
Satu jam lebih Rama berbaring menghadap Jesi yang tidur miring menghadapnya, setelah hamil besar istrinya memang kerap tidur miring, katanya pengap dan berat kalo tidur terlentang. Rama tersenyum sambil sesekali mengelus wajah terlelap Jesi, tangannya kemudian beralih membenarkan selimut yang sedikit turun mengekspos tubuh polos sang istri.
“Rasanya baru kemaren kita nikah eh udah mau punya dede bayi aja.” Rama mengulas senyum mengingat hari-hari bagaimana mereka bertemu.
“Nggak nyangka bisa secinta ini sama kamu, Jes. Dulu punya anak magang kayak kamu tuh kayak ujian kesabaran tiada henti. Dasar anak manja, cerewet, egois, nggak mau ngalah.” Rama jadi gemas sendiri dan mencubit pipi Jesi hingga perempuan di hadapannya itu membuka matanya pelan.
“sakit ih…” ucapnya lirih.
Rama mengelus pipi yang baru saja ia cubit dengan lembut.
“Maaf… maaf sayang. Duh kamu jadi bangun. Maaf yah… abis gemes banget liat kamu bobo.”
“Kebiasaan Karam tuh. Lama-lama pipi aku abis dicubitin mulu.” Protes Jesi.
“Masa sih abis? Tambah gemoy kayak gini kok.” Rama kembali mencubit gemas pipi Jesi.
“Eh… Eh… mami Jas Jus jangan cemberut gitu dong. Mau bangun? Sini papi bantu.” Lanjutnya seraya membantu Jesi bangun dan bersandar pada kepala ranjang.
“Mau sarapan sekarang? Udah kakak ambilin. Tapi kayaknya susu hamil kamu udah dingin, udah dari tadi soalnya. Mau kakak bikinin yang baru?”
“Nggak usah Karam, yang ada aja.” Jawab Jesi sambil mengikat rambutnya asal.
Rama beranjak mengambil nampan yang berisi sarapan Jesi kemudian duduk di tepi ranjang dan memberikan susu hamil terlebih dulu.
Jesi menerima segelas susu yang sudah dingin dan meneguknya sebagian.
“Nggak diabisin?” tanya Rama setelah menerima kembali gelas itu.
“Buat ntar, Karam. Aku mau mandi dulu, rasanya cape banget ih, pagi-pagi udah olahraga aja.” Gerutunya sambil membelitkan selimut di tubuh polosnya.
“Kan kata dokter juga harus rajin ditengok biar lahirannya lancar.”
“Iya, tapi Karam kelewat rajin. Semalem kan udah, eh paginya lagi. Lama-lama lomba nih sama aturan minum vitaminnya aku.” Balas Jesi.
“Hm mami Jas Jus suka gitu yah… so so nolak, ngegerutu eh pas main aja nggak mau berhenti. Terus… terus….” Ledek Rama dan Jesi hanya tersipu sambil turun dari ranjang.
“Udah si nggak usah pake selimut sayang, toh kakak udah lihat semuanya.” Komentar Rama saat melihat Jesi berjalan dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
“Malu.” Ucap Jesi lirih sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
“Ck! Dasar Jas Jus!” Rama berdecak lucu melihat istrinya yang sampai saat ini masih malu-malu tapi mau itu.
Sambil menunggu Jesi yang sedang membersihkan diri, Rama memeriksa beberapa laporan yang dikirim oleh Naura. Setelah mendengar pintu kamar mandi terbuka ia segera meletakan tabletnya dan menghampiri Jesi yang sudah mengenakan baju santai dengan handuk yang membalut rambut panjangnya menggulung di atas kepala.
“Nih makan dulu rotinya. Biar kakak yang ngeringin rambut kamu.” Rama memberikan roti tawar yang sudah ia olesi dengan selai cokelat pada Jesi. Istrinya menurut dan memakan sedikit demi sedikit sarapannya sambil sesekali melihat Rama yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dari dalam cermin.
“Love you Karam nya aku.” Ucap Jesi.
“Love you too, Jas Jus kesayangannya kakak.” Rama jadi mengacak gemas rambut yang sedang ia keringkan.
“Karam… Karam bentar!” Jesi menjauhkan tangan Rama dan segera pergi ke kamar mandi.
Rama langsung meletakan hair dryer yang sedang ia pegang dan menyusul Jesi ke kamar mandi, namun pintu itu terkunci dari dalam.
“Sayang kamu kenapa? Buka pintunya!” teriak Rama dari luar begitu panik.
“Kamu muntah-muntah lagi?” tebaknya meskipun sudah cukup lama istrinya tak lagi muntah-muntah.
“Say-“ teriakan dan ketukan berulang pun berakhir saat Jesi membuka pintu.
“Huh leganya.” Ucap Jesi yang kini duduk di ranjang.
“Kenapa? Ada yang sakit?”
Jesi menggeleng, “cuma pengen pipis aja.”
“Huh dasar! Bikin panik aja. Kakak kira kamu kenapa.” Jesi hanya tersenyum dan meminta Rama mengambilkan sarapannya lagi.
Rama kembali menekuni pekerjaannya sementara Jesi berbaring di pangkuannya. Kadang Wanita hamil itu menggeser kepalanya kesana kemari mencari posisi ternyaman, kadang ia juga menggelitiki perut Rama saat merasa suaminya terlalu fokus pada pekerjaan.
