Possessive Leader

Possessive Leader
Huh!! untung sayang



Jesi memandang pantulan dirinya di dalam cermin. Tubuh mungilnya yang kian berisi dibalut dengan dress cream semi formal ditambah blazer yang membuatnya anggun. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai begitu saja. Memberikan suara pada rapat direksi? Tentu saja dia belum pernah melakukannya. Selama ini kan paling mentok dia mengikuti rapat rutin suaminya, itu pun zaman magang beberapa bulan ke belakang. Kalo nonton di drama-drama sih sering, dimana sang pemegang kendali selalu datang paling akhir. Membuat calon-calon pimpinan jedag jedug mengkhawatirkan kemenangan mereka. Apalagi kalo selisih suaranya sedikit, tentu makin mendebarkan.


Jesi memegang rambutnya kemudian mencoba menatanya dengan gaya lain.


"Eh eh tapi kalo kayak gini malah kaya customer service bank." Dia mengurai kembali rambut yang ia cepol rapi.


"Tapi kalo kayak gini terus berasa bosen." Gumamnya sambil merapikan poninya yang mulai panjang.


Akhirnya dia mengambil semua rambutnya dan mengikatnya di atas, "Keren, berasa jadi Kim Mi So dari what wrong with sekretaris Kim euy hihi..." Jesi tertawa kecil.


"Ganti ah bajunya, jangan yang ini biar makin oke." Lanjutnya.


Cukup lama Jesi memilah baju akhirnya ia ganti dress semi formalnya dengan rok span selutut dan kemeja yang dimasukan ke dalam rok. Soal warna jangan ditanya, soft pink masih menjadi warna favoritnya.


"Perfect!!" Pujinya sambil menatap kaca.


"Belum keliatan kayak bumil gue." Lanjutnya.


Selesai dengan penampilannya Jesi berjalan keluar kamar. Alya yang melihatnya sampai sedikit tercengang, penampilan kakak iparnya yang biasanya unyu-unyu menggemaskan jadi terlihat lebih dewasa. Apalagi dengan lipstik warna pink kemerahan yang sedikit mencolok di bibir mungil itu.


"Siapa yah?" Ledek Alya.


"Apaan sih, Al? Ngeselin deh."


"Beda banget, Jes." Ucap Alya.


"Kenapa? Makin cantik yah?" Jesi mengibaskan rambut panjangnya yang terikat.


"Aku jadi duta shampo lain bahahaha..." Lanjutnya sambil tertawa.


"Hilih malah ngiklan si bumi." cibir Alya.


"Keliatan dewasa, Jes. Udah kayak wanita karir beneran." Ucap Alya sambil memandangi kakak iparnya dari ujung kaki hingga kepala.


"Seksi, Jes. Tapi itu sepatu kayaknya mending ganti aja deh. Bahaya." Alya menunjuk heels tinggi yang dikenakan Jesi.


"Nggak apa-apa kok, Al. Kalo ganti ntar gue kurang tinggi dong." Kilah Jesi.


"Gue jalannya hati-hati kok. Lagian kan udah biasa juga tiap hari kayak gini." Sambungnya.


"Ya udah terserah kamu aja, Jes." Alya pasrah. Dia mengikuti Jesi ke teras. Sementara Jesi duduk sambil menelpon, Alya kembali sibuk dengan my baby sukulen yang terancam mati.


"Abis nelpon siapa, Jes? Kelihatannya serius banget." Tanya Alya yang sedang mencuci tangan di kran tak jauh dari tempat Jesi duduk.


"Ayah." Balas Jesi irit yang langsung memasukan ponselnya dan berjalan pelan menghampiri mobil suaminya yang baru saja berhenti.


"Gue berangkat yah, Al." Pamitnya, namun tak lama ia justru kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah di tekuk.


"Kok balik lagi, Jes?" Tanya Alya begitu kakak iparnya itu melewatinya.


"Kakak lo rese nih, Al." Jawabnya dengan cemberut.


"Udah jangan rewel, cepetan nanti kamu bisa telat kalo nggak nurut sama kakak!" Rama menariknya kembali ke kamar.


Tiba di kamar, calon papi itu langsung menganti rok span selutut Jesi dengan rok yang lebih longgar.


"Pake yang ini." Rama memberikan rok tutu pendek yang biasa digunakan Jesi magang dulu.


