Possessive Leader

Possessive Leader
Telepon



Setelah shalat isya Jesi masih gulang guling di ranjang sambil menatap layar ponselnya. Dia berulang kali terlihat geregetan sendiri melihat bayi mungil menggemaskan yang berada di dekapan Naura.


"Hai baby girl, teteh Jesi di sini... Holaaaa" Jesi melambaikan tangannya.


"Ah mba Naura aku pengen nyubit pipi si dede... Gemoy Euy gemoy banget..."


"Ih kok Karak ada di situ sih?" Ucapnya begitu melihat Raka mengambil putri Naura dan menggendongnya.


"Dia kesini lagi tadi abis maghrib." Jawab Naura.


"Maaf yah tadi pagi udah bikin repot di kantor. Mulai besok mba cuti kerja selama dua bulan. Kalo ada perlu kamu boleh telpon aja, kalo nggak main aja ke rumah mba."


"Iya-iya mba, siap. Mana atuh si dede aku mau liat lagi." Rengek Jesi.


"Kalo mau liat kesini aja. Ngamar mulu lo mentang-mentang penganten baru." Cibir Raka yang tiba-tiba ikut bergabung dengan berdiri di samping Naura.


"Karam.... Aku pengen liat dede nya mba Naura." Teriak Jesi.


Rama yang sedang duduk santai jadi menghampirinya dan mengambil ponsel Jesi.


"Selamat buat kelahiran putri lo, Ra. Gue do'ain jadi putri yang solehah. Sorry belum bisa jenguk ke sana." Ucap Rama.


"Ya makanya kita ke sana yuk, Karam. Karak juga ada di sana loh. Yuk yuk!" Sambung Jesi, ia ikut nongol di samping Rama.


"Lain kali aja." Jawab Rama.


"Ra, gue matiin yah. Udah jam delapan ini, kesel gue nunggu si jas jus lama banget vidio call sama lo, kalo nggak gue matiin sampe pagi juga ini beo ngoceh mulu pasti." Sambung Rama kemudian mengakhiri panggilan vidio di HP Jesi.


"Ih kok dimatiin sih? Aku kan masih pengen liat dede nya mba Naura. Gemoy banget tau." Protes Jesi, dia mengambil HP nya dan hendak menelpon Naura lagi.


"Jangan di telpon mulu, Naura juga butuh istirahat." Rama merampas HP Jesi dan meletakkannya pada meja kecil di samping ranjang.


"Ih apaan sih, Karam. Mba Naura nya aja nggak protes kok, dia seneng-seneng aja ngobrol sama aku."


"Dasar super nggak peka kamu tuh. Udah nggak usah nelpon Naura, sini kakak pijitin aja. Mana yang kemarin masih sakit?" Rama duduk bersila di depan Jesi.


"Yang ini?" Rama memegang pinggang Jesi.


"Iya yang itu. Tapi pelan-pelan aja, ntar bukannya sembuh malah tambah sakit." Ucap Jesi sedikit cemberut, ia masih kesal karena dilarang menelpon Naura, padahal dia masih ingin melihat bayi mungil Naura.


"Tenang aja sakit dikit awalnya tapi ntar juga enak." Jawab Rama.


"Tiduran sini, sambil tiduran aja kakak mijitnya." Rama menepuk kasur di sampingnya.


Jesi menurut dia merebahkan tubuhnya di samping Rama, "jangan di matiin lampunya!"


"Eh iya, kakak hampir lupa." Sepertinya mulai sekarang Rama harus mengubah kebiasaan tidurnya demi mengimbangi Jesi yang tak bisa tidur dalam kegelapan.


"Karam nggak usah deket-deket kayak gini juga kali." Protes Jesi saat Rama merapatkan tubuhnya.


"Kenapa? Kan biar mudah mijitnya."


"Aku nya gerah kalo mepet mepet kayak gini." Jawab Jesi.


"Kalo gerah tinggal buka aja bajunya!" Ucap Rama enteng, tangan kanannya sudah memijit lembut pinggang Jesi.


"Jangan mesum yah, Karam. Kalo aku buka baju Karam untung banyak dong." Cibir Jesi.


"Ini mijit apa gre pe gre pe sih, Karam? Malah geli aku jadinya."


"Ya udah kakak duluan deh." Rama bangkit dari tidurnya dan segera menarik ke atas kaos yang ia kenakan.


