Possessive Leader

Possessive Leader
Tentang Alya



Tiba di hotel, Rama segera memesan kamar kemudian meminta Jesi masuk ke dalam kamar lebih dulu sementara ia kembali ke parkiran rumah sakit untuk mengambil pakaian mereka di bagasi.


"Lagian bisa-bisanya sih Karam lupa sama tas kita." Ucap Jesi begitu menerima kunci.


"Gara-gara kamu tadi sibuk ngebahas adegan drama. Udah masuk aja duluan terus mandi, kakak cuma bentar kok."


Jesi menurut, saat membukakan pintu untuk Rama dia sudah selesai mandi.


"Cepet banget. Udah mandi apa cuci muka doang?" Ucap Rama begitu masuk.


"Mandi lah. Ini rambut aku masih basah juga." Jesi menunjukan rambutnya yang dililit handuk kecil.


Setelah mandi Rama bergabung bersama Jesi di ranjang, istrinya itu tengah asik memainkan ponselnya.


"Bobo udah malem." Rama mengambil ponsel Jesi dan meletakkannya di samping bantal.


"Karam mah gitu ih. Aku lagi chat sama Alya. Penting tau." Protes Jesi, dia sedang asik-asiknya membahasa lelaki yang tak sengaja di temui Alya saat membeli pecel ayam untuk dirinya sebelum akad dulu.


"Sama Alya nggak usah chat. Setiap hari juga ketemu." Rama mendekap erat Jesi, mengecupi puncak kepala istrinya berulang kali.


"Tapi kan..."


"Nggak ada tapi-tapian. Bobo!" Tegas Rama.


"Bobo bobo tapi ini tangan Karam nakal masuk ke baju aku." Jesi menepuk pelan tangan Rama di balik selimut.


"Kan harus ne nen dulu sebelum bobo." Ucapnya yang kemudian memberi pelayanan prima hingga suara de sa han Jas Jus kesayangannya menggema.


"Tuh kan Karam mah abis ne nen bukannya bobo malah makin melek. Bikin aku cape aja." Jesi menaikan selimutnya hingga ke leher untuk menutupi tubuh polosnya.


"Kan biar nyenyak tidurnya kalo udah di bikin cape. Cape-cape juga enak kan? Mau coba gantian kamu yang diatas." Rama kembali merapatkan tubuhnya, satu kali baginya tak cukup. Tubuh Jesi terlalu manis dan seolah meminta untuk lagi dan lagi menjamahnya.


"Cape, Karam. Besok pagi aja yah?"


"Oke di catat. Besok pagi yah abis subuh." balas Rama.


"Karam..." Panggil Jesi lirih.


"Hm apa sayang?"


"Karam kenapa sih galak banget sama Alya. Padahal biarin aja kalo Alya suka sama orang. Wajar kan, dia udah dewasa. Kan kasihan tadi Alya keliatan banget takutnya sama Karam." Jesi mengingat wajah adik ipar sekaligus sahabatnya yang mendadak pucat saat ketahuan membahas orang yang ia sukai tadi.


"Lagian kan Alya juga belum tau dia itu siapa. Namanya juga dia nggak tau."


"Karena Alya adik kakak, sayang. Kakak lebih tau apa yang berbaik untuk Alya. Kakak tidak melarang dia dekat dengan siapa pun, silahkan. Asal jelas asal usulnya, kakak tidak mau Alya sampai salah pergaulan apalagi jatuh cinta pada orang yang salah."


"Papa sudah tidak ada, jadi kakak harus menjaga mama dan Alya dengan sebaik mungkin. Kamu mungkin belum tau kalo Alya pernah kena bully saat sekolah dulu. Dimanfaatkan oleh teman-temannya hingga akhirnya ia terpuruk. Nggak mudah mengubah Alya jadi seperti sekarang, sayang." Rama membelai rambut Jesi sambil menceritakan kisah kelam keluarganya.


"Emang Alya dulu kayak gimana, Karam? Bukannya dia udah solehah dari dulu?" Penasaran Jesi. Sahabat sekaligus adik iparnya memang pernah bercerita jika ia pernah berada di posisinya saat dikhianati oleh Raya, hingga akhirnya memilih merangkulnya dan bersahabat dengan baik, selalu ada saat duka menghampirinya. Tapi hanya sebatas itu, tak mendetail.


"Alya yang dulu nggak berhijab. Dia layaknya anak-anak Sekolah dasar pada umumnya senang bermain bersama. Sampe saat papa bangkrut dunianya berubah. Teman-temannya tak lagi ada di sisinya, mereka hanya menghina padahal masih anak kecil tapi sudah pandai menindas orang lain hingga Alya yang masih kecil terkena tekanan mental."


"Makanya kelak kalo kita punya anak harus di didik dengan baik supaya bisa jadi orang yang menghargai dan menghormati orang lain tanpa pandang siapa dan sekaya apa."


"Terus Alya diapain sampe bisa jadi kayak sekarang?"


"Kakak pindahin ke pesantren. Dia bahkan baru pulang ke rumah pas mulai masuk kuliah. Itu pun karena mama maksa, kalo tidak dipaksa dia masih betah tinggal di pesantren. Meskipun dulu awalnya penuh drama banget." ucap Rama.


