Possessive Leader

Possessive Leader
Nggak keras, nggak enak!



“Karam, kopinya aku taruh sini yah?” Jesi baru saja meletakan secangkir kopi di meja Rama.


“Iya, makasih.” Jawab Rama tanpa mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang sedang ia baca.


Jesi mengitari meja dan berdiri di samping Rama, melihat lembar demi lembar berkas yang sedang di baca suaminya. Alih-alih kepo terhadap isi dokumen Jesi justru terpaku pada Rama yang menggenakan kaca mata, ia baru tau jika ternyata suaminya itu kerap mengenakan kaca mata saat membaca.


“Makin cakep aja euy CCG. Eh ralat, suami gue!” Batinnya, tanpa sadar tersenyum menatap Rama.


“Jas jus…” panggil Rama tapi istrinya itu malah senyam senyum tak jelas.


“Jesika!” kali ini Rama menyenggol lengan Jesi.


“Hah apa?”


“Hah heh hoh hah heh hoh! Ngapain kamu di sini? Balik ke meja kamu sana.” Ucap Rama.


“Ogah ah sepi. Aku di sini aja.” Tolak Jesi, ia malah berjalan menuju sofa tamu dan duduk di sana.


Pagi tadi Naura benar-benar di larikan ke rumah sakit, bahkan air ketubannya sudah pecah sebelum meninggalkan kantor. Sepertinya baby girl dalam perut Naura benar-benar shock mendengar cerita malam pertama Jesi.


“Nanti kalo ada tamu gimana di depan nggak ada orang. Sana balik!”


“Nggak mau, Karam. Di depan nggak ada temennya. Pekerjaan juga udah selesai semua, bete aku kalo sendirian. Nggak ada yang bisa diajak ngobrol. Lagian bentar lagi juga jam pulang.” Jesi dengan santainya mulai rebahan di sofa tamu dan memainkan ponselnya.


“Mau main ke tempat Karak juga kayaknya Karak lagi sibuk deh, pesan aku nggak ada yang dibalas.” Sambungnya.


“Nggak usah macem-macem mau main ke ruangan Raka segala. Kan aku udah bilang kamu dilarang ketemu Raka kalo nggak bareng aku!” terpaksa Rama harus mengakhiri pekerjaannya dan ikut bergabung di sofa tamu Bersama Jesi. Tak lupa kopi pertama buatan istrinya pun ikut ia bawa.


“Kopinya kok beda yah rasanya?”


“Beda gimana, Karam? Enak yah? Special aku yang bikin itu. Pake resep rahasia, tapi kopinya tetep pake yang biasanya kok. Cuma aku tambahin bahan lain aja.” Jesi bangun dari rebahannya dan mengambil alih cangkir dari tangan Rama. Tanpa ragu ia langsung ikut mencicipi kopi buatannya.


“Kok gini rasanya yah?” dirasa belum bisa mengambil kesimpulan rasa, Jesi meminumnya sekali lagi.


“Lumayan enak lah. Tapi aku lebih suka good day vanilla latte lah. Kalo nggak susu kotak rasa vanilla, lebih sehat. Dari pada kopi ntar malah bikin susah tidur.”


“Lebih suka good day vanilla latte tapi itu kopi kamu minum terus.” Rama mengambil kembali cangkir dari tangan Jesi, meskipun rasanya berbeda dari yang biasanya dia tetap menghabiskan kopi buatan Jesi. Jika boleh jujur, kopi buatan Naura lebih enak meskipun hanya terdiri dari campuran gula dan kopi saja. Entah memang benar-benar enak atau karena lidahnya yang sudah terbiasa dengan racikan kopi buatan Naura.


“Emang ini kopi kamu tambahin apa?”


“Susu cap nona!”


“Susu apa?” sumpah demi apa pun Rama terkejut mendengar nama produk susu yang disebutkan Jesi, setaunya sebutan itu adalah bahan gurauan Raka dan Naura saat kuliah dulu.


“Susu cap nona, Karam.” Jawab Jesi.


“Aku tuh nyarinya susah, Karam.” Imbuh Jesi.


“Emang siapa yang nyuruh kamu nyari susu itu? Kurang kerjaan!”


“Sebenernya nggak ada yang nyuruh sih, cuma inisiatif aku sendiri aja. Abis aku kesel waktu itu Karam marah-marah mulu. Dikit-dikit marah, padahal kan aku cuma ketiduran doang.” Otak Jesi langsung mundur pada kejadian beberapa minggu silam saat dirinya mulai menjadi asisten sekretaris Rama.


