
Rama megambil ponsel Jesi dan naik ke atas ranjang, “sini di sini!” Rama menepuk kasur di sebelahnya tempat biasa Jesi tidur.
“Oh nontonnya mau sambil rebahan? Oke lah.” Jesi yang sedari tadi duduk di tepi ranjang ikut naik. Dan berbaring di samping Rama, menggunakan lengan suaminya sebagai bantalan.
“Hadap sana.”
“Terus nontonnya gimana?” Tanya Jesi namun ia tetap menuruti kata-kata suaminya.
“Oh aku nontonnya sambil di peluk dari belakang yah, Karam?” lanjutnya saat merasakan tangan kiri Rama memeluknya.
“Sini ponselnya biar aku yang pegang.” Tapi Rama malah melemparkan benda pipih berwarna pink itu asal.
“Karam ih ponsel aku…” rengek Jesi.
“Gimana mau nonton coba?”
“Nggak usah nonton video nggak jelas. Anak kita nggak akan happy diajak nonton begituan. Dia pasti malah bakal happy banget kalo papinya nengokin hm” Rama mendaratkan ciuman-ciuman kecil di leher Jesi hingga perempuan itu bisa merasakan terpaan hangat deru nafas Rama yang selalu menghadirkan sensasi berbeda. Ditambah dengan elusan lembut di perut buncitnya yang makin merambah ke atas membuat tubuh Jesi kian meremang.
“Karam jangan nakal ih. Ini masih pagi, katanya tadi mau ngambil sarapan kita.” Ucap Jesi dengan nafas berat, bibirnya menolak tapi tubuhnya memberikan respon sebaliknya.
“Kan tadi katanya kamu belum lapar hm? Jadi mau kakak bikin cape dulu supaya lapar.” Ucap Rama lirih, dia beranjak mengungkung tubuh mungil istrinya yang kini tak semungil dulu. Tangan lihainya membuka satu persatu kancing dress floral berwarna pink yang di kenakan Jesi.
“Karam…” Jesi tersipu saat Rama menatapnya tanpa sehelai benang pun.
“Kamu makin cantik sayang.” Rama menyibakkan poni Jesi kemudian mengecup kening itu lama, beralih pada dua kelopak mata yang tertutup kemudian berlama-lama menyecap bibir mungil yang hobi cemberut tapi selalu membuatnya ketagihan.
“Sayang sehat-sehat yah, papi sama mami udah pengen cepet ketemu kamu.” Rama menciumi perut Jesi sebelum turun lebih jauh ke bawah sana. Selama penyatuan Jesi selalu memegangi perutnya berulang kali ditengah de sah an yang ia tahan meksipun pada akhirnya dia tak bisa menahan kenikmatan yang diberikan suaminya. De sa han nya lolos begitu saja tak peduli mungkin mertua atau iparnya bisa mendengar dari luar sana mengingat Mama atau Alya yang biasa mengetuk pintu untuk mengajak mereka sarapan. Tapi entah karena pagi ini Mama maupun Alya tak mengetuk pintu mereka atau karena terlalu asik menikmati permainan, keduanya sama sekali tak mendengar suara pintu diketuk.
Sementara itu di ruang makan Alya baru saja duduk di kursinya.
“Mana kakak sama Jesi, Al? udah kamu panggil kan?” Tanya mama Yeni. Alya hanya diam dia bingung harus menjawab apa. Pasalnya sekarang suara me re sah kan itu tak hanya ia dengar di malam hari tapi pagi-pagi pun terdengar. Dia bahkan tak jadi mengetuk pintu kamar kakaknya dan memilih turun lagi.
“Belum bangun kali, Ma. Darmawan nggak masuk hari ini makanya aku pagi-pagi kesini. Ngapelin Alya sekalian mau minta tanda tangan.” Sela Raka.
“Kakak biasa bangun pagi kok. Tadi juga mama denger Jesi teriak-teriak ngobrol sama kamu, Al.” ujar mama Yeni.
