Possessive Leader

Possessive Leader
Jesika, istrinya Ramadhan Darmawan!



“Beneran besok Karam mau bikinin aku sarapan lagi? Emang Karam bisa masak apa lagi selain nasi goreng?”


“Neng Jas Jus maunya dibikinin apa?” Rama sedikit melirik istrinya, Jesi benar-benar memintanya berhenti di apotik tadi. Entah apa yang di beli istrinya karena saat kembali ke mobil dia tak membawa apapun. Bisa Rama tebak pasti belanjaannya itu sudah di masukan ke dalam tas. Lebih aman besok pagi dia yang menyiapkan sarapan, takut-takut Jesi menambahkan bahan-bahan aneh kedalam masakannya. Lagi pula sejak menikah istrinya itu belum pernah masak, so mengalah menyiapkan sarapan adalah jalur paling aman.


“Hm apa yah?” Jesi Justru balik tanya, selama ini dia tak pernah pilih-pilih makanan.


“Terserah Karam deh. Apa pun aku makan, Karam. Aku mah nggak rewel soal makanan. Gini-gini kan aku berpengalaman jadi rakyat jelata, tau gimana susahnya cari uang.” Pikiran Jesi sejenak kembali pada masa ia kehilangan semua fasilitas yang ia punya, membuatnya menyadari banyak hal. Tidak hanya menyadarkan dirinya jika tak semua orang yang berada di sisinya tulus, tapi juga membuatnya lebih bersyukur atas apa yang ia miliki.


Jika ada orang yang berkata pengalaman merupakan ilmu yang paling mudah dipahami adalah benar adanya. Jesi yang dulu sering dinasihati orang tuanya tentang sulitnya mencari uang tak pernah menggubris hal itu karena dia tak pernah mengalaminya. Hingga akhirnya semua yang ia miliki diambil sementara pun sudah membuatnya kelimpungan.


“Istri solehah.” Puji Rama, dia mengelus sayang puncak kepala Jesi.


“Iya dong.” Timpal Jesi buru-buru dengan penuh percaya diri.


“Beruntung banget kan Karam punya istri kayak aku, solehah.” Ucapnya sambil tersipu, baru sekarang ada yang memujinya dengan sebutan solehah, biasanya kan paling mentok cantik, imut, baik.


“Hm langsung deh kumat kegeeran banget!” cibir Rama.


“Tapi sayang kan?”


“Ya... ya, sayang banget.” Balas Rama yang membuat Jesi kian melambung girang.


“Sekarang giliran kamu. Sayang nggak sama kakak?” tanya Rama.


“Eh nggak usah ditanyain yah, udah pasti sayang banget banget kan?” ledek Rama.


“Soalnya kalo cemburunya lagi kumat keliatan banget.” Sambungnya.


“Apaan sih Karam. Siapa juga yang cemburu!”


Mobil yang dikendarai Rama sudah berhenti dengan sempurna di halaman rumah. Sebelum Jesi keluar ditariknya tangan Jesi hingga dia duduk menghadapnya.


“Apaan lagi sih, Karam? Aku udah pengen mandi nih, udah nggak nyaman.” Protesnya.


“Tunggu bentar neng Jas jus yang nggak cemburuan.” Pada akhirnya Rama mengalah, toh pertanyaannya itu hanya formalitas. Istrinya benar-benar gengsi tingkat dewa untuk mengakuinya.


“Sayang nggak sama kakak?” tanyanya dengan menangkup wajah Jesi dengan kedua tangannya.


“Hm... sayang nggak yah...” Jawabnya dengan senyum meledek.


“Jawab yang bener. Malah senyam senyum gitu.” Rama jadi kesal, susah payah dia mengalah dan terang-terangan mengakui perasaannya. Tapi Jesi malah cengengesan tak jelas. Dilepaskannya wajah Jesi kemudia lebih dulu meninggalkan mobil.


“Heuh, aku yang datang bulan ngapa Karam yang sensi sih.” Gerutu Jesi, buru-buru ia turun dan menyusul suaminya.


“Sayanglah masa nggak!” ucapnya singkat saat berjalan sejajar dengan Rama, kemudian langsung berlari masuk ke dalam rumah.


Mendengar ucapan Jesi membuat Rama diam sejenak, dipandanginnya istri yang ngibrit begitu saja ke dalam rumah.


“Dasar bocah!” ucapnya kemudian menyusul Jesi.


“Mama, aku pulang!” teriak Jesi begitu tiba di dalam.


“Eh Alya udah pulang? Mba tungguin dari tadi loh. Kamu masih suka coklat nggak? mba bawain kue khas Surabaya yang rasa coklat spesial buat kamu.” Ucap Olivia.


Wajah ceria Jesi langsung suram melihat perempuan yang baru saja muncul dari belakang, bukan mama mertua kesayangannya justru si Oli.


“Kebiasaan kamu tuh teriak-teriak.” Bahkan Rama yang baru saja masuk dan berdiri di belakang Jesi pun di buat terkejut dengan pemandangan di hadapannya.


