Possessive Leader

Possessive Leader
Join grup chat



Jesi melotot kesal membaca deretan chat WA grup itu, dirinya benar-benar menjadi bahan ghibah habis-habisan.


“Si a lan, siapa nih adminnya?”


“Pengen gue kasih sarapan Sandwich Susu Sianida nih orang!”


“Eh… Eh HP gue, Jes. Jangan dibanting.” Dini segera mengambil HP nya dari tangan Jesi sebelum benda pipih yang sangat ia sayangi itu meluncur bebas ke bawah.


“Sorry… sorry kebiasaan kalo lagi kesel suka pengen lempar barang.” Ucap Jesi.


“Sini pinjem bentar, Din. Gue belum nemu adminnya siapa sih?”


Dini menyerahkan HP nya.


“Jangan dibanting yah! Soal adminnya siapa gue juga nggak tau, Jes.”


Jesi mulai membuka info grup, cukup banyak anggota grup ghibah itu. Lebih dari lima puluh orang yang nomornya terdata sebagai anggota.


“Ini sih gila banget, pantesan aja hampir semua karyawan perempuan pada ngeliat jijik ke gue.” Gumam Jesi.


“Kok gue nggak tau yah ada grup kayak gini. Mesti dilaporin ke Karam nih, gila karyawannya doyan ngegosip semua.”


“Ini nomor siapa sih, Din? Bisa-bisanya nomor admin kok malah nggak lo save?” Jesi menunjukan kontak berlabel admin.


“Gue nggak tau, tiba-tiba ada yang masukin ke grup gitu aja.” Jawab Dini.


“Nanti kalo lo lapor sama pak Darmawan gue jangan dilaporin yah, Jes. Sumpah deh gue nggak ikut-ikutan.” Lanjutnya.


“Nggak ikut-ikutan gimana? Lah ini lo ada di grup.”


“Tapi kan gue tetep baik sama lo, Jes. Lo scroll aja sampe ke atas, gue tuh nggak pernah chat apa pun.” Ujar Dini, dia mulai menscroll naik chat-chat di grup itu hingga ke paling atas.


“Tuh nggak ada kan? Gini-gini gue tuh nggak mudah percaya sama gossip, meskipun foto lo udah bertaburan kayak gitu. Karena gue masih mikir kan bisa aja itu foto editan. Zaman sekarang kan banyak banget aplikasi-aplikasi edit foto, bisa aja kan wajah kita ditempel ke tubuh orang lain gitu.” Terang Dini.


“Tapi jujur setelah staf front office ngirim video lo meluk-meluk pak Darmawan di depan kantor gue jadi rada negative thinking sama lo, Jes. Ditambah lagi anak magang bagian front office juga cerita pas istirahat, heboh banget pokoknya. Makanya dari pada mati penasaran gue tanya langsung sama lo. So, kalo lo lapor ke pak Darmawan please gue jangan dibawa-bawa. Gue nggak mau nilai magang gue anjlog.”


“Iya-iya sip lah. Cuma bercanda gue. Lo kan temen gue paling the best selama magang, pengecualian buat lo deh.” Ucap Jesi.


“Eh ada si Dinosaurus juga, tapi jarang komen nih orang.”


“Siapa?”


“Itu senior kita yang ngurangin nol gue. Mba Dina.” Jesi menunjuk chat Dina, dari sekian banyak ghibahan di grup itu tak banyak tanggapan dari Dina. Hanya ada beberapa, itu pun karena di tag oleh staf keuangan yang lain.


“Oh mba Dina. Emang jarang komen di grup, malah mba Dewi sama mba Iis tuh yang sering.” Jawab Dini.


“Tapi ini adminnya siapa sih? Heran gue! Bisa-bisanya dia punya banyak foto-foto gue. Jangan-jangan haters kelas berat nih.” Gerutu Jesi.


“Ini juga, sempet-sempetnya dia ngambil foto gue sama Karak.” Jesi melihat gambar dirinya yang sedang menarik Raka menuju bus tadi pagi.


“Kira-kira siapa yah, Din? Gue kira si Dinosaurus, ternyata bukan.”


“Mana gue tau, Jes.”


“Kalo gitu lo chat adminnya, minta dia masukin gue ke grup!” ucap Jesi seraya mengembalikan HP Dini.


“Lo gila, Jes? Mana mau itu admin masukin nomor lo, bunuh diri itu Namanya.” Ujar Dini.


