
Pagi ini Jesi tiba di kantor dengan wajah ditekuk, benar-benar bete karena tawaran barter pada Alya ditolak mentah-mentah. Kata Alya sih andai kakaknya belum punya calon istri bisa saja Jesi direkomendasikan pada kakaknya, tapi mau bagaimana lagi semua udah punya calon masing-masing. Jalani dan terima saja, percaya pada sang pencipta bahwa yang takdir yang digariskannya adalah yang terbaik.
Terlalu bergelut dengan pikirannya sendiri, Jesi sampai tak memperdulikan orang-orang di sekitarnya. Otaknya saat ini sedang sibuk menerka-nerka seperti apa kira-kira sosok calon suaminya. Mendengar ayahnya berkata jika calon suaminya terpaut delapan tahun dengan dirinya saja sudah membuatnya kalang kabut.
“Masa iya gue lepas dari most wanted kampus dapatnya Om Om.. Big no!” batinnya.
Jesi berdiri di depan lift seorang diri. Gadis itu terlihat menghentakkan kakinya sambil menunggu pintu lift terbuka. Berulang kali Jesi meniup poninya kasar setiap kali otaknya menggambar secara random orang-orang berusia dua puluh delapan tahun.
“Selamat pagi neng Jesi kesayangan Aa Raka.” Jesi bahkan tak menyadari Raka yang hampir merangkulnya jika saja Rama tak dengan sigap menepis tangan nakal Raka yang tetap suka menyentuh calon istrinya.
“Pelit amat!” decak Raka, “Dasar posesif.”
Jesi bahkan tak menghiraukan mereka, dia langsung masuk ke dalam lift begitu pintu terbuka. Rama dan Raka mengikutinya.
“Ini bocah kesambet apaan sih, Wan? Tumben jadi diem gini.”
“Mana gue tau.” Jawab Rama datar.
“Gue kira kalian ribut lagi, secara kan kemaren lo abis pergi bareng dia.” Ujar Raka.
“Heh aqua gelas lo kenapa sih?” gemas karena Jesi terus mengabaikannya membuat Raka mencubit pipi gadis mungil itu.
“Aduh sakit gebleg!” bukan Jesi yang mengaduh karena cubitan, melainkan Raka yang dihadiahi injakan oleh Rama karena berani mencubit jas jus kesayangannya.
“Kalian kenapa sih pagi-pagi udah ribut aja?” akhirnya Jesi bersuara.
“Bikin mood aku makin anjlog aja nih.” Ucap Jesi dengan wajah murungnya.
“Cerita-cerita sama Aa, kenapa mood neng Jesi kesayangan Aa ini udah anjlog aja?” seperti biasa Raka selalu siap sedia dengan kalimat manisnya. Baginya sangat menyenangkan melontarkan kata-kata manis pada Jesi yang berimbas pada wajah masam sahabatnya yang masih saja cuek dan tak mau mengakui perasaannya.
“Jangan bilang kamu masih belum move on gara-gara ketemu mantan kemarin.” Tebak Rama.
“Uwow... jadi ada yang abis ketemu mantan, cie...” ledek Raka.
“Udah stop jangan bahas itu. Bikin makin makin nggak mood aja.” Ucap Jesi.
Saat lift terbuka di lantai tujuh dan Raka hendak keluar, Jesi meminta pria itu untuk jangan dulu pergi hingga akhirnya Raka mengalah dan tak jadi keluar.
“Bilang dong kalo masih kangen sama Aa.”
Jesi menatap Raka dan Rama secara bergantian, keduanya memang terlihat seumuran. Sebenarnya penting tak penting menanyakan hal ini pada keduanya, tapi dari pada pada penasaran lebih baik ditanyakan saja. Pasalnya dari tadi Jesi masih gagal menerka sosok pria berusia dua puluh delapan tahun seperti apa.
“Karak umur berapa?”
“Kenapa tiba-tiba nanyain umur?”
“Nggak apa-apa. Pengen tau aja.”
“Dua sembilan.” Jawab Raka.
“Kalo Karam berapa?” tatapan beralih pada Rama.
“Dua puluh delapan.” Jawabnya irit.
Jesi menganggukkan kepala, “Not Bad. Ternyata dua puluh delapan tahun belum tua-tua amat lah.”
“Gue jadi penasaran buat apa sih pake nanyain umur segala, Neng?” tanya Raka. Bahkan dia sampai ikut keluar di lantai sepuluh.
“Aku mau nikah, Karak!”
