
Seperti biasa setiap pagi Jesi selalu bangun sebelum subuh. Hari ini bahkan ia bangun lebih pagi karena tidurnya yang tidak nyenyak. Bukan karena rasa kesalnya akibat boba miliknya yang dihabiskan Raka hingga membuatnya tak enak tidur, pasalnya calon adik iparnya itu sudah menggantinya dengan dua cup jumbo yang hanya ia minum sedikit sebelum tidur karena seperti biasa jadwal muntah tiap malam masih berlanjut. Tapi malam tadi ia benar-benar tak nyenyak tidur, sebentar-sebentar bangun mengingat besok dirinya akan mengadakan resepsi pernikahan dan orang tuanya berpesan untuk jangan sampai terlambat, membuatnya tak lelap layaknya anak TK yang takut ketinggalan rombongan saat hendak pergi tamasya.
“Seneng banget keliatannya Jas Jus kesayangan kakak ini.” Rama menyubit gemas kedua pipi Jesi. Istrinya itu sibuk memasukan beberapa pakaian ke dalam tas.
“Nggak usah bawa baju, mama sama ibu udah nyiapin semuanya. Kita tinggal berangkat aja, sayang.”
Jesi termenung sebentar, “iya kah?”
Rama mengangguk mengiyakan, “sepertinya mami Jas Jus lupa yah saking semangatnya.”
“Iya, Karam. Aku sampe nggak bisa bobo semalem. Bentar-bentar bangun, takut kesiangan.” Ucap Jesi.
“Sampe segitunya, sayang. Padahal bobo aja yang nyenyak kan kalo kesiangan juga ada kakak yang bakal bangunin.” Jawab Rama seraya menepuk pahanya, memberi intruksi supaya Jesi duduk di pangkuannya.
Jesi menurut, dia meninggalkan tasnya dan duduk di pangkuan Rama.
“Nggak tau deh, Karam. Aku mah suka nggak tenang gitu kalo mau ngapa-ngapain. Apalagi resepsi pernikahan. Soalnya aku nggak mau telat, ntar kayak mamanya si Reret tuh konyol banget dah.”
“Emang mamanya Retha kenapa?”
“Ih masa Karam yang tetanggaan nggak tau? Kata kak Arum, mamanya si Reret tuh dulu pas mau nikah malah bangun kesiangan. Mana kamarnya di kunci, sampe di gedor-gedor gitu.”
“Ya ampun ternyata ada yang lebih parah dari istri gue.” Batin Rama.
“Karam ih...” panggil Jesi yang merasa diabaikan.
“Hm iya kakak denger kok.” Balas Rama.
“Sarapan dulu yuk!” lanjutnya.
“Tapi suapin yah?” pintanya manja.
Rama mengusap sayang rambut Jesi kemudian mengecup sebentar bibir mungil yang sudah menjadi candu untuknya.
Muachhh...
“Menu pembuka.” Ucapnya.
“Yuk turun, sarapan dulu.” Lanjutnya.
“Mau lagi menu pembukanya, Karam.” Ledek Jesi yang malah memeluknya erat.
“Hei jangan macem-macem Jas Jus! Kalo kamu kayak gini terus bisa-bisa kita malah olahraga pagi dan nggak jadi ke acara resepsi.” Rama menghembuskan nafasnya dalam, tanpa di pancing saja sosisnya auto bagun kalo pagi lah ini si Jas Jus nggak ada akhlak malah makin nemplok.
Muach.... Jesi mendaratkan kecupannya di pipi kanan Rama.
“Canda, Karam. Yuk sarapan, nggak keren banget kalo resepsi pengantinnya nggak ada.” Ucap Jesi seraya turun dari pangkuan suaminya.
“Eh atau si Karak sama Alya aja suruh gantiin kita nyalamin tamu di pelaminan, Karam? Kita sayang-sayangan aja disini.” Lanjutnya.
