Possessive Leader

Possessive Leader
Rebutan nen nen



"Karam ih jangan bobo dulu, aku masih pengen ngobrol." Jesi mencubit pipi Rama supaya melek.


"Besok lagi aja yah, kakak ngantuk. Belum tidur, kerjaan banyak banget numpuk gara-gara kemarin seharian kamu ngambek. Mau kerja sampe nggak fokus, jadi berasa siswa sekolah deh pulang-pulang bawa perkejaan rumah." Jawab Rama tanpa membuka mata, suaranya sangat-sangat lirih.


"Karam ih...."


"Kak Ramadhan..." Panggilnya berulang kali.


"Heuu Karam malah beneran tidur ih." Pada akhirnya lama kelamaan Jesi kembali terlelap.


Pagi kali ini berbeda dari biasanya, Jesi bangun lebih dulu. Suaminya masih terlelap dengan nyenyak padahal jam di dinding kamar mereka sudah menunjuk angka lima lebih lima belas menit.


"Karam bangun udah jam lima lebih." Dengan pelan Jesi mengelus pipi Rama berulang kali hingga mata suaminya terbuka.


Rama tersenyum melihat Jesi yang masih mengelus wajahnya.


"Morning kiss dulu dong!"


"Wadaw... Sakit jas jus!" Bukan ciuman pagi hari yang didapat Rama justru cubitan yang mendarat di lengan kirinya.


"Lagian pagi-pagi udah mesum aja!"


"Shalat subuh udah kesiangan noh. Jam lima lebih!" Jesi menunjuk jam dinding yang tepat berada di depan sana.


"Iya-iya cerewet. Ini juga gara-gara kamu ngajak ngobrol mulu tengah malem, kakak jadi kesiangan." Rama beranjak bangun dari tidurnya.


Muachh...


Satu kecupan singkat mendarat di pipi Jesi sebelum Rama berjalan menjauh.


"Karam ih!" Teriak Jesi sambil mengusap pipinya.


"Biar nggak marah-marah." Balas Rama tanpa menoleh.


"Yang satunya belum, ntar iri nih. Nggak adil!" Ucap Jesi.


Rama jadi mengulas senyum dan berbalik menghampiri Jesi yang masih duduk di ranjang. Dikecupnya pipi Jesi, kening bahkan hingga bibir dengan cepat.


"Jadi siapa nih yang pagi-pagi udah mesum? Tadi kakak minta morning kiss dibilang mesum, sendirinya di sun sebelah doang malah nagih." Ledek Rama, Jesi hanya tertunduk malu.


"Gantian sekarang kasih kakak morning kiss. Cepetan keburu siang belum shalat subuh nih." Rama mendekatkan pipi kirinya pada Jesi.


"Karam aku peluk aja deh." Ucap Jesi.


"No, nggak boleh!" Rama segera menjauh.


"Nggak boleh main peluk pagi-pagi, ntar bangun. Kalo bangun kan bahaya, kamu lagi nggak bisa tanggung jawab. Nyiksa doang yang ada." Lanjutnya.


"Kan Karam udah bangun?" Kening Jesi mengkerut bingung, tak mengerti dengan ucapan suaminya.


"Dah lah, kakak mau mandi aja. Kamu siapin bajunya." Rama segera masuk ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban Jesi.


"Ih pengen peluk aja nggak boleh, dasar Karam pelit!" Meski menggerutu tapi Jesi tetap menyiapkan pakaian untuk Rama.


Pagi ini Rama dan Jesi tak sarapan di rumah, setelah selesai dengan segala persiapan kerja keduanya langsung berangkat.


"Kalian nggak sarapan dulu? Makanannya udah siap loh. Ini juga masih terlalu pagi untuk pergi kerja." Ucap mama Yeni, tak biasanya putranya berangkat tanpa sarapan terlebih dulu.


"Tuh tanya menantu kesayangan mama aja, jam segini udah ngajak namu ke rumah orang." Jawab Rama.


"Memangnya neng Jas Jus mau kemana? Sarapan dulu yah."


"Jesi mau ke rumah Mba Naura, Ma. Mau liat dede bayi, gemoy banget dede bayinya. Sekalian mau Jesi pinjem juga kalo boleh sama Mba Naura. Iya kan, Karam?" Jawab Jesi, dia menengok pada Rama meminta persetujuan.


"Kita cuma lihat aja. Nggak ada acara pinjem-pinjem bayi. Ntar kalo nangis gimana? Kalo minta ne nen gimana?" tanya Rama.


"Ya tinggal aku kasih ne nen aja, Karam. Kan sama aja, aku juga punya. Sama kayak punya Mba Naura, ya walaupun kayaknya gedean punya Mba Naura sih." Jesi nampak sedikit berpikir, sepertinya dia sedang membandingkan bukit kembar miliknya dengan milik Naura kemudian sesekali mengangguk.


"Tapi nggak apa-apa lah dede bayinya pasti suka, Karam aja suka. Nggak berenti-berenti malah kalo ne nen." Lanjutnya, Lagi bibir mungil Jesi berucap enteng tanpa dosa padahal mertuanya masih ada di sana. Menatapnya dengan menahan tawa.


