Possessive Leader

Possessive Leader
Semua baik-baik saja



Perjalanan yang hanya beberapa kilometer tapi terasa sangat lama bagi Rama. Ia berulang kali menjambak rambutnya sendiri, berusaha menenangkan diri dan yakin jika istrinya baik-baik saja.


"Arrgh kesana doang makan waktu seabad! Buruan, Ka! Ngebut dikit kan bisa!" Entah sudah kali berapa Raka yang duduk di sampingnya mendapat semprotan emosi Rama yang meluap-luap. Raka tak menanggapi, dia hanya menggelengkan kepala dan terus mengemudi.


Tiba di depan apartemen, tanpa menunggu Raka yang sedang memarkirkan mobil Rama langsung masuk dan menunggu pintu lift terbuka.


"Sabar, Wan." Ucap Raka dengan nafas terengah. Dia beberapa kali menepuk bahu sahabatnya supaya lebih tenang.


Begitu lift terbuka keduanya langsung masuk dan menekan angka enam. Dari lobi hingga lantai enam laju lift terasa begitu lambat padahal tak satu kali pun lift itu berhenti di lantai lain.


Tiba di lantai enam, Rama menyusuri unit dan mencari nomor dua puluh. Dia langsung menekan pin yang telah diberitahukan Raya. Entah karena emosi atau apa tapi berulang kali pin yang ia masukan salah.


"Udah gue aja, lo minggir. Salah mulu." Raka menggeser Rama dan mencoba memasukan pin. Benar saja, hanya dalam satu kali coba pintu itu berhasil terbuka. Dia kembali menghela nafas panjang saat Rama tanpa aba-aba langsung nyelonong masuk.


"Bener-bener udah kayak orang kesetanan." Batinnya.


"Breng sek! berani lo nyentuh dia!!"


Mendengar suara keras Rama dari dalam sana membuat Raka segera menyusul masuk. Dilihatnya Rama yang sedang memukul seseorang tanpa ampun. Sementara Jesi duduk di sofa dengan rambut yang acak kadul sambil memeluk bantal sofa menutupi tubuhnya.


"Si a lan!! mampus lo!!"


"Karam..." panggil Jesi lirih tapi suaminya itu tak bergeming dan terus membabi buta memukul Zidan.


"Wan, stop! bisa mati woy anak orang." Raka berusaha memisahkan keduanya.


"Biarin biar mam pus. Orang kayak dia nggak guna di dunia ini."


"Lo mau mukulin itu bocah sampe mam pus terus lo masuk penjara gitu? Inget Jesi sama calon anak lo, Wan!" ucap Raka yang akhirnya berhasil memisahkan keduanya.


"Pinjem jas lo. buka!" Rama menarik jas yang di kenakan Raka dan memakaikannya pada Jesi.


"Kakak di sini." ucapnya seraya mengecup sayang puncak kepala Jesi kemudian memeluk erat.


Zidan yang masih terduduk lemah di lantai menyeka bibirnya yang berdarah dengan ibu jari. Matanya melihat jijik pada Jesi yang masih bersandar di pelukan lelaki yang baru saja menghajarnya habis-habisan.


"Gue kira lo polos, Jes. Ternyata gue salah, lo malah sampe hamil sama sugar daddy lo itu. Ck!!" Zidan berdecak mengejek.


"Kalian berdua pasti gue tuntut! udah masuk rumah orang tanpa izin dan bikin gue jadi kayak gini." lanjutnya seraya menatap Rama dan Raka bergantian.


"Bocah bau kencur kayak lo nggak usah banyak ba cot! Sebelum lo nuntut kita, lo yang bakal duluan mendekam di penjara!" ucap Rama.


"Kita lihat saja siapa yang bakal mendekam duluan di penjara. Gue bakal kasih double tuntutan buat kalian." Ancamnya seolah tak takut sama sekali.


"Udah nerobos tanpa izin ditambah main gila sama cewek gue!" Sambungnya yang masih keukeuh menganggap Jesi miliknya.


"Wah gila ini bocah, Wan!" Sela Raka.


Ck!! Rama melirik Zidan sambil berdecak kesal.


"Cewek lo? Sejak kapan istri gue jadi cewek lo hah?" Sentaknya.


"Istri?" Ucap Zidan lirih. Matanya menyiratkan ketidakpercayaan yang mendalam hingga sedetik kemudian dia justru tertawa terbahak sambil menatap sinis.


