Possessive Leader

Possessive Leader
Once Again Baby!



Begitu membuka mata Rama tersenyum melihat Jesi yang masih terlelap di pelukannya. Dibelainya perlahan wajah yang tidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka. Disibakannya beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya kemudian mencium kening Jesi berulang kali.


“Bangun sayang…” ucapnya lirih seraya mengelus lembut berulang kali pipi Jesi, tapi perempuan yang sudah ia renggut keperawanannya itu masih tak berkutik. Justru terlihat lebih nyaman dengan sentuhan-sentuhan yang ia berikan. Jesi justru kian menyerukan wajahnya ke dalam dada bidang Rama.


“Malah makin nyenyak ini bocah!”


“Jas Jus bangun!” ditepuknya punggung Jesi berulang kali hingga dia terbangun.


“Bangun udah mau subuh!”


“Aku masih ngantuk ih, Karam.” Jawab Jesi yang Kembali memejamkan matanya.


“Hei… jangan tidur lagi. Mandi terus shalat, abis itu boleh tidur lagi.” Tegas Rama.


Tanpa menjawab Jesi malah beralih membelakangi Rama, mencari posisi ternyaman untuk melanjutkan tidurnya.


“Jas Jus!” ucap Rama yang sudah duduk di samping ranjang, dia sudah mengenakan celana pendek yang semalam ia buang asal.


“Bangun yah. Shalat dulu nanti boleh tidur lagi.” Bujuknya lembut.


“Tiga puluh menit lagi yah, Karam. Aku masih ngantuk.”


“Nggak bisa, kamu mandinya lama nanti kesiangan subuhnya!” Rama mulai menepuk-nepuk pipi Jesi supaya bangun.


“Ya nggak apa-apa , Karam. Sekali-kali subrang lah.”


“Nggak boleh kayak gitu. Ayo bangun!” Rama menarik paksa dan mendudukkan Jesi hingga dia bersandar di bahunya.


“Susah banget dibanguninnya sih? Kemaren aja bisa bangun sendiri.”


“Aku cape, Karam. Badan aku sakit semua, pinggang aku bukannya sembuh malah makin sakit. Belum lagi itu…” Jesi menjeda ucapannya, bingung juga harus bagaimana ngomongnya.


“Itu apa?”


“Tau ah, sebel. Karam maksa, aku kan dari awal udah bilang kalo aku belum siap.”


“Sakit tau.”


“Siapa yang maksa? Kan kemarin kamu sendiri yang minta dibikin enak, waktu di kantor pas ngobrol sama Raka dan Naura.”


Jesi tak menjawab, dia sibuk mencari kenyaman di bahu Rama untuk Kembali melanjutkan tidur.


“So so an nolak padahal akhirnya uh ah uh ah nggak berenti-berenti kamu tuh.” Ledek Rama.


“Enak kan?” lanjutnya sambil mengelus punggung polos Jesi.


“Tau lah, sebel.” Cebik Jesi.


“Pokoknya Karam mesti tanggung jawab! badan aku sakit semua.”


“Tenang aja, kakak tanggung jawab lahir batin.”


“Udah sekarang buruan mandi!”


“Nanti aja lah, Karam. Aku merem dulu sepuluh menit lagi aja. Beneran deh aku rasanya cape banget.” Keluh Jesi.


“Padahal bangun tidur tapi rasanya kayak orang abis mendaki gunung. Cape, badan sakit semua juga.” Imbuhnya.


“Nggak usah lebay. Yang abis mendaki gunung, menuruni lembah sampe masuk goa kan kakak, kenapa kamu yang cape?”


“Karam ih!” Jesi jadi mejauhkan tubuhnya dari Rama, ucapan Rama membuatnya seketika mengingat adegan erotis malam tadi.


“Kenapa sayang? Mau didaki lagi hm?” ledeknya.


“Udah buruan mandi atau mau kakak mandiin?”


“Aku mandi sendiri.” Terpaksa Jesi beranjak dari tempat tidur tanpa membuka selimutnya. Berjalan terseok-seok menuju kamar mandi. Kali ini pinggangnya benar-benar terasa mau copot ditambah dengan bagian inti tubuhnya yang terasa sakit sukses membuat cara berjalannya semakin pelan.


“Sakit banget? Mau kakak gendong aja?” tawar Rama yang menghampirinya.


Jesi menggelengkan kepala menolak, “Sakit lah badan aku rasanya kayak yang remuk.”


“Ya udah. Kakak mandi di bawah. Kamu mandinya jangan lama-lama, kita shalat subuh berjamaah.” Jesi mengangguk mengiyakan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


“Arghhh…” teriaknya dari dalam kamar mandi yang membuat Rama seketika menghentikan langkahnya untuk keluar kamar.


