Possessive Leader

Possessive Leader
Ember banget sih!



Rama menengok ke samping saat tak ada lagi suara berisik yang sedari tadi tak berhenti bicara, dia tersenyum menatap sekilas wajah Jesi yang terlelap. Seperti biasa bibir mungilnya sedikit terbuka saat tidur. Diusapnya dengan lembut puncak kepala Jesi.


“Pantesan diem-diem bae ternyata bobo si Jas Jus.”


Rama menepikan mobilnya, mengatur kursi yang diduduki Jesi supaya dia bisa tidur dengan nyaman kemudian kembali melajukannya dengan kecepatan tinggi karena jalanan yang cukup sepi.


Setelah lima jam berlalu akhirnya mereka tiba di salah satu rumah sakit yang cukup terkenal di Provinsi Jawa Tengah, bahkan banyak pasien-pasien luar daerah yang berobat di sana.


Bukan hanya karena kemampuan dokter yang mumpuni dan fasilitas lengkapnya, namun juga karena pelayanan prima dan tempat yang nyaman. Sarana ibadah yang lengkap serta keramahan para perawat dan dokter hingga staf lainnya memberi nilai plus tersendiri untuk rumah sakit ini.


Rama belum keluar dari dalam mobilnya, ia menunggu Jesi bangun. Tak tega membangunkan perempuan yang baru terlelap tiga jam yang lalu. Sebenarnya terhitung cukup lama jika dibandingkan dengan tidur siang namun Rama cukup sadar diri jika semalaman istrinya itu kurang tidur akibat ulahnya. Ditambah lagi dengan serangan subuh tadi, pasti Jesi sangat lelah.


Ditatapnya lekat-lekat wajah damai Jesi, menyusuri wajah oval itu dengan jarinya perlahan. Kening yang tertutup poni rata, bulu mata lentik tanpa maskara, hidung mancungnya serta bibir mungil yang tak kenal lelah berbicara disentuhnya perlahan hingga tanpa sengaja membuat pemiliknya terbangun.


Jesi menutup mulutnya yang menguap Ketika bangun dengan kedua telapak tangan, diamatinya lingkungan sekitar.


“Udah sampe?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


“Kok nggak dibangunin sih?” sambungnya kemudian, tangannya reflek merapikan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Mau dibangunin tapi nggak tega, jadi kakak tungguin sampe kamu bangun aja.”


“Ih padahal mah bangunin aja, Karam. Aku kan udah pengen ketemu enin. Udah dari tadi nyampenya?”


“Baru tiga puluh menitan lah.” Jawab Rama.


“Ayo turun.” Imbuhnya.


Keduanya menyusuri Lorong rumah sakit menuju kamar tempat nenek Jesi di rawat.


“Eh!” Rama menahan Jesi yang hendak membuka pintu kamar.


“Apaan sih, Karam?” kesal Jesi karena sudah buru-buru ingin masuk dan berteriak memberi kejutan justru di tahan oleh suaminya.


“Jangan main slonong aja, kebiasaan. Salam dulu!”


“Iya-iya.” Jawab Jesi.


“Assalamu’alaikum…” Ucapnya seraya membuka pintu.


“Enin, neng Jesi datang.” Teriaknya kemudian yang langsung menghampiri neneknya, melewati ayah, ibu dan adik iparnya yang duduk di sofa tamu.


Rama hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Jesi, bahkan dengan kaki yang berjalan sedikit diseret saja dia masih bisa berlari menghampiri neneknya, sepertinya istrinya itu benar-benar merindukan sang nenek.


Rama menghampiri kedua mertuanya, menyalami mereka kemudian meletakan makanan yang ia bawa di meja.


“Aku tidak tau ayah sama ibu sukanya makan apa, jadi aku belikan menu yang sama dengan Alya dan mama.”


“Oh iya mama kemana, Al?” tanya Rama yang tak mendapati mamanya ruangan itu.


“Mama lagi shalat ashar dulu di masjid bawah kak.” Jawab Alya.


“Nak Darmawan tidak perlu repot-repot, kamu sudah meluangkan waktu datang kemari saja ibu sudah sangat senang.” Ucap Sari.


“Tidak repot sama sekali, bu. Ibu dan ayah kan orang tua ku juga.”


“Oh iya bagaimana kondisi enin?” tanya Rama.


Sari melihat ke arah ibunya sebentar kemudian kembali menatap menantunya, “alhamdulilah sudah banyak kemajuan. Kata dokter kalo kondisinya tidak drop lagi enin sudah bisa dibawa pulang sekitar dua atau tiga hari lagi. Kita pantau dulu sementara ini.”


“Sementara ibu di sini, ibu titip Neng Jesi yah.”


“Bu, Neng Jesi itu udah jadi istrinya Ramadhan. Ibu tidak perlu terus-terusan menitipkan dia. Tanpa diminta pun Ramadhan pasti menjaga Neng Jesi dengan baik. Iya kan Ramadhan?” sela Burhan.


“Tentu saja ayah. Jesi itu istriku, tanggung jawabku. Ayah dan ibu jangan khawatir, aku akan berusaha menjaga dan membahagiakan Jesi seperti yang ayah dan ibu lakukan selama ini.”