“Aku mau ke kamar mandi lagi, Karam.”
“Pelan-pelan jalannya, sayang. Kamu tuh bolak-balik kamar mandi mulu.”
“Nggak tau, pengen pipis mulu ih. Padahal aku nggak banyak minum.” Keluh Jesi.
“Karam…” panggil Jesi lirih.
Rama menengok dan mendapati Jesi bersandar di pintu sambil memegangi perutnya, istrinya kelihatan menahan sakit. Buru-buru dia meletakan tabletnya dan menghampiri Jesi.
“Kenapa? Ada yang sakit?”
Jesi mengangguk, “perutnya sakit.”
“Nggak mau.” Jawab Jesi.
“Sebelah mana yang sakit?” Rama ikut memegang perut Jesi, dia tersenyum merasakan pergerakan anaknya dari dalam sana.
“Anak papi aktif banget yah.” Lanjutnya.
“Eh udah nggak sakit, Karam. Kayaknya si dede pengen di elus-elus sama papi.” Ucap Jesi manja.
Lama Rama mengelus perut besar Jesi hingga dering telpon memaksanya beranjak mengambil ponsel dengan malas.
“Ya, oke. Satu jam lagi gue nyampe.” Ucap Rama saat mengakhiri panggilan.
“Siapa Karam?” tanya Jesi.
“Naura. Kakak harus ke kantor sebentar. Nggak apa-apa kan? Klien dari luar negri yang dijadwalkan rapat besok minta dimajukan hari ini karena besok anaknya ulang tahun dan harus sudah kembali.”
Jesi mengangguk maklum, dia beranjak dari ranjang menuju lemari.
“Aku siapin bajunya Karam.”
“Nggak usah sayang. Kamu duduk aja. Kakak pilih sendiri.” Rama merangkul Jesi dan membawanya kembali ke ranjang.
“Aku anterin sampe depan yah, Karam.”
“Iya boleh ayo.” Balas Rama.
“Sebentar Karam, aku ke kamar mandi dulu.” Tak lama Jesi kembali sambil meringis memegangi perutnya.
“Sakit lagi?”
“Nggak Karam.” jawabnya bohong.
“Yuk aku anter sampe depan.” Lanjutnya.
“Beneran Karam, aku nggak apa-apa.” Ulangnya karena melihat raut khawatir di wajah Rama.
“Yau dah ayo! Kalo ada apa-apa telpon. Kakak cuma bentar kok, abis nemuin klien langsung pulang lagi.” Ucap Rama dan Jesi mengangguk.
Sebelum berangkat Rama menitipkan Jesi pada mama dan Alya.
“Ma, titip Jesi yah. Aku ke kantor sebentar. Tadi perutnya sempat sakit. Nanti pulang dari kantor aku bawa ke dokter.”
“Mama pasti jagain Jesi. Udah sana berangkat.”
Setelah Rama pergi Jesi tak kembali ke kamar, dia menemani mertuanya yang asik menonton sinetron ikan terbang yang ceritanya menurut Jesi tak asik sama sekali dengan alur yang sangat bisa ditebak, tapi entahlah ibu-ibu sangat menyukai sinetron macam itu.
“Mau kemana Jes?” tanya Alya.
“Toilet bentar.”
“Aku temenin yah?”
“Nggak usah, Al.” Jesi beranjak ke toilet terdekat yang berada di dapur.
Menyadari sudah cukup lama Jesi masih belum kembali dari toilet membuat Alya beranjak dan menyusul kakak iparnya ke belakang.
“Lama banget sih Jes? Aku sampe takut kamu kenapa-kenapa. Apalagi barusan liat di TV ibu hamil yang jatuh di kamar mandi. Aku jadi inget kamu ke toilet nggak balik-balik.” Ucapnya sambil menghampiri Jesi yang duduk bersandar di meja makan sambil memegangi perutnya.
“Jes…”
“Bentar, Al. Gue mau ke toilet lagi.” Alya sampai menggelengkan kepala, sedari tadi kakak iparnya itu bolak balik toilet terus. Alya jadi mengikuti Jesi dan menunggunya di depan toilet. Dia langsung memapah Jesi kembali duduk.
“Aku ambilin minum yah, Jes? Kamu keliatan lemes banget.”
“Nggak usah, Al.” jawab Jesi lirih.
“Jes, kamu kenapa? ada yang sakit? bilang sama aku.” Alya kian panik melihat Jesi yang meringis menahan sakit tapi sedari tadi kakak iparnya itu hanya bilang tidak apa-apa terus menerus.
“Perutnya sakit?” tebak Alya.
Jesi menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang sedari tadi hilang timbul secara bergantian.
“Nggak apa-apa, Al. Dari tadi bangun tidur juga kayak gini, ntar juga ilang lagi.” Namun sedetik kemudian sakitnya tak kunjung hilang malah makin menjadi-jadi hingga akhirnya ia menangis.
“Ibu… Perut Jesi sakit.”
“Ya Allah gimana ini?” Alya jadi panik sendiri melihat Jesi yang kesakitan.
“Jes bentar yah, aku panggil mama.” Buru-buru Alya menuju ruang keluarga tempat mamanya menonton TV.
“Ma, Mama… ponakan aku kayaknya mau lahir.” Alya yang biasanya tak pernah berteriak pun akhirnya jadi berulang kali berteriak memanggil mamanya karena panik.