
“Eh beneran ada nasi goreng?” Jesi langsung menarik salah satu kursi dan mengisi piringnya dengan nasi goreng, pagi ini dia benar-benar lapar. Tenaganya seolah terkuras habis gara-gara pertempuran malam dan subuh tadi.
“Ini beneran Karam yang bikin?” tanyanya setelah memasukan satu sendok nasi goreng ke dalam mulut.
“Iya, kenapa emang?” tanya Rama yang sedang sibuk di belakang sana.
“Enak. Rasanya sama dengan nasi goreng buatan mama kemarin.”
“Karam lagi ngapain sih? Kok nggak makan bareng aku? Atau jangan-jangan Karam udah makan duluan yah.” Tuduhnya.
“Bikin kopi. Kakak belum makan, kamu makan aja duluan.”
Jesi meletakan sendoknya dan segera menghampiri Rama, “eh udah jadi kopinya? Padahal mau aku buatin, Karam.”
Meskipun sering tak peka tapi Jesi cukup tau jika melayani sarapan suami adalah tugas istri, seperti ibunya yang selalu membuatkan sarapan dan segala keperluan ayah di pagi hari. Sejak kemarin dia juga ingin bangun pagi dan membantu mama Yeni menyiapkan sarapan sebisanya tapi sayang karena jatuh dari ranjang dan aneka drama lainnya membuatnya tak bisa melakukan tugas sebagai istri yang baik.
Pagi ini juga sudah diniatkan mau membuat sarapan untuk Rama, ya meskipun paling mentok dia cuma bisa bikin telur dadar tapi lagi-lagi realita tak sesuai harapan. Jangankan untuk masak, bangun saja dia kesiangan ditambah dengan seluruh tubuh yang terasa remuk membuatnya kesulitan hanya untuk sekedar berjalan normal.
“Emang bisa?” cibir Rama yang seketika merubah wajah ceria Jesi jadi masam.
“Bisa lah. Jangan bilang Karam lupa kalo kemaren siang aku buatin Karam kopi, di kantor loh yang pake susu cap nona.”
“Iya iya kakak inget kok. Udah nggak usah cemberut gitu, masih pagi.” Dicubitnya gemas pipi Jesi yang sedang cemberut itu.
“Ayo lanjutin sarapannya.” Tangan kiri Rama merangkul bahu Jesi, mengajak istrinya untuk kembali ke meja makan.
“Masih sakit?” tanya Rama saat menyadari Jesi berjalan begitu pelan.
“Hm… lumayan.” Jawab Jesi lirih.
“Tapi yang paling parah alergi aku nih. Pokoknya entar ke dokter spesialis kulit yah, Karam.” rengeknya.
“Iya-iya jas jus sayang. Nanti yah, sekarang sarapan dulu.” Rama mengusap pelan puncak kepala Jesi begitu istrinya duduk.
“Mau minum apa biar kakak ambilin. Jus, susu atau air putih?” tawarnya.
“Susu vanilla yang hangat.” Jawab Jesi.
“Iya. Sebentar yah.” Ucap Rama kemudian kembali ke belakang untuk mengambil susu.
Jesi melihat ke arah Rama yang dengan cekatan mengambil susu kotak dari lemari es kemudian memanaskannya. Sesekali Rama tersenyum teduh padanya mata mereka tak sengaja saling bertatapan.
“Astaga, Karam suami gue… si freezer yang super dingin… my possessive leader yang galak, kenapa mendadak jadi baik banget. Gue jadi meleleh dah!” batin Jesi. Dia jadi tersenyum tak jelas ke arah Rama.
Saking sibuknya bergelut dengan pikirannya sendiri, Jesi sampai tak sadar saat Rama sudah berdiri di sampingnya dan meletakan segelas susu hangat untuknya.
“Susu vanila hangat buat Jas Jus kesayangan kakak.”
“Jas Jus!” Rama sampai menepuk bahu Jesi yang terlihat melalmun.
“Eh iya. Apa, Karam?”
“Susu vanila hangatnya.” Ucap Rama sembari menunjuk gelas yang sudah ia letakan di samping piring Jesi.
“Tumben kamu ngelamun?” sambungnya, kemudian duduk di kursi seberan Jesi dan mulai meneguk kopi sebelum sarapan.
Jesi meminum sedikit susu vanilla kesukannya, “Emang nggak boleh kalo aku ngelamun?”
“Aneh aja liatnya. Biasanya kan ngoceh terus nonstop.” Cibir Rama.
“Aku juga aneh liat Karam.”
“Aneh kenapa?” tanya Rama heran.