Jesi menatap tubuhnya di cermin, banyak bercak merah kehitaman disana. Leher, dada, perut bahkan di pahanya. Dan yang terparah ada di leher beserta kedua bukit kembar miliknya, nyaris penuh.


“Tapi nggak gatel.” Imbuhnya.


“Jas jus sayang kamu kenapa?” suara Rama terdengar keras dari balik pintu.


“Buka pintunya!”


“Aku nggak apa-apa, Karam. Nggak apa-apa.” Jawab Jesi.


Selepas shalat subuh Jesi langsung membuka mukenanya dan beranjak ke ranjang tanpa melipatnya terlebih dulu, “Aku mau tidur lagi, Karam.” Ucapnya.


Rama ikut merebahkan diri di samping Jesi, memeluknya erat.


“Kakak temenin.”


“Iya tapi nggak usah peluk-peluk kayak gini, enggap akunya nggak bisa nafas.” Protes Jesi.


“Karam rada jaga jarak gih, kesanaan dikit.” Imbuhnya.


“Kenapa emang?” bukannya menjauh Rama justru kian mempererat pelukannya.


“Rambut kamu wangi banget.” Ucapnya setelah mengecup puncak kepala Jesi.


“Ih suruh kesana malah makin mepet!” gerutu Jesi.


“Masalahnya ini aku alergi, Karam. Badan aku pada merah-merah banyak banget. Takut nanti Karam ketularan” Ucapnya jujur.


“Nanti kita ke dokter kulit yah. Aku nggak mau kulit aku yang mulus jadi burik kayak gini.”


“Nih liat nih, Karam!” Jesi menunjuk lehernya.


“Merah-merah kan? Malah ada yang merah kehitaman. Parah banget kan?”


Rama hanya tersenyum mendengarkan ocehan beo cantiknya dipagi buta ini. Selugu itu jas jus kesayangannya sampai tak bisa membedakan alergi dengan tanda cinta buatannya malam tadi. Rama kian membelai penuh sayang rambut Panjang Jesi yang masih sedikit lembab. Membiarkan istrinya terus mengoceh cerewet seperti biasanya.


“Masih ada lagi, Karam. Pokoknya nanti kita ke dokter spesialis kulit yah!”


“Di perut, di…”


“Dimana lagi hm?” tanya Rama.


“Di sini? Di sini? Dan di sini?” ia menunjuk dada, perut dan paha Jesi bergantian.


“Kar…” ucapan Jesi tak lagi terdengar, mulutnya kembali dibungkam dengan ciuman lembut Rama yang membuatnya seketika memejamkan mata.


“Makin manis.” Ucap Rama.


“Karam ih!”


“Masih pagi buta, Matahari aja belum nongol udah nyosor mulu.” Protes Jesi.


“Justru karena masih pagi sayang. Kakak perlu minum susu supaya sehat.”


“Bukannya Karam kalo pagi minumnya kopi? Kemaren aku liat pas sarapan Karam minum kopi bukan susu?”


“Mulai sekarang kakak maunya minum susu!”


“Ya udah nanti aku bikinin. Tapi sekarang mau tidur dulu, ngantuk aku.” Jesi menarik selimut hingga menutupi dadanya.


“Tapi kakak maunya minum susu sekarang.” Ucap Rama yang memelukanya dari belakang, Jesi bisa merasakan terpaan nafas hangat Rama di lehernya. Suaminya itu sesekali mengecupi lehernya membuat Jesi merasa geli.


“Nanti aja lah, Karam!” tolak Jesi.


“Kalo nggak sabar ambil sendiri aja di kulkas kan ada. Tinggal tuang aja!” jawabnya lirih karena mulai terpejam ke alam mimpi.


“Ini juga kakak mau ngambil sendiri. Mau minum langsung dari sumbernya juga.” Bisik Rama yang sudah menyusupkan tangannya ke dalam baju Jesi. Menyusuri perut datar istrinya dengan lembut hingga merambat pada susu murni penuh gizi yang menyehatkan.


“Eumhhh… “ sentuhan menggelikan itu membuat Jesi seketika membuka matanya.


“Kar…” Rama selalu membungkam mulutnya tiap kali ia hendak berucap.


"Once again baby." ucapnya pelan dengan tatapan hangat kemudian kembali meraup manis bibir istrinya. Mengulangi kegiatan baru malam tadi yang selalu membuat ingin dan ingin melakukannya lagi.


“Eummhhh…” pada akhirnya Jesi hanya bisa me le guh dan men de sah menerima setiap sentuhan memabukan dari suaminya.