Possessive Leader

Possessive Leader
Harus bagaimana?



Setelah kepergian mertuanya, Rama dan Raka kembali meneruskan sarapannya. Berbeda dengan Alya yang justru terdiam dan nampak berpikir dalam.


"Dilanjut makannya." Rama menyenggol lengan adiknya yang nampak melamun.


"Iya, kak." Tapi Alya hanya memainkan sendoknya saja.


"Aku tau sekarang kenapa Raya sampe kayak gitu." Ucapnya lirih.


"Kasihan." Lanjutnya.


"Mereka hanya menuai apa yang mereka tanam, Al. Makanya kakak selalu ingetin kamu supaya jaga diri dan nggak bergaul dengan sembarang orang. Lihat apa yang terjadi pada Raya dan ambil pelajaran dari sana."


"Iya, Kak. Aku tau kok, kakak selalu ngelakuin yang terbaik buat aku. Makasih udah jaga aku selama ini." Balas Alya.


"Aku nggak bisa bayangin deh kalo ada di posisi Raya, ya aku akui dia itu salah. Udah manfaatin Jesi, nikung kak Zidan juga. Tapi liat dia kayak kemaren jujur aku nggak tega. Apalagi setelah tau kenyataannya seperti ini." Lanjutnya dengan hembusan nafas berat.


"Udah jangan dipikirin toh nggak akan ngerubah apa pun. Mereka sedang menanggung buah perbuatan mereka sendiri. Lanjutin sarapan kamu." Ucap Rama.


"Iya, Kak. Makasih yah kakak udah jagain aku selama ini. Dulu aku sempet mikir kakak tuh galak banget, aku nggak boleh ini itu. Tapi sekarang aku tau, semua demi kebaikan aku."


"Sama-sama, Al. Udah kewajiban kakak buat jagain kamu sampe kamu punya pendamping. Sampai saat itu tiba, jaga diri baik-baik."


"Iya kak. Aku juga nggak main sama sembarangan orang kok. Sesuai instruksi kakak." Balas Alya.


"Nah makanya Alya mainnya sama Aa aja. Dijamin aman sampai halal." Timpal Raka.


"Ck! Apaan sih! Katanya yang antri banyak. Halalin aja sana yang pada antri." Alya beranjak meninggalkan meja makan.


"Aku mau liat Jesi, Kak." Pamitnya.


"Wan, pusing gue. Kasih tau ke Alya ngambeknya jangan lama-lama lah." Keluh Raka.


"Usaha!! Jangan mentang-mentang kita sahabatan lo minta jalur khusus gue buat bujukin Alya. Makanya kalo ngomong jangan asal jiplak."


"Kemarin gue cuma bercanda sumpah, Wan."


"Sayangnya perempuan nggak pernah bercanda soal perasaan, Ka. Lo tanggung sendiri dah akibatnya." Jawab Rama. Dia sudah menyelesaikan sarapannya dan berlalu ke belakang guna menyiapkan susu dan sarapan untuk istrinya.


"Kalo lo udah beres sarapan ke kantor gih." Ucapnya sebelum berlalu namun Raka justru mengikutinya dan tetap memaksa supaya Rama membantu membujuk Alya.


Sementara itu di lantai atas, kedua wanita paruh baya yang baru saja masuk ke kamar Jesi dibuat diam dan saling tatap melihat keadaan Jesi yang tertidur pulas dengan selimut yang sedikit menyingkap hingga menampakan bagian atas tubuhnya yang polos.


"Ya ampun anak zaman sekarang pagi-pagi udah tancap gas aja." Sari menggelengkan kepala kemudian menghampiri putrinya, bercak-bercak merah di sekitar dada Jesi terlihat jelas, dia kemudian menyelimuti calon ibu yang terlelap pagi itu.


"Sepertinya Ramadhan harus ditegur, bumil pagi-pagi udah digarap aja." Sambung Mama Yeni sambil tersenyum.


"Jes..." Mendengar suara Alya, keduanya kompak berbalik dan buru-buru menghampiri pintu yang tak di tutup sebelum gadis perawan itu masuk.


"Jesi mana, Ma?" Ucapnya sambil melihat ke dalam namun kedua wanita di hadapannya justru menutup pintu.


"Masih tidur. Ayo turun, biarin dia istirahat." Mama Yeni merangkul Alya dan mengajaknya turun.


"Nggak mau ah, Ma. Aku ke kamar aja, di bawah masih ada Aa Raka. Males aku." Alya melepas rangkulan mama nya dan masuk ke kamarnya.


Mama Yeni tertawa kecil melihat tingkah putri bungsunya.


"Alya lagi ribut sama Raka, mba?" Tanya Sari.


"Iya, mereka lucu. Semalem Raka sampai berulang kali nelpon aku gara-gara dicuekin Alya. Salah paham sebenernya, Raka nya doyan bercanda eh Alya nya baperan." Jelas Mama Yeni.


Keduanya kembali ke ruang makan untuk membereskan sisa sarapan.


"Loh Raka belum berangkat?" Tanya mama Yeni.


"Tau nih ribet banget, Ma. Mentang-mentang bosnya nggak masuk eh dia malah santai-santai di sini." Cibir Rama sambil mengaduk susu ibu hamil rasa vanila kesukaan Jesi.


"Raka berangkat kerja aja. Biar Alya nanti mama yang bujuk." Ucap Mama Yeni.


