
Setelah istri dan adiknya menjauh, Rama melajukan mobilnya ke kantor. Hari ini dia akan benar-benar sibuk mempersiapkan peluncuran produk baru serta memberhentikan Dina dari posisinya. Tiga minggu sudah cukup baginya untuk mengumpulkan bukti-bukti kecurangan yang selama ini dilakukan Dina.
"Panggil dia ke ruangan gue, Ra." pintanya pada Naura melalui sambungan telepon.
"Lo yakin nggak mau nuntut dia ke ranah hukum, Wan?" Raka yang sedari tadi di sana berulang kali meyakinkan Rama supaya memenjarakan orang yang sudah membocorkan desain buatannya, membuat perusahaan mengalami kerugian akibat ulahnya.
"Kita liat aja nanti, Ka. Gue rasa sejauh ini dia nggak nyadar cuma dimanfaatin sama pamannya. Lagian selama dua tahun dia kerja di sini baru beberapa bulan terakhir kan dia bikin ulah? kalo emang niatnya jahat dari dulu pasti udah ngobrak ngabrik, dia cukup mampu buat main rapi. Sayang juga kalo otak secerdas dia harus mendekam di penjara."
"Lo masih aja ngasihanin tuh orang. Inget Wan, dia tuh udah bikin si aqua gelas sengsara jadi bahan gosip pula. Perusahaan juga rugi banyak gara-gara dia." gerutu Raka yang sudah emosi.
"Kok bisa lo tenang-tenang aja. Gue yang cuma karyawan aja gedeg sama tingkah Dina. Bener aja kalo si aqua gelas ngatain dia Dinosaurus orang kerjanya ngancurin orang lain." lanjutnya.
"Ck! lo tuh emosian banget, Ka." ucap Rama.
"Kan gue bilang juga liat aja nanti. Kalo dia nggak nurut saka kesepakatan yang kita ajuin ya kita bawa ke ranah hukum."
"Kalo gue mending langsung aja lah ke ranah hukum."
"Kalo kita tuntut Dina langsung sementara Dina baru aja kita pecat, yang kena Dina doang, Ka. Gue pengen sama pamannya juga kena, secara disini si Dina juga cuma korban menurut gue. Kasihan, dia cuma nggak nyadar kalo dimanfaatin doang sama pamannya."
"Lo jadi orang kebanyakan kasihannya, Wan. Kasihan sama gue juga dong, Wan. Kapan nih gue dikasih restu buat nikahin my baby Alya?"
"Ntar kalo dia udah lulus kuliah!"
"Kelamaan, Wan. Si aqua gelas masih kuliah aja lo nikahin,
Masa Alya nggak boleh?"
''Lo tanya sama Alya aja langsung, kalo anaknya mau gue nggak masalah."
"Beneran, Wan?"
"Hm."
Sepuluh menit kemudian Dina yang diantar Naura masuk ke dalam ruangan Rama.
"Bapak manggil saya?"
"Ya, duduklah." ucapnya mempersilahkan.
Dina duduk di sofa tamu, dia sedikit terkejut mendapati Raka yang juga duduk di sana.
"Siang pak Raka." sapanya.
Dahi Dina mengernyit heran dengan sikap Raka, tapi dia berusaha bersikap setenang mungkin seperti biasanya.
"Maksud pak Raka apa yah?"
"Saya tidak akan berbasa-basi, Dina. Ini surat pemberhentian kamu." Rama yang baru saja duduk di samping Raka meletakan amplop coklat di depan Dina, disusul dengan satu amplop besar berisi bukti-bukti kecurangan yang selama ini sudah ia lakukan.
"Maksud bapak saya dipecat?" tanyanya dengan tatapan tak percaya.
"Ya. Mulai sekarang kamu bukan bagian dari LoveWare lagi. Dari mulai sabotase pekerjaan Jesi, plagiat desain produk sampe yang terakhir pencemaran nama baik Jesi. Saya tau semua ulah kamu." tutur Rama.
"Saya tidak akan membawa masalah ini ke ranah hukum asal kamu bersedia meminta maaf pada istri saya dan mengklarifikasi plagiat desain loveware yang kamu berikan pada perusahaan ayah mu. Ralat, maksud saya perusahaan yang sekarang di pimpin paman kamu. Kamu tau bukan berapa banyak kerugian yang kami alami gara-gara kasus plagiat itu?"
