Possessive Leader

Possessive Leader
Berakhir bagimu, tidak untukku!



Di kantin Jesi duduk seorang diri, beberapa makanan sudah tersaji di mejanya. Keadaan kantin siang ini memang belum ramai karena jam istirahat yang masih kurang tiga puluh menit lagi. Jesi menikmati makanannya sambil menonton vidio BTS bengek moment yang sudah di edit oleh ARMY Indonesia yang nggak ada akhlak, tapi meskipun begitu dia tetap suka, lucu dan sangat menghibur. Kadang ia sampai tersedak karena makan sambil menertawakan vidio yang sedang ia tonton.


"Astaga... astaga bengek banget sumpah!" Jesi menyedot susu vanila dingin tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.


Jesi tak sadar jika kantin mulai ramai, dia masih asik dengan aktivitas sendiri hingga seseorang duduk di hadapannya.


"Heh aqua gelas kenapa lo senyum-senyum sendiri? udah oleng lo?"  tanpa meminta izin Raka menyendok makanan yang Jesi pesan untuk Rama.


"Karak ih. Itu makanan buat Karam, main makan aja ih!" ucap Jesi, dia sudah menyimpan ponselnya ke saku. meskipun suka bermain ponsel tapi Jesi masih menghargai orang yang ada di sekitarnya, kecuali jika sedang kesal dia akan terus bermain ponsel dan mengabaikan semuanya.


"Tinggal pesen lagi aja, ribet amat!" Raka tak peduli dan terus memakan makanan Rama.


"Eh udah rame yah? udah istirahat kah?" tanyanya seraya mengamati lingkungan sekitar yang mulai ramai.


"Kenapa pada kayak yang gimana gitu ngeliatin akunya?" Jesi sedikit merasa aneh akan tatapan orang-orang pada dirinya.


Raka yang sedang menguyah jadi ikut menoleh dan memperhatikan orang-orang di sekitar mereka tapi hanya sebentar kemudian kembali meneruskan makannya.


"Wajar lah mereka ngeliatin lo kayak gitu, orang pas gue masuk aja lo cengar-cengir sendiri kayak orang gila." cibirnya.


"GItu yah?" Jesi masih merasa tak nyaman dengan tatapan mereka.


"Iya." jawab Rama.


"Aku mau order buat Karam dulu lah, ntar keburu Karam datang makanannya belum ada." Jesi beranjak untuk memesan makanan.


Lumayan lama dia antri, Jesi merasa tatapan karyawan lain benar-benar membuatnya tak nyaman. Apalagi di sudut ruangan anggota divisi keuangan sangat kentara memandang jijik padanya. Saat pesanannya jadi Jesi segera mengambilnya dan kembali ke mejanya.


Baru beberapa langkah berjalan Rama sudah mengambil alih nampan yang ia bawa, "biar kakak yang bawa!" ucap Rama lirih, membuat Jesi seketika tersenyum dan melupakan tatapan orang lain. Dia berjalan mendahului Rama dan menunjukan meja mereka.


"Heleh... gue cabut ah, ogah jadi obat nyamuk!" Raka yang hendak beranjak di tahan oleh Rama hingga akhirnya duduk kembali.


"Awas aja kalo pada bahas ne nen lagi!" ucapnya sambil menatap Jesi dan Rama yang baru saja duduk.


"Ya kali ne nen siang-siang, jadwalnya malem sama pagi." ucap Rama enteng sambil meneguk air mineral dari gelasnya.


"Si a lan! udah mulai ketularan aqua gelas lo, Wan. ngomong nggak pake saringan!" kesal Raka.


"Gue cabut aja lah!" lanjutnya.


"Becanda gue. Sensi amat sih lo, Ka. kayaknya lo harus buru-buru nikah deh, keburu lapuk lo!" Rama sedikit tergelak,


"Tau nih kasihan Karak jomblo mulu, Karam. Apa kita bantuin cariin jodoh yah? biar nggak ngenes." Ucap Jesi.


"Nggak usah! males gue dicariin jodoh sama lo. Ntar dapetnya yang modelan kayak lo lagi, nyebelin!" jawab Raka.


"Heleuh... padahal aku punya temen yang solehah banget." ucap Jesi.


