Possessive Leader

Possessive Leader
Nggak sah!



"Kok Karam malah diem sih? Katanya tadi apa aja boleh. Sekarang malah pada auto diem-diem wae." Ucap Jesi memecah keheningan.


"Karam nggak mampu?" Lanjutnya kemudian.


"Bukannya nggak mampu. Aku cuma bingung aja beli itu senter dimana? Ditambah sekarang waktunya mepet. Kenapa nggak bilang dari tadi aja sih? Kan bisa beli di mall."


"Ya kan tadi aku kira cuma bercanda gitu. Kan nggak tau kalo mau nikah beneran." Elak Jesi.


"Makanya kalo ada orang ngomong tuh didengerin, bukan malah nyerocos mulu terus ngambil kesimpulan sendiri." Ucap Rama sedikit keras, jujur mengimbangi Jesi tak mudah. Dia manusia bisa yang bisa merasa lelah terus-terusan harus mengerti dan memaklumi Jesi.


"Tuh... Tuh... Mulai kan galak lagi Karam nya." Keluh Jesi. Ada calon mertua di sampingnya membuat dia leluasa karena dipastikan akan mendapat pembelaan.


"Kakak nggak boleh galak-galak sama menantu mama." Sesuai harapan Jesi calon mertuanya langsung membela.


"Aku nggak galak, Ma. Dia nya aja yang suka salah tanggap mulu."


"Udah cepetan bilang itu senter dimana belinya? Biar aku beli sekarang."


Daripada melihat putri dan calon menantunya yang masih terus berdebat soal mas kawin, dia memilih keluar untuk menemani petugas penghulu di depan sana.


"Kalian jangan kelamaan ntar penghulu, pak RT sama pak ustad kesel nungguinnya. Abis magrib kalian harus udah siap akad." Ucapnya sebelum keluar.


"Iya, ayah." Balas Rama.


"Jadi dimana belinya?" Lanjutnya pada Jesi.


"Nggak bisa beli langsung, Karam. Harus mesen dulu, biasanya aku beli merchandise di official BTS langsung supaya dapat yang original. Ya sekitar empat sampe satu minggu baru sampe barangnya." Jawab Jesi.


"Ya sudah kamu pesan saja, nanti aku tinggal bayar. Kamu boleh pesan apa pun yang kamu mau." Ucap Rama, dia sudah pasrah terserah Jesi saja lah.


"Oke. Nanti aku check out dan kirim kode bayarnya ke Karam yah."


"Hm." Rama hanya berdehem menanggapi ucapan Jesi yang terlihat begitu semangat.


Calon istrinya memang aneh, saat orang lain berlomba-lomba meminta mas kawin yang wow dan mahal, dia justru hanya meminta benda yang menjadi merchandise salah satu boyband. Yang bisa Rama tebak harganya tak akan semahal perhiasan yang ia tawarkan tadi.


Mungkin bagi sebagian orang terdengar konyol atau bahkan akan menganggap Jesi bodoh dengan pilihannya. Tapi kembali lagi setiap orang memiliki kesenangan masing-masing.


Kadang ada sesuatu yang menurut kita receh dan tak berharga bisa menjadi sesuatu yang sangat sangat berharga bagi orang lain. Sesuatu yang menurut kita biasa saja tapi begitu uwow dan spesial bagi orang lain.


Kita tak bisa memukul secara rata jika segala sesuatu yang mewah dan mahal akan selalu bisa menyenangkan semua orang, meskipun sebagian orang suka akan hal itu. Bahkan sudah bukan rahasia lagi jika banyak orang yang bahkan berlomba-lomba untuk terlihat paling kaya dengan berpenampilan menarik, memaksakan membeli sesuatu yang tak sesuai dengan kemampuannya hingga memaksakan diri untuk mengambil pinjaman yang pada akhirnya membuat hidupnya kian pusing.


Permintaan Jesi memang begitu aneh. Amazing, tapi tak ada yang salah dengan itu semua. Meskipun bukan barang mewah dan mahal tapi yang terpenting adalah inti dari mas kawin itu sendiri, sesuatu yang mutlak menjadi hak wanita supaya ia ikhlas menjadikan dirinya milik suami di masa depan. Hanya terdengar asing saja karena bahkan selama hidupnya dua puluh delapan tahun baru kali ini mendapati mas kawin yang aneh, dan sialnya dia mengalaminya sendiri.


"Ramadhan kalo mau siap-siap bisa gunakan kamar tamu di sebelah sana." Sari menunjuk salah satu kamar tamu di rumahnya.


"Baju kakak juga udah aku taruh di sana." Sambung Alya.


Rama beranjak meninggalkan ruang tamu. Begitu pun Sari dan Yeni yang ikut beranjak untuk membantu asisten rumah tangga menyiapkan kudapan untuk mereka semua.


"Milih mas kawinnya jangan kelamaan. Inget Neng Jesi harus siap-siap. Belum mandi, belum dandan juga." Ucap Sari sebelum pergi.


"Siap, bu." Jawab Jesi yang sibuk dengan ponselnya.