“Yeee… ya, jangan pake nomor gue yang biasa lah. Ntar di rest area kalo berenti gue beli kartu perdana dulu dah. Lo bilang aja anak magang baru mau join, haters sejati Jesi gitu.” Usulnya.


“Iya udah terserah lo aja, Jes. Yang penting ntar kalo ketahuan sama pak Darmawan gue aman aja deh.” Dini pasrah.


“Oke sip. Tenang aja itu bisa diatur, kan lo temennya ibu Darmawan.” Balas Jesi santai, dia menurunkan sandaran kursinya kemudian bersandar dengan tenang.


“Ibu Darmawan mau bobo dulu, bangunin kalo udah sampe yah.” Lanjutnya.


“Siap bu bos.” Balas Dini yang kemudian melakukan hal yang sama dengan Jesi.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih enam jam rombongan famili gathering sudah tiba di tempat tujuan. Dini sudah terbangun sejak tadi sementara perempuan di sampingnya masih terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka.


“Jes, bangun lah kita udah mau sampai nih.” Dini menyenggol bahu Jesi berulang kali,


“Gila nih kabupaten baru tapi keren banget. Liat dah ikon kabupatennya, ikan marlin.” Dini menunjuk ke luar, ikon ikan marlin besar berwarna biru yang dikelilingi oleh air mancur tampak mengagumkan.


“Mungkin karena mereka punya laut kali yah, Jes. Jadi ikonnya ikan.” Tebak Dini.


“Hm ya kali, Din.” Jawab Jesi lirih.


“Air gue mana tadi yah? Haus ini.” Lanjutnya sambil mencari air mineral pemberian Raka saat mereka berangkat tadi.


Setelah menandaskan isi botol mineralnya Jesi terlihat lebih segar, rambut panjangnya yang sedikit berantakan karena tidur dirapikan dan dicepol asal.


“Ah finaly nyampe juga…” Jesi sudah tak sabar ingin turun dan jalan-jalan seperti orang-orang yang terlihat berjalan santai Bersama rombongan, pasangan maupun keluarga masing-masing.


Deburan ombak yang terlihat saling berkejaran ditambah orang-orang dari mulai anak kecil hingga dewasa yang bermain air di pinggiran pantai membuat Jesi ingin melakukan hal itu juga.


“Gue ntar pengen renang, Din.” Ucapnya.


“Sembarangan lo, bisa lah. Jesi gitu loh.” jawabnya dengan percaya diri.


“Bisa renang tapi gaya batu.” Lanjutnya sambil terkekeh, matanya masih sibuk melihat kesana-sini.


“Pengen main sepedaan juga.” Kali ini dia menunjuk orang yang naik sepeda beramai-ramai.


“Pengen itu juga.” Pasangan muda-mudi yang sedang memakan bakso cuangki di pinggir taman yang kali ini jadi sasaran jari telunjuknya.


“Itu ikan yang digantung-gantung diplastikin ikan apa yah? Perasan dari tadi gue liat hampir semua pada jual ikan itu. Gue mau beli juga ah buat enin.”


“Ah belum turun gue udah pengen ini itu banyak banget euy, Din. Kalo lo pengen apa, Din?” tanyanya pada Dini yang hanya diam dan menggelengkan kepala berulang kali.


“Nggak tau, Jes. Gue dengerin lo ngomong aja cape. Kagak berenti-berenti, kayaknya pak Darmawan tiap hari kupingnya panas kali yah dengerin lo kalo lagi ngoceh?”


Haha… Jesi sedikit tergelak.


“Nggak lah, Karam malah seneng banget kalo gue banyak ngomong. Katanya dia malah pusing kalo gue diem mulu.”


Satu persatu peserta gathering turun dari dalam bus di depan sebuah hotel yang menghadap langsung ke pantai. Lain halnya dengan peserta lain yang langsung menuju lobi, Jesi justru menarik Dini untuk menemaninya membeli nomor ponsel baru. Kebetulan sekali di samping hotel mereka terdapat stand Telkomsel.


“Jangan lupa ntar suruh admin masukin gue ke grup.” Ucap Jesi.


“Siap bu bos.” Jawab Dini sambil hormat, keduanya kemudian berjalan menuju lobi.