Rak langsung menghampiri mama Yeni dan memeluknya, "makasih, Ma. Mama memang calon mertua idaman, the best. Nggak kayak dia tuh" Raka menunjuk calon ayah yang masih sibuk menyiapkan kudapan untuk istrinya.


"Calon kakak ipar nggak ada solidaritasnya. Nggak bisa saling bantu." Lanjut Raka dengan mode drama.


"Udah berangkat sana. Gue pecat sekalian lo!"


"Tuh tuh Ma liat anaknya tuh... Nggak ada baik-baiknya sama calon adik ipar." Raka masih melanjutkan dramanya.


"Iya ampun, Wan. Gue berangkat nih!" Pamit Raka begitu melihat Rama hampir melemparnya dengan sendok yang ia gunakan untuk mengaduk susu.


Rama meletakan susu dan sarapan Jesi ke dalam nampan dan melewati mama serta mertuanya.


"Aku ke kamar dulu, Ma."


"Tunggu sebentar!"


"Lain kali jangan main pagi-pagi, kasihan Jesi sampe kelelahan seperti itu. Ingat, istri kamu sedang hamil muda." Ucap mama Yeni.


"Iya, Ma." Rama hanya mengiyakan, dia benar-benar tak bisa melakukan pembelaan apa pun. Dia sudah main selembut mungkin tapi Jesi justru sangat menyukai itu hingga mereka mengulangnya beberapa kali, begitu pun dengan dirinya yang tak mudah untuk berhenti menjamah tubuh Jesi bak candu.


Masuk ke dalam kamar, Jesi sepertinya baru saja terbangun. Dia terlihat meraba ke nakas mencari jepit rambutnya. Melihat hal itu Rama segera meletakan nampan yang ia bawa dan menghampiri Jesi.


"Biar sama kakak aja." Diambilnya benda kecil berwarna hitam dan membantu Jesi menjepit rambut panjangnya.


"Makasih, Karam."


"Hm." Balas Rama yang masih berusaha memasang jepit rambut Jesi, ternyata tak semudah yang ia kira. Meskipun akhirnya ia berhasil memasangkannya dengan asal.


"Nggak serapi kalo kamu yang pake. Tapi lumayan lah." Lanjutnya berkomentar.


Jesi memegang rambutnya yang di jepit asal, "aku suka kok." Ucapnya dengan senyum mengembang.


"Mau sarapan sekarang? Udah kakak bawain tuh."


Jesi menggeleng, "mau mandi dulu aja."


Rama duduk di sofa sambil menunggu Jesi mandi. Ia meraih ponselnya yang terlihat menyala dari kejauhan.


"Dina?" Nama yang terpampang di layar benda pipih itu. Rama membiarkannya hingga panggilan itu berakhir. Terlihat sepuluh panggilan tak terjawab dari Dina. Tak hanya itu pesan yang masuk padanya pun cukup banyak.


Belum sempat ia membuka pesan, panggilan dari Dina kembali masuk. Pada akhirnya ia menerimanya.


"Ya, Din." Ucapnya.


"Hari ini nggak ngantor, nemenin Jesi. Soal urusan pekerjaan kita bahas lain kali saja."


"Urusan Zidan bukan aku yang nuntut, ayah Jesi yang mengurus semuanya. Sudah yah." Pungkas Rama mengakhiri saat melihat Jesi keluar dari kamar mandi, istrinya itu sudah berpakaian santai dengan rambut yang dibungkus handuk.


"Duduk dulu sini, sarapan. Kakak suapin." Rama menepuk sofa di sebelahnya.


"Barusan siapa yang telpon, Karam?" Tanyanya setelah duduk di samping Rama.


"Dina." Jawab Rama.


"Aaa dulu... Nanti selesai sarapan kakak jelasin." Jesi mengangguk kemudian membuka mulutnya, menikmati suapan demi suapan penuh cinta dari suaminya.


"Jadi kenapa mba Dina, Karam?" Tanyanya setelah menghabiskan sarapan.


"Kami tau kemarin Raya masuk rumah sakit kan? Dia hampir bunuh diri."


"Terus?"


"Dia hamil."


"Hah?" Jesi benar-benar terkejut mendengarnya.


"Anaknya Zidan."


"What?" Jesi sampai menganga tak percaya.


"Zidan sekarang di penjara. Sedang Raya keadaan psikologinya tak baik. Dina rela melakukan apa saja asal kamu mau nyabut tuntutan Zidan supaya dia bisa tanggung jawab ke Raya. Siang nanti dia mau kesini kalo kamu mau ngasih kesempatan buat ketemu." Ujar Rama.


"Jadi mau dikasih izin nggak Dina kesini?" Lanjutnya.


"Aku harus gimana, Karam?" Jesi justru balik tanya.


"Aku sama kaya Raya, lagi hamil. Apa aku harus maafin mereka? Tapi mereka jahat sama aku, Karam."


"Tapi kalo anaknya Raya lahir tanpa ayah, kasihan. Anak itu bahkan nggak salah apa-apa."


"Aku harus bagaimana?" Jesi jadi mendadak galau. Ia jadi ingat dulu sempat berdoa untuk Raya dan Zidan saat dirinya terpuruk.


Tuhan, bisakah kau hancurkan dia dengan lelaki yang dicintainya? Aku ingin bahagia di atas penderitaannya.


Sekarang saat do'anya dikabulkan dan orang-orang yang jahat padanya mulai mendapat karma, dia justru merasa iba dan kasihan.


.


.


.


kalo kamu jadi Jesi bakalan gimana?


JANGAN LUPA TEKAN JEMPOL SAMA KOMENNYA!!!