
"Karam...." Panggil Jesi, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor.
"Hm." Jawab Rama irit, tanpa memalingkan wajahnya yang fokus pada jalan di depannya. Seperti biasa pagi hari selalu menjadi jam sibuk, membuat jalan terpantau ramai lancar. Andai tadi saat sarapan Jesi tak banyak bicara dan meminta mamanya untuk menyiapkan nasi goreng buat Naura, mereka pasti sudah berangkat lebih awal dan tak akan terjebak keadaan dimana kendaraan pada merayap. Parah sekali, hari pertama tinggal serumah dengan Jesi sudah berhasil mengacaukan jadwal berangkatnya.
"Karam ih!"
"Iya... Iya... Apa bawel?" Kali ini dia melihat sekilas ke arah Jesi, ternyata istrinya benar-benar seperti bocah diabaikan sedikit saja udah manyun.
"Nggak usah dimanyun-manyunin kayak gitu!"
"Masih pagi jangan ngegas dong, Karam." Ucap Jesi.
"Cuma mau ngingetin kali aja Karam lupa."
"Apaan?"
"Sekarang kan aku udah jadi istrinya Karam kan?" Tanya Jesi dengan menyunggingkan senyum manis meski Rama tak melihat ke arahnya.
"Iya."
"Berarti bisa dong Karam nanti di kantor jangan galak-galak sama aku? Bisa ya bisa... Bisa dong yah?" Tanya Jesi.
"Kan aku istrinya Ramadhan Darmawan." Sambungnya.
"Jangan ngarep Jas Jus! Urusan pekerjaan dan pribadi tidak boleh dicampur aduk. Kalo di kantor kamu tetap anak magang yang harus aku bimbing. Kalo salah sudah jelas harus ditegur. Jangan kira mentang-mentang kamu istriku terus bakal dapat perlakuan spesial? Nggak akan!"
"Dasar galak!"
"Aku nggak galak Jas Jus. Hanya menempatkan diri sesuai dengan keadaan." Jawab Rama.
"Kalo kamu nggak neko-neko aku nggak akan marah kok." Tanpa menengok Rama mengulurkan tangan kirinya, mengelus pelan kepala Jesi.
"Kapan coba aku pernah marah kalo kamu nggak salah? Selama ini juga bukan marah, cuma negur aja. Kamu nya aja yang suka salah tanggap."
"Jangan pegang-pegang ah. Sebel." Jesi menjauhkan tangan Rama dari kepalanya.
"Dasar ngambekan!" Cibir Rama lirih.
"Karam ngomong apa barusan?"
"Ngambekan?" Ulang Jesi.
"Nggak ngomong apa-apa. Kamu salah denger." Elak Rama.
Keduanya tiba di kantor pukul tujuh lebih empat puluh lima. Untuk pertama kali Rama datang terlambat, semua gara-gara Jesi. Ditambah lagi dirinya juga harus ikut-ikutan berjalan pelan mengimbangi Jesi yang sakit pinggang.
Karyawan yang berlalu lalang kesana kemari menyapanya dengan sopan meskipun Rama bisa menangkap beberapa karyawan lantas berbisik-bisik setelah melewatinya. Entah apa yang mereka bicarakan Rama tak peduli dan tak pernah ingin tau selama itu tak merugikan perusahaan.
"Pasti pada ngegosip yah?" Membiarkan Rama berjalan lebih dulu, Jesi justru berbalik dan menghampiri karyawan yang baru saja menyapa mereka.
"Kasih tau aku juga dong gosip terbarunya!"
"Jesi!" Teriakan Rama sukses membuatnya sedikit berlari meski kesakitan untuk menghampiri Rama.
"Pada ngegosip mereka tuh!" Adunya.
"Sama kayak kamu tukang ngegosip!"
"Ih kapan coba aku ngegosip?" Tanya Jesi.
"Hari pertama magang, di sini. Kamu bilang aku pebinor." Ucap Rama yang baru saja menutup pintu lift, hanya ada mereka berdua di dalam sana.
Jesi seketika bungkam, padahal waktu itu ia hanya asal bicara menjelekkan Rama karena kesal sudah kena semprot dihari pertama masuk.
"Udah inget sekarang?" Tanpa di sadari Rama sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Itu Karam... Waktu itu aku cuma asal bicara. Beneran deh. Nggak mungkin kan Karam pebinor tante-tante, Kan Karam suami aku yang paling cakep, paling baik, paling pengertian, paling..."
Cup...
Satu kecupan sukses membuat beo cantiknya langsung bungkam meskipun matanya menatap bingung pada Rama.
"Biar nggak ngoceh terus."
Cup...
Saat Jesi hendak berbicara lagi Rama dengan cepat mengulang kesegaran kilat di pagi hari.
"Biar nggak ceplas ceplos kalo ngomong!" Ucapnya segera sebelum Jesi kembali berucap.
"Karam!"
"Nggak usah protes. Mau aku cium lagi?" Ancam Rama yang sudah mendekatkan wajahnya kembali.
"Nggak-nggak, Karam. Ampun." Ucap Jesi, dia segera menjauh dari Rama.
"Ntar ada yang lihat. Malu." Imbuhnya.
