
Gadis yang sedang panik di dalam ambulan itu adalah Jesi. Dia duduk di sebelah blangkar dimana seorang anak kecil berbaring dengan tak sadarkan diri. Dari belakang telinga anak itu terus keluar darah yang tak berhenti. Jesi terus menggenggam tangan anak berseragam merah putih itu.
Niatnya pagi ini untuk pergi ke kantor dengan naik angkot supaya lebih hemat justru membuat dirinya terseret pada insiden kecelakaan. Jesi tak tau apa-apa, dia yang sedang memainkan permainan cacing warna warni sambil menunggu angkot di kagetkan dengan suara benturan keras yang kemudian diiringi oleh riuh teriakan orang-orang pagi itu. Jesi meletakan ponselnya dan langsung berlari ke tempat orang-orang yang berkerumun. Tiba di sana sudah ada anak sekolah dasar yang terlentang di jalan dengan darah yang mengalir di bawah kepalanya.
“Kenapa malah diliatin aja sih? Telpon ambulan dong!” teriak Jesi pada orang-orang yang justru hanya menonton saja. Yang lebih menyebalkan ada sebagian dari mereka justru sibuk mengambil video demi update di sosial media.
Merasa tak ada yang merespon ucapannya membuat Jesi yang sudah berlutut di samping anak itu menjadi kesal, “Mba yang pake baju merah tolong telpon ambulan cepet!”
Begitu ambulan datang petugas langsung memindahkan anak yang tak sadarkan diri ke blangkar dan memasukannya ke dalam ambulan.
“Walinya harus ikut untuk mengurus administrasi.” Melihat tak ada satu orang pun sukarelawan yang mau menemani anak itu membuat jiwa mantan anggota PMR saat SMK seperti Jesi terenyuh. Tanpa pikir panjang ia naik ke dalam ambulan.
“Yang kuat yah, Dek.“ ucap Jesi lirih.
Tiba di rumah sakit, anak itu langsung di bawa ke unit gawat darurat. Sementara dokter menangani pasien, Jesi di minta untuk segera mengurus adminitrasi. Tak banyak yang bisa Jesi lakukan bahkan untuk sekedar mengisi data pasien pun dia tak bisa.
“Itu korban kecelakaan bu, saya nggak kenal. Cuma nolong aja.” Ucap Jesi.
“Kalo gitu KTP mba aja buat ngisi walinya.” Ujar petugas.
“Sebentar.” Jesi mencari tasnya untuk mengambil KTP. Ia menghembuskan nafas pelan saat mendapati tasnya tak ada. Sekarang ia baru ingat jika ponsel dan tas nya mungkin tertinggal di tempat menunggu angkot tadi.
“Boleh pinjam telponnya sebentar, bu?” tanya Jesi.
“Silahkan.”
Jesi menekan tombol telpon itu. “Ibu, Jesi di Rumah Sakit Harapan Bangsa.”
Hanya itu kalimat singkat, padat dan jelas yang ia ucapkan saat panggilan terhubung.
Jesi kembali ke Unit Gawat Darurat, dokter tampak sudah selesai melakukan penanganan. Jesi menghampiri dokter dan menanyakan kondisi anak itu.
“Gimana keadaannya, Dok?”
“Belum tahu. Harus dilakukan pemeriksaan lebih dalam dengan melakukan scan karena darah dari kepalanya masih belum berhenti. Saya takut ada ada pembuluh darah yang pecah di kepalanya. Melihat luka luar yang tak terlalu parah tapi pasien belum sadarkan diri. Sebaiknya kamu segera hubungi walinya supaya kita bisa segera melakukan tindakan.”
“Lakukan tindakan yang terbaik sekarang, Dok. Jika menunggu orang tua anak itu saya tidak tau kapan mereka akan datang. Soal biaya dan administrasi akan saya urus, sebentar lagi orang tua saya kesini.” Tutur Jesi.
“Baiklah. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.”
“Terima kasih, Dok.”
Jesi duduk di depan unit gawat darurat, menunggu ibunya tiba. Ia yakin sang ibu pasti akan langsung mendatanginya, apalagi mengetahui putri kesayangannya ada di rumah sakit. Dan kali ini feeling nya benar-benar menjadi nyata, Sari terlihat panik bersama Burhan di meja resepsionis.
“Pasien atas nama Jesika di rawat dimana?” Sari bahkan sudah menangis.
“Ibu... Jesi nggak sakit.” Ucap Jesi begitu tiba di samping Sari.
“Neng Jesi kesayangan ibu, kamu tidak apa-apa?” Sari memeluk Jesi dan memandangi putrinya dari ujung kaki hingga kepala, tak ada luka sedikit pun. Hanya pakaian putih gadis itu menjadi kotor karena terkena darah.
“Anak nakal.” Sentak Burhan tapi kemudian memeluk putrinya.
“Ayah kira kamu kenapa-napa.” Ucapnya kemudian sambil menepuk pelan punggung putrinya yang sudah tiga minggu minggat dari rumah.
“Terus ngapain kamu disini? Bukannya sekarang harusnya kamu kerja?” tanyanya kemudian.
Jesi langsung melepas pelukan ayahnya, “Astaga naga dragon... mampus dah gue! Auto dimarahin Karam lagi pasti nanti gue.” batin Jesi begitu melihat jam di dinding sudah menunjuk angka delapan lebih tiga puluh menit.
“Malah bengong kamu.” Ucap Burhan.