Sudah sepuluh menit berlalu Jesi melihat aneka lightstick tapi belum ada satu pun yang masuk keranjang belanja. Alya saja sampai bingung sebenarnya yang seperti apa yang dicari Jesi, dari tadi scroll scroll belum dapat juga.


"Masih lama, Jes?"


"Ini aku lagi milih dulu." Jawabnya tanpa melihat Alya.


"Udah makin sore, Jes. Cepetan!"


"Kirim kode bayarnya ke kakak." Ucap Alya.


"Iya udah."


Lepas sholat magrib Jesi berada di kamar bersama Alya, calon adik iparnya itu sedang menyuapi calon dirinya yang saat ini masih tahap make up.


"Banyakin sambelnya, Al. Nggak pedes kurang nampol." Protesnya karena Alya hanya memberinya sedikit sambal.


"Ntar kamu sakit perut, Jes."


"Nggak lah, udah biasa. Btw ini mirip pecel ayam yang depan kantor Karam. Langganan aku." Ucap Jesi di sela-sela makannya.


"Emang, sekalian ambil tas sama HP kamu. Tadi kakak chat aku suruh beli, katanya kamu suka."


"Suka banget. Tumben Karam perhatian."


"Kakak itu aslinya baik sama perhatian banget, Jes." Ucap Alya.


"Baik sama perhatian dari mana? Kerjaannya aja marah-marah mulu. Galak." Bantah Jesi.


"Kamu ngomong kayak gitu karena belum kenal kakak yang sebenarnya aja, Jes. Dulu juga aku ngerasa Kak Ramadhan itu galak sama aku, tapi nyatanya dia sayang banget sama aku dan ibu. Kak Ramadhan itu bukan galak, cuma tegas aja. Aslinya penyayang banget, tapi ya kitu cara dia nunjukin perhatian sama rasa sayangnya itu beda, Jes." Tutur Alya.


"Nanti lama-lama juga kamu bisa ngerasain deh." Lanjutnya.


"Gitu yah?"


"Yups." Balas Alya.


"Suapan terakhir yah, make up nya udah mau selesai. Makannya nanti lagi abis akad. Sekalian ajakin kakak, dia pasti belum makan." Imbuhnya.


"Blush on nya jangan tebel-tebel, mba. Aku mau yang natural aja. No make up look gitu mba, kayak artis-artis Korea." Ucap Jesi.


"Itu juga natural banget, Jes. Kamu cantik, pangling banget. Kakak pasti suka nih. Aku fotoin yah."


Jesi memperbaiki posisi duduknya. Gaya andalan ala kpopers dengan jari membentuk love sudah siap di barengi dengan senyum manisnya.


"Cis kacang buncis" ucap Alya memberi aba-aba sebelum mengambil gambar.


"Bagus nggak?" Jesi melihat hasil jepretan Alya.


"Bagus. Kakak ipar aku cantik banget. Aku kirim ke kakak yah."


Tak lama setelah itu pintu kamarnya diketuk, Sari dan Yeni datang bersamaan untuk membawanya ke bawah karena acara akad nikah akan segera dilaksanakan.


Diapit oleh ibu dan calon mertuanya, Jesi menuruni tangga perlahan. Di belakangnya ada Alya yang setia memegangi ekor gaun yang ia kenakan. Melihat beberapa orang di bawah sana yang menatap intens ke arahnya membuat Jesi merasa gugup. Terlebih lagi saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan sorot mata Rama membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Bagaimana tidak demikian, penampilan calon suaminya malam ini benar-benar berbeda. Rama dengan stelan jas kerja formal sudah biasa ia lihat, bahkan setiap hari. Tapi malam ini, dengan balutan jas serba putih itu membuat Rama kian mirip dengan Kim Taehyung dalam vidio clip black swan.


"Oh jantung... Please kondisikan, kenapa kamu begitu lemah kalo liat orang cakep." Batin Jesi.


Tatapan Rama tak teralihkan barang sedetik pun hingga Jesi duduk di sampingnya. Dia terus memandang kagum pada Jesi yang begitu anggun dengan kebaya putih modern. Wajah imutnya seperti biasa terlihat manis dan cantik. Siger sunda yang menghiasi keningnya menambah berkali-kali lipat kecantikan calon istrinya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Jesika Mulia Rahayu binti Burhan Gunawan dengan mas kawin lightstick BTS Army bomb special edition dibayar tunai." Dengan satu tarikan nafas Rama mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Meskipun sebelumnya dia harus menghapalkan nama mas kawinnya yang sedikit belibet.


"Bagaimana saksi sah?" Tanya penghulu.


"Nggak sah!" Jawab Jesi sambil mengacungkan tangannya hingga pak RT yang hendak menjawab sah jadi terdiam. Semua orang yang ada di sana jadi memandang Jesi, begitu pun dengan Rama. Jika di sinetron orang yang berucap tak sah saat ijab kabul berlangsung adalah istri sah yang ditinggal poligami atau mantan yang belum move on tapi kali ini beda, yang berucap justru mempelai perempuan.


"Kenapa nggak sah?" Tanya Rama.


"Karam kan tadi bayar mas kawinnya via transfer bukan COD. Jadi nggak tunai."