Dia jadi teringat saat-saat awal memasukan Jesi ke pesantren, sedih campur aduk. Setiap kali dikunjungi Alya selalu menangis minta pulang. Mengeluhkan segala keterbatasan di pesantren. Dari mulai jam tidur yang diatur, makan, belajar hingga komunikasi dengan keluarga yang sangat minim. Jika ditanya tega? tentu saja tidak. Tapi semua demi kebaikan Alya, mamanya belum bisa menjaga Alya karena beliau juga terpuruk setelah perusahaan hampir bangkrut dan sang suami yang meninggal.


Jesi yang awalnya sudah ngantuk dan lelah setelah melayani Rama jadi kehilangan rasa kantuknya meski jarum jam sudah menunjuk angka satu. Dia dengan seksama mendengarkan cerita masa lalu sahabat sekaligus adik iparnya itu.


"Pantesan Alya tuh kalo ngomong bikin orang jadi adem, ternyata jebolan pesantren juga toh." Ucap Jesi.


"Emangnya Jas Jus kalo ngomong bikin kesel mulu." Ledek Rama.


"Ih kapan coba aku bikin kesel? Nggak pernah." Jesi tak terima.


"Mana ada orang yang bikin kesel nyadar. Kamu tuh bener-bener deh!" Rama menyubit gemas pipi Jesi hingga dia mengaduh penuh drama seperti biasa.


Cup... Cup..


"Udah nggak sakit lagi. Sembuh." Ucap Rama setelah mengecup kedua pipi Jesi.


"Bobo! Katanya tadi cape, ngantuk juga." Lanjutnya seraya mengusap punggung Jesi yang masih polos.


"Apa mau main sekali lagi?" Ajaknya begitu menemukan peluang. Tangannya sudah mulai kembali menyusuri lekuk tubuh Jesi.


"Ih Karam mah... Ujung-ujungnya kesitu terus!"


"Aku belum selesai nanyanya, masih kepo nih." Jesi menyingkirkan tangan nakal Rama yang mulai menjamah bukit kembarnya.


"Kalo misal orang yang disukai Alya itu beneran kerja di kantor Karam gimana? Karam bakal ngasih restu ke Alya nggak?"


"Tergantung!"


"Tergantung jabatannya gitu, Karam?"


"Bukan masalah jabatan, sayang. Kakak kan udah bilang tadi nggak masalah Alya mau dekat dengan siapa pun asal jelas asal usulnya, bukan perkara jabatan atau pun materi. Tapi perkara mampu tidaknya dia menjaga, membimbing dan membahagiakan Alya."


"Udah ah jangan bahas Alya terus. Once again baby, please..."


"Once again mulu, Karam! Ujung-ujungnya nggak cuma sekali nambahnya!"


"Alya beruntung yah, punya kakak kayak Karam. Aku jadi pengen punya kakak kayak Karam juga."


"Lah gue kakaknya Alya udah jadi suami lo Jas Jus." Gregetan akhirnya bahasa lo gue jadi keluar lagi.


"Dasar oleng, harus sering di enak-enak biar pinter lo tuh." Lanjut Rama.


"Aku nggak mau. Karam ngomongnya pake gue lo lagi." Jesi menjauh dan berbalik memunggungi Rama. Selimutnya ia naikan hingga menutupi kepala.


"Pokoknya kakak mau lagi. Kakak nggak nerima penolakan. Lagi pengen, yang jadi istri harap menurut!" Rama menarik selimut Jesi dan membuang benda itu jauh-jauh, kemudian mendekap Jesi dengan erat.


"Ih kok maksa!"


"Kayaknya kakak ketularan kamu deh jadi seneng maksa." Kata Rama.


"Kapan coba aku maksa? Nggak pernah!" Elak Jesi.


"Dulu yah nelpon minta izin Alya buat nginep siapa yah? Yang ngomongnya nyerocos tanpa spasi terus main ambil keputusan sendiri siapa yah?"


"Halo... kakaknya Alya yah... “


“ini gue temennya Alya... eh eh iya walaikumsalam...”


“Gini Kak.. Eh abang... ah apaan yah gue manggilnya... pokoknya gue cuma mau ngasih tau kalo malam ini Alya mau nginep di rumah gue. Udah gitu aja, harap maklum karena gue lagi patah hati abis kena tikung sahabat sendiri. Gue nggak nerima penolakan! Wassalamualaikum.”


Rama mengulang kata-kata Jesi saat menelponnya dulu. Entah mengapa ia bisa hapal tanpa terkecuali kalimat yang terucap dari perempuan yang jadi istrinya kini. Sepertinya gaya bicara nyerocos tanpa spasi Jesi yang khas membuat otaknya menyimpan baik-baik peristiwa hari itu.


"Aku nggak kayak gitu juga kali ngomongnya, Karam."


"Udah nggak usah protes. Kamu kalo udah nyerocos emang kaya gitu. Los dol nggak pake rem, kayak kereta. Pokoknya kakak mau sekali lagi!"


"Tapi besok subuh nggak yah?"


"Tergantung sikon!" Pungkas Rama kemudian kembali membawa Jesi menggapai kenikmatan yang mulai menjadi candu baginya.


.


.


.


biasakan tampol jempol, komen yang banyak dan favoritkan!!


komentarmu semangatku😘😘