“Tuh dengerin bu.” Ucap Burhan.


“Ibu… ibu tenang aja aku sudah terbiasa. Jesi itu…” belum selesai Rama berbicara istrinya sudah menghampirinya.


“Hayo lagi ngomongin aku yah?” tebak Jesi yang langsung duduk nyempil diantara ayah dan ibunya. Meskipun slengean tapi dia tetap menyalami kedua orang tuanya dengan sopan.


“Jesi kangen banget sama ibu…” ucapnya seraya memeluk Sari.


“Sama, ibu juga kangen sama neng Jesi. Kamu nggak nakal kan? Nurut sama suami?”


“Tentu saja, bu. Sejak kapan Jesi nakal coba? Yang ada Karam tuh yang nakal.” Ujar Jesi seraya menatap Rama.


Rama buru-buru mengalihkan focus pembicaraan Jesi, jika dibiarkan istrinya pasti akan membahas rahasia ranjang mereka lagi.


“Jas Jus, kamu nggak mau ngenalin kakak ke enin?”


“Eh iya hampir lupa. Aku kan nyamperin kesini mau ngajak Karam buat liat enin. Soalnya tadi enin nanyain, eh aku malah nimbrung ikut ngobrol di sini.” Jesi menepuk keningnya sendiri pelan, ia segera beranjak dan mengajak Rama menghampiri enin nya.


“Enin… liat nih suami aku. Cakep kan?” ucapnya memperkenalkan suaminya. Jesi memang lain dari pada yang lain, di saat orang lain memperkenalkan pasangannya dengan menyebutkan nama, dia justru membanggakan wajah tampan suaminya.


“Suaminya Jesi, nin. Ramadhan.” Ucap Rama yang kemudian menyalami nenek Jesi.


“Cakep kan, nin?” Jesi belum puas jika ucapannya belum ditanggapi.


“Iya- iya suami cucu enin ganteng.” Jawab enin.


Banyak hal yang Jesi ceritakan pada neneknya dari mulai pengalamannya yang pernah salah naik angkot, makan jajanan pinggir jalan hingga derita anak kost pun tak terkecuali. Neneknya berulang kali tersenyum menanggapi Jesi.


“Kamu yang sabar yah. Cucu enin yang satu ini memang cerewet sekali. Dari kecil doyan ngomong anaknya. Liat tuh, apa pun di ceritakan.” Ucap nenek pada Rama.


“Neng Jesi terlihat cantik kalo sedang heboh bercerita bukan?” imbuhnya.


Rama mengangguk mengiyakan, dia benar-benar sudah tak aneh pada mahluk jelmaan beo yang masih ngoceh itu. Hidupnya benar-benar rame, sepertinya tak ada rahasia yang bisa ia simpan. Urusan ranjang aja di umbar batin Rama. Tapi tak bisa dipungkiri istrinya memang terlihat paling cantik saat sedang nyerocos tanpa henti.


“Enin ih kok malah ngobrol sama Karam sih? Nggak ngedengerin aku.” Jesi cemberut merasa diabaikan.


“Di dengerin kok sayang. Udahan dulu yah ceritanya supaya enin istirahat. Besok di sambung lagi.” Bujuk Rama.


“Ya udah deh, enin istirahat yah supaya cepet sehat lagi.” Jesi memeluk sayang neneknya, merapikan selimut nenek kemudian kembali bergabung dengan yang lainnya.


Sementara suami dan ayahnya terlihat serius membahas urusan bisnis, Jesi menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan Alya hingga malam menjelang.


“kalian lagi bahas apa sih? Keliatannya seru banget?” tanya Rama yang baru saja menghampiri keduanya.


“Ini loh Karam… Si Alya lagi suka sama emm“ Suara Jesi tak lagi terdengar karena dibungkam tangan Alya.


“Sama karyawan di kantor, Karam.” lanjutnya saat Alya melepaskan tangannya.


“Jesi ih!”


“Kenapa, Al?” wajah adik iparnya itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat setelah melihat tatapan tajam sang kakak.


“Kok malah bilang ke kakak sih!” bisik Alya.


“Lah lo nggak bilang kalo gue nggak boleh bilang siapa-siapa. Jadi gue kira bebas dong.”


“Ih Jesi mah! Ember banget sih!” Gerutu Alya.


“Harusnya lo bilang dong ‘jangan bilang siapa-siapa yah’ udah pasti gue jamin rahasia aman.” Balas Jesi, ia tak terima disalahkan.


“Malah bisik-bisik kalian!” ucap Rama.


“Alya, kasih tau kakak. Siapa orang yang kamu suka? kakak nggak mau kamu sampe salah gaul!”


“Nggak kok, kak. Aku nggak suka sama siapa-siapa. Orang tadi aku sama Jesi lagi bahas pecel ayam kesukaan Jesi yang di depan kantor kakak loh. yang waktu itu kakak nyuruh aku beli sekalian ngambil HP sama tas Jesi. Ternyata enak juga, aku jadi pengen makan di sana kapan-kapan.”