Possessive Leader

Possessive Leader
Dia calon istri gue, Ka!



Jesi baru saja kembali menginjakan kakinya di depan rumah mewah yang sudah tiga minggu ia tinggalkan. Tak ada yang berubah dari halaman rumahnya masih tetap indah dengan jajaran aneka bunga koleksi sang ibu, hanya saja jumlah dari bunga itu yang bisa Jesi pastikan bertambah banyak dari sebelumnya.


“Lama-lama ini halaman udah kayak toko bunga euy.” Ucapnya lirih sambil memegang salah satu bunga yang ia yakini koleksi baru ibunya. Katanya bunga tapi nyatanya hanya terdiri dari daun-daun lebar yang lebarnya melebihi telapak tangan Jesi. Meskipun daunnya memang sedikit berbeda dengan kebanyakan daun, warnanya didominasi warna pink yang mengkilap.


“Bisa glowing gini daun doang, jangan–jangan dipakein skincare nih daun.” Jari lentik Jesi mulai mengusap daun yang mengkilap.


“Jangan pegang-pegang ntar rusak. Mahal itu Neng, ibu baru beli kemaren. Itungannya perdaun itu, satu daunnya tiga ratus ribu.” Teriak Sari.


Mendengar ucapan ibunya membuat otak akuntansinya langsung menghitung jumlah daun yang terdapat dalam satu pot itu, “Gila euy daun beginian doang tiga juta, bu?”


“Iya makanya awas neng Jesi nggak usah deket-deket bunga punya ibu, ntar rusak.” Sari segera menjauhkan tangan putrinya supaya tak memegang bunga barunya. Ia masih ingat bagaimana putri kesayangannya itu pernah membuat skulen mahal yang sudah susah ayah ia rawat mati gara-gara di siram terlalu banyak oleh Jesi.


“Ya ampun pelit banget ibu. Cuma daun-daun kayak gitu doang. Di belakang tempat kost aku banyak kok, dipinggir kali. Asal mau aja ngambilnya.”


“Itu beda jenis sayang. Kamu mana ngerti urusan bunga.”


“Ya elah sama-sama daun doang bu. Bagusan juga bunga plastik, nggak perlu di siram. Nggak perlu ini itu udah stay indah sepanjang waktu.” Ucap Jesi.


“Iya iya Neng Jesi kesayangan ibu yang paling cerewet.” Sari mencubit kedua pipi putrinya.


“Udah sana masuk, ganti baju terus ke kantor. Atau nggak mau masuk? Udah ijin?” imbuhnya.


“Iya mau, bu.” Dengan segera ia masuk ke dalam rumah,


“Home sweet home.. i am come back... good bye remahan kerupuk di kaleng khong guan.” Gumamnya sambil menaiki tangga.


Tiba di kamar Jesi segera membasuh wajahnya dan mengganti pakaian putih yang sudah kotor dengan noda darah. Dress putih selutut dipadu dengan blazer pink menjadi pilihannya kali ini. Diambilnya kaca mata hitam dan memakainya. Rambut panjangnya di biarkan tergerai begitu saja.


Mematut dirinya di depan cermin gadis itu tersenyum ceria, “i am ready to work.”


Diliriknya jam di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukan pukul sepuluh. Jesi menghembuskan nafasnya pelan, “mesti siapin mental buat ngadepin Karam ini mah.” Batinnya.


Sebelum berangkat Jesi berpamitan pada Sari yang ternyata sudah menyiapkan bekal untuk dirinya, “Dibagi sama temen kamu yang pake jilbab itu yah.”


“Aku nggak satu kantor sama Alya, bu. Kapan-kapan aku ajak dia kesini deh. Nanti ini aku bagi sama Mba Naura deh, dia lagi hamil makannya suka banyak.” Balas Jesi.


“Ya boleh. Ini kunci mobil kamu. Sementara pakai kartu debit ibu dulu, ayah udah bilang ke asistennya untuk kembali mengaktifkan kartu-kartu kamu tapi paling bisa digunakan kembali mulai besok.”