"Mau kakak gantiin?" Lanjutnya melihat Jesi yang masih terduduk diam.


"Nggak, sendiri aja." Jawabnya dengan cemberut dan berlalu ke kamar mandi. Meski sering rewel, manja dan kadang sulit diatur tapi Jesi selalu menuruti kata-kata suaminya.


"Nah, ini baru Jas Jus kesayangan kakak." Ucap Rama begitu Jesi keluar dari kamar mandi dengan baju pilihannya. Hilang sudah kesan wanita karir, kembali jadi Jesi yang unyu-unyu menggemaskan.


"Kakak nggak suka orang lain liat leher jenjang kamu." Lanjutnya seraya mencium bibir Jesi yang warnanya mencolok.


"Kakak juga nggak suka orang lain fokus ke bibir mungil kesukaan kakak ini." Rama memberikan ciuman kilas pada bibir yang warna merahnya sudah luntur.


"Pake warna yang biasanya aja!" Pungkasnya.


Jesi berdiri di depan meja rias, memoleskan lip tint soft pink yang biasa ia gunakan sehari-hari sambil menggerutu.


"Jangan ngambek, ntar dede bayi gemoy kita ikutan sedih di sini." Rama yang memeluknya dari belakang mengelus perutnya dengan lembut.


"Eh sekarang udah nggak datar-datar banget perut mami." lanjutnya.


"Tapi kan aku udah susah-susah dandan lama eh malah... Huft." Jesi membuah nafasnya lemah.


"Padahal kan aku pengen keliatan kayak wanita karir gitu." Lanjutnya.


"Nggak usah jadi orang lain, jadi diri kamu sendiri. Kakak lebih suka kamu yang kayak gini, gemes. Dari pada yang tadi, terlalu menarik perhatian." Jelasnya.


"Sepatunya ganti yang ini yah." Rama menarik Jesi supaya duduk di ranjang dan melepas heels tingginya.


"Sst..." Rama meletakan jari telunjuknya di bibir Jesi, ia tau istrinya itu pasti mau protes.


"Supaya nyaman dan nggak kecapean. Inget calon anak kita hm." Dengan telaten Rama memakaikan sepatu flat ke kaki Jesi. Diperlakukan selembut ini membuat Jesi luluh dan tak lagi memprotes.


"Udah. Yuk berangkat!" Rama yang berjongkok di hadapan Jesi menatapnya dengan senyuman manis yang selalu membuat hati Jesi melehoy layaknya jeli.


"Dede bayi gemoy pengen dipeluk papi." Ucap Jesi manja seraya membentangkan tangannya pada Rama.


Rama beranjak dan duduk di samping Jesi.


"Dede bayi apa mami nya hm?" Direngkuhnya tubuh mungil itu sambil sesekali memberikan usapan lembut di punggung.


"Dede bayi sama mami nya, pi." Balas Jesi lirih.


"Karam, kita sayang-sayangan aja yuk. Kalo dipeluk kayak gini tuh nyaman banget. Aku malah jadi pengen bobo sambil diusap-usap." Lanjutnya.


"Heleh dasar, malesan mami Jas Jus! Dikit-dikit pengennya dimanja-manja terus bobo." Ejek Rama.


"Kakak jadi penasaran anak kita laki-laki atau perempuan yah? mami nya manja banget kayak gini." Lanjutnya.


"Nggak tau." Jesi kian mengeratkan pelukannya.


"Jadi mau berangkat apa mau bobo nih mami Jas Jus?"


"Berangkat lah." Jesi melepas pelukannya dan memberikan ciuman kilat di pipi kanan Rama kemudian mengambil tas nya di meja rias.


"Yuk, Karam! Lama banget sih Karam tuh... Bikin kita telat aja nih." Lanjutnya sambil berjalan ke arah pintu.


Rama hanya menggelengkan kepala dan menyusul istrinya, "huh!! pinter banget kalo nyalahin orang, padahal dia sendiri yang bikin lama. Untung sayang, kalo nggak udah gue lempar bantal dah." Batinnya.


.


.


.


tadinya mau dijadiin satu part tapi panjang banget jadi aku pisah.


Jangan lupa tekan like dan komen next aja kalo bingung mah. dari pada kagak komen coba? ntar dikatain reader ghaib πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›