
“Nanti Kara titipin ke ibu aja, kita bulan madu dulu. Bikin adik buat Kara, dia pasti seneng deh.” Ucap Rama.
“Ish mulai deh, Karam modus. Udah yuk berangkat ntar telat.” jawab Jesi.
Rama, Kara dan mamanya benar-benar menunggu Alya dan Jesi melaksanakan sidang skripsi. Dia membawa mama dan putrinya bermain di taman dekat kampus, barulah setelah Jesi mengabari jika dirinya sudah selesai Rama kembali ke kampus.
Rama membawa seikat bunga besar di tangan kanannya sementara tangan kirinya menggendong Kara. Keduanya berjalan menghampiri Jesi.
“Selamat yah sayang akhirnya beres juga kuliah kamu.” Ucap Rama seraya memberikan bunga dan mengecup kening Jesi.
“Makasih, Karam. Kara sini gendong sama mami.” Jesi mengambil Kara dan menciuminya.
“Kangen banget sama anak mami ini... padahal Cuma pisah bentar.”
“Sama papi nya nggak kangen?”
“Ish Karam, sama anak aja nggak mau kalah.” Cibir Jesi. Ketiganya kemudian menghampiri Alya yang sedang dipeluk oleh mamanya.
“Bilang selamat sama ante Alya sayang.” Ucap Jesi pada putrinya yan hanya dijawab denan ocehan tak jelas Kara.
“Makasih sayang.” Meski tak paham ucapan keponakannya Alya tetap tersenyum dan mencium kedua pipi bulat Kara.
Alya mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat ia rindukan dari pagi tadi, ralat bukan dari tadi pagi tapi sejak kemarin malam. Karena kemarin malam terakhir kali sahabat kakaknya itu berkomunikasi dengannya dan menghilang begitu saja dengan alasan supaya dirinya bisa fokus belajar untuk sidang skripsi. Namun bukannya fokus alasan Raka justru membuatnya tak bisa tidur sama sekali. Apalagi kemarin ia melihat Raka begitu akrab dengan seorang karyawan baru di divisinya.
“Pulang yuk, mama udah nyiapin syukuran di rumah.” Ucap Mama Yeni.
Alya menghembuskan nafasnya pelan, hatinya kecewa teramat dalam karena Raka yang selama ini selalu mengajaknya buru-buru nikah justru tak terlihat saat dirinya sudah menamatkan pendidikan.
Sampai di rumah pun wajah Alya masih murung, ia keluar dari mobil dengan tak semangat. Dia bahkan tak melihat ke sekeliling dan memilih berlalu ke kamarnya.
“Ante yaya...” hingga suara yang sangat ia kenali membuatnya yang baru saja melewati ruang tamu kembali mundur.
“Mikhayla.” Ucap Alya seraya menengok.
“Mba Naura, Mas Aldi, Mama...” Dia sampai tak bisa meneruskan kata-katanya melihat Raka beserta keluarga lengkapnya berada di rumahnya.
“Duduk dulu sayang.” Mama Yeni merangkul putrinya dan membawanya duduk di hadapan keluarga Raka. Sementara Jesi berdiri di samping Rama yang menggendong Kara.
“Karak, si Alya udah mau mewek tau dari tadi.” Ucap Jesi.
Sst!
Rama meletakan telunjuknya di bibir Jesi.
“Diem sayang.” Bisiknya di telinga Jesi.
Raka mengeluarkan kotak perhiasan dan mengambil sebuah cincin dari dalam sana. Ditatapnya Alya lekat-lekat.
“Hai my baby kesayangan Aa.” Ucapnya yang langsung dihadiahi sikutan dari sang kakak.
“Diem ngapa bang!” Raka melirik sang kakak yang memangku Mikhayla.
“Bicara yang formal kek. Lamaran kok ceplas ceplos gitu.” Ucap Aldi, suami Naura.
“Maaf yah bu. Putra saya memang...” belum selesai ayahnya berbicara Raka sudah menyela.