“Oliv?” ucapnya lirih.


“Hei, Wan! Ternyata bener kata mama, kalian pulang bareng.” Ucap Olivia santai, dia berjalan menghampiri Rama.


“Aku sengaja datang lebih cepat, biar bisa masak buat kalian. Langsung makan dulu yuk, cicipin masakan aku. Sekarang aku pinter masak loh.” Ucap Olivia.


“Jangan pegang-pegang yah, Mba!” buru-buru Jesi menarik Rama untuk menjauh dari Oliv yang hendak memegang lengan suaminya.


“Ya ampun Alya... masih sensi aja sama mba.” Balas Oliv enteng, kali dia memilih menghampiri Jesi dan merangkulnya akrab.


“Wan, kenapa Alya jadi kayak gitu sih? Beda banget!” tanya Oliv.


Rama melepaskan tangan Jesi dari lengannya dan beralih merangkul bahu Jesi.


“Kan aku udah bilang waktu di depan indoapril, dia bukan Alya.” Ucap Rama.


“Ini Jesika, istriku!” lanjutnya.


Jesi mengulurkan tangan kanannya, “Jesika Mulia Rahayu, mba. Istri sah Ramadhan Darmawan.”


Melihat uluran tangannya tak berbalas Jesi kian tersenyum puas melihat Olivia diam membisu.


Beberapa detik kemudian Olivia tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala, “Kamu jangan bercanda, Al. Bercandaanmu nggak lucu tau.”


“Heleuuhhh... cape deh.” Cibir Jesi.


“Ini beneran, Oliv. Jesi ini memang istriku.” Ucap Rama.


“Nggak! Nggak! Kalian pasti ngprank aku kan?” Oliv benar-benar tak percaya.


“Loh kalian cuma berdua? Mama kira kalian pulang bareng. Tadi katanya Alya mau beli makanan yang di depan kantor kakak. Kok Alya nya nggak ada?” tanya mama Yeni yang baru saja tiba.


Oliv beralih menghampiri mama Yeni.


“Ma, ini nggak bener kan?”


“Maksudnya?”


“Ma, dia Alya kan?” Oliv menunjuk Jesi.


“Masa dia ngaku-ngaku jadi istrinya Darmawan. Ma, kalo mau ngprank jangan kayak gini dong. Bisa-bisa aku mendadak kena serangan jantung.” Lanjutnya.


“Dia emang istrinya Darmawan, Oliv. Namanya Jesi, mama lupa tadi belum cerita sama kamu. Soalnya tadi mama mau bilang eh kamunya udah pergi duluan.” Ucap mama Yeni.


“Nggak! Ini nggak mungkin!” ucap Oliv lirih. Seketika Oliv merasa seluruh tubuhnya lemas hingga akhirnya ia ambruk dan terduduk di lantai. Wajahnya sudah basah oleh bendungan air mata yang jebol tanpa ijin.


“Ini nggak bener kan, Wan?” ucapnya lagi seraya menatap Rama yang masih merangkul Jesi. Pria yang masih menjadi pemilik hatinya itu mengabaikannya. Berbeda dengan Jesi yang justru menjulurkan lidahnya mengejek.


“Nggak mungkin kan kamu punya istri kayak dia? Kekanakan!” balasnya mencibir Jesi.


“Karam, masa aku dikatain kekanakan sama oli tuh! Dia nggak tau apa kalo aku ini udah bisa bikin anak.” Gerutu Jesi.


“Cih!” cibir Oliv.


“Assalamu’alaikum...” Alya yang baru saja masuk rumah dengan membawa keresek putih di tangan kanannya di buat heran dengan keadaan di ruang tamu. Ada Jesi yang menempel seperti permen karet pada kakaknya, sementara di lantai terduduk perempuan yang berderai air mata dan sang mama yang mengusap-usap pelan punggung perempuan yang sedang menangis itu.


Alya memilih menghampiri kakaknya, “ini ada apa sih, kak? Dia siapa?” tanyanya lirih.


“Biasa lah drama, Al.” Jawab Jesi yang sudah berpindah ke sisi Alya.


“Nih, mba dari tadi nanyain Alya kan? Nih dia, Alya. Adik ipar aku.” Ucap Jesi.


Olivia menatap lekat gadis berhijab yang berdiri di samping Jesi. Air matanya kian mengalir deras saat menyadari gadis itu benar-benar Alya.


“Nggak! Nggak!! Ini nggak mungkin. Ini pasti cuma mimpi.” Ucapnya lirih.


“Heleuhhh nggak nggak mulu.” Ucap Jesi.


“Mau teriak nggak! Nggak! sampe seratus kali pun nggak akan ngerubah kenyataan.”


“Karam sayang, ke kamar yuk! Neng Jas Jus cape nih. Pengen disayang-sayang.” Ucap Jesi manja.


“Yuk!” Balas Rama, dia mengandeng Jesi meninggalkan Oliv yang masih menatapnya nanar bercampur dengan air mata.