"Gila yah sugar daddy sekarang udah ada peningkatan sampe ngaku-ngaku jadi suaminya segala. Haha!"


Zidan beranjak berdiri dan bersandar di dinding, matanya masih terus menatap pada Jesi. Mantannya itu balas menatapnya sekilas dan kembali ke pelukan lelaki yang mengaku sebagai suaminya.


"Ayo kita pulang, sayang." Rama memastikan jas yang dikenakan Jesi benar-benar sudah menutupi tubuhnya. Tak lupa ia merapikan rambut Jesi dengan jarinya kemudian merangkul gadis itu keluar dari apartemen Zidan.


"Dan satu lagi kalo sampe anak gue kenapa-kenapa, gue pastiin lo juga bakal mendekam di penjara selamanya!"


"Gue nggak takut!" Balas Zidan dengan tegas. Dia menatap dia pria tinggi itu membawa Jesi pergi dari apartemennya.


"Istri yah?" Gumamnya yang kemudian terduduk lemah.


Di dalam lift Rama berulang kali mengecup puncak kepala Jesi. Istrinya itu hanya memeluknya tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir mungil yang biasanya tak henti bicara.


"Jas Jus kesayangan kakak kenapa diem terus hm?" Tanya Rama pelan.


"Kakak udah di sini, nggak apa-apa. Semuanya baik-baik aja, sayang." Namun perempuan yang tingginya hanya sebahunya itu masih tetap diam dan hanya mengeratkan pelukannya.


"Semuanya baik-baik aja, sayang. Jangan pasang wajah sedih kayak gitu. Maafin kakak karena belum bisa jaga kamu dengan baik. Maaf karena udah bikin wajah cantik ini basah lagi." Rama menatap wajah basah itu dan menghapus air mata yang sejak tadi tidak berhenti.


"Jangan nangis hm... Kasihan dede bayi kita nanti ikutan sedih." Tangan kanan Rama mengelus perut Jesi. Tanpa sadar ia ikut menangis dan kembali membawa istrinya ke dalam pelukan.


Raka yang berdiri di depan mereka menengok sebentar, batinnya ikut sedih melihat si aqua gelas yang biasanya cerewet dan selalu membuatnya kesal plus repot hanya diam membisu tak berdaya. Ditambah lagi melihat sahabatnya ikut menangis membuatnya semakin terenyuh. Tak kuat melihat keduanya, Raka memilih kembali menghadap ke depan dan hanya sesekali melirik Rama yang masih mencoba menenangkan Jesi.


"Aku takut, Karam." Ucap Jesi sambil terisak.


"Aku nggak bisa bayangin kalo Karam nggak datang tadi." Lanjutnya yang kian mempererat pelukannya.


"Semuanya baik-baik aja, sayang. Kakak di sini, udah jangan nangis lagi yah." Rama mengecup puncak kepala Jesi dan melepas pelukannya.


"Mana senyumnya coba kakak mau lihat?" Rama mencubit gemas kedua pipi Jesi.


Diminta untuk tersenyum, Jesi justru cemberut.


"Karam, nunduk dikit." Pintanya yang langsung dituruti oleh Rama. Lelaki itu menunduk menyamakan tingginya dengan Jesi.


"Karam nyuruh aku senyum, tapi wajah Karam aja nangis."


"Kakak takut kamu kenapa-kenapa." Balas Rama.


"Sama calon anak kita juga." Sambungnya dengan tatapan sendu.


Jesi menghapus air mata Rama dengan kedua ibu jarinya.


"Makasih karena udah datang tepat waktu." Ucapnya kemudian mengecup bibir Rama kilas yang justru dibalas ciuman dalam oleh Rama.


Raka yang sejak tadi berdiri di depan mereka seolah terlupakan hingga akhirnya setelah beberapa kali batuk ala-ala sindiran yang di keluarkan lelaki jangkung itu membuat keduanya berhenti.


"Sorry." Ucap Rama lirih.


"Lain kali kalo mau aksi sosor menyosor liat sikon dong. Kan ngenes, gue cuma bisa lihat doang tapi kagak bisa praktek." Cibirnya.


.


.


.


Tenang Aa Raka, kalo mau praktek sama aku aja kuy lah gasskeun😛😛


Jangan lupa like, komen n favoritkan.