Pletak!!
Satu sentilan mendarat di kening Jesi yang tertutup poni, “nggak usah aneh-aneh. Sarapan, minum susu, minum vitamin terus kita otw!”
“Siap, Pi. Mami cuma becanda kok!”
Mereka segera turun untuk sarapan, seperti biasa si calon adik ipar udah duduk manis di tempatnya. Pokoknya semenjak jadian sama Alya, Raka tuh udah ngalahin setrikaan hampir tiap hari selalu nongol di rumah Rama.
“Numpang sarapan mulu ih!” sindir Jesi sepedas bon cabe level akhirat.
Ck!
Raka berdecak masa bodoh dan menghabiskan sarapannya. Dia masih kesal malam-malam harus berburu boba. Rasa-rasanya semua kegiatannya bersama Alya tak lepas dari gangguan Jesi.
“Gue mah cuma jemput calon mertua sama calon istri.” Jawabnya tanpa menoleh pada Jesi.
“Lo berdua penganten basi jangan sampe telat yah. Gue sama mama and my baby Alya berangkat duluan.” Lanjutnya.
“Iya gih sono berangkat duluan. Sama anak kalian juga bawa, kali aja pengen makan di tempat resepsi gue. Kan ada BTS.” Ucap Jesi.
“Serah lo aja lah, Jes!” Raka tak mau ribut pagi-pagi toh apa pun yang terjadi pasti nanti di lagi yang disalahkan. So, segera pergi adalah pilihan terbaik.
Setelah sahabat dan adik serta mamanya berangkat lebih dulu, Rama segera menyuapi Jesi dan menyusul ke lokasi acara. Tepat pukul delapan dirinya dan Jesi tiba di hotel termewah nomor satu kota kembang.
Jesi dan Rama langsung diantar ke kamar yang sudah disiapkan. Tiba disana tim MUA sudah menunggu dan langsung memberikan pelayanan prima. Memberikan sentuhan pada wajah manis dan imut itu menjadi lebih glow up. Tak terlalu menor seperti pesan Rama, tetap mempertahankan kesan menggemaskan yang sangat ia sukai.
Butuh waktu sekitar satu jam tiga puluh menit untuk menyulap Jesi menjadi layaknya seorang putri. Gaun dengan model Dress A line sudah melekat sempurna di tubuh Jesi, ditambah dengan tiara simple dan elegan yang sudah bertahta di kepalanya semakin menambah anggun dirinya.
“Sesuai permintaan bapak, nggak menor sama sekali kan?” lanjutnya pada Rama yang masih terpaku menatap istrinya.
“Bagus nggak, Karam?” tanya Jesi.
“Cantik banget Jas Jus kesayangan kakak. Yuk berangkat!” Rama menggandengnya keluar menuju ballroom acara berlangsung.
Tiba di ballroom semua mata tamu yang hadir menatap mereka penuh kagum. Jesi melemparkan senyum ramahnya pada setiap tamu yang di dominasi oleh tamu orang tuanya. Dari mulai saudara, rekan bisnis hingga tetangga komplek. Tamu undangan pribadinya bisa dihitung dengan jari jika dibandingkan tamu undangan orang tuanya.
Satu persatu tamu yang banyak tak Jesi kenal itu menyalami dirinya dan Rama. Tak lupa juga memberikan ucapan selamat dan do’a terbaik. Jesi hanya membalasnya dengan meng aamiinkan setiap do’a beserta senyum Ramah.
“Cape?” tanya Rama yang khawatir istrinya kelelahan karena sedari tadi tamunya tak habis-habis. Mereka bahkan harus berulang kali duduk kemudian berdiri lagi.
Jesi menggeleng namun Rama bisa melihat ketidak nyamanan di wajah istrinya.
“Al, ambilin paper bag hitam di kamar kakak.” Ucapnya pada Alya yang duduk di meja terdekat dengan pelaminan.
