
Lima belas menit sebelum rapat dimulai, Dina beserta ibu dan adiknya sudah berada di ruangan rapat. ia mere mas jari jemarinya yang terasa dingin karena berbagai kemungkinan yang belum pasti di depan matanya.
Semua usaha sudah Dina lakukan semaksimal mungkin selama seminggu ini. Dari mulai menemui satu persatu investor dan memaparkan kemampuannya sampai menunjukkan data kecurangan yang selama ini dilakukan pamannya. Meskipun tidak semua investor menyambutnya dengan positif namun Dina tak menyesal, apa pun hasilnya nanti setidaknya dia sudah berusaha yang terbaik.
Tangannya kian terasa dingin saat satu-persatu investor datang dan hasil pemungutan suara itu membuatnya tertunduk lesu. Baginya tak ada lagi harapan karena sebagian besar yang hadir memberikan suaranya pada sang paman.
sementara itu diluar sana, Jesi yang baru saja turun dari mobil menatap gedung perusahaan milik Dina yang setara besarnya dengan milik Rama.
"Gede juga." Ucapnya sebelum masuk.
"Kamu udah ngambil keputusan sayang?" Tanya Rama saat mereka tiba di lantai tempat rapat direksi diadakan.
"Udah, Karam." Jawab Jesi mantap.
"Mau kakak temenin ke dalam?" Jesi mengangguk.
Jesi menggandeng lengan kiri Rama saat masuk. Dia sedikit terkejut melihat cukup banyak orang duduk melingkar di meja rapat dengan seorang moderator yang sedang berdiri di depan, tepat di samping layar proyektor yang menampilkan hasil pemungutan suara CEO cat star.
"Perwakilan JK grup hadir. Maaf sedikit terlambat." Suara Rama berhasil membuat orang-orang yang sedang fokus pada hasil pemungutan suara menatap mereka.
"JK grup?" Bisik-bisik mulai terdengar dari para anggota direksi yang saling tatap tak percaya karena yang hadir bukan Burhan.
"Bukannya dia CEO loveware? Saingan kita?" imbuh yang lain.
"Istri saya, Jesika. Putri tunggal dari pemilik JK grup." Petugas langsung mempersilahkan Jesi untuk duduk, sementara Rama berdiri di belakangnya.
Tepat di seberang mejanya Jesi bisa melihat Dina yang tersenyum penuh harap padanya, di sebelahnya ada wanita paruh baya yang bisa Jesi tebak ibunya, sementara di sampingnya lagi ada Raya yang menatapnya dengan datar, hanya sekilas dan kemudian membuang wajah. Mantan sahabatnya itu terlihat murung dengan tangan yang masih diplester. Jesi mengabaikannya kemudian melihat ke layar lebar di depan sana. Terdapat selisih lima persen antara Dina dan pamannya, tentu saja sang paman yang memimpin suara. Dia langsung meraih tablet di hadapannya untuk memberikan suara setelah moderator mempersilahkannya. Karena tersisa dirinya saja tentu akan sangat kentara kepada siapa suaranya diberikan.
Rapat direksi diakhiri setelah moderator membacakan hasil yang sudah terpampang jelas di depan. Beberapa orang mulai keluar satu persatu dengan ekspresi yang berbeda-beda. Tak sedikit dari mereka yang berulang kali menggelengkan kepala.
"Aku baru tau kalo putri JK grup sudah menikah. Bisa-bisanya dia malah invetasi di perusahaan saingan suaminya!"
Setelah ruangan mulai kosong baru lah Jesi beranjak dari duduknya. Sebelum Jesi berjalan keluar Dina dan ibunya sudah menghampirinya dengan wajah yang hampir menangis.
"Terimakasih, Nak." Ucap Ibu Dina.
"Terimakasih. Mba bener-bener udah nggak bisa ngomong apa pun, Jes. Terimakasih." Ucap Dina.
"Kalo nggak ada kamu mba pasti sudah kehilangan cat star. Terimakasih sekali." Jesi bisa merasakan pelukan tulus Dina.
"Terimakasih juga Wan, buat semua bantuan kamu. Aku janji dibawah kepemimpinan aku nggak bakal ada lagi produk Loveware yang ditiru cat star." ucapnya pada Rama yang hanya dibalas anggukan.
"Terimakasih." Ulangnya lagi.
