
“Ya ampun Kara!” Teriak Jesi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Masih mengenakan bathrope dan handuk kecil yang dililitkan di kepala Jesi setengah berlari menghampiri Kara yang sudah berdiri berpegangan pada meja dan hampir meraih cangkir yang berisi kopi milik Rama.
Jesi menatih putri kecilnya, gadis mungil berbando pink itu tersenyum riang sambil sesekali mengucapakan kata-kata yang belum jelas. Ia kemudian menggendong Kara dan menghampiri Rama yang baru saja duduk.
“Kara sayang... sama papi dulu yah.” Jesi meletakan putrinya di pangkuan Rama. Papi muda itu hari ini tak masuk kerja karena akan mengantar sekaligus menunggu istri serta adiknya yang hari ini akan melaksanakan sidang skripsi.
“Karam kalo nelpon Kara nya di gendong dong biar nggak kabur. Dia tuh tadi udah hampir ngambil cangkir kopi Karam, kan bahaya kalo sampe ketumpahan kopi mana panas lagi.” Gerutu Jesi.
Putrinya yang sudah berusia sembilan bulan itu memang aktif merangkak kesana kemari dan mengambil benda apa pun yang menurutnya menarik. Sesekali gadis kecil yang sedang belajar berjalan itu kadang berdiri sambil berpegangan pada benda di sekitarnya yang membuat Jesi makin ketar ketir jika meninggalkannya barang sebentar saja.
“Iya, maaf. Tadi kakak lagi nerima telpon dari Naura. Hari ini kan nggak masuk, jadi harus memastikan semuanya baik-baik saja.” Balas Rama.
“Sini sama papi. Kabur terus kamu tuh...” Rama mendekap dan menciumi putri kecilnya berulang kali dan putri mungilnya itu berontak berusaha melepaskan diri.
“Apa... apa hm? Kamu pasti pengen jalan-jalan yah? Yuk jalan sama papi biar mami kamu siap-siap dulu.” Rama menurunkan putrinya dan menatihnya perlahan.
“Malah ngeliatin terus. Udah sana kamu siap-siap, Kara aman sama kakak.” Ucap Rama saat menyadari Jesi justru memperhatikan dirinya dan Kara.
“Iya, Karam. Ini juga mau siap-siap. Hati-hati loh jangan sampe Kara lepas dari pengawasan. Dia udah mulai belajar jalan Karam.”
Rama membawa Kara ke dalam gendongannya dan menghampiri Jesi.
“Iya Kakak juga tau kok mami Jas Jus. Kamu makin cerewet yah setelah punya anak.” Tangan kanannya mencubit gemas pipi Jesi.
“Jadi pengen buru-buru ngasih Kara adik deh.” Lanjutnya.
“Ish yang bener aja deh, Karam. Kara aja baru belajar jalan masa udah mau dikasih adik. Udah ah aku mau siap-siap keburu siang, ntar telat.” Ucap Jesi kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa baju yang ia ambil dari lemari.
Jesi merapikan penampilannya di depan meja rias, stelan kemeja putih dan rok selutut hitam di tambah blazer sudah membalut tubuhnya dengan sempurna. Sambil memoles wajahnya ia tersenyum melihat suami dan putrinya bermain di belakang sana.
“Nggak nyangka belum jadi sarjana aku udah punya anak aja.” Ucapnya lirih.
Setelah melahirkan Jesi memang tak mengajukan cuti kuliah karena beruntung saat melahirkan dirinya sedang libur panjang akhir tahun ajaran. Waktu dua setengah bulan liburnya ia gunakan untuk fokus mengurus Kara, dibantu ibu, mertua dan Rama tentunya. Mereka tak memakai jasa baby sitter dan memilih mengurus putri mereka sendiri, meski awalnya Rama kalang kabut karena kurang tidur lantaran hampir setiap malam menemani Jesi setiap putri mungil mereka ingin ne nen tapi lama-kelamaan ia jadi terbiasa.
Setelah selesai dengan make up naturalnya Jesi menyiapkan pakaian untuk Rama dan meletakkannya di atas ranjang kemudian ia menghampiri Rama dan mengambil alih Kara.
“Sama mami dulu yah, Kara. Biar papi siap-siap. Bajunya udah aku siapin”
“Makasih sayang.” Ucap Rama seraya mencium kening istri dan putrinya bergantian.