“Itu Jesi nolongin anak yang tadi kecelakaan ayah. Sekarang ayah isi data diri aja di bagian administrasi supaya dokter bisa langsung melakukan tindakan. Soalnya dari kepala anak itu terus keluar darah, aku takut dia kenapa-napa, Yah. Tadi mau aku isi pake data diri aku tapi tas sama ponsel aku kayaknya ketinggalan di tempat nunggu angkot tadi.” Jelas Jesi panjang lebar.
“Terus aku juga nggak punya uang buat bayarnya.” Imbuh Jesi lirih.
“Kamu itu ceroboh nggak ilang-ilang. Bisa-bisanya tas sampe ketinggalan sembarangan kayak gitu.”
“Udah atuh ayah ceramahnya dilanjut nanti aja, sekarang isi data dulu.” Lanjutnya.
“Ayah akan bantu asal kamu pulang ke rumah.” Ucap Burhan.
“Urusan pulang ke rumah mah gampang, Yah. Abis ini langsung pulang juga ayo banget. Lagian di kos itu nggak enak. Cape aku tuh.” Jawab Jesi memelas.
“Aku pagi-pagi sarapan gorengan doang, berangkat kerja naik ojeg, pulangnya sebelum tidur aku nyuci dulu. Mana selimut di kosan tipis, aku kalo malem kedinginan. Jesi cape bu.” Adunya kemudian.
“Makanya jadi anak tuh nurut sama orang tua. Dikasih hidup enak kok malah dibikin sengsara.” Balas Burhan.
“Iya. Maafin Jesi, Ayah.”
Burhan mengelus sayang putri manjanya yang masih merengek di pelukan sang istri, “Ayah sama ibu udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf. Ayah urus administrasinya dulu.”
Bertepatan dengan Burhan yang baru saja mengurus adminitrasi, keluarga anak itu datang ke rumah sakit. Mereka sangat berterima kasih pada Jesi yang sudah mau menolong putrinya. Jesi dan kedua orang tuanya pamit kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.
Sepanjang jalan menuju parkiran Jesi mengandeng lengan ayah dan ibunya dengan manja. Senang sekali bisa kembali bersama mereka setelah sekian lama.
“Aku pengen makan nasi goreng buatan ibu.”
“Ya nanti ibu buatin.” Balas Sari.
“Ibu masih inget Alya nggak? Aku pernah makan nasi goreng buatan mamanya Alya, rasanya sama kayak buatan ibu. Sampe aku kira ibu nitip nasi goreng ke Alya buat aku loh.”
“Alya, temen kamu yang pake jilbab itu kan?” timpal Burhan.
“Iya itu Yah. Aku punya utang ke dia lima juta, nanti bayarin yah.” Jawab Jesi.
“Nanti kamu bayar sendiri saja. Kamu juga boleh ajak dia kalo ke akad nikah nanti.” Ucap Burhan.
“Akad nikah siapa yah?” tanya Jesi.
“Ayah mau nikah lagi?” imbuhnya.
“Sembarangan kamu kalo ngomong.” Ucap Sari.
“Akad nikah kamu lah. Ibu seneng akhirnya kamu setuju buat nikah. Ibu udah ketemu calon suami kamu, dia tampan, ramah dan dewasa kamu pasti suka.”
Jesi langsung berhenti dan melepas pegangan tangannya dari Burhan dan Sari, “Aku kan cuma setuju buat pulang, bukan nikah!” protesnya.
“Ayah tidak menerima penolakan!” ucap Burhan tegas.
Jesi hanya diam, ayah nya terlihat menakutkan sekarang.
“Udah nurut aja. Selama ini kami tak pernah melarang kamu melakukan apa pun yang kamu mau. Sekali ini saja nurut saya ayah dan ibu. Kamu satu-satunya putri ibu. Ayah sama ibu benar-benar melakukan yang terbaik buat kamu.” Pelan-pelan sekali Sari menasehati Jesi.
“Ya udah deh, Jesi mau. Tapi nggak langsung nikah yah ayah.”
“Terus kamu maunya gimana? Tunangan dulu?” tanya Burhan.
“Usia dia sudah dua puluh delapan tahun, kelamaan kalo tunangan dulu. Langsung nikah aja.” Imbuhnya.
“Oh My God umurnya jauh banget euy.. Om Om dong calon suami gue.” Batin Jesi.
“Tapi kan aku masih kuliah Yah.” Ucap Jesi.
“Nggak ada larangan mahasiswa buat nikah.” Jawa Burhan yang langsung menolak alasan Jesi. “Kamu ingat Ardi? Kakaknya malah menikah dengan gadis yang saat itu bahkan belum menerima ijazah sekolah menengahnya.”
“Ya udah deh terserah ayah lah. Mau langsung di gas nikah juga ayo lah. Tapi simulasi aja dulu nikahnya jangan beneran. Kayak UNBK gitu sebelum ujian juga simulasi dulu supaya kalo ada error bisa perbaikan. Nikah juga gitu, bohongan aja dulu jadi nanti kalo ada masalah bisa udahan nggak pake ribet.” Ujar Jesi panjang lebar.
Burhan jadi geram sendiri mendengar penjelasan putrinya yang tak bisa di terima oleh akal sehat, bagaimana bisa pernikahan disamakan dengan ujian nasional berbasis komputer. Dijewernya telinga Jesi yang masih ngoceh-ngoceh soal simulasi pernikahan itu, “nggak usah ngarang aneh-aneh. Pokonya kamu bakalan nikah secepatnya!”