"Mba kira kamu nggak akan maafin mba....mba tau kesalahan mba banyak salah sama kamu, Raya juga... Maafin yah, Jes?" Ucapnya sambil terisak menunjuk adiknya yang masih duduk di tempat semula.
Jesi mengangguk, ia kemudian menatap Raya yang menunduk di kursinya.
"Ray, gue benci sama lo. Benci banget!" Ucapan Jesi membuat Raya mendongak hingga tatapan mereka bertemu.
Jesi tersenyum ramah sebelum melanjutkan ucapannya, "Tapi gue milih buat nginget kenangan bahagia kita, meskipun gue tau akhirnya lo cuma manfaatin gue. Mau gimana pun lo pernah jadi bagian terpenting di hidup gue."
Jujur sebelum berangkat tadi ia sempat berfikir untuk membantu Dina tapi tidak dengan Raya. Namun kata-kata Alya terus tengiang di telinganya.
Kenapa tidak menjadi mulia sesuai namamu, dengan memaafkan orang lain sebelum mereka meminta maaf?
Jesi menghela nafasnya dalam-dalam saat Rama menepuk bahunya dengan sayang berulang kali. Jesi tau, suaminya itu pasti khawatir dirinya terbawa emosi.
"Gue udah maafin lo, Ray." Ucap Jesi.
"Sama kak Zidan juga. Dia bakal bebas bersyarat asal mau bertanggung jawab sama anak di perut kamu."
"Pengacara ayah bakal bantu kamu." Mengingat bagaimana Rama selalu ada di sisinya membuatnya tak tega membiarkan Raya hamil tanpa suami, terlebih memikirkan bagaimana nasib anak itu kedepannya.
Saat ini Jesi hanya ingin hidupnya kembali seperti dulu, damai dan tanpa dendam. Menjalani hari-harinya bersama suami dan anak serta mertua dan keluarga yang selalu melimpahkan kasih sayang untuknya.
"Mba Dina, ibu... Aku permisi." Pungkasnya kemudian berjalan keluar.
"Jes..." Panggilan Raya membuatnya kembali menengok ke belakang.
Dengan wajah basahnya Raya menghampiri Jesi.
"Gu...gue minta maaf, Jes." Ucapnya lirih.
"Gue sadar... Gue punya banyak banget salah sama lo. Makanya gue nggak berani minta maaf, karena gue udah ngerasa gue nggak layak dapat maaf dari lo." Ucapnya dengan bibir bergetar.
"Gue udah terlalu jahat." Ianjutnya dengan wajah tertunduk.
"Gue udah maafin lo, Ray. Sehat-sehat yah sama calon anak lo. Bumil nggak boleh sedih." Jesi bahkan memeluk mantan sahabatnya. Ada kelegaan tersendiri dihatinya melakukan hal ini.
"Sejam lagi pengacara ayah sampe di kantor polisi. Lo susulin kak Zidan kesana, minta dia tanggung jawab. Gue cuma bisa bantu sampe sini." Jesi mengusap kedua bahu Raya setelah melepas pelukannya.
"Gue balik yah." Pamitnya.
"Jes, bisakah kita kembali seperti dulu?"
"Gue udah maafin lo, Ray. Tapi buat seperti dulu kayaknya nggak bisa." Ucap Jesi.
"Terimakasih karena lo sama kak Zidan udah bikin gue tau bahagia yang sesungguhnya. Gue harap lo sama kak Zidan juga bisa bahagia." Lanjutnya.
Raya menatap nanar Jesi yang berjalan dirangkul suaminya, mereka benar-benar terlihat bahagia. Raya hanya bisa tertunduk dan menyesali semua perbuatan jahatnya. Dalam pikirannya terus muncul masa-masa persahabatan mereka yang membuatnya kian menyesal. Andai... Andai... Andai dirinya tak sejahat dulu, tapi semua sudah berlalu dan apa yang sudah terjadi tak akan bisa diulang kembali.
.
.
.
yupz... kalimat andai memang selalu muncul diakhir, saat kita menyadari apa yang kita lakuin itu salah. Andai dulu nggak gini nggak gitu... dan andai andai yang lain.
pokoknya andai apapun itu, jangan lupa tampol jempol sama komennya ππ
coba tim reader ghaib komen next aja biar keliatan, kalo nggak ntar aku kasih up ghaib jugaππ