"Kagak percaya gue, sesolehah solehah nya lo kan ngeselin."


"Tapi kata Karam  tuh meskipun aku ngeselin tetep ngangenin." Jesi tersenyum bangga.


"Iya kan, Karam?" lanjutnya meminta persetujuan suami yang sedang menikmati makan siangnya.


Karena sedang mengunyah, Rama hanya membalasnya dengan mengangguk dan mengelus puncak kepala Jesi singkat.


"Tuh kan, sekarang Karak percaya kan kalo yang nyebelin kayak aku tuh ngangenin." Jesi meletakan kedua tangannya di meja, memangku dagunya dengan telapak tangan sambil menatap Rama yang sedang makan.


Raka hanya menggelengkan kepala melihat dua orang yang sedang berbunga-bunga di hadapannya. Sahabatnya masih bisa mengontrol diri dengan bersikap biasa saja sementara Jesi tak bisa menyembunyikan kebahagiannya, dia terus tersenyum manis sambil menatap Rama.


Selesai makan ketiganya berjalan meninggalkan kantin, Jesi dengan santainya mengandeng tangan Rama dan tersenyum riang. Sontak hal itu membuat orang-orang kian kasak kusuk membicarakannya di belakang.


"Tuh kan makin nggak tau diri itu bocah!" ucap Dina.


"Iya bikin malu aja." timpal yang lainnya.


"Menurut aku sih sebenernya nggak masalah kalo itu anak punya hubungan spesial sama pak Darmawan, toh pak Darmawan kan emang belum nikah. Tapi kenapa mesti pake cara kotor kayak gitu sih?" sambung Dewi.


"Kalo aku malah nggak setuju deh, kasihan lah Pak Darmawan dapet cewek kegatelan kayak Jesi. Pasti udah di pake sana sini itu anak."


"Iya lah pasti digilir dia mah. Buktinya cepet banget dia bisa jadi kaya. Mewah semua barang-barang yang dia pake, ya meskipun modelnya simpel tapi beda lah barang mahal mah."


"Perempuan kayak dia tuh harus kita kasih pelajaran biar tau diri. Kalo di diemin lama-lama dia bisa berlagak seperti istri bos aja. Liat tuh pegang-pegang tangan kayak gitu nggak tau malu." ujar Dina dengan pandangan sinis.


"Setuju." balas Dewi.


"Kita yang udah lama kerja aja nggak pernah seberani itu sama pak Darmawan, eh bisa-bisanya dia yang cuma anak magang so banget." lanjutnya.


Sore hari saat jam kerja sudah berakhir Jesi sudah bersiap-siap untuk pulang. Kali ini ia tak akan langsung pulang ke rumah, melainkan menemani Rama meeting dengan klien. Keadaan kantor sudah cukup sepi saat keduanya keluar.


"Tunggu di sini, kakak ambil mobil dulu!" Jesi mengangguk setuju, dia berdiri di depan kantor.


"Kalo aja meeting nya nggak sekalian makan malem, gue mau pecel ayam deh." Jesi memandang warung tenda langganannya, dia menelan ludah membayangkan ayam goreng dan sambel super pedas meleleh di mulutnya.


"Eh eh... bukannya itu Alya yah?" dia sedikit maju untuk melihat gadis berhijab yang baru saja naik ke mobil yang cukup familiar untuknya.


"Jas Jus cepetan masuk!" panggilan Rama mengalihkan perhatiannya dan segera berlari masuk ke dalam mobil.


"Karam, barusan kayaknya aku liat Alya deh." ucap Jesi begitu sudah duduk dan mengenakan sabuk pengamannya.


"Kamu salah liat kali. Ngapain juga Alya kesini jauh-jauh." balas Rama.


"Beneran deh, tadi tuh kayaknya Alya. Di warung pecel lele terus masuk ke mobil siapa gitu. Mobilnya juga nggak aneh buat aku, tapi punya siapa yah lupa."


"Ya nggak aneh lah paling mobil mama kan? biasa Alya kan dianter sama supirnya mama." ujar Rama.


Jesi hanya mengangguk mengiyakan, meskipun hatinya belum sreg. Menurut Jesi itu bukan mobil mertuanya, tapi bodo amat lah yang punya mobil samaan kan banyak.