“Karam, aku tunggu di bawah yah. Nyuapin Kara sarapan dulu.” Ucap Jesi yang kemudian meninggalkan kamar setelah mendapat persetujuan Rama.
Sampai di meja makan bukannya menyuapi putrinya Jesi justru malah beralih menyiapkan sarapan untuk Rama karena Kara diambil alih oleh mama Yeni. Katanya takut penampilan Jesi jadi berantakan lagi.
“Al, kenapa murung gitu?” tanya Jesi mendapati adik iparnya terlihat tak bersemangat pagi ini.
“Kamu kurang tidur semalem gara-gara nervous mau sidang?” tebaknya dan Alya hanya menggeleng.
“Terus kenapa?” tanyanya lagi.
“Nggak apa-apa kok.” Jawab Alya.
“Sayang liat deh Alya kayak orang sakit.” Ucap Jesi pada Rama yang baru saja duduk di sampingnya.
“Ya udah kalo gitu makan nih sarapannya terus kita berangkat.” Jesi meletakan dua lembar roti tawar yang sudah dioles dengan selai blueberry kesukaan Alya.
“Btw ini mana Karak tumben hari ini nggak nebeng sarapan. Biasanya gercep pagi-pagi udah disini aja.” Lanjutnya.
“Hari ini Raka sibuk, ada rapat dadakan. Kakak kan nggak masuk jadi biar dia yang handle.” Sela Rama.
“Nanti kamu berangkat bareng kita aja, Al.” Lanjutnya seraya melirik Alya yang memakan sarapannya dengan tak semangat.
“Mama, Kara sama kakak bakal nunggu kalian sampe selesai sidang.”
“Iya, Kak.” Jawab Alya irit.
“Kamu itu kenapa sih, Al? Perasaan baru pagi ini aja Karak nggak kesini eh udah melehoy aja kayak orang hidup enggan mati tak mau.” Cibir Jesi, semenjak melahirkan Kara dia memang sudah pensiun menggunakan bahasa lo gue.
“Aku tunggu di mobil yah kak.” Bukannya menjawab Alya malah berlalu pergi keluar menghampiri mama dan keponakannya yang sedang disuapi di teras rumah.
Jesi menggelengkan kepala melihat sikap Alya pagi ini.
“Karam, aku nggak tega ih ngeliat Alya kayak gitu.” Ucapnya dengan wajah melas.
“Emang nyebelin banget si Karak ih.” Lanjutnya.
“Udah nggak apa-apa sayang. Biarin aja.” Jawab Rama setalah menandaskan sarapannya.
“Eh tapi gimana kalo nanti sidang skripsi Alya jadi ambyar?”
“Nggak bakalan. Dia pinter kok, emangnya mami Jas Jus.” Ledek Rama.
“Skripsi aja dibantuin kakak.” Lanjutnya.
“Ish Karam mah, aku kan sibuk ngurus Kara.” Kilah Jesi.
“Iya-iya. Bisa aja alasannya. Ntar malem kakak harus dapat hadiah loh kan semalem kita udah nggak maen malah ngajarin kamu poin-poin penting buat sidang.”
“Siap, papi Karam. Ntar aku kasih full service deh.” Ucap Jesi.
“Awas yah kalo bohong!”
“Mana ada aku bohong, Karam. Kan yang bikin kita suka gagal tuh Kara, jadi salahin aja Kara tuh yang kadang suka bangun pas kita baru mulai start.” Jesi tertawa mengucapkannya mengingat bagaimana suaminya itu sering mendengus kesal gara-gara aktivitas mereka terjeda oleh ulah Kara. Kadang baru setengah jalan putri kecilnya mendadak bangun dan minta ini itu. Kadang sampai larut malam putri kecilnya ngajak gadang hingga pas Kara tidur keduanya juga ikut ketiduran. Tapi beruntung juga mereka masih tinggal bersama mama Yeni, mertuanya itu penuh pengertian kadang sengaja mengajak Kara tidur bersamanya.
“Nanti Kara titipin ke ibu aja, kita bulan madu dulu. Bikin adik buat Kara, dia pasti seneng deh.” Ucap Rama.
.
.
.
Kara apa Karam yang seneng? modus terus aja ini si papi.
jangan lupa tampol like sama komennya. aku kasih double up kalo like sama komennya banyak.