ini mana my baby pengantin gue? suruh masuk lah. Nggak tau gue udah seminggu nahan kangen apa?” Teriaknya yang langsung mendapat sorakan dari para tamu yang sebagian sudah datang.


MC di depan sana ikut tertawa mendengar ucapan Raka.


“Wah pengantin laki-laki kita udah nggak sabar yah. Baiklah kalo begitu langsung saja kita persilahkan pengantin perempuannya untuk masuk.”


Atensi semua orang yang ada di ballroom tertuju pada perempuan bergaun putih dengan hijab bertiara yang anggun. Kedua tangannya memegang kaktus mini pemberian Raka dua tahun lalu.


Alya, dia berjalan diapit oleh Mama Yeni dan ibu Sari, sementara Jesi berjalan dibelakangnya sambil menggendong Kara.


“Eh eh pengantin prianya mau kemana? Sabar atuh sabar!” seru MC saat mendapati Raka hendak menghampiri Alya.


“Udah udah stop disana aja!” serunya sambil menghampiri Raka dan menahan Raka supaya tak berjalan lebih jauh lagi. Ia jadi terpaksa turun dari pelaminan karena pengantin prianya nggak sabaran.


“Sabar atuh nanti juga nyampe sini.” Ledeknya pada Raka.


“Udah kangen banget ini, seminggu nggak ketemu.” Balas Raka.


“Kangennya ditunda dulu, nanti malem bebas boleh dikekepin sepuasnya.” Ledek MC yang mulai terbawa arus oleng.


“Gue kekepin sekarang aja boleh nggak sih?” tanggapan Raka tak tanggung-tanggung langsung mendapat hadiah sorakan lagi dari pada tamu.


“Hadeuuhh ini mah pengantinnya udah kebelet pemirsa.” Seloroh MC, dia tak bisa melarang Raka yang sudah berjalan menghampiri Alya, padahal tinggal sedikit lagi Alya berdiri di hadapannya.


“Sama aku aja, Ma.” Pinta Raka, ia segera berdiri di samping Alya dan menarik tangan kanan Alya supaya melingkar di tangan kirinya.


“Istri Aa cantik banget.” Pujinya lirih yang sukses membuat wajah Alya kian merona.


Raka membawa Alya duduk di meja tempatnya melakukan ijab qabul tadi. Setelah menandatangani buku nikah dan pembacaan do’a, Raka begitu terlihat bahagia saat petugas KUA meminta Alya menyalaminya untuk pertama kali. Dia segera mengulurkan tangannya pada Alya, perempuan itu langsung menyambutnya dan mencium punggung tangan Raka.


“Tahan... tahan...” ucap fotografer.


Setelah Alya melepaskan tangannya Raka segera memegang kepala Alya dan mencium kening gadis itu lama.


“Udah woy lama amat!” cibir Jesi hingga Raka berdecak dan melepaskan ciumannya.


“Ya kali aja belum diabadiin gitu makannya gue tahan. Abis kang fotonya nggak bilang tahan... tahan... gitu.” Elaknya.


“Bisa aja modusnya!” ucap Jesi tak mau kalah.