
Raka membantu Dina dengan membopong Raya dan memasukannya ke kursi belakang. Matanya menatap heran pada Alya yang mendahuluinya masuk dan meminta dirinya untuk meletakan kepala Raya di pangkuannya.
"Kasihan, A. Aku yakin kakak sama A Raka bisa nemuin Jesi. Aku nemenin Mba Dina aja, kasihan cuma sendiri. Mana Raya nggak sadar, nggak ada supir juga." Bukan tidak khawatir pada Jesi dan lebih mengutamakan Raya yang notabenenya orang sudah jahat pada kakak iparnya. Tapi terlepas dari itu semua, Raya tetap bagian dari teman sekelasnya. Teman yang saat ini membutuhkan pertolongannya. Terlepas dari bagaimana sikap perlakuannya, kita sesama manusia tetap memiliki kewajiban untuk saling membantu. Begitulah kira-kira jalan pikiran Alya.
"Makasih." Ucap Dina seraya menengok sekilas ke belakang.
"Kamu hati-hati. Kalo ada apa-apa hubungi Aa." Ucap Raka.
"Calon istri gue, Din. Awas lo kalo macem-macem!" Lanjutnya pada Dina.
Alya menunduk malu, rona merah kembali muncul di pipinya. Disebut my baby saja sudah membuatnya melambung tinggi dan merasa paling disayang, kini sosok jangkung yang menatap sayang padanya malah mengakuinya sebagai calon istri. Definisi bahagia yang terlampau sangat.
"Aa pergi yah." Pamitnya.
"Iya, A. A Raka juga hati-hati yah. Kabarin aku kalo Jesi udah ketemu yah."
"Iya." Balas Raka seraya menutup pintu mobil Dina. Dia segera menghampiri mobil Rama.
"Gue aja yang bawa, Wan. Lo lagi emosi!" Raka membuka pintu dan meminta Rama untuk menyingkir dari balik kemudi.
Calon papi itu berdecak kesal namun tetap menurut dan beralih ke kursi di sampingnya. Mereka segera bergegas menuju apartemen Zidan.
"Cepet dikit, Ka!"
"Ini juga udah ngebut, sabar dikit. Lo liat sendiri kan lagi macet gini."
"Gue takut si Jas Jus kenapa-kenapa. Ini juga udah lewat makan siang." Rama melirik jam tangannya, sudah jam empat sore. Tiga jam berlalu tanpa kabar dari istrinya.
"Harusnya dia udah minum vitamin sama susu juga." Rama kembali menjambak rambutnya sendiri. Jas nya sudah dibuang entah kemana tadi, begitu pun dengan dasi yang kali ini dilepaskan dan kandas di kursi belakang. Dua kancing kemeja teratasnya dibuka begitu saja berharap bisa mengurangi sesak yang ia rasakan. Namun hasilnya nihil.
"Gue turun aja, Ka. Lama banget dah."
"Sabar, Wan! Gue tau lo lagi khawatir, tapi tenang dikit kan bisa." Raka jadi meninggikan suaranya, lama bersahabat dengan Rama baru kali ini ia melihat sahabatnya tak bisa mengontrol emosi.
Sementara itu di tempat lain Jesi yang terlelap mulai mengerjapkan matanya.
"Dimana?" Gumamnya begitu membuka mata. Ia bangkit dan bersandar di kepala ranjang sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
Diamatinya ruangan dengan nuansa abu-abu sama seperti kamar suaminya. Tapi ia tau betul ini bukan kamarnya. Ia ingat dengan jelas pertemuannya dengan Zidan di depan indoapril tadi.
Suara alas kaki yang beradu dengan lantai terdengar kian jelas mendekat membuat Jesi yang hendak memakai sepatunya hanya duduk diam di ujung ranjang.
"Kaka Zidan." Ucapnya lirih saat mendapati Zidan masuk dengan membawa nampan.
"Spaghetti kesukaan kamu." Zidan mendekat ke arahnya. Jesi kian menjauh dan menggeser posisi duduknya hingga mentok ke kepala ranjang.
"Kenapa? Kamu takut? Kakak nggak ngapa-ngapain. Cuma bikinin makanan kesukaan kamu aja. Bukannya dulu pengen banget kan dimasakin sama kakak? Nih cobain pasti suka." Tanpa beban Zidan menyodorkan sendok garpu yang sudah terlilit spaghetti.
"Nggak mau. Gue mau pulang!" Tepisnya segera, menjauh sendok garpu yang dipegang Zidan hingga teronggok di lantai.
"Sayang, jangan bikin kakak kasar sama kamu. Hm." Zidan kian mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Jesi.
"Jesi!" Sentaknya begitu Jesi kembali menepis tangannya dengan kasar.
"Kita udah nggak ada hubungan apa-apa, kak. Please jangan bikin gue ilfeel sama kakak. Udah cukup kita berakhir dan jalani semua seperti dulu. Anggap aja kita nggak saling kenal." Ucap Jesi.
Jujur saat ini ia sedikit takut melihat mantan kekasihnya itu. Dari mulai tatapan hingga cara bicara yang sangat jauh berbeda dari yang ia kenal. Dulu, Zidan tak pernah meninggikan suaranya.
"Gue mau pulang, Kak!" Ucap Jesi dan beranjak berdiri dari duduknya. Namun belum satau langkah pun ia berjalan, Zidan sudah menariknya dan menghempaskan ke ranjang. Kedua tangannya dicengkram dengan erat.
"Kak Zidan, Lepas!! Kakak nyakitin gue. Lepas!" Berulang kali Jesi mencoba berontak namun tenaganya tentu tak bisa melawan Zidan. Lelaki itu sama sekali tak bergeming dan hanya tersenyum smirk padanya.
