Possessive Leader

Possessive Leader
Waspada Tikungan!



Melihat Jesi yang nyaris menangis membuat Raka segera menghampirinya.


"Cup cup... Aqua gelas kesayangan Aa Raka jangan nangis."


"Jangan sentuh dia." Rama menepis cepat tangan Raka yang hendak merangkul Jesi.


"Pelit amat!"


Jesi berbalik menatap Raka, "Karam jahat, Karak. Dia mah belain dinosaurus terus. Padahal aku calon istrinya, tapi kerjanya di bentak-bentak, di marahin, nggak ada sayang-sayang nya sedikit pun." Adunya pada Raka.


"Dinosaurus?" Tanya Raka.


"Dina, keuangan." Timpal Rama.


Jesi mendengus kesal, "Tuh sampe segitu nggak terimanya Karam aku manggil dia Dinosaurus. Padahal kan emang gitu orangnya ngeselin. Jahat!"


"Ini bisa nggak sih calon suami aku di tuker aja. Karak aja yang jadi calon suami aku." Imbuhnya.


"Wah bisa banget itu, Neng." Balas Raka.


"Aa mah setuju banget itu." Lanjutnya sengaja.


Rama menarik tubuh Jesi hingga gadis itu berdiri menghadapnya. Jesi masih cemberut dan membuang tatapannya, malas bersitatap dengan calon suami yang selalu membela Dina.


"Jangan mikir macam-macam. Dalam bekerja kita harus profesional. Harus bisa membedakan urusan pribadi dengan pekerjaan. Meskipun kamu calon istri saya, tetap saja tidak boleh bersikap sesuka hati. Terlebih pada Dina, dia senior kamu di sini. Terlepas dari apa yang dia lakukan padamu tak seharusnya kamu bersikap tidak sopan seperti tadi." Ucap Rama, dia ikut menunduk demi bisa melihat wajah calon istrinya itu.


"Udah jangan nangis ntar cantiknya ilang." Imbuhnya seraya mengusap pipi Jesi namun berakhir mencubitnya karena gemas melihat bibir mungil itu cemberut.


"Na jis dah pengen muntah gue denger omongan lo, Wan!" Cibir Raka.


"Ra, bagi gue obat penahan mual dong... pengen muntah nih." Sindirnya lagi.


"Gue sekarang udah nggak mual-mual, Ka. Nih lo kresekin aja kalo mau muntah!" Balas Naura sambil menyerahkan kresek putih.


"Lo kira gue mabok di bus apa dikasih kresek." Raka membuang kresek pemberian Naura ke tempat sampah.


"Ini mau lanjut kerja apa mau ngedrama terus nih? Kasihanilah aku yang jomblo ini." Sindir Raka lagi karena Rama yang masih mengelus pucuk kepala Jesi.


"Sirik aja lo." Cibir Naura.


"Udah jangan nangis, ntar pulang kerja kita makan di warung depan." Ucap Rama sebelum beranjak meninggalkan Jesi.


"Lo ikut gue!" Lanjutnya mengajak Raka.


"Dikiranya aku bocah apa disogok sama makanan? Ogah!" Tolak Jesi.


Mendengar ucapan Jesi membuat Raka berbalik, "kalo makan siang bareng Aa Raka mau nggak? Aa Raka mah kan nggak pernah marah-marah sama Neng Jesi."


"Mau banget." Balas Jesi cepat, tak memperdulikan Rama yang menatapnya tajam.


"Sip lah, ntar Aa tunggu di kantin kantor yah."


"Oke, Karak." Jawab Jesi.


Setelah kepergian Rama dan Raka, Jesi kembali duduk dengan menyandarkan kepalanya di meja. Dia berulang kali meniup poninya sendiri untuk menenangkan diri. Tapi bayangan Rama yang membela Dina benar-benar membuat mood nya anjlog. Padahal sebelumnya dia sudah secerah mentari pagi saat tiba di kantor.


"Masih bad mood?" Tanya Naura, dia meletakan permen cokelat di depan wajah Jesi.


Jesi mengambil permen itu dan membukanya, tak lama benda bulat kecil berwarna cokelat itu sudah masuk ke dalam mulutnya.


"Bad mood banget aku, mba."


"Mba, Karak sama Karam pada jahat sama aku ih."