“Sebentar yah mama panggil kakak sama Jesi dulu.” Karena Alya tak menjawab, mama Yeni mengira putrinya itu belum memanggil Rama dan Jesi.
“Mama jangan!” larang Alya begitu melihat mamanya hendak beranjak meninggalkan meja makan.
“Tadi aku udah kesana tapi kayaknya kakak lagi sibuk.” Ucap Alya.
“Sibuk apa jam segini? Mama mau ngajak Jesi sarapan, kalo kakak kamu sih terserah mau seharian mantengin kerjaan juga.” Ucap mama Yeni, beberapa hari ke belakang Rama memang lumayan terlihat sibuk dengan tabletnya meskipun berada di rumah.
“Calon cucu mama nggak boleh sampe kelaparan di perut Jesi.” Lanjutnya.
Alya menarik tangan mamanya dan meminta wanita paruh baya itu duduk kembali. Alya menghela nafas panjang sebelum berucap, pipinya bahkan sudah merona merah. Dia melirik Raka yang balas tersenyum sambil mengunyah sarapannya.
“Kakak lagi itu mungkin, Ma. Nanti kalo udahan juga turun.” Alya bingung kan harus mengatakannya bagaimana.
“Mama jangan! Kakak sama Jesi lagi ehm ehm…” Alya langsung menunduk setelah mengucapkannya sementara Raka sudah terbatuk-batuk tersedak makanan begitu mendengar ucapan my baby kesayangannya.
“Minum A…” tanpa melihat wajah Raka Alya menyodorkan gelas di sampingnya.
“Mereka bener-bener yah!” cibir Raka setelah menandaskan setengah dari isi gelas yang disodorkan Alya.
“Sudah-sudah lanjutkan sarapannya.” Sela mama Yeni.
Belum sempat Raka melanjutkan sarapannya, Rama sudah masuk ke ruang makan dengan kaos santai dan celana pendek.
“Eh ada lo, Ka!” sapanya basa-basi, dia tak ikut sarapan justru melawati meja makan dan berlalu ke belakang. Sibuk membuat susu hamil untuk istrinya kemudian kembali ke meja makan dan mengambil beberapa lembar roti tawar beserta selai cokelat.
“Gue nggak masuk, hari ini kerja dari rumah aja. Kalo ada berkas penting yang perlu gue tanda tanganin lo kesini yah.” Lanjutnya.
“Ogah lah! Lo enak-enakan ehm ehm, gue disuruh pontang panting kesana kemari.” Balas Raka kemudian beranjak dan menyalami calon mertuanya dan berlalu pergi.
“Aa berangkat yah.” Pamitnya pada Alya.
“Ehm ehm apaan sih?” ucap Rama.
“Ck aneh banget.” Dia berdecak sambil mengoleskan selai cokelat ke rotinya.
“Kakak tuh pagi-pagi udah pada ehm ehm aja. Sampe aku panggil nggak nyaut. Adonan udah jadi aja masih terus ngadon.” Mendengar ucapan adiknya Rama reflek menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
“Jangan terlalu sering, sebentar lagi anak kamu lahir. Gimana kalo Jesi sampe kecapean?” ucap mama Yeni.
“Tapi kata dokter harus di tengokin, Ma. Supaya lahirannya gampang”
“Iya tapi jangan keseringan juga.” Ucap Mama Yeni.
“Iya, Ma.” Jawab Rama kemudian membawa roti serta susu hamil Jesi dan berlalu meninggalkan ruang makan.
“Jangan sering-sering.” Gumamnya lirih.
“Mana bisa nahan gue, si Jas Jus makin kesini makin uwow aja. Makin besar perutnya malah makin seksi.” Batin Rama.
.
.
.
Pokoknya tetep temenin Jas Jus dan Karam sampe bonus part nya abis oke. sampe aku kasih label END di cover mereka.
Gitu aja dulu, otor mau belajar ehm ehm 😛
Jangan lupa like sama komennya yang banyak!!!