Zidan menarik tangan Jesi keatas kepala dan memeganginya dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi mulai membelai wajah manis yang mulai ketakutan di bawah kekuasaannya.
"Ternyata lo kalo kayak lagi kayak gini cantik banget, Jes." Pujinya seraya menyibakkan poni yang menutupi keningnya.
"Baru sekarang gue bisa natap lo sedekat ini, Jes. Lo emang cuma punya gue, Jes." Dibelainya lembut pipi Jesi.
"Lepasin, kak. Lepas.... Gue mohon!" Ucap Jesi lirih.
"Kenapa sayang? Dari pada sama sugar daddy mending lo main sama gue hm..." Zidan kian mendekatkan bibirnya ke wajah Jesi namun calon mami itu segera meludahi wajah Zidan.
Cuihh!!!
"Lo!" Sentak Zidan.
"Lo jangan so jual mahal sama gue, Jes. Lo harusnya bersyukur gue mau nyamperin lo saat di luaran sana cewek-cewek bahkan antri buat tidur sama gue. Lo beruntung baby." Ucapnya dengan bangga.
"Lo bisa diem nggak hah!!" Lagi-lagi Zidan meninggikan suaranya, tak satupun ciuman yang ia lakukan mendarat dengan baik karena kepala Jesi yang terus bergerak menghindar.
"Lepasin!!"
"Nggak bakal gue lepasin sayang. Lo mau nangis sampe air mata lo abis juga nggak akan gue lepasin."
"Kak Zidan, Lepas!! Lepasin gue atau kakak nggak akan bisa hidup tenang!" Ancam Jesi.
Zidan justru tertawa mengejek.
"Lo nggak usah so ngancam, Jes. Kenapa gue mesti takut sama lo? Lo mau ngadu sama sugar daddy lo itu hm?"
"Lepasin gue, kak. Please..." Ucap Jesi dengan wajah yang sudah basah oleh air mata.
"Gue bakal lepasin lo, kalo lo nurut hm" tangan Zidan mulai kembali menyeka air mata di wajah Jesi.
"Gue bakal bikin lo nggak bisa jauh dari gue, Jes."
Cuihh!!! Sekali lagi Jesi meludahi wajah Zidan. Kali ini ia tak tinggal diam. Kakinya ia gunakan untuk menendang sosis Zidan hingga lelaki itu terdiam sambil memegangi aset penerus bangsanya.
"Sorry." Ucapnya kemudian segara beranjak dari ranjang.
"Jesi! Lo berani sama gue!" Teriak Zidan, tak lama ia ikut beranjak dan mengejar mantan kurang ajar yang berani menendang penerus bangsanya.
Berada di tempat yang baru pertama kali dikunjunginya tentu membuat Jesi kesulitan mencari jalan keluar. Apartemen Zidan lumayan luas.
Jesi sudah bernafas sedikit lega saat menemukan pintu yang ia yakini sebagai pintu utama untuk keluar. Namun belum sempat ia meraih handle pintu, Zidan sudah berdiri di belakangnya dan menariknya dengan kasar.
"Jangan kira lo bisa pergi gitu aja, Jes!" Ucapnya dengan tatapan tajam.
"Jangan salahin gue kalo main kasar, karena lo yang mulai!" Zidan mendorong Jesi hingga dia terlentang di sofa tamu.
"Mulai sekarang lo jadi milik gue!" Ucapnya seraya menarik paksa baju yang dikenakan Jesi hingga kancingnya terlepas.
Belum sempat Zidan melanjutkan aksi jahanam itu, tamu tak diundang menarik tubuhnya dan langsung menghadiahi wajahnya dengan pukulan betubi-tubi.
"Breng sek! berani lo nyentuh dia!!"
"Si a lan!! mampus lo!!"
"Karam..." panggil Jesi lirih tapi suaminya itu tak bergeming dan terus membabi buta memukul Zidan.
"Wan, stop! bisa mati woy anak orang." Raka berusaha memisahkan keduanya.
"Biarin biar mam pus. Orang kayak dia nggak guna di dunia ini."
"Lo mau mukulin itu bocah sampe mam pus terus lo masuk penjara gitu? Inget Jesi sama calon anak lo, Wan!" ucap Raka yang akhirnya berhasil memisahkan keduanya.
"Pinjem jas lo. buka!" Rama menarik jas yang di kenakan Raka dan memakaikannya pada Jesi.
"Kakak di sini." ucapnya seraya mengecup sayang puncak kepala Jesi kemudian memeluk erat.
Zidan yang masih terduduk lemah di lantai menyeka bibirnya yang berdarah dengan ibu jari. Matanya melihat jijik pada Jesi yang masih bersandar di pelukan lelaki yang baru saja menghajarnya habis-habisnya.
"Gue kira lo polos, Jes. Ternyata gue salah, lo malah sampe hamil sama sugar daddy lo itu. Ck!!" Zidan berdecak mengejek.
"Kalian berdua pasti gue tuntut! udah masuk rumah orang tanpa izin dan bikin gue jadi kayak gini." lanjutnya seraya menatap Rama dan Raka bergantian.
"Bocah bau kencur kayak lo nggak usah banyak ba cot! Sebelum lo nuntut kita, lo yang bakal duluan mendekam di penjara!" ucap Rama.
.
.
.
anjim serem euy Karam.
Zidan tenang aja, nanti kalo kamu di penjara bakal ditemenin sama reader-reader ghoib yang cuma suka baca tanpa like and komen πππ
seperti biasa tampol jempol, lope sama komentarnya!!!