Begitu masuk lobi senyum Jesi langsung merekah melihat Rama dan Raka yang sedang mengobrol di salah satu meja. Suaminya itu melambaikan tangan padanya, Jesi sudah melangkahkan kakinya menuju Rama jika saja senior yang paling ia benci tak menghadangnya.


“Jangan kegatelan kamu main lambai-lambai tangan ke Pak Darmawan.” Ketus Dina.


“Nih kunci kamar kalian. Satu kamar berdua.” Lanjutnya seraya menyerahkan kunci pada Dini.


“Aku nggak mau sekamar sama Dini, mba. Aku kan-“


“Nggak usah banyak protes, udah sana ke kamar! Istirahat dulu, nanti kumpul jam empat sore.” Balas Dina tak menerima penolakan. Dia bahkan mendorong Jesi dan Dini yang masih diam di tempat supaya beranjak ke kamar sementara dirinya berjalan menghampiri meja Rama.


“Dasar dinosaurus!!!” Jesi menengok sekilas dan menatap kesal pada Dina yang menghampiri suaminya.


“Ngatain gue kegatelan, dianya sendiri yang kegatelan. Noh lihat noh Din, dia nyamperin laki gue!”


“Euh.. pengen gue lempar pake sepatu deh!”


“Udah-udah bu bos jangan marah-marah terus. Kita istirahat dulu aja, mandi juga biar fresh ntar jalan-jalan sore.” Ucap Dini.


Jas Jus kesayangan kakak istirahat aja dulu yah. Nanti kita jalan-jalan.


Jika bukan karena chat masuk dari Rama, Jesi tak akan bisa istirahat dengan tenang.


Melihat Jesi yang menatap layar ponsel sambil tersenyum, Dini hanya bisa menggelengkan kepala.


“Jes, kita udah sampe nih. HP aja terus lo tuh!” sindir Dini begitu mereka tiba di lantai enam.


Jesi mengikuti Dini masuk ke dalam kamar. Jesi langsung rebahan dengan nyaman di Kasur, sementara Dini memilih membuka pintu menuju balkon dan berdiri di sana. Menikmati pemandangan pantai dari tempatnya berada.


“Din, jangan lupa masukin gue ke grup.” Teriak Jesi yang kemudian sibuk dengan ponselnya. Terasa aneh, berada di hotel yang sama tapi berkomunikasi lewat telepon. Tak lama nomor barunya mendapat notifikasi berhasil ditambahkan ke grup ghibah mania.


Jam empat sore Jesi dan Dini sudah siap dengan penampilan santai mereka. Dini terlihat seksi dengan celana pendek dan atasan yang memamerkan bahu mulusnya. Sementara Jesi memilih mengenakan dres santai selutut dengan motif bunga-bunga yang lucu, rambut panjangnya di biarkan tergerai begitu saja.


“Din, gue duluan yah.” Pamitnya yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban.


Sambil bersenandung lirih Jesi turun ke lantai lima, dia langsung mengetuk kamar bernomor lima kosong dua kemudian memeluk erat Rama yang baru saja membuka pintu.


“Kangen…”


“Sama, kakak juga kangen banget.” Di kecupnya kilas bibir Jesi.


“Masuk sini, kakak shalat dulu. Abis itu kita jalan-jalan.”


“Tumben shalatnya telat, Karam? aku dong udah shalat tepat waktu.” Ucapnya bangga.


“Emang udah selesai palang merahnya? Bisa dong kita bikin dede bayi gemoy.” Ledek Rama.


“Hih Karam! otaknya belok mulu deh. Cepetan shalatnya, aku udah pengen jalan-jalan nih.”


“Iya-iya, sebentar yah kesayangannya kakak.”


Jesi duduk di ranjang sambil melihat suaminya yang shalat dengan khusuk, “imam gue fix cakep no debat.” Batinnya seraya tersenyum.


Ting… ting… ting… suara notifikasi dari ponselnya membuyarkan fokus Jesi.


“Berisik banget nih HP!” Jesi meraih ponselnya dan merubahnya ke mode silent.


“Buset dah ghibah mania… udah ngalahin lambe turah ini mah. Gercep banget deh!” ucapnya seraya melihat fotonya yang sedang memeluk Rama di depan kamar. Umpatan-umpatan untuk dirinya langsung mengalir begitu banyak di chat grup itu.


“Gue upload buku nikah disini auto pada pingsan lo semua!” gerutu Jesi.