“Terus kata mba Naura laki-laki tuh suka sama susu cap nona, tapi kalo kata Karak laki-laki tuh suka minum susu yang langsung dari sumbernya. Berhubung aku nggak mungkin kan bawa sapi kesini jadi aku cari aja susu cap nona. Aku bela-belain tiap pulang kerja ke indoapril deket terminal kagak ada, terus nyoba nyari di warung ibu kost juga nggak ada. Aku malah di ketawain doang sama mereka. Tapi untung deh aku nemu di market place, di shopay yang gratis ongkir hehe.”


Rama langsung menghela nafas Panjang, perkiraannya ternyata benar. Naura dan Raka yang sudah mencemari otak jas jus kesayangannya.


“Kenapa, Karam?”


“Nggak suka yah sama susu cap nona?”


“Atau Karam satu tipe sama Karak yah? Yang suka minum susu langsung dari sumbernya?” cerocos Jesi.


“Ya nggak apa-apa, Karam. Kenapa pake nanya ke aku segala?”


“Kan kamu nona nya!”


“Ih aku mah Neng Jesi, Karam. Bukan Nona!” bantah Jesi.


“Heuh dasar Neng Jas jus!” Rama mengacak gemas rambut Jesi. Istrinya itu selalu disconnected kalo urusan begituan, bikin Rama pengen buru-buru pulang dan ngasih Jesi pelajaran baru.


“Tunggu bentar lagi kerjaan Kakak selesai, kita pulang.” Ucap Rama lembut, dia beranjak dari duduknya untuk Kembali ke meja kerja.


“Kadang kakak, kadang aku, kadang pake gue.” Cibir Jesi.


“Nggak konsisten Karam tuh!”


“Makanya kasih susu dulu biar konsisten.” Balas Rama.


“Kan udah barusan.”


“Bukan susu itu.”


“Oh mau susu yang langsung dari sumbernya? Ya udah di gass aja besok ke peternakan sapi. Kan libur tuh besok.”


“Stop… stop jas jus. Nggak usah ngebahas susu lagi,aku jadi nggak fokus. Kamu diem aja di situ bentar oke? Nggak usah ngomong mulu, mainan HP aja yah!” ucap Rama.


Akhirnya pekerjaan sore itu selesai meskipun sedikit terlambat karena Jesi tetap saja tak mau diam. Cuma diam bentar udah ngoceh lagi.


“Mau makan pecel ayam dulu nggak?” tawar Rama saat mereka baru saja keluar dari kantor.


“Mau dong. Kemaren makan pecel ayam juga disuapin Alya tapi dia pelit ngasih sambelnya.” Adu Jesi. Keduanya pun makan di warung tenda langganan depan kantor.


Selesai makan mereka bergegas pulang. Tiba di rumah tanpa menunggu Rama, Jesi sudah berjalan masuk rumah lebih dulu.


“Al, gue pulang!” teriaknya.


“Mama, menantu kesayangan mama yang paling imut, paling cantik dan paling-paling segalanya pulang.” Teriaknya lagi sambil berjalan ke berbagai ruangan tapi tak mendapati Alya maupun mertuanya.


“Karam, mama sama Alya nggak ada.” Ucapnya pada Rama yang baru saja masuk.


“Mama sama Alya pergi ke Banyumas, nengok enin kamu.” Jawab Rama.


“Besok pagi kita nyusul kesana. Kakak sudah selesaikan pekerjaan-pekerjaan yang urgent, jadi nanti kita bisa sedikit lebih lama di sana.”


“Tapi aku nggak ada temennya. Nggak ada Alya.” Jawab Jesi lesu.


“Kan ada Kakak. Ke kamar yuk istirahat, katanya tadi pagi minta dibikin enak?” ajak Rama lembut, tangan kanannya mengusap pelan pipi Jesi.


“Tapi pelan-pelan mijitnya yah, Karam. Jangan keras-keras sakit, nggak enak.”


“Justru kalo nggak keras nggak bakal enak jas jus.” Ucap Rama.


“Tapi kalo keras sakit, Karam. Kan aku yang ngerasain!” protes Jesi.


“Udah percaya aja sama kakak, yang keras enak.” Jawab Rama.


“Dasar jas jus, kalo punya gue nggak keras nggak bakal bisa masuk dong!” batin Rama.


“Awas aja kalo nggak enak aku aduin ke mama, ibu sama ayah juga!”