Dina masih tertunduk tak mengatakan apa pun. Dia benar-benar tak menyangka jika permainan apiknya bisa terbongkar. Dua tahun bekerja di loveware tak pernah terbesit untuk melakukan kecurangan meskipun sang paman meminta bantuannya. Hingga akhirnya beberapa bulan belakang dia membocorkan desain baru produk mereka. Ditambah lagi dengan kehadiran Jesi yang membuat keberadaannya makin tak terlihat oleh Rama merubah dirinya menjadi wanita jahat yang memanfaatkan segala cara untuk menjauhkan Jesi dari lelaki yang ia sukai. Semua berakhir saat ternyata kenyataan tak sesuai dengan harapannya, Jesi si biang onar sudah menjadi istri Rama. Yang ada di otaknya saat ini adalah adalah menghancurkan apa yang tak bisa ia miliki dan kembali bekerja di cat star, perusahaan ayahnya.
"Dari awal saya menerima kamu bekerja di sini bukan karena saya tidak tau kamu putri dari pemilik saingan bisnis saya. Saya tau betul kamu putrinya, saya kira kamu kesini karena tau paman kamu yang telah membuat perusahaan ayah kamu bangkrut dan mengambil alihnya makanya kamu memilih bergabung dengan saya. Ternyata kamu malah jadi duri dalam daging!"
"Kamu tau, Din? saya pernah berpikir untuk membantu kamu mendapatkan kembali perusahaan ayah kamu. Karena apa? karena kamu sama seperti saya. Sama-sama ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi dalam keadaan perusahaan yang hampir bangkrut. Sayangnya kamu malah mempercayai orang yang salah, mungkin saya lebih beruntung karena mempercayai pak Burhan, tidak seperti kamu yang memilih percaya dengan paman yang ternyata hanya memanfaatkan keluargamu saja."
"Maksud kamu apa, Wan?" Dina sudah tak lagi berbicara formal pada Rama.
Dina semakin tak mengerti arah pembicaraan Rama. membantu merebut perusahaan ayahnya kembali? yang ia tau selama ini orang yang disebut Pak Burhan itu yang sejak dulu berniat mengambil perusahaan milik ayahnya. Dia masih ingat betul saat SMA dulu, dua perusahaan besar di bidang perlengkapan rumah tangga nyaris tumbang karena pasar bebas yang menyebabkan barang-barang dari luar negri masuk dengan harga yang relatif lebih murah, membuat konsumen pindah haluan. Tak hanya konsumen yang pindah haluan bahkan investor mulai menarik dana mereka karena dirasa kurang menguntungkan.
Menurut Dina orang bernama Burhan itu begitu serakah karena ingin langsung mengelola dua perusahaan yang nyaris hancur, perusahaan ayah Rama dan milik ayah Dina. Berbeda dengan keluarga Rama yang kalut dan mempercayakan perusahaannya di danai oleh Burhan dengan syarat dia yang mengelola, Keluarga Dina tak menerima investasi Burhan dan mempercayakan perusahaannya pada sang paman meskipun sampai saat ini perusahaannya belum kembali ke tangannya. Padahal dulu perjanjiannya kepemimpinan akan di kembalikan pada Dina jika dia sudah menyelesaikan pendidikan Strata dua, namun nyatanya Dina justru di kirim ke loveware sebagai mata-mata.
"Kamu pikir sendiri aja! seharusnya..." belum selesai Rama bicara dering ponsel di sakunya membuatnya bungkam. Ia segera menggeser tombol hijau itu.
"Halo assalamu'alaikum, Al?"
"Kak, Jesi pingsan. Kakak kesini!"
"Kalian dimana?"
"Rumah sakit Persada."
suara panik Alya membuatnya segera menyambar kunci mobil di mejanya.
"Ka, lo ikut gue!"
"Wan, kita belum selesai bicara. Aku belum paham maksud kamu?" Dina setengah berlari menyusul Rama yang berjalan dengan cepat.
"Kamu pikir saja sendiri. Saya beri kamu waktu dua hari, putuskan mau minta maaf pada Jesi dan klarifikasi kasus plagiat atau mendekam dipenjara!"