“Ya aneh aja, Karam jadi baik banget sama aku. Padahal kan sebelumnya galak banget. Ngeselin!”
“Apa karena udah berhasil merkosa aku gitu? Jadi baik-baikin aku terus biar bisa main enak-enak lagi yah?” tebaknya.
“Kamu itu kalo ngomong di saring dulu jas jus. Jangan sembarangan!”
“Sembarangan dari mana? Emang bener kan, Karam merkosa aku? Dua kali lagi.” Jawabnya enteng.
Rama berdiri dan berpindah duduk ke samping Jesi. Istrinya itu benar-benar harus segera diberi ceramah sebelum mulut beonya membahas masalah ranjang dengan bebas. Sebenarnya tak masalah jika hanya membahas hal itu dengan dirinya, tapi tadi saja dia dengan enteng mengadu pada ibunya. Tak menutup kemungkinan dia akan membahasnya dengan Naura ataupun Raka jika bertemu.
“Jas jus kesayangan kakak, liat sini.” Rama memegang kedua bahu Jesi, mengarahkan supaya dia duduk menghadapnya.
“Kamu itu kalo ngomong jangan asal ceplos sayang.” Dibelainya lembut rambut Panjang Jesi.
“sst!” Rama meletakan jari telunjuknya di bibir Jesi.
“Dengerin dulu, kakak belum selesai bicara.” Ucapnya penuh penekanan namun tetap pelan, tak lagi seperti Rama kala di kantor yang berbicara tegas dan dingin.
“Kamu tau kenapa kita di beri dua telinga dan satu mulut?” Jesi menggeleng.
“Karena kita harus lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Tapi bukan berarti kita tak boleh berbicara yah, awas kamu jangan sampe salah tanggap. Kakak tidak melarang kamu berbicara, silahkan saja. Tapi mulai sekarang belajar jangan memotong pembicaraan kalo kakak belum selesai bicara.”
“Iya iya. Buruan sebenernya Karam mau ngomong apa sih?”
“Tuh kan baru juga dikasih tau, udah main potong aja.” Rama mengacak rambut Jesi gemas, istrinya ini tipe-tipe nyerocos yang sulit dikendalikan. Kecuali… ya kecuali dibungkam dengan bibirnya baru diam.
“Berantakan ih, Karam!” protes Jesi.
“Biarin aja. Habisnya kamu ngegemesin banget!”
“Dengerin kakak! Kamu nggak boleh bahas masalah ranjang sama siapa pun kecuali sama kakak. Itu bukan hal boleh dibicarakan dengan sembarang orang. Paham?” Jelas Rama to the point pada intinya.
"Kamu tuh mahasiswa udah umur dua puluh tahun juga. masa masalah gituan aja kamu nggak ngerti?"
“Aku juga nggak ngebahas kok. Aku kan cuma bilang kalo Karam merkosa aku. Bukan ngebahas!” elak Jesi.
“Kalo ngebahas mah kan di jelasin semua dari mulai hm…” Jesi tak melanjutkan ucapannya.
“Hm apa? Dasar nakal yah! Otak kamu pasti udah mikir yang macam-macam nih.”
“Nggak ih, enak aja!” bantah Jesi.
“Pokoknya mulai sekarang nggak boleh ngomong urusan ranjang sama siapa pun.”
“Dan satu lagi ralat itu kata-kata merkosa!”
“Kita itu suami istri, jas jus! Tidak ada istilah merkosa atau pun diperkosa dalam hubungan yang sah. Yang ada adalah hak dan kewajiban suami istri.” Pungkas Rama.
"Hak dan kewajiban sih boleh aja, tapi mainnya maksa padahal kan aku belum siap."
"Udah sih nggak usah di bahas terus. Orang lain tuh malu-malu kalo ngebahas malam pertama, kamu kok malah dibahas mulu nggak ada malunya sama sekali." cibir Rama.
"Katanya tadi boleh, kalo ngebahasnya sama Karam? gimana sih!"
Rama jadi memijit keningnya sendiri, penjelasannya panjang lebar justru jadi boomerang untuk dirinya sendiri. Aneh juga istrinya itu selalu punya cara untuk membalikan setiap perkataannya.
"udah-udah jangan ngomong terus. selesein sarapannya, sini kakak suapin."
diambilnya piring Jesi dan menyuapinya perlahan. Pokoknya itu mulut jangan sampe kosong supaya nggak ngoceh, bahaya.
.
.
.
pokoknya jangan lupa tampol jempol, lope sama komentarnya biar neng jesi makin semangat nulisnya.