"Karam porno ih. Mata suci aku jadi ternodai kalo kayak gini mah."


Dengan santai Rama kembali berbaring di samping Jesi, "katanya tadi kakak yang untung banyak kalo kamu buka baju, jadi sebelum kamu buka baju kakak udah buka baju duluan, biar kamu untung lebih banyak."


"Udah nggak usah so nutup mata pake telapak tangan. Percuma, kamu masih ngintip dari sela-sela jari."


"Hehe..." Jesi hanya tertawa kemudian menjauhkan tangannya dari wajah.


"Aku malu liatnya, Karam. Pake lagi bajunya!"


"Ngapain pake baju, ntar juga di buka lagi." Tolak Rama.


"Sini aku pijitin lagi." Kali ini tangan nakalnya mulai menyusup ke balik baju tidur Jesi.


Jesi berulang kali menelan ludah menahan gelayar aneh setiap kali Rama menyentuh pinggangnya. Rasa sakitnya benar-benar tak terasa berganti dengan rasa aneh yang baru ia rasakan saat ini.


"Karam, ini tangannya nakal banget dah. Dari luar aja mijitnya. Geli aku nya." Jesi mengeluarkan tangan Rama dari baju tidurnya.


"Nikmatin aja. Enak kan?" Ucap Rama lirih, ia kembali memasukan tangannya ke dalam baju tidur Jesi. Kali ini bukan hanya pinggang Jesi yang menjadi sasarannya. Bahkan perut datar Jesi pun di elusnya dengan perlahan dan lembut, membuat pemiliknya segera menengok ke arahnya hingga tatapan mereka beradu.


"Karam?" Ucap Jesi bingung, tatapan mata Rama begitu berbeda.


Rama mengecup kening Jesi, tersenyum sekilas kemudian kembali meneruskan penjelajahan tangannya di tubuh sang istri.


"Karam!" teriak Jesi saat mendapati tangan Rama mulai menjamah bukit kembar miliknya.


"Kenapa? tadi katanya mau ngasih susu cap nona." ucapnya lirih seraya menatap Jesi.


"Kakak mau susu cap nona yang langsung dari sumbernya." tangan cekatannya mulai membuka kancing atas baju tidur Jesi.


"Tapi kan... emh" sebelum ocehan Jesi dimulai Rama sudah lebih dulu membungkam mulut Jesi dengan bibirnya. Membiarkan lidahnya menyecapi dan mengabsen setiap isi dari rongga mulut istrinya.


"Manis." ucap Rama setelah melepaskan ciumannya kemudian membelai rambut Jesi dengan lembut, diciumnya berulang kali kening gadis yang masih menatapnya.


"Karam..." panggil Jesi lirih.


"Kenapa sayang?"


"Itu HP aku bunyi. Angkat dulu yah."


"Nggak usah. Biarin aja!" larang Rama, ia kembali mengecup bibir mungil Jesi berulang kali.


"Karam ih bentar aja aku angkat telpon, kayaknya penting." karena Rama tak memberinya kesempatan untuk bangun, terpaksa Jesi membiarkan mengulurkan tangannya asal untuk meraih HP di samping ranjang.


"Mama!"


"siapa?" tanya.


"Mama. Karam, awas dulu ah." Jesi menjauhkan kepala Rama dari wajahnya. Tapi Rama tak menggubrisnya, dia malah memeluk erat Jesi dan menyusuri lekuk tubuh gadis itu dengan tangannya.


"Halo, Ma. assalamu'alaikum."


"Iya, Ma. Aku sama Karam udah makan kok."


"Emhh... Ahhh... " Jesi menggigit bibirnya sendiri supaya tak mengeluarkan suara-suara aneh yang di luar kontrolnya.


"Emhh... emhh a... a aku nggak apa-apa, Ma. Karam ada kok di bawah." kali ini dia memilih mengambil bantal dan menggigitnya, tubuhnya semakin menggeliat tak terkontrol. Entah apa yang di lakukan Rama di bawah selimut, yang jelas tindakan suaminya itu membuat Jesi kian merasakan gelayar-gelayar yang menggelikan namun enak.


"Mama udah dulu yah, Karam minta bikinin susu. Emhhh.... emh... walaikum ehm.. walikumsalam, Ma."