“Udah, aku aja yang ngomong Pah.”
“Wan, gue mau ngelamar Alya.”
Rama menjawabnya dengan anggukan.
“Gue nggak pernah ngelarang Alya sama siapa pun. Tanya orangnya aja langsung.” Ucapnya kemudian.
Setelah mendapat restu Rama, Raka kembali menatap my baby kesayangannya.
“My baby Naralya Pertiwi, nikah yuk!”
“Maaf A, aku nggak mau. Aku nggak bisa.” Jawab Alya.
Jawaban Alya langsung membuat Raka berdiri dari duduknya.
“Kenapa, Al? Aa salah apa?” tanyanya.
“Apa gara-gara Aa nggak nungguin kamu sidang? Itu semua ide Jesi sama kakak kamu. Katanya Aa di suruh nunggu di rumah aja. Aa bahkan bawa semua keluarga Aa.” Ujar Raka panjang lebar.
“Aa udah nungguin dua tahun, Al. Ya ampun tega banget kamu, Al.” Raka sampai berjongkok di depan Alya dan memegang tangan gadis itu dengan memelas.
Kini Raka beralih menatap Rama dan Jesi yang masih berdiri dengan tenang sambil meledek putri mereka.
“Wan, aqua gelas!” panggilnya.
“Gimana ini? Kenapa jadi kayak gini sih?” lanjutnya.
“A Raka...” panggilan Alya langsung membuatnya kembali menatap gadis berhijab yang tangannya masih ia genggam. Perlahan gadis itu melepaskan tangannya dari genggaman Raka.
Raka kian menggenggam erat tangan Alya.
“Lepasin!” meski pun menggeleng tak setuju Raka akhirnya melepaskan genggamannya dan beranjak berdiri membelakangi Alya.
“Kita pulang Pa, Ma.” Ucapnya lirih dengan wajah lesu. Dia yang sudah seratus persen percaya diri lamarannya akan diterima justru terlempar ke dasar penolakan. Keluarganya pun terkejut bukan main mendapati jawaban Alya. Mereka semua diam, begitu pun dengan Jesi dan Rama yang jadi saling tatap bingung. Keduanya jadi merasa bersalah karena mereka yang mengusulkan rencana Raka untuk tak menemui Alya sementara waktu, tentu dengan tujuan surprise lamaran ini. Penolakan sama sekali tak terbesit di dalam pikiran keduanya karena melihat Raka dan Alya yang saling menyayangi selama ini.
Alya berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Raka kemudian menepuk pelan pundak pria yang selama dua tahun terakhir menghiasi hari-harinya.
“A Raka, aku belum selesai ngomong.” Ucapnya.
“Maksud aku... aku nggak bisa nolak. Aku nggak bisa kalo nggak nikah sama Aa. Aku mau jadi istri Aa, makasih udah nunggu aku selama ini.”
Raka langsung berbalik dan memeluk erat Alya.
“Kenapa nggak bilang dari tadi sih? Aa rasanya udah mau mati tau!”
"Aa juga tega sekongkol sama Jesi dan kakak ngerencanain semua sampe nggak datang ngasih selamat buat kelulusan aku." ucap Alya.
"Apalagi kemaren aku liat Aa akrab banget sama karyawan baru. Aku kira Aa mau ninggalin aku. Sedih tau A, yang lain pacarnya ngasih bunga aku nggak dapet." lanjutnya.
"Nggak mungkin lah Aa ninggalin kamu. Tuh salahin aja aqua gelas sama kakak kamu yang nyuruh surprise kayak gini, malah jadi senam jantung." jawab Raka.
"Padahal Aa tuh rencananya mau langsung bawa petugas KUA ke kampus, biar kita langsung nikah pas kamu keluar dari ruang sidang." Raka kembali memeluknya bahkan mencium puncak kepala Alya berulang kali.
“Sadar... sadar belum sah, Ka! Maen sosor aja!” Rama menarik rambut Raka sebelum dia mendaratkan ciuman di kening adiknya.