Jesi mengambil kunci dan black card dari tangan ibunya, “Makasih, bu. Jesi berangkat yah.”


Pukul sepuluh lebih empat puluh menit Jesi sudah tiba di kantor, jalanan menjelang siang terpantau ramai lancar membuatnya tak membutuhkan waktu lama. Tanpa melepas kaca mata hitamnya, Jesi berjalan melewati puluhan pasang mata yang mengamatinya dengan lekat.


“Pak Raka nya ada?” Ucap Jesi seraya membuka kaca mata hitamnya. Tersenyum ceria Jesi memamerkan paper bag berisi makanan yang ia bawa. Jesi memang memutuskan mengunjungi Raka dulu karena ia tau jika langsung ke atas pasti akan langsung dihadiahi ceramah panjang lebar oleh Rama.


“Aku bawa makanan banyak loh, Karak.” ucapnya kemudian.


“Ya ampun aqua gelas kesayangan Aa raka ternyata. Gue kira siapa, beda banget dari biasanya.”


“Neng Jesi, Karak!” seperti biasanya ralatnya cepat.


“Iya iya Neng Jesi kesayangan Aa. Masuk dulu ayo!”


Jesi mengikuti Raka masuk ke dalam, ia langsung mengeluarkan tiga kotak makanan yang ia bawa dan meletakkannya di meja Raka.


“Masakan ibu aku enak banget loh. Buat Karak segini aja, nggak apa-apa kan? Ini sebagian lagi buat aku sama Mba Naura.” Ucapnya sambil memindahkan sebagian isi dari kotak makanannya ke dalam piring.


“Iya nggak apa-apa. Neng Jesi masih inget buat ngebagi ke Aa juga udah seneng banget. Bilangin makasih ke calon ibu mertua yah. Sekalian bilangin salam dari calon mantu.” Ledek Raka.


Jesi hanya tertawa mendengar ucapan Raka, terlalu menggelikan baginya. Saat Jesi belum selesai memasukan kotak makanannya ke dalam paper bag tangan terampilnya tiba-tiba berhenti saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan sorot mata tajam yang mengintimidasinya.


“Karam...” ucapnya lirih tapi masih bisa terdengar oleh hingga Raka yang berdiri depannya berbalik dan melihat Rama yang entah sejak kapan sudah ada di belakangnya.


“Ngapain lo kesini, Wan? Laporan yang lo minta belum jadi, ntar kalo udah jadi gue anterin ke ruangan lo.” Ucap Raka.


“Karena lo udah disini kita cobain aja masakan calon ibu mertua gue nih.” Lanjutnya sambil mengambil potongan daging dari piring dan memberikannya pada Rama.


“Nggak usah. Makasih.” Tolak Rama, matanya masih terus menatap tajam calon istrinya yang sejak pagi tadi sudah membuatnya Khawatir setengah mati karena tak bisa dihubungi justru sedang berada di ruangan sahabatnya. Dan lihatlah dia memberikan makanan pada Raka bukan pada dirinya, semakin membuat rasa kesalnya meningkat tajam.


“Lo ikut gue sekarang! Harus berapa kali gue bilang kalo lo nggak boleh kelayaban seenaknya?” Ucap Rama datar kemudian menarik paksa Jesi yang masih mematung di tempatnya berdiri.


“Wan, jangan galak-galak sama aqua gelas kesayangan gue!” teriak Raka seketika membuat Rama melepaskan tangan Jesi.


“Tunggu di sini!” ucap Rama kemudian kembali menghampiri Raka.


“Gue harus bilang berapa kali supaya lo nggak deket-deket sama Jas jus?”


“Suka-suka gue dong.” Balas Raka santai.


“Dia calon istri gue, Ka!" Rama melirik Jesi yang masih terdiam di depan pintu sesuai dengan instruksinya tadi.


"Gue nggak mau kalo sejarah sampe terulang kembali, Ka. Cukup Naura yang dulu menjadi ujian persahabatan kita.” pungkas Rama kemudian pergi meninggalkan ruangan Raka.