Tiba di mall Jesi mengikuti Rama ke tempat outlet loveware. Mereka cukup lama terlibat dalam topik pembicaraan yang serius membuat Jesi sedikit tak bersemangat karena cacing diperutnya sudah demo minta makan.


Jesi menarik ujung jas Rama berulang kali hingga suaminya menengok padanya.


"Apa?"


"Laper." balas Jesi dengan berbisik di telinga Rama.


"Saya permisi sebentar yah." ucap Rama pada manager klien sebelum beranjak keluar dari outlet.


"Maaf yah. Kakak sampe lupa kamu belum makan." Rama mengeluarkan dompetnya, mengambil blackcard dari dalam sana dan memberikannya pada Jesi.


"Pin nya tanggal pernikahan kita. Kamu makan duluan aja yah." ucapnya.


Jesi menerima kartu itu dengan senang hati, "padahal aku juga punya loh Karam blackcard. Tapi udah jarang aku pake, kayaknya aku udah kebiasaan jadi rakjel deh." ucapnya sambil tergelak.


"Mulai sekarang pake kartu yang dari kakak. Punya kamu simpen aja."


"Berati kalo aku pake shopping boleh nih, Karam?" Jesi mengibas-ngibaskan kartu yang baru dia terima di depan wajah dengan tersenyum cerah.


"Boleh lah masa nggak! Kan kakak kerja buat Jas Jus kesayangan kakak." Rama mengelus puncak kepala Jesi singkat.


"Makasih, Karam." Jesi memeluk Rama kemudian berjinjit dan mencium kedua pipi suaminya bergantian.


"Aku jajan dulu yah, laper..."


"Cuma mau beli boba sama burger, nanti langsung balik ke sini." tanpa menunggu jawaban Jesi langsung pergi ke foodcourt yang tak jauh dari outlet.


Jesi sedang berdiri di depan jajaran aneka makanan cepat saji, tangan kanannya masih memegang black card pemberian Rama.


"Sebenernya kangen boba teh Ai euy. Tapi ya udah lah yang ada aja." gumamnya.


"Thai tea ektra boba nya satu mba." ucapnya memesan, kemudian mengetik pesan pada suaminya. Menanyakan apakah dia juga mau minuman seperti yang ia beli.


"Banyakin boba nya mba!" ucap pemuda di samping Jesi.


"Segitu masih kurang buat dia." sambungnya.


Suara familiar itu membuat Jesi menengok. Pemuda tinggi yang merupakan idaman tiap mahasiswi kampus itu tersenyum padanya.


"Kak Zidan..." ucap Jesi lirih.


"Ya, sayang. Udah lama kita nggak ketemu. Lo makin cantik." pujinya seraya merangkul bahu Jesi.


"Jangan sentuh gue!" Jesi segera melepas tangan Zidan dengan kasar.


"Why baby? dulu lo seneng banget kalo gue rangkul."


"Kita udah nggak ada hubungan apa-apa, Kak. Jangan ganggu gue. Kita udah berakhir sejak lo lebih milih Raya dari pada gue." ucap Jesi


"Eh salah, sejak awal gue emang nggak berarti apa-apa buat lo." ralatnya.


"Berakhir buat lo tapi nggak buat gue, sayang. Gue nggak pernah mutusin lo." tegas Zidan.


"Dari pada lo jual diri sama laki-laki yang lo peluk-peluk di depan outlet tadi, mending sama gue. Lebih muda, gue juga mampu kalo sekedar bayar-bayar jajan sama belanjaan lo. Jadi lo nggak perlu jadi ayam kampus, lo malah bakal bangga balikan sama gue." ucapnya bangga.


"Dasar sinting!" cibir Jesi.


"Gue balikan sama lo haram hukumnya!" Jesi berlalu meninggalkan Zidan. Tak peduli mba-mba kang boba yang berteriak padanya karena boba yang ia pesan belum di bayar dan main pergi begitu saja.


.


.


.


mba-mba kang boba be like : ini nasib boba gue gimana? udah ekstra boba nggak dibayar pula🙄🙄


ETA JANGAN LUPA TAMPOL JEMPOL, LOPE SAMA KOMENTARNYA... YANG BANYAK... AKU MAU PAKE EKSTRA KOMENTAR!!!!