"Sorry tapi gue liat!" Ucap Raka yang baru saja masuk.
"Katanya impossible suka sama aqua gelas, nyatanya lo malah modusin ini bocah di lift."
"Inget masih calon, Wan."
"Udah sah kali." Jawab Rama yang ditanggapi tawa oleh Raka.
"Jangan ngadi-ngadi lo, Wan."
"Terserah lo kalo nggak percaya." Balas Rama.
"Yuk keluar yuk istriku sayang." Ucapnya kemudian sambil merangkul Jesi keluar dari lift.
"Karam jangan kayak gini, ntar ada yang liat. Katanya kalo di kantor profesional. Aku anak magang bukan istri Karam. Gimana sih kok gonta-ganti nggak jelas?" Protes Jesi.
"Yang liat juga paling cuma Naura sama Raka. Lantai ini cuma mereka doang yang bolak-balik sesuka hati." Jawab Rama. Dia terus merangkul Jesi, sengaja supaya Raka tau jika Jesi benar-benar miliknya.
Raka yang tak menganggap serius ucapan Rama hanya menertawakan sikap kekanakan Rama di belakangnya, kemudian berjalan menyusul hingga dia berjalan di samping Jesi.
"Btw ini aqua gelas kesayangan gue kenapa jalannya kayak orang encok gini?"
"Berhenti manggil dia dengan sebutan itu, Ka. Panggil dia Jesi." Ucap Rama.
"Suka-suka gue lah, Wan. Yang dipanggil aja nggak protes kok."
"Buset dah jam segini lo baru datang, Wan? Tumben." Ucap Naura yang berdiri di depan mejanya.
"Lo juga jas jus, kenapa datang terlambat?"
"Lo abis jatuh apa gimana sampe jalan aja kayak gitu?" Cerocos Naura.
"Aduh aduh perut gue duh..." Naura mengelus perut buncitnya yang sedikit sakit tapi hilang timbul pagi ini.
"Mba Naura nggak apa-apa?" Jesi jadi sedikit khawatir melihat kondisi seniornya pagi ini.
"Gue nggak apa-apa, tenang aja. Itu lo kenapa? Kesleo?"
"Gara-gara Karam nih, mba!" Ucap Jesi.
"Lo diapain lagi emang?" Tanya Naura.
"Biasalah abis malam pertama. Kayak lo nggak pernah ngalamin aja, Ra." jawab Rama cepat sebelum Jesi menjawab.
"What?" Teriak Naura yang tak percaya.
"Aduh... Aduh... Perut gue duh." Ucapnya dengan nafas sedikit tersenggal.
"Lo jangan bercanda, Wan. Gue serius ini." Lanjutnya kemudian.
"Tau tuh dari tadi ngakunya udah sah sama aqua gelas kesayangan gue dia." Timpal Raka.
"Gue serius. Nikah kemaren abis maghrib." Ucap Rama.
"Ah nggak bener ini." Ucap Naura, meskipun nafasnya kian tersengal karena perutnya yang kian sakit.
"Mba... mba Naura kenapa?" Saat Naura yang merasakan sakit saja masih bisa tenang dan kepo tapi Jesi justru khawatir setengah mati karena mendapati wajah Naura yang mulai dibasahi keringat.
"Jangan-jagan baby nya mau lahir ini." Tebaknya.
"Ra, kita ke rumah sakit yah." Ajak Raka.
"Nggak apa-apa gue. Dari semalem emang kayak gini. Si baby nya ngerjain. Semalem gue udah otw ke RS kirain mau lahiran eh pas ditengah perjalanan sakitnya ilang. Perkiraan lahirnya juga masih seminggu lagi kok." Ujar Naura.
Kini tatapannya beralih pada Jesi, "beneran jalan lo aneh gara-gara malam pertama?"
"Gara-gara malam pertama apaan? Gara-gara Karam ini tuh, mba. Mainnya kasar nggak sabaran. Sebel." Jawab Jesi yang sontak membuat Raka dan Naura terkejut berjamaah.
"Serius lo aqua gelas?" Tanya Raka.
"Serius lah. Beneran!" Jawab Jesi.
"Tapi enak kan?" Sambung Rama, ia tau betul Jesi sedang membicarakan perkara lampu yang berakhir dengan dirinya menjadi tukang pijat dadakan semalam.
"Enak kalo pelan." Jawab Jesi jujur.
"Nanti malem lagi yah, Karam. Kan tadi pagi udah janji katanya aku mau dibikin enak sampe puas." Raka menatap tak percaya pada Jesi yang membahas urusan malam pertama dengan begitu santai.
"Siap istriku!" Rama tersenyum penuh kemenangan pada Raka. Lain halnya dengan Naura yang kian mengaduh menahan sakit tapi tetap kepo mendengar cerita Jesi.
"Tapi pelan-pelan aja yah, Karam. Soalnya bekas yang semalem masih sakit nih." Imbuh Jesi.
"Astaga Jesi, lo beneran... arghh... perut gue... kayaknya anak gue beneran mau lahir sekarang nih." ucap Naura.
"ini gara-gara lo cerita malah pertama nih, Jes. anak gue jadi shock pengen lahir cepet."