"Loh kok jadi mba kebawa-bawa juga sih?"


"Yakin sebel gara-gara mba sama Raka tau duluan dan nggak ngasih tau kamu?"


"Bukan gara-gara Darmawan yang ngebelain Dina?" Naura ikut menyandarkan kepalanya di meja, hingga kini dia bisa menatap lekat wajah Jesi yang sedang cemberut.


"Tau ah. Pokoknya aku sebel." Elak Jesi.


"Karam galak sama aku. Marah-marah mulu kerjanya, padahal udah tau aku calon istrinya."


"Justru karena kamu calon istrinya, Jes."


"Calon istri kok di marahin mulu. Harusnya kan di sayang-sayang!" Protes Jesi.


"Cara orang menunjukkan perasaannya itu beda-beda, Jes. Nggak selalu harus bilang sayang dan cinta. Coba kamu ingat-ingat pernah nggak Darmawan itu marah-marah kalo lamu nggak bikin masalah? Nggak kan?" Tutur Naura.


"Nggak tau ah, Mba. Yang aku inget mah Karam sering marah-marah sama aku. Pokoknya aku sebel lah!"


"Hadeuh... Susah dah ngomong sama ini bocah. Keras banget dah kayak batu." Gumam Naura.


Dan siang itu sebel jam istirahat tiba Jesi sudah lebih dulu pergi.


"Istirahat dulu lah, mba. Udah selesai kerjaan aku."


Dengan hanya membawa ponselnya, Jesi pergi ke ruangan Raka. Seperti biasa sahabat calon suaminya itu menyambutnya dengan ramah. Sesuai dengan ucapan Raka pagi tadi, mereka pergi ke kantin berdua.


"Ngakunya calon istri Pak Darmawan tapi kok jalannya sama Pak Raka." Lagi-lagi Dina mencibirnya.


"Bener-bener udah oleng lo yah nempel sana-sini. Murahan!" Imbuhnya.


Jesi sudah membuka sebelah sepatunya dan hendak dilemparkan pada Dina jika saja Raka tak mengambil sepatu miliknya itu.


"Udah-udah jangan di ladeni. Kita makan aja, kamu duduk di sana biar Aa yang ngambil makanan."


"Sepatunya..." Rengek Jesi.


Raka berlutut di depan Jesi dan memakaikan sepatunya, "udah." Ucapnya sambil mendongak dan tersenyum sekilas. Sontak hal itu menjadi tontonan banyak karyawan yang ada di kantin. Termasuk Rama dan Naura yang masih berdiri di depan pintu kantin.


"Kenapa sampe segitunya ngeliatin gue?" Ucap Jesi pada Dina yang terhanyut pada sikap manis Raka.


"Iri? Bilang bos!" Lanjutnya.


"Lo! Berani sama gue?" Sentak Dina.


"Udah duduk sana." Raka memegang kedua bahu Jesi dan mengarahkannya supaya gadis itu pergi ke meja yang sudah ia tunjuk.


"Jangan ganggu dia lagi, Din. Gue nggak tau lo ada masalah apa sama dia, tapi yang jelas dia bukan lawan yang sebanding buat lo. Meskipun dia cuma anak magang." Ucap Raka tegas kemudian mengambil beberapa camilan dan membawanya ke meja Jesi.


"Makan ini dulu sambil nunggu pesanan kita datang."


"Makasih, Karak."


"Karak emang the best, nggak kayak Karam bisanya marah-marah aja. Sebel aku!"


Raka memang paling bisa menciptakan suasana yang menyenangkan, terbukti dari wajah Jesi yang kini tertawa riang.


"Loh kita nggak jadi makan?" Tanya Naura yang melihat Rama berbalik sebelum masuk ke kantin.


"Mendadak kenyang gue liat mereka."


"Tapi gue lapar. Anak gue juga nendang-nendang nih pengen makan. Kita gabung aja sama jas jus ayo!"


"Ogah, lo aja sana!" Jawab Rama.


"Wan, Jesi itu masih lugu dan polos. Jangan sampe calon istri lo itu malah nyaman dengan Raka. Tikungan sekarang tajam-tajam, lo mesti ati-ati. Orang yang dijodohkan bisa kalah jika dibandingkan dengan orang yang mampu membuat nyaman." Tutur Naura.