“Karam, aku nggak papa kok.” Ucap Jesi lirih.
Setelah Alya kembali dengan barang pesanannya, Rama langsung meminta MC untuk menjeda orang-orang yang hendak memberikan selamat. Sementara Ardi dan Miya yang sudah terlanjur naik ke pelaminan memilih menunggu di pinggir tanpa turun.
“Duduk dulu.” Ucap Rama pada istrinya. Kemudian ia melepas heels yang di pakai Jesi. mengeluarkan sneaker putih dari dalam paper bag dan memakaikannya pada Jesi.
“Karam...” panggil Jesi lirih.
“Kan kakak udah bilang jangan pake heels. Nakal!” ucap Rama seraya membantu Jesi berdiri kembali.
“Emang bang, bini lo tuh nakal banget dah.” Ucap Ardi yang baru saja menghampiri mereka bersama Miya dan Arka berserta keluarganya.
“Selamat yah, gue kira lo bercanda ngaku-ngaku bininya bang Ramadhan.” Ucap Ardi begitu menyalami Jesi.
“Bang, sebenernya gue miris sih liat loh nikah sama si rese ini. Buat dia sih lo anugerah, tapi gue tau buat lo dia musibah hehe.” Ledeknya seraya melirik Jesi saat menyalami Rama.
“Ih enak aja. Buat Karam aku tuh kesegaran Jas Jus tau. Bentar lagi kita mau punya dede bayi gemoy nih.” Pamer Jesi seraya mengelus perutnya.
“Cih pamer...” cibir Ardi.
“Gue juga punya dede bayi gemoy. Liat noh perut Miya lebih gede dari perut lo.” Balas Ardi dengan mengelus perut istrinya.
“Eh iya bener. Berapa bulan, kak? Cewek apa cowok? Aku mau ngelus ah, dulu pas aku ngelus masih rata.” Ucap Jesi sambil mengelus perut Miya bahkan sebelum perempuan yang pernah menuduhnya selingkuhan Ardi itu memberi izin.
“Udah masuk enam bulan. Tiga bulan lagi dia launching.” Jawab Miya.
“Wah asik asik... cewek apa cowok kak?” Jesi makin semangat tak peduli antrian orang yang akan mengucapkan selamat makin mengular panjang.
“Cowok. Kepo banget sih lo.” Timpal Ardi.
“Woy Aqua gelas!” teriak Raka dari kursinya.
“Lo jangan malah open curcol di pelaminan, liat noh antrian panjang!” lanjutnya.
“Ish Karak ngeselin banget dah!” Jesi jadi melihat ke samping kanannya, benar saja antrian yang akan memberi ucapan selamat begitu banyak.
“Kak Ardi inget yah, kakak masih punya utang sama aku. Kalo anak aku udah lahir, aku bakalan nagih!” ucap Jesi pada Ardi. Rama yang tak tau menau hanya mendengarkannya dengan seksama.
“Oke. Datang aja ke rumah, lo mau minta berapa emang?” tantang Ardi.
“Ada deh, yang pasti bukan uang. Uang aku udah banyak takut basi.”
“Hadeh belagunya pewaris JK grup. Bisa dong ditambah inves di perusahaan gue?”
“Bisa diatur, asal urusan utang piutang nanti kita beresin dulu.” Ucap Jesi.
Satu persatu antrian pemberian selamat mulai mengurai sepi bertepatan dengan waktu resepsi yang sebentar lagi berakhir. Jesi yang sedang duduk santai mendadak berdiri mendapati Teh Ai penjual boba langganannya datang. Namun sedetik kemudian dia justru bersembunyi di balik tubuh Rama saat melihat orang yang berjalan di belakang Teh Ai.
.
.
.
tebak-tebakan nggak berhadiah, siapa coba yang jalan di belakang teh Ai? 😛😛😛
tampol-tampol jempol, lope sama komentarnya jangan lupa😘😘