“Kata ayah calon suami aku umurnya dua puluh delapan tahun, bedanya jauh banget kan sama umur aku. Delapan tahun, jauh banget kan?” Jesi terlihat sedih.
Mendengar Jesi menyebut calon suaminya ‘om om’ membuat Rama seketika tersedak hingga mendadak batuk, sementara Raka tertawa puas.
“Udah Om jangan batuk-batuk, kayak kakek-kakek aja.” Bisiknya pada Rama hingga pria itu melotot padanya.
“Apa aku minggat lagi aja ya? Ah tapi ntar aku jadi remahan kerupuk lagi. Ah pusingnya...” ucap Jesi, dia menggelengkan kepala berulang kali.
“Duh jadi gemes gue liat si aqua gelas kalo lagi kayak gitu.” Bisik Raka.
“Ntar kalo misal Om Rama di tolak sama jas jus bilang yah... gue tunggu di tikungan!” imbuhnya.
“si a lan!” umpat Rama.
“Neng Jesi kesayangan Aa Raka.. kalo misal nanti butuh bantuan buat minggat tinggal hubungi Aa. Selalu ready buat neng Jesi.”
“Jangan banyak omong. Udah balik sana ke ruangan lo!” usir Rama.
Hari itu sampai jam pulang kerja Jesi benar-benar beda dari biasanya, dia tak banyak bicara. Dia hanya berbicara seperlunya saja hingga Naura sempat menyuruhnya untuk pulang lebih awal karena mengira gadis cerewet yang mendadak diam itu sakit.
Dan sesuai dengan ucapannya pagi tadi, sebelum adzan magrib Jesi sudah berada di rumah. Dia benar-benar langsung pulang begitu jam kerja berakhir. Selesai sholat maghrib berjamaah sesuai dengan dugaannya lagi-lagi sang ayah membahas soal calon suaminya.
“Jangan murung seperti itu. ini semua demi kebaikan kamu.”
“Iya ayah Jesi ngerti. Jesi udah pasrah aja lah, nggak punya pilihan lain kan?” jawabnya kemudian berlalu kembali ke kamarnya.
Pukul tujuh malam Jesi sudah tampil anggun dengan mengenakan gaun yang disiapkan Sari. Niatnya mau berpenampilan seburuk mungkin supaya calon suaminya ilfeel gagal sudah.
“Sepertinya takdir bener-bener lagi nggak berpihak ke gue.” Gerutunya sambil memandangi dirinya di dalam cermin.
Jesi merapikan kembali poni yang sedikit berantakan karena tiupannya sendiri kemudian menghela nafas panjang dan tersenyum parah.
“Ya Allah... ya udah deh gue pasrah, mau siapa jodoh gue. Atur-atur aja gimana baiknya.” Ucapnya sebelum akhirnya mengambil tas dan meninggalkan kamar.
Jesi dan kedua orang tuanya baru saja tiba di restoran tempat mereka berjanji bertemu. Bukan tempat baru, Jesi bahkan sudah berulang kali ke tempat ini bersama Burhan. Baru saja masuk ke dalam restoran wajah murung Jesi langsung berbinar karena melihat Rama yang duduk di salah satu meja. Ada satu wanita berhijab yang duduk di depan Rama dan wania paruh baya yang duduk di samping Rama.
“Ada bos aku, Yah. Aku kesana dulu bentar yah.” Ucapnya pada Burhan dan Sari. Seperti biasa Jesi selalu langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari orang yang ia pamiti.
“Karam... pasti sama calon istrinya nih”
“Akhirnya gue bakal liat calon istri yang selalu lo bangga-banggain itu, Karam.” Ucap Jesi sambil tersenyum penuh semangat, ia sampai lupa tujuan utamanya tiba disini untuk menemui calon suami.
“Karam!” Sapanya dengan senyum ceria begitu tiba di meja Rama.
“Akhirnya nih aku bisa lihat calon istri Karam.” Imbuhnya seraya berbalik menatap wanita berhijab yang duduk di depan Rama.
“Alya?” ucapnya terkejut, matanya membulat sempurna mendapati sahabatnya ada di sana.
“Jadi calon istri Karam itu Alya?” Jesi menatap Alya dan Rama bergantian, kemudian tertawa.
“Ya ampun kalo kayak gini mah Karam harus baik-baik sama aku. Secara Alya ini sahabat aku loh.” Jesi dengan berani menepuk pundak Rama berulang. Ia merasa sekarang memiliki kekuatan karena ternyata calon istri bosnya adalah sahabatnya sendiri.
.
.
.
warning!!!
udah baca nggak like, nggak komen \= readers ghaib. 😛😛😛