Pagi-pagi Rama sudah dibuat menghela nafas panjang gara-gara ucapan Jesi. Andai beo cantik nan imut itu bukan istrinya, Rama pasti sudah membuka kaos kaki yang ia kenakan dan membungkamnya ke mulut Jesi, supaya kalo ngomong disaring dulu.


"Kenapa Karam kayak gitu ih ngeliatin aku nya? Serem." Ucap Jesi.


"Ma, Jesi berangkat yah." Pamitnya kemudian.


"Siap, Ma!" Balas Jesi dengan tersenyum semangat.


Begitu mobil Rama berhenti di halaman rumah Naura, Jesi langsung membuka sabuk pengamannya dan keluar lebih dulu, meninggalkan Rama yang hanya menggelengkan kepala melihat sikap Jesi, kemudian ikut turun menyusul istrinya.


"Ternyata bukan cuma jas jus yang pagi-pagi udah namu, si Karak juga udah ada di sini. Bener-bener Om teladan." Gumam Rama begitu melihat mobil Raka yang sudah terparkir di sebelah mobilnya.


"Dede bayi gemoy... Teh Jesi here..." Teriaknya begitu masuk, karena pintu utama yang terbuka membuat Jesi langsung slonong slonong masuk aja.


Pletak!


Satu sentilan mendarat di kepalanya membuat Jesi menengok kesal.


"Sakit lah, Karam!"


"Masuk rumah orang bukannya salam dulu malah teriak-teriak." Ucap Rama.


"Ih ini kan rumah mba Naura, udah kayak mba aku sendiri. Kalo ke rumah orang lain aku pasti salam dulu kok." Kilah Jesi.


"Ck! Udah gue duga dah pasti kalian. Ngapain pagi-pagi kesini?" Cibir Raka yang muncul dari ruang keluarga.


"Mau nengokin dede bayi gemoy lah. Karak juga ngapain jam segini udah di rumah mba Naura coba?" Balas Jesi.


"Gue nganterin sarapan lah. Tuh liat!" Raka menunjuk tiga kotak makan susun yang terletak di meja makan.


"Asik lah ntar aku ikutan makan, kebetulan belum sarapan. Ya kan, Karam?"


"Emang rejeki istri solehah sih, belum sarapan eh disini ada yang bawa sarapan." Selorohnya girang.


"Apa apa? Istri solehah? Istri kang ngambek iya." Cibir Raka.


"Mana ada istri solehah yang pagi-pagi bukannya masakin suaminya sarapan malah ngajakin nebeng sarapan di rumah orang?" Sambungnya.


"Karam ih... Karak nakal tuh sama aku. Pecat aja lah!" Rengeknya manja pada Rama.


Rama hanya menghela napas panjang sambil mengelus sayang kepala perempuan yang memegang lengannya dengan manja.


"Pecat aja yah si Karak, Karam." Ucap Jesi lagi, bibirnya tersenyum mengejek pada Raka.


"Udah-udah kalian tuh kayak anak kecil, ribut mulu." Ucap Rama.


"Istri lo tuh, Wan. Bocah banget!"


"Bocah-bocah juga lo pernah demen, Ka!" Naura muncul sambil menggendong bayinya yang langsung di dekati oleh Jesi. Dia dengan gemas menciumi pipi bulat bayi Naura berulang kali.


"Nggak usah dibahas, Ra. Gue alhamdulillah banget nggak dapetin dia. Ujian mulu hidup gue kalo punya istri modelan kayak gitu." Ucap Raka.


"Liat noh Darmawan aja jam segini wajahnya suntuk, pasti soak dia dibikin kesel mulu sama aqua gelas. Ya kan, Wan?" Lanjutnya.


"Laki kalo suntuk gitu paling nggak dapat jatah." Tebak Naura.


"Iya kan, Wan?" Sambungnya.


"Iya, Mba. Abisnya aku lagi banjir, jadi Karam cuma bisa ne nen aja." yang menjawab justru Jesi dengan entengnya.


"An jir banget dah bini lo, Wan. Itu mulut kagak ada saringannya." Raka jadi gregetan sendiri.


"Eh aku jadi keingetan, tadinya mau pinjem dede bayi gemoy nya mba Naura dua hari aja. Tapi setelah aku pikir-pikir nggak jadi aja deh. Soalnya kalo malem Karam ne nen nya lama, takut rebutan ne nen sama Karam."


"An jir banget dah! Gue nggak ngerti kenapa kalian selalu bahas soal ne nen di depan gue?" teriak Raka kesal tanpa sadar ia meninggikan suaranya hingga bayi Naura yang sedang diciumi oleh Jesi menangis karena kaget. Naura langsung menyu sui bayinya.


"Lah ngapa Karak sewot sih? kan dede bayi emang ne nen. Karak pengen ne nen juga?" tanya Jesi.


"Dah lah gue nyerah!"


.


.


.


Sama, Ka. aku juga nyerah lah. otw indoapril yuk, Karak. Kita beli ne nen kotak rasa vanilla aja.


Jangan lupa tekan jempol, lope sama komennya!!!