
"Jas Jus bangun, ayo kita sarapan!" Rama menangkup kedua pipi Jesi tapi istrinya itu tak berkutik masih lelap di alam mimpi.
Setelah shalat subuh tadi Jesi memilih tidur kembali karena kantuk yang tak tertahan. Bagaimana tidak, malam tadi ia baru terlelap sekitar jam dua akibat modus one again baby yang ternyata sesuai dugaannya tak cukup hanya sekali.
cup... cup.... cup... dikecupinya wajah yang masih terlelap itu.
"Bangun! Udah jam tujuh Jas Jus. Tadi mama udah kesini ngajak sarapan bareng." ucap Rama seraya menjewel kedua pipi Jesi.
Hoamz...
Jesi menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Jam berapa? Aku masih ngantuk, Karam"
"Jam tujuh. Ayo bangun, cuci muka terus sarapan." Rama menarik Jesi supaya bangun. Istrinya itu dengan mata yang masih setengah tertutup terpaksa beranjak duduk dan malah ambruk di bahu Rama.
"Aku masih ngantuk. Lima menit lagi aja yah, Karam." Kata Jesi lirih.
"Cuci muka dulu ntar juga ngantuknya ilang. Nanti bisa tidur lagi kalo perjalanan pulang, kayak pas berangkat kemarin juga kan kamu tidur terus."
"Ini tuh gara-gara, Karam! Aku jadi kurang tidur mulu nih!" Gerutunya kemudian beranjak meninggalkan Rama ke kamar mandi.
"Besok-besok mainnya di jadwal lah. Nggak kira-kira Karam tuh gas pol terus. Liat nih mata aku jadi ada lingkar itemnya, kurang tidur." Setelah keluar dari kamar Jesi masih terus menggerutu pada Rama yang memandanginya dari belakang, pria tampan itu terlihat sabar seperti biasanya, mendengarkan ocehan sang istri yang sudah seperti lagu wajib Indonesia Raya yang selalu dinyanyikan saat upacara bendera.
"Malah ngeliatin doang ih!" Cibir Jesi seraya menatap kesal pantulan Rama di dalam cermin. Dia terus menyisir rambut panjangnya sambil menggerutu.
"Ya udah besok-besok mainnya sehari sekali. Malem doang sebelum bobo yah." Ujar Rama.
"Sehari sekali tapi once again baby nya berulang kali."
"Tuh kan malah diem!"
Rama bangkit dari duduknya dan memeluk Jesi dari belakang, "terus kamu maunya gimana? Kalo kakak jawab omongan kamu tuh nggak ada abisnya."
"Oh jadi Karam nggak suka denger aku ngomong gitu?" Kesal Jesi, tak tau kenapa pagi ini rasanya ia ingin terus berdebat.
"Oke fix mulai sekarang aku diem!" Imbuhnya.
"Bukan gitu, Jas Jus!" Rama mengambil alih sisir dari tangan Jesi dan mulai menyisir rambut hitam panjang itu.
"Kamu ngoceh-ngoceh tiap hari juga kakak dengerin, udah ngalahin penyiar radio deh cuap-cuap nya non stop kamu tuh. Jadi gemes... Burung beo kalah deh sama kamu kalo ngoceh." Ucap Rama kemudian menahan tawanya.
"Oh jadi selama ini Karam nyamain aku sama burung beo gitu? Keterlaluan. Jahat!" Bibir mungil Jesi langsung mengerucut cemberut. Matanya masih terus menatap kesal Rama dari cermin di hadapannya. Dia bahkan jelas-jelas mendengus kesal saat matanya tak sengaja bersitatap dengan Rama.
"Jangan cemberut gitu, kakak malah jadi pengen cium itu bibir kalo di manyun-manyunin." Ledek Rama.
"Udah cemberutnya, ntar cepet keriput loh." Imbuhnya lagi seraya mencubit gemas pipi Jesi.
"Tau lah sebel!" Ketus Jesi.
"Bisa-bisanya istri disamain sama hewan. Pokoknya aku ngambek!" Jesi beranjak meninggalkan Rama yang masih terdiam sambil memegangi sisir begitu saja. Dia bahkan menutup pintu dengan keras dan kasar.
Rama yang masih mematung hanya geleng-geleng kepala dan menghembuskan nafasnya pelan, tak habis pikir dengan sikap Jesi pagi ini. Dikit-dikit ngambek, padahal biasanya istrinya itu hanya akan terus membalas kata-katanya tanpa henti bukan malah marah-marah tak jelas seperti ini.
Rama segera menyusul Jesi, keduanya sarapan dalam diam. Jesi benar-benar mengabaikannya, sebanyak apa pun dia mengajak bicara jawabannya sangat irit.
"Mau minum air putih, infus water atau teh? Biar kakak ambilin sekalian." Tawar Rama.
"Hm."
"Hm apa?" Rama jadi bingung sendiri.
"Infus water lemon aja yah?" Tebaknya kemudian. Rama mulai hafal Jesi pasti ingin susu vanila hangat, tapi saat ini tidak ada.
"Hm"
"Kalo nggak mau ngambilin nggak usah tawar-tawar, aku bisa sendiri kok!" Jesi beranjak meninggalkan kursinya dan menghampiri jajaran minuman di meja depan.
"Astaga... pagi ini Jas Jus nya asem banget dah. Ngeselin!" Gumam Rama.
"Perasaan tadi abis shalat subuh masih baik-baik aja deh, ngapa ini bocah sekarang jadi sensi banget dah. Marah-marah mulu, ampun deh!" Batinnya sambil terus memandangi Jesi yang sedang mengambil minuman.
Sampai saat siang tiba dan mereka berpamitan untuk kembali ke Bandung pun Jesi masih terus marah-marah tak jelas, semua yang dilakukan Rama selalu salah di matanya hingga Rama memilih diam dan lagi-lagi tetap salah juga.
"Jadi sekarang Karam ngediemin aku?" Ucap Jesi begitu mereka check out dari hotel.
"Nggak."
"Tapi itu diem mulu. Dari tadi nggak ngomong."
"Kakak diem salah, ngomong salah. Sebenernya kamu itu kenapa? Ngomong! Jangan marah-marah terus nggak jelas."
"Kok Karam ngegas sih ngomongnya?" Ucap Jesi, mode cemberut sudah on lagi.
Hari ini sudah tak terhitung berapa kali Rama menghela nafas panjang dan membuangnya dengan perlahan demi menjaga kesabarannya menghadapi Jesi.
"Iya maaf kakak yang salah." Salah nggak salah yang penting minta maaf aja lah dari pada ruwet pikir Rama, hari ini jas jus kesayangannya benar-benar tak ada segar-segarnya sama sekali, Asem abis!
"Masuk." Rama sudah membukakan pintu mobil dan segera menutupnya begitu Jesi masuk.
Belum lama melajukan mobilnya Rama sudah menepikannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Rama saat melihat Jesi memegangi perutnya, dia terlihat menahan sakit. Keringat mulai bercucuran membasahi kening yang tertutup poni rata.
"Sakit perut?" Sambungnya, tak ada jawaban yang terucap, Jesi hanya mengangguk dan meringis menahan sakit.
"Rest area di depan kita istirahat dulu." Ucap Rama setelah mengelus kepala Jesi dan kembali memacu mobilnya.
"Aku ke toilet dulu." Baru membuka pintu dan beranjak dari duduknya Rama sudah menarik tangannya.
"Tunggu Jas Jus! Rok kamu ada noda merahnya." Ucap Rama.
"Pantesan perut aku sakit banget dari tadi." Ucap Jesi lirih.
"Udah jadwalnya ternyata." Jesi melihat bagian belakang rok nya, tamu bulanannya benar-benar datang.
"Huh pantesan seharian morang maring mulu. Ini yang namanya PMS kali yah?" Batin Rama.
Dia jadi mendadak ingat cerita salah satu teman kuliahnya yang di paksa pacarnya untuk membeli pembalut, malunya bukan main.
"Karam mau beliin pembalut ke indoapril itu kan? Aku pakenya yang ada sayapnya. Sekalian beli Kiranti nya juga yah." Ucapnya penuh harap.
"Hah apa?" Niat Rama hanya akan memberikan jaket yang ia gunakan untuk menutup rok Jesi yang terkena noda darah kemudian mengambil baju lain untuk ganti tapi istrinya malah menyuruhnya membeli benda aneh itu.
"Pembalut sama Kiranti, Karam. Cepetan ih!"
"Iya iya." Terpaksa di iyain aja dari pada ngambek lagi, ia tak pernah menyangka akan mengalami hal ini. Mungkinkah ini azab karena dulu menertawakan teman yang disuruh beli pembalut oleh pacarnya?
.
.
.
Jangan iya-iya doang Karam, inget yah yang ada sayapnya!!! wkwkwkkwk
Jangan